
Saat melakukan pengecekan, peserta atas nama Astrid Githa Ardana di nyatakan tidak di terima. Merupakan kabar buruk bagi Astrid yang telah melakukan seleksi memasuki universitas negeri. Astrid tak bisa menyampaikan kepada suaminya yang saat ini masih berduka setelah kepergian kakeknya.
Astrid pun memilih menyembunyikan hasil ujian masuk universitasnya dari Janus. Bagi Astrid kegagalannya ini, merupakan akhir baginya. Karena Astrid sudah bertekad apabila ia gagal memasuki universitas negeri pada tahap pertama. Maka ia akan menyerah melanjutkan pendidikannya. Walaupun masih ada seleksi tahap kedua, tapi itu bukankah keinginan Astrid untuk melanjutkan pendidikan. Yang Astrid cita-citakan saat ini adalah berkarir sembari mengurus rumah tangganya. Ya, walaupun berkarir bagi wanita yang hanya lulusan SMA cukup sulit mendapat pekerjaan yang layak.
Setelah kepergian kakeknya, berhari-hari Janus larut dalam kesedihannya. Ia bahkan sudah lama tak berbicara dengan Astrid. Setiap hari Astrid merasa khawatir dengan keadaan suaminya tersebut. Tiap kali ia menghibur atau pun mengajaknya berbicara, Janus mengabaikannya. Astrid pun jadi kesulitan memberitahu dirinya yang gagal masuk universitas.
Lalu suatu ketika, di saat makan malam Janus bertanya tentang seleksi masuk universitas.
"Bagaimana dengan hasil seleksimu?" tanya Janus sembari memainkan sendok di piringnya.
Spontan Astrid pun menelan salivanya, ia gugup setengah mati untuk menjawab pertanyaan dari suaminya tersebut.
Ia mula-mula menghembuskan nafasnya, lalu dengan sigap Astrid pun menjawab. "Aku tidak di terima."
"Bulan depan bukankah masih ada seleksi tahap kedua. Jika kamu masih tidak di terima, bagaimana jika kita mendaftar di universitas swasta saja," saran Janus.
"Aku tidak akan mengikuti seleksi kedua maupun melanjutkan pedidikanku di universitas swasta. Aku sudah capek belajar, saat ini aku hanya akan fokus mengurus rumah tangga. Bila beruntung aku juga akan bekerja," ucap Astrid tanpa menatap Janus.
__ADS_1
Seketika Janus meletakan sendoknya di piring.
"Pernikahan kita bukan alasan untuk tidak melanjutkan pendidikanmu kan," ucap Janus bernada marah.
"Berhenti menyalahkan pernikahan, ini keinginanku. jika aku harus melanjutkan pendidikan itu bukan keinginanku tapi keinginanmu," ucap Astrid meletakan sendoknya di piring lalu beranjak memasuki kamar.
Astrid memang sudah memprediksi, bahwa suaminya pasti marah atas keputusan bulat yang sudah di siapkannya jauh-jauh hari. Hanya saja Astrid kesal bila Janus menyalahi pernikahan, karena Astrid tidak melanjutkan pendidikannya. Bagi Astrid pernikahannya bersama Janus merupakan takdir terindah yang di berikan tuhan padanya. Astrid memang harus melepaskan kehidupan masa remajanya karena pernikahannya tersebut. Tapi Astrid bahagia atas pernikahan yang telah di takdirkan di usia yang sangat muda ini.
Astrid yang tengah duduk di tempat tidur sembari tekuk kesal, di hampiri Janus. Ia duduk di sebelahnya sembari meraih tangan wanita yang tengah kesal tersebut.
"Aku tahu kamu sudah menjadi seorang istri. Tapi melanjutkan pendidikan, bukanlah halangan bagimu karena sudah menikah. Aku mohon padamu, jangan buat aku merasa bersalah karena telah menikahimu," ucap Janus.
"Bagaimana aku tidak menyalahi diri, bila kamu ku nikahi di usia yang seharusnya menikmati kehidupan masa muda. Di usiamu yang sekarang kamu seharusnya menikmati belajar di universitas dan bermain bersama teman-temanmu. Tapi kamu malah harus mengurus rumah tangga," pungkas Janus.
"Bukankah sudah ku bilang, aku tak hanya akan mengurus rumah tangga. Tapi aku juga akan bekerja untuk mengumpulkan uang. Aku ingin membuka sebuah restoran. Bukankah aku sudah cukup pintar memasak," terang Astrid.
"Pokoknya aku tidak setuju dengan keputusanmu. Biarkan aku yang bekerja, kamu hanya cukup menikmati jerih payahku. Kamu cukup melanjutkan pendidikan dan nikmati masa mudamu. Biarkan aku yang sebagai suami yang berkeringat menghidupimu," tegas Janus.
__ADS_1
Astrid tetap pada pendiriannya untuk tak melanjutkan pendidikannya. Bukankah Janus terlalu memanjakan istrinya, hingga membuat perlakuan Janus tersebut sangat tak di sukai Astrid. Astrid memang senang dengan perlakuan suaminya tersebut, tapi ia tak suka bila hanya menikmati kerja keras suaminya tanpa membantu. Astrid pun kesal atas apa yang di sarankan suaminya tersebut. Ia pun langsung saja mengerumuni diri dengan selimut.
"Aku tetap tidak setuju dengan apa yang kau sarankan. Bukankah kamu terlalu mengatur hidupku. Aku tahu kamu suamiku, tapi aku juga memiliki apa yang aku inginkan. Aku sudah muak dengan belajar, ku mohon setujulah dengan keputusanku," ucap Astrid dengan ekspresi yang di tekuk kesal.
Kini bukan hanya Astrid saja yang kesal, Janus pun ikut kesal dengan keputusan istrinya tersebut. Ia tak suka bila Astrid bekerja di usia yang seharusnya menikmati belajar di universitas. Keputusan istrinya membuat Janus semakin menyalahi diri, bahwa Astrid seperti itu karena menikah dengan Janus di usia yang sangat muda.
Janus menghela nafasnya ia pun ikut berbaring di sebelang istrinya. Janus menarik selimut sembari tertidur memunggungi istrinya tersebut.
"Terserah kamu saja, aku tetap tidak setuju dengan keputusanmu. Aku yakin bahwa pernikahanlah yang menyebabkan kamu seperti ini," gerutu Janus sembari menutup kedua matanya.
Sontak Astrid pun membuka kain selimut yang mengerumuninya itu. "Sudah ku bilang jangan pernah menyalahi pernikahan, ini keputusanku. Asal kamu tahu, aku sangat bahagia karena menikah dengan pria sepertimu. Baik kamu atau pun pernikahan tak akan membuat masa mudaku hancur. Malah sebaliknya aku sangat bahagia bertemu dan menikah denganmu."
"Jangan pernah membodohiku Trid, kamu berbicara seperti itu karena ingin menyenangkanku kan. Jangan menganggapku pecundang yang bisa kamu bodohi seenaknya," ucap Janus di tekuk kesal.
Astrid semakin kesal saja atas ucapan suaminya itu. Ia kembali menarik selimut lalu berbaring sembari memunggungi suaminya. Dan akhirnya mereka berbaring saling memunggunggi.
"Iya memang benar kamu pencundang yang tak bisa mempercayai istrimu sendiri. Bukankah seorang belahan jiwa pasti tahu mana yang bohong mana yang tidak. Sekarang aku mengerti, bahwa kamu tak menganggapku belahan jiwamu," ucap Astrid yang juga di tekuk kesal. Lalu seketika ia pun menitikan air matanya.
__ADS_1
Apa yang di pikirkan Janus dan Astrid sangat bertolak belakang. Janus bersikukuh bahwa Astrid tak ingin melanjutkan pendidikannya karena ia yang sudah menikah merasa malu bila harus belajar di universitas karena statusnya. Lain halnya dengan Astrid, yang menganggap keputusannya merupakan hal yang benar. Bukan karena statusnya yang sudah bersuami, tapi karena ia sudah muak dengan namanya belajar. Ia harus berjuang keras menyelesaikan pendidikan, sementara otaknya memang sudah tidak sanggup bila harus di suguhi lagi dengan mata pelajaran. Bukan hanya itu saja, Astrid juga merasa ini adalah hal terbaik. Untuk saat ini ia bisa fokus menemani suaminya, ia juga berharap setelah ini Astrid akan segera memiliki anak dari Janus. Menjadi seorang ibu dari anak-anak Janus bukan hanya sekedar mimpi dan harapannya saja. Tapi juga akan menjadi sumber kebahagiannya.
Lalu bagaimana dengan pekerjaan bila Astrid sudah memiliki anak, tentu saja Astrid akan meninggalkan pekerjaan lalu fokus mengurus suami dan anaknya. Seharusnya Janus beruntung memiliki istri seperti Astrid di zaman modern ini. Mana ada wanita di zaman sekarang memiliki mimpi menjadi ibu rumah tangga.