Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
44. Saat Ini Bukan Dia Yang Membuatku berdebar Tetapi Kamu


__ADS_3

Setelah semua temannya pulang, Janus terdiam di depan jendela. Ia tenggelam dalam lamunannya. Apa yang membuat wajahnya larut dalam kesedihan. Hingga membuat Astrid sempat berpikir tentang pernikahan Luna lah yang membuat pikiran Janus kalut saat ini. Terlintas dalam benak Astrid bahwa dirinya akan sangat sulit mencari ruang di hati Janus. Jika hati dan pikirannya saja masih terpaku kepada perempuan yang jadi cinta pertamanya itu.


Bahwa perempuan biasa seperti Astrid tak akan pernah jadi yang spesial untuk suaminya. Terlalu sesak dada ini jika sampai akhir Janus tetap bersi kuku tak membuka hatinya untuk Astrid.


Astrid tak akan bertanya dengan hal apapun yang membuat suaminya bersedih saat ini. Hingga Astrid pun pergi ke kamar, meninggalkan Janus yang mungkin saat ini butuh waktu sendiri untuk menenang hati dan pikirannya.


Astrid membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia terbaring, namun tak sedikit pun ia merasakan kantuk. Di bandingkan harus terlelap tidur, ia lebih mencemaskan suaminya. Apa dia baik-baik saja, sudahkan dia merasa tenang, atau mungkin apa perlu untuknya menemani suaminya yang tengah bersedih itu. Kalimat itu terus terlintas di pikiran Astrid saat ini.


Astrid pun lalu beranjak dari tempat tidurnya, untuk menghampiri pria yang tengah tenggelam dalam kesedihannya itu. Namun di saat ia membuka pintu kamar, tiba-tiba Janus sudah berada di depan pintu. Sontak Astrid pun di buat kaget menatap Janus yang tengah berdiri di depannya itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Janus.


"Hm, aku mau menghampirimu. Tapi karena kamu sudah mau ke kamar jadi aku akan balik lagi," jawab Astrid sembari menggaruk tengkuk yang tak terasa gatal.


"Apa ada hal yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya kembali Janus.


"Tidak, aku hanya ingin memberitahumu untuk cepat tidur, karena ini sudah malam." Astrid berdalih tak memberitahu Janus bahwa sebenarnya ia merasa cemas.


"Oh, aku sekarang akan tidur ko." Janus melangkah masuk ke kamar. Yang kemudian di ikuti Astrid yang kembali ke ranjangnya.


Seperti biasa sebelum tidur, Janus terlebih dahulu akan meminum obat. Ia mengambil obat di laci yang berada di sebelah tempat tidurnya.


"Aku lupa membawa air," gumam Janus lalu melangkahkan kakinya untuk mengambil segelas air putih di dapur.


Di saat Janus akan hendak keluar dari kamarnya, Astrid tiba-tiba menarik lengannya. "Jangan minum obat itu lagi."


Janus pun mendongkak menatap Astrid. "Jika aku tidak minum obat, sampai pagi aku tidak akan bisa tidur."


"Akan ku buat kamu tertidur tanpa harus meminum obat."

__ADS_1


Janus melepaskan tangan Astrid dari lengannya. "Mana bisa kamu membuatku tertidur."


"Aku akan berusaha membuatmu tertidur tanpa harus meminum obat. Bukankah dulu kamu sempat berhenti meminum obat, karena itu mulai hari ini aku akan membuatmu berhenti meminum obat." Tegas Astrid meyakinkan Janus.


Yang kemudian Astrid menarik lengan Janus dan membawanya kembali ke tempat tidur. Setelah itu ia pun membaringkan Janus dan menyelimutinya.


"Aku bukan anak kecil, aku bisa menyelimuti tubuhku sendiri." Janus di buat tersenyum dengan tingkah laku Astrid tersebut.


"Tapi bagiku, kamu seperti anak kecil yang menggemaskan." Astrid juga membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Jadi bagaimana kamu bisa membuatku tertidur lelap?" tanya Janus.


"Malam ini aku akan membuat perasaanmu jadi lebih baik. Jadi untuk sejenak kamu lupakanlah semua hal yang membuatmu gelisah dan merasa sedih. Karena itulah penyebab kamu tidak bisa tidur nyenyak. Dan untuk saat ini, pikirkan lah semua yang membuatmu bahagia dan lupakanlah semua kisah-kisah yang membuatmu terluka."


Astrid meraih tangan Janus lalu menggenggam erat tangannya. Janus dan Astrid berbaring sembari berhadapan. Hingga membuat Janus berdebar seketika menatap Astrid yang tengah berbaring sembari menggenggam erat tangannya.


Untuk membuat Janus tertidur lelap, Astrid mulai menceritakan banyak hal yang akan membuat Janus tersenyum dan juga tertawa. Dan melupakan semua yang membuat batinnya terluka.


...****************...


Fajar telah berada di upuk timur, Astrid yang tengah tertidur lelap terbangun karena sorot matahari dari balik jendela kamarnya. Kedua alisnya berkerut dengan mata yang setengah terbuka. Ia pun lalu beranjak dari tempat tidur. Saat ia terbangun, Astrid menatap Janus yang masih tertidur nyenyak. Ini memang sudah pagi, tapi Astrid tak tega membangunkan suaminya yang tengah tertidur itu. Sebelum membangunkan suaminya, Astrid keluar dari kamarnya untuk beres-beres dan menyiapkan sarapan terlebih dahulu.


Setelah selesai dan beres-beres, barulah Astrid membangunkan Janus. Ia menepuk lembut pipi Janus. "Kak bangun, udah pagi. Bukankah hari ini kita akan pergi ke pernikahannya kak Bayu."


Janus menggeliat dengan mata yang setengah terbuka. "Aku masih ngantuk."


Astrid lalu menarik kedua lengan Janus untuk membuatnya terbangun dari tempat tidurnya itu. "Dasar malas, ayo cepat bangun."


"Iya... iya dasar istriku bawel." Janus tersenyum sembari mencubit pipi Astrid. Yang kemudian ia pun beranjak dari tempat tidur untuk segera siap-siap.

__ADS_1


***


Setelah Janus dan Astrid selesai siap-siap dan sarapan. Mereka pun segera beranjak pergi ke tempat pernikahan Bayu dan Luna. Namun, ketika setengah perjalanan telah mereka lalui, tiba-tiba saja Janus memarkirkan mobilnya di sebuah butik.


"Ini kan bukan gedung pernikahan. Kenapa kamu memarkirkan mobilnya di sini," ucap Astrid heran.


"Aku akan membuatmu jadi cantik terlebih dahulu," ucap Janus tersenyum.


"Jadi hari ini aku tidak cantik," ucap Astrid dengan wajah yang cemberut.


"Hari ini kamu cantik, tapi aku akan membuatmu lebih cantik lagi." Janus keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk Astrid. Yang kemudian membawa Astrid memasuki butik tersebut.


"Tolong pilihkan beberapa gaun cantik untuk istriku," ucap Janus kepada pelayan toko.


"Baik tuan."


Beberapa gaun yang paling bagus dan cantik di pilihkan pelayan untuk Astrid. Satu-persatu gaun di coba Astrid dan di tunjukan kepada Janus. Sudah empat gaun yang di kenakan Astrid, namun di mata Janus masih belum ada yang cocok. Hingga gaun ke lima yang di kenakan Astrid, akhirnya membuat Janus terpukau menatap istrinya itu.


"Cantik sekali, ini benar-benar cocok untukmu."


"Benarkah aku cantik," ucap Astrid tersenyum manis menatap Janus.


"Bukan kamu yang cantik tapi gaunnya."


Senyum Astrid pudar seketika. " Aku sudah percaya diri sekali di bilang cantik, taunya yang cantik cuma gaun yang di kenakan olehku."


Janus mendekat ke arah Astrid lalu berbisik. "Sebenarnya kamu juga sangat cantik.


Seketika rona merah di wajah Astrid muncul. Pujian Janus benar-benar telah membuat jantungnya berdebar tak karuan.

__ADS_1


"Menyingkirlah dariku." Astrid mendorong Janus dari hadapanku.


Janus pun tersenyum menatap Astrid yang tengah malu setelah pujinya. Yang kemudian ia pun mengahampiri pelayan. "Tolong potong labelnya, saya akan bayar yang itu."


__ADS_2