
Semalam adalah kali pertama bagi Astrid, ia terlampau malu bila mengingat kejadian tadi malam. Astrid keluar dari kamarnya dengan rambut dan pakaian yang sedikit berantakan. Wajahnya memerah saat ia menghampiri Janus di dapur. Pria yang tadi malam berprilaku agresif itu tengah menyiapkan sarapan untuk istrinya.
Astrid pun mendekat lalu memeluk Janus dari belakang. "Maaf tadi sudah marah-marah," ucapnya dengan rona merah di pipinya.
Janus melepas lengan wanita yang tengah melingkari tubuhnya itu, lalu berbalik menghadapnya. Dan dengan cepat ia mengecup bibir mungil dari istrinya itu. "Untuk apa meminta maaf, aku senang melihat sikap menggemas kamu tadi."
Semakin merah saja wajah Astrid atas ucapan suaminya tersebut. Ia pun memalingkan pandangan dari Janus. "Berhenti menggodaku, aku sangat malu."
Melihat istrinya tersipu malu, Janus semakin senang untuk menggodanya. Ia pun meraih pipi wanita yang tengah tersipu malu tersebut, lalu kembali mengecup bibir mungilnya itu.
"Aku senang bila menggoda perempuan polos sepertimu," ucap Janus tersenyum manis sembari menatap wajah istrinya.
Semakin malu Astrid bila di tatap dengan senyuman manis dari pria yang tak ingin di lepaskannya itu. Astrid pun langsung saja mendekap erat suaminya tersebut.
"Kak, batalkan ya perceraian kita," pinta Astrid.
"Lagi pula surat izin cerainya sudah kamu robek waktu itu. Jadi mau apa lagi, kita tidak akan berpisah. Karena aku sudah tersadar, sehari saja tak bertemu denganmu sudah membuatku tersiksa," ucap Janus yang semakin erat melingkari tubuh Astrid.
"Lalu bagaimana dengan pendidikanku. Aku tak ingin melanjutkannya," ucap Astrid dengan raut wajah yang sedikit di tekuk kesal.
Janus menghela nafasnya. "Jika kamu tidak ingin melanjutkannya aku tak akan memaksa. Sebenarnya aku sudah satu tahun memiliki restoran ayam korea. Jadi bila mau, kamu bantu aku mengelola restoranku. Ya, walaupun restorannya tidak terlalu besar, tapi setidaknya jika kamu bekerja di restoranku aku tidak perlu mengkhatirkanmu. Karena rencananya aku tidak akan lagi bekerja di sekolah dan akan fokus mengelola restoran."
__ADS_1
Sontak Astrid pun senang setelah Janus menyetujui keinginannya tersebut. Di tambah ia juga senang karena akan bekerja bersama dengan suaminya di restoran.
"Makasih, aku akan bekerja keras membantumu di restoran," ucapnya tersenyum girang.
"Hm, gomong-ngomong kamu belum mandi. Mau mandi bareng denganku tidak?" tanya Janus tersenyum menggoda.
Sontak Astrid pun langsung saja melepaskan dekapannya. "Tidak perlu, lagi pula aku tidak akan mandi karena tidak membawa baju ganti," ucapnya dengan rona merah di wajahnya.
"Kamu bisa memakai bajuku, karena aku membawa banyak baju di koper," ucap Janus yang seketika mengedipkan mata sebelah kanan. "Jadi bagaimana, mau mandi bareng tidak."
Astrid menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu mandi bareng, kamu lanjutkan saja masaknya. Aku akan mandi sekarang, jadi nanti kamu siapkan bajunya di atas tempat tidur," ucapnya lalu terburu-buru beranjak pergi ke kamar mandi yang berada di ruang tidur.
"Aku lentakan pakaiannya di atas tempat tidur ya," teriak Janus.
"Iya simpan saja," ucap Astrid yang juga berteriak di dalam kamar mandi.
Setelah lima belas menit berlalu, Astrid pun selesai mandi dan segera keluar untuk berpakaian. Astrid meraih hoodie dan celana yang di letakan Janus di atas tempat tidur. Setelah di pegang, Astrid sampai menganga saat menatap pakaian yang sangat besar itu. Bahkan di saat Astrid mengenakan hoodie, ia sudah seperti menggunakan gaun saja. Lengan panjang dari hoodie yang ia kenakan di lipatnya. Astrid sudah tak perlu lagi memakai celana, karena panjang dari hoodie tersebut sampai di atas tumitnya. Ya, walaupun mengenakan celanapun, pinggang Astrid tidak akan pas bila memakainya.
Setelah berpakaian, Astrid pun beranjak dari kamar menuju dapur untuk menghampiri suaminya. Raut wajah Janus memerah saat menatap istrinya yang tampak imut ketika memakai pakaian yang terlalu besar itu.
"Wah seksi Trid, tidak memakai celana sangat cocok untukmu," ucap Janus sembari mengacungkan dua jari jempolnya.
__ADS_1
Sontak Astrid pun tersipu malu, ia langsung saja berbalik dan terburu-buru kembali ke kamarnya.
Janus meraih lengan istrinya lalu menarik hingga tubuhnya mendekat. "Mau kemana? lebih baik sarapan dulu dari pada sibuk nyari celana," ucap Janus yang dengan cepat menggendong Astrid menuju meja makan.
Dua piring nasi goreng telur ceplok, di siapkan Janus di atas meja makan. Sudah lama sekali Astrid tidak makan masakan suaminya tersebut. Ia pun tersenyum girang saat menatap makanan yang telah menggugah seleranya itu. Dengan lahap, Astrid pun menyantap nasi goreng telur ceplok buatan suaminya hingga tak menyisakan satu butir nasi di piringnya.
"Istriku bisa gendut jika makan selahap ini," ucap Janus sembari menyeka sisa makanan di sudut bibir Astrid.
"Jika tidak ingin aku gemuk, jangan buat makanan selezat ini," ucap Astrid tersenyum.
Lagi-lagi Astrid membuat Janus sangat gemas, hingga membuatnya mencubit pipi chubby milik istrinya tersebut. "Jika kamu gendut, kamu makin menggemaskan. Apa perlu aku masak setiap hari buat kamu."
Sontak Astrid pun langsung mengusap pipi yang kesakitan setelah di cubit suaminya. "Jangan-jangan, aku tidak suka jadi gemuk," ucapnya di tekuk kesal.
Janus kembali tersenyum menatap istrinya yang tengah di tekuk kesal sembari mengusap-ngusap pipinya. "Baiklah sayangku, aku ga akan masak setiap hari biar kamu tidak gemuk," ucapnya lalu berdiri dari duduknya. "Aku akan mandi, kamu yang mencuci piring ya. Atau mau temenin aku mandi."
Astrid menggelengkan kepalanya. "Tidak mau, lebih baik aku cuci piring dari pada harus masuk kamar mandi bersamamu," ucapnya yang terburu-buru membereskan piring kotor di meja makan menuju wastafel.
Astrid segera mencuci piring kotor di wastafel yang berada di dapur. Sementara Janus sibuk membersihkan diri di kamar mandi. Setelah Janus usai mandi dan Astrid usai mencuci piring. Janus pun mengajak Astrid pulang ke apartemen. Astrid masih ingin tetap menghabiskan waktu bersama di vila, tapi mau bagaimana lagi suaminya sudah mengajaknya pulang. Astrid pun terpaksa mengikuti kemauan suaminya tersebut.
Walau sebentar berliburnya, tapi Astrid cukup puas. Apa lagi suaminya sudah memutuskan tidak akan bercerai dengannya. Bahagia sekali ia bila bersamanya. Baik Astrid maupun Janus keduanya menegaskan untuk tidak saling melepaskan dan akan tetap bersama apapun yang terjadi. Setelah di landa masalah, Janus dan Astrid mengambil pelajaran dari balik masalah yang terjadi pada mereka. Mereka berpikir, bahwa perpisahan bukanlah tujuan yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
__ADS_1