Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
106. Gelisah


__ADS_3

Setelah pak Andy pergi, Astrid beranjak mengikuti Janus ke kamar. Di kamar Janus di sibukan dengan laptopnya. Tangannya menekan tombol keyboard, namun pikirannya seperti melayang. Janus masih terlihat cukup syok setelah ia tahu fakta tentang kakaknya.


Berulang kali Janus menghela nafasnya, ia seperti gelisah, pikirannya sudah kacau balau. Keributan yang terjadi di restoran belum juga mereda di pikirannya, ia malah harus mendapatkan kejutan yang sangat tak terduga.


Keluarganya memang dari dulu sudah tidak harmonis, akibat dari sebuah perjodohan. Seorang suami yang berselingkuh dengan wanita yang sangat di cintainya, lalu seorang istri yang juga berselingkuh dengan pria lain, bukankah itu merupakan keluarga yang berantakan. Walau Janus tak peduli dengan ayahnya, rasa khawatir terhadap ayahnya tetap ada. Janus tak hentinya berpikiran jernih, ia sangat khawatir bila nanti ayahnya tahu fakta tentang Bayu yang bukan darah dagingnya.


Janus sudah tak bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya, ia pun harus menutup laptopnya. Astrid menghampiri Janus yang tengah duduk di meja kerjanya itu. Dari belakang Astrid merangkul dan mengelus pundak suaminya.


"Aku beruntung bisa membina keluarga bersamamu, walau dari hasil perjodohan tapi tuhan telah memberikan cinta untuk kita. Lain halnya dengan kisah keluargaku yang berantakan," lontar Janus sembari mengelus lengan istrinya.


"Kak, apa sekarang kamu baik-baik saja?" tanya Astrid khawatir.


Janus menggeleng. "Aku sangat tidak baik-baik saja. Walau aku membencinya, aku sangat merasa gelisah, aku takut bila nanti dia tahu fakta tentang istri dan anaknya."


Astrid memutar kursi kerja yang di duduki Janus, sembari menatap, tangannya melingkari tengkuk suaminya. "Kamu tidak membenci ayahmu, justru kamu sangat menyayanginya, dan takutmu itu, karena kamu sangat mengkhawatirkannya," ucapnya melengkungkan kedua sudut bibirnya hingga menciptakan senyuman manis.


Lidah Janus berdecik. "Cih, rasa sayangku terhadapnya sudah lama pudar. Aku rasa perkataanmu salah Trid."


Seketika Astrid mencubit pipi Janus. "Duh.. dasar gengsi. Padahal sangat jelas terlihat, bahwa rasa sayangmu terhadap ayah tidak sepenuhnya pudar. Bahkan perkataanmu tadi tidak bisa membohongiku."


Janus mengerutkan kedua alisnya. "Benarkah? tapi aku tak merasakannya."


Astrid mengangguk. "Iya benar, mungkin karena kamu terlalu mengingat perlakuan dingin ayahmu, hingga membuatmu lupa, bahwa kamu tidak sepenuhnya membencinya.


Hm, biar kamu tak merasa gelisah, akan ku buatkan coklat panas. Katanya coklat bisa memperbaiki mood." Astrid melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Ia membuka lemari es di dapur, lalu mengambil coklat untuk di seduhnya. Astrid hanya butuh waktu tiga menit untuk menyeduh coklat, dan ia sudah kembali ke kamar membawakan segelas coklat panas yang di seduhnya itu.

__ADS_1


Astrid memberikan gelas berisi coklat panas yang di pegangnya kepada Janus. "Hati-hati panas, sebelum di minum tiup dulu."


Janus meraih gelas di tangan Astrid. "Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum.


...****************...


Setelah beberapa hari yang lalu pak Andy memberitahu kebenaran tentang rahasia Yeni. Pak Andy sudah tak lagi menemui Janus, mungkin karena ia sudah meyerah membujuk Janus, atau mungkin ia sangat di sibukan dengan pekerjaanya, hingga tak ada waktu untuk menemui cucu bungsu dari mendiang mantan atasannya.


Lain halnya dengan Yeni dan Bima yang masih saja rutin bertemu di restoran milik putra kedua dari Adit sayuda. Janus sampai menggeleng melihat pertemuan rutin yang di lakukan ibu sambungnya itu.


Walau Janus sudah mengetahui maksud dari Bima, Janus tak berniat memberitahu mereka, bahwa dirinya sudah mengetahui rahasia besar yang di sembunyikan ibunya itu. Janus tak mau peduli dengan ibu sambung yang selalu mencacinya. Justru dengan Bima mengancam Yeni, itu menjadi sebuah balasan baginya yang sudah menutup-nutupi rahasia besar dari suami dan keluarganya.


Saat ini restoran tidak terlalu ramai, Janus sengaja diam di tempat kasir sembari memperhatikan Bima dan Yeni. Bagitu pun dengan Astrid yang juga ikut fokus memperhatikan mertuanya.


Dan seperti biasa setelah menerima amplop berisi uang, Bima selalu berteriak memanggil Janus seakan ingin mengancam Yeni agar tetap rutin memberinya uang.


"Ada perlu apa anda memanggil saya? Apa anda ingin memesan kembali makanan atau minuman?" tanya Janus sembari melipat lengannya.


"Baru kali ini kamu ku panggil langsung datang. Aku jadi tidak perlu repot-repot berteriak," lontar Bima.


Bima berdiri, lalu mendekat ke arah telinga Janus. "Jaga Bayu baik-baik, dia merupakan penerus perusahaan."


Janus tersenyum sinis sembari menatap Yeni. "Kenapa aku harus menjaganya, bukankah dia sudah besar. Lagi pula aku tidak memiliki hubungan darah dengannya."


Yeni pun nampak gelisah setelah mendengar perkataan dari anak sambungnya itu.


"Apa maksudmu perkataanmu? Dia itu kakakmu ya," ucap Yeni panik.

__ADS_1


"Bukankah sudah jelas, bahwa aku dengan Bayu berbeda ibu." Janus menunjukan senyum manisnya yang seakan-akan ia tengah meledek Yeni. "Biarpun satu ayah, aku tak pernah menganggap Bayu saudaraku," ucap Janus merendahkan nada suaranya.


"Lagi pula Bayu juga tidak pernah menganggapmu sebagai adiknya," timpal Yeni kesal.


"Bagus kalau begitu, karena mana mungkin dia bisa jadi kakaku." Janus kembali tersenyum menatap Yeni. "Karena kalian sudah sering makan di restoranku, kalian ku beri diskon. Dan untuk taggihannya, bu Yeni bisa membayarnya langsung di kasir, karena aku tidak menerima pembayaran langsung di sini."


Sebelum beranjak pergi, Janus berpamitan terlebih dahulu. "Nanti sebelum saya ke dapur, saya juga akan menyuruh kasir meminta setengah tagihannya untuk pesanan bu Yeni dan pak Bima. Kalau begitu saya pamit."


Setelah ibu sambungnya di buat gelisah dan panik, Janus beranjak pergi dengan perasaannya yang sangat puas. Sementara Yeni, ia sangat kesal dan marah atas perlakuan jahil dari anak sambungnya.


Perkataan Janus memang sempat membuat Yeni curiga, bahwa anak sambunngnya itu telah mengetahui tentang rahasia Bayu yang bukan anak dari Adit Sayuda. Namun permainan kata dari Janus mampu dengan cepat meleburkan kecurigaan Yeni.


Yeni yang tengah kesal itu, terburu-buru beranjak ke meja kasir untuk membayar tagihan pesanannya.


Yeni mengeluarkan beberapa pecahan uang seratus ribuan, lalu menaruhnya di meja kasir.


"Bilang pada Janus, saya tidak butuh diskon dari dia. Dan ambil semua kembaliannya, kalau dia menolak, kamu ambil saja."


Yeni pun beranjak pergi dari restoran dengan raut wajah yang di tekuk kesal.


Astrid yang tengah melihatnya pun sampai menertawai. Astrid beranjak ke dapur untuk menemui suaminya.


Astrid berbisik ke telinga Janus. "Kamu apakan bu Yeni sampai membuatnya cemberut."


"Entahlah, padahal aku tak berbuat apa-apa," ucap Janus yang juga berbisik.


Baik Janus maupun Astrid, kedua di buat tertawa ketika mengingat jelas wajah kesal dari Yeni. Bahkan Janus sampai mengulang cerita, saat tadi ia membuat kesal ibu sambungnya itu.

__ADS_1


__ADS_2