
Pagi harinya, seusai sarapan Astrid dan Janus langsung bersiap pergi menuju Busan, kota tempat tinggal adik dari ibunya Janus. Astrid dan Janus pergi menumpangi kereta cepat dari Seoul menuju Busan. Karena namanya juga kereta cepat, lajuan pun sangat cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar tiga setengah jam kereta sudah sampai di kota terpadat kedua di korea selatan.
"Ini baru namanya train to busan," ucap Astrid ketika ia turun dari kereta.
Janus tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Tapi ini bukan di film sayang."
Astrid merangkul lengan kekar milik suaminya itu. "Iya, untungnya tidak ada zombie seperti di film."
Sontak Janus pun tertawa atas ucapan konyol dari istrinya itu. Hanya karena tingkah konyol dan sikap polos istrinya. Janus mampu menghilangkan rasa cemas dan tidak enak hati yang sedari tadi pagi ia rasakan. Entah mengapa semenjak ia sampai di korea, rasa cemas juga perasaan tak enak terus di rasakan Janus. Terutama saat ia sampai di apartemen milik ibunya tersebut. Bahkan sampai saat ini Janus merasa gelisah, bila Astrid tak menghiburnya dengan candaan. Mungkin saja Janus tak bisa fokus seperti semalam saat ia tak sengaja menjatuhkan guci di apartemen.
Setelah dari stasiun kereta, Janus dan Astrid pergi menumpangi taxi untuk pergi ke rumah adik dari ibunya Janus. Dari stasiun Janus dan Astrid hanya menumpangi taxi sekitar tiga puluh menit, mereka sampai di depan rumah yang katanya tempat kediaman dari adik Kim Yu Na.
Saat di depan gerbang rumah bibinya, betapa gelisahnya Janus. Hingga membuatnya berulang kali menghela nafasnya. Astrid lalu meraih tangan suaminya tersebut.
"Tenangkan dirimu. Dan yakinlah bahwa setelah kamu bertemu dengan ibu maupun bibimu perasaanmu akan senang," ucap Astrid tersenyum.
Janus pun tersenyum sembari mengangguk. Sentuhan lembut dari tangan Astrid dan juga ucapannya mampu membuat pria yang tengah gelisah itu sedikit lebih tenang.
Janus kemudian dengan cepat menekan tombol bel di samping pintu gerbang. Hanya butuh tiga kali menekan tombol bel, seorang wanita berkisaran sekitar umur empat puluh tahunan membuka pintu gerbang tersebut. Dengan kedua alis yang bertautan, wanita tersebut menatap fokus anak semata wayang dari Kim Yu Na.
"Imo (Bibi)," panggil Janus kepada wanita yang tengah menatapnya itu.
__ADS_1
Sontak wanita tersebut pun menitikan air matanya, lalu dengan cepat ia memeluk pria yang memanggilnya dengan sebutan Imo.
"Janus," seru wanita tersebut.
"Ini siapa, pacar kamu?" tanyanya menatap Astrid sembari melepaskan pelukannya.
"Saya Astrid, istrinya kak Janus," jawab Astrid yang seketika ia tersadar, bahwa wanita yang di panggil suaminya imo itu berbicara dalam bahasa Indonesia. "Eh, kenapa bisa bahasa Indonesia," ucapnya heran.
"Bibiku sama halnya seperti ibuku, pernah bekerja di perusahaan korea yang berada di Indonesia. Jadi dia pandai bahasa Indonesia," terang Janus.
"Oh ya, saya belum memperkenalkan diri ya. Nama saya Kim Yu Ri, karena kamu istrinya Janus. Kamu juga bisa memanggil saya dengan sebutan Yu Ri imo," ucapnya sembari tersenyum.
Tak lama setelah Astrid berkenalan, adik dari ibu mertuanya itu mempersilahkan masuk. Saat di rumah, Astrid juga di kenalkan dengan anak dari Kim Yu Ri atau sepupu dari suaminya. Tak di sangka, ternyata Janus memiliki dua orang sepupu yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka bernama, Park Eun Bi dan Park Jun Ho.
Seusai makan-makan, Janus berbincang dengan Kim Yu Ri di ruang tengah. Sementara Astrid hanya bisa memperhatikan mereka yang tengah mengobrol dalam bahasa korea. Yang entah obrolan apa yang mereka bicarakan, hingga membuat keduanya nampak bersedih.
Astrid ingin sekali bertanya, namun sepertinya perbincangan yang di lakukan Janus dan bibinya itu sangat serius. Sehingga Astrid tak berani untuk mengganggu mereka. Astrid sebenarnya sangat khawatir ketika menatap raut wajah dari suaminya yang seakan nampak syok dan juga bersedih. Yang Astrid lakukan hanyalah memegangi sembari mengusap lembut tangan milik suaminya tersebut.
Sesaat setelah perbincangan, adik dari Kim Yu Na itu beranjak dari ruang tengah. Sementara Janus hanya diam membisu sembari menundukan kepalanya. Sekali lagi Astrid sangat ingin bertanya mengapa suaminya nampak bersedih. Namun, Astrid tak mempunyai keberanian untuk bertanya. Hingga membuat kata-kata yang akan keluar dari mulutnya itu tenggelam.
Lalu tak lama Kim Yu Ri beranjak pergi, ia kembali lagi sembari memberikan sebuah kunci mobil kepada keponakannya itu. Setelah Janus meraih kunci mobil yang di sodorkan bibinya. Janus pun berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Mau kemana kak?" tanya Astrid.
"Kita akan menemui ibuku," jawab Janus dengan kedua mata yang seperti akan menitikan bulir air.
Lantas Astrid pun dengan girang berdiri dari duduknya, lalu mengikuti langkah suaminya menuju garasi mobil milik Kim Yu Ri.
Dalam perjalanan untuk menemui ibu mertuanya. Astrid berulang kali bercermin dan memperbaiki tampilan. Ia nampak gugup sekali, berulang kali Astrid mengatur nafasnya. Sementara Janus hanya diam membisu sembari fokus menyetir. Raut wajahnya masih sama seperti saat terakhir kali dari rumah bibinya. Ia nampak jelas sekali tengah bersedih, namun entah apa yang membuatnya bersedih. Bukankah seharusnya Janus bahagia karena akan bertemu dengan ibunya setelah sekian lama. Astrid yang tengah gugup pun jadi merasa khawatir dengan keadaan suaminya tersebut.
"Kak, apa kamu baik-baik saja?" tanya Astrid.
"Iya," jawabnya dengan suara rendah tanpa menatap ke arah Astrid.
Tak lama mobil melaju, tiba-tiba Janus menghentikan lajuannya di area pemakaman. Astrid pun nampak heran, mengapa suaminya menghentikan mobilnya di sebuah area pemakaman. Bukankah ia akan membawa Astrid menemui ibunya. Tapi malah membawanya kesebuah pemakaman.
"Kenapa kita kesini. Bukankah kita akan bertemu dengan ibumu?" tanya Astrid ketika turun dari mobil.
"Kita memang akan menemui ibuku," ucap Janus sembari melangkahkan kakinya yang langkahnya juga di ikuti oleh Astrid.
Satu makam atas nama Kim Yu Na yang di tulis dalam huruf hangul tertera di pemakaman tersebut. Janus berlutut di makam sembari menitikan air mata yang sedari tadi di tahanya.
"Ini makam ibuku," ucapnya sembari mengusap papan nama di makam yang tertera nama Kim Yu Na.
__ADS_1
Astrid pun syok saat tahu bahwa makam yang berada tepat di depannya itu merupakan makam ibu mertuanya. Spontan Astrid pun langsung saja mendekap erat suaminya yang tengah menangis sembari berlutut di depan makam ibunya tersebut.
"Bertahun-tahun aku membencinya, karena dia telah meninggalkanku di Indonesia. Seharusnya saat itu aku menolak untuk di bawa ke Indonesia, agar aku bisa menemaninya di saat dia sedang sakit. Aku bahkan tak ada di sampingnya di saat-saat terakhirnya. Aku bodoh Trid, mengapa aku tak menyadari bahwa saat itu dia tengah sakit," ucap Janus yang berulang kali menyalahi diri, dengan tangis yang pecah di pelukan istrinya.