Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
114. Kabar Buruk


__ADS_3

Sesudah menemui Bayu, Janus kembali ke kantor. Janus yang baru datang langsung saja di suguhi berkas-berkas yang perlu ia tanda tangani.


Jika hanya untuk mentanda tangani memang mudah, tapi sebelum tanda tangani berkas, Janus perlu membacanya terlebih dahulu. Mencari letak kesalahan ataupun mencari pengajuan yang menurutnya kurang di setujui.


Di tengah kesibukannya itu, Astrid datang menemui sembari membawa kantong yang entah apa isinya. Astrid tersenyum menghampiri lalu meletakan kantong tersebut di meja kerja Janus.


"Apa itu?" Tanya Janus sembari membalas senyuman istrinya.


"Makan siang untukmu," jawab Astrid sembari mengeluarkan beberapa kotak makan yang ia letakan di kantong.


Telur dadar yang di gulung, semur daging, beberapa sayuran, dan nasi, terdapat di dalam kotak makan yang di bawa Astrid. Tampak menggiurkan, tapi Janus harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu di bandingkan harus makan. Walaupun sebenarnya ia merasa lapar, karena tadi istirahatnya di pakai untuk pergi menemui Bayu, jadi ia tak sempat makan siang.


"Sayang sekali, aku hanya bisa mencium baunya saja. Karena aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahlu," ucap Janus menatap semua makanan yang di letakan Astrid.


Astrid mengambil sendok, lalu mengambil nasi dan beberapa lauk dengan sendok tersebut. "Biar ku suapi." Lalu menyodorkannya ke arah mulut Janus.


Janus tersenyum sembari menatap sendok yang di sodorkan istrinya itu. "Boleh juga," ucapnya yang langsung melahap suapan yang di sodorkan istrinya


"Bagaimana bisa kamu menyempatkan waktu untuk membuat ini semua, padahal di restoran kamu pasti sibuk?"


"Sekarang aku menempatkan dua pekerja baru di restoran. Satu pekerja part time yang di isi Alula dan satu pekerja tetap yang di isi Titan. Jadi, aku bisa sedikit meluangkan waktu untuk memasak dan mengantarnya kesini."


Janus syok ketika nama Titan di sebutkan Astrid, terlebih lagi Titan merupakan pekerja tetap di restorannya. Mana bisa terima jika pria yang sangat mengincar istrinya itu bekerja di restoran, apa lagi pekerja tetap pasti akan lebih banyak menghabiskan waktunya di restoran di bandingkan dengan pekerja paruh waktu.


"Titan, bukankah dia seharusnya sedang menjenjang pendidikan. Kenapa bisa di jadikan pekerja tetap?"


"Dia akan melanjutkan pendidikannya pada tahun depan. Karena setiap harinya di restoran sangat banyak pengunjung, aku jadi mempekerjakan dua pekerja baru. Dan kebetulan saat aku mulai membuka lowongan di media sosial, Titan dan Alula mendaftarkan diri."


"Aku sarankan ya, lebih baik Titan di pecat saja, dan cari lagi pekerja baru," tegas Janus dengan raut wajahnya yang di tekuk kesal.


"Memangnya kenapa? Pekerjaan Titan sangat baik. Karena dia sudah berpengalaman bekerja paruh waktu di berbagai tempat, dia langsung andal begitu masuk kerja."

__ADS_1


"Dia palingan cuma mau cari muka di depan kamu, dan pada akhirnya dia memiliki niat menggoda istriku ini. Aku tetap tidak suka bila Titan harus bekerja di restoran."


Astrid sampai tersenyum manatap wajah kesal yang penuh cemburu di raut wajah Janus.


"Mana mungkin Titan berbuat seperti itu, lagi pula aku ini atasannya. Dan selama dia bekerja, dia tak berbuat seperti apa yang kamu pikirkan. Jika dia berbuat seperti itu, maka aku akan langsung memecatnya, jadi kamu tidak perlu khawatir."


Janus mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji ya, kalau dia berbuat seperti itu kamu langsung memecatnya."


Astrid mengikat jari kelingkingnya dengan jari kelingking Janus. "Iya janji sayang."


Lidah Janus berdecik. "Cih, cuma manggil sayang mana kecupannya dong."


Astrid menggeleng sembari tertawa kecil atas tingkah manja suaminya itu. Astrid menghela nafasnya, dan dengan cepat ia mengecup pipi suaminya.


Hanya dalam waktu tiga puluh menit Astrid menyuapinya, makanan pun sudah habis di makan Janus. Astrid pun harus kembali ke restoran, sementara Janus masih belum puas menikmati waktu bersama istrinya. Terlebih lagi, selama ia bekerja di perusahaan, Janus sudah jarang menghabiskan waktunya bersama Astrid karena kesibukannya. Di malam hari sepulang kerja, kadang Janus langsung tidur karena kecapean, dan di hari liburpun terkadang Janus masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang belum selesai di rumah. Biar sesibuk apapun, setidaknya ia masih punya waktu bersama istrinya, ya walaupun hanya sebentar dan waktu luangnya hanya bisa di nikmati di rumahnya saja.


Selesai mentanda tangani berkas, pak Andy mengetuk pintu.


"Tok...tok...


Pak Andy datang menghampiri. "Sekarang sudah waktunya tuan Janus untuk mengisi rapat bersama para menajer."


"Baiklah, tolong ambil semua berkas di meja saya dan berikan semuanya kepada tiap divisi. Dan katakan kepada mereka, bagi berkas yang belum saya tanda tangani tolong di revisi kembali. Saya juga sudah menggaris bawahi apa yang perlu di revisi mereka."


Setelah itu, Janus segera bergegas keluar dari ruangannya. Namun, baru beberapa langkah ia keluar dari ruangan, ia berpapasan dengan Adit dan sekertarisnya. Janus di buat heran ketika menatap ayahnya yang berjalan terburu-buru. Apa lagi raut wajahnya nampak seperti tengah merasa cemas.


Janus memegang lengan Adit hingga membuat langkahnya terhenti. "Ayah, mau kemana?"


"Aku mendapati kabar bahwa Bayu meninggal dunia," jawab Adit.


Janus syok mendengar ucapan dari ayahnya itu. "Bagaimana bisa dia meninggal, padahal tadi aku masih sempat bertemu dengannya. Walau penampilannya berantakan, tapi dia tampak baik-baik saja."

__ADS_1


"Petugas di tahanan menemukan Bayu meninggal dalam keadaan gantung diri di kamar mandi. Aku harus memastikannya ke rumah sakit, karena sekarang jasadnya sedang di lakukan otopsi." Adit kembali melangkahkan kakinya.


Mendengar kabar tersebut, Janus tak bisa tinggal diam, ia langsung saja mengikuti Adit walau rapat sebentar lagi akan segera di mulai.


"Aku akan ikut kesana," ucap Janus.


"Kamu tak perlu ikut, kamu selesaikan dulu pekerjaanmu. Setelah pekerjaanmu selesai kamu boleh langsung kesana," ucap Adit yang panik dengan langkah yang semakin cepat.


Janus menghela nafasnya, Janus terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu walau ia ingin sekali pergi untuk memastikan Bayu. Janus pun kembali melangkahkan kakinya menuju ruang rapat.


Selama rapat berlangsung, Janus tak bisa berkonsetrasi memperhatikan persentasi dari beberapa menajernya. Pikirannya benar-benar sudah terganggu dengan kabar buruk tentang Bayu. Terlebih lagi sebelum meningal, Bayu sempat menitipkan Luna padanya. Janus juga tak habis pikir, bahwa permintaan maaf dari Bayu merupakan kata-kata terakhirnya.


Janus sampai menyalahkan diri, mengapa ia tak menyadari bahwa permintaan maaf serta permintaannya untuk menjaga Luna ternyata tanda-tanda dari Bayu yang akan mengakhiri hidup.


Janus yang tenggelam dalam lamunannya sampai-sampai tak bisa mencerna apa yang di sampaikan dalam rapat.


Andy menepuk tangan Janus. "Tuan Janus kenapa dari tadi belum ada tanggapan."


Janus tersadar dalam lamunannya. "Maaf sepertinya rapatnya harus di tunda, dan di lanjutkan besok atau lusa. Saya ada urusan yang lebih penting dari pada pekerjaan." Janus segera bergegas pergi dari ruang rapat.


Janus pergi menggunakan mobilnya ke rumah sakit tempat jasad Bayu akan di lakukan otopsi. Di sana sudah ada Adit, Yeni dan beberapa keluarga dari pihak Yeni.


Janus datang bukannya di sambut hangat, ia malah di sambut Yeni dengan amarah. Terutama ia sangat menyalahi Janus atas meninggalnya anaknya tersebut.


"Untuk apa kamu datang kesini. Kamu pasti puas atas meninggalnya Bayu. Jika saja kamu tidak membuat Bayu mendekam di penjara, dia tidak akan menghabisi nyawanya sendiri," ucap Yeni dengan isak tangis.


"Berhenti menyalahi anakku, dia melaporkan Bayu bukan tanpa sebab. Karena Bayu memang bersalah, jika Bayu tidak melakukan kejahatan ataupun tidak mengonsumsi narkoba, Janus tidak mungkin akan melaporkannya," lontar Adit.


"Hanya karena Janus anakmu, kamu lebih membela dia. Di sini yang menjadi korban adalah anakku. Kamu juga sama bersalahnya, di mana kamu saat ku mintai tolong, aku bahkan sempat memintamu untuk mencegah Bayu di tangkap, tapi apa? Kamu malah lebih mendengarkan Janus hanya karena dia anak kandungmu," ucap Yeni meninggikan suaranya.


"Aku sudah pernah membantu menutupi kesalahannya. Tapi, dia terus saja mengulangi kesalahannya."

__ADS_1


Yeni menunjuk ke arah pintu keluar. "Lebih baik kalian pergi saja dari sini. Aku sudah muak melihat kalian berdua."


Karena kedatangan Janus tak di terima, Adit dan Janus pun terpaksa harus pergi. Dari pada harus menimbulkan keributan yang lebih parah lagi.


__ADS_2