
Untuk kali pertama Astrid merasa bahwa dirinya bahagia memiliki seorang suami. Hanya untuk sesaat keduanya melupakan semua masalah yang terjadi dalam perkara rumah tangganya. Di saat ini pula, mereka melupakan perannya dalam bersandiwara sebagai pasangan. Hanya dalam hal bekerja untuk menyambut Baskara, keduanya tampak kompak untuk membuat masakan lezat. Untuk kali ini saja mereka benar-benar tampak seperti seorang pasangan suami istri yang sesungguhnya.
Mungkinkah hanya karena perasaan yang tengah tumbuh di hati kedua, membuat mereka menjadi pasangan yang akur dan harmonis. Ataukah hanya karena mereka perlu bekerja sama untuk membuat masakan yang sempurna, yang membuat mereka enggan merusak momen ini hanya karena sebuah keributan semata. Entahlah, keduanya kini benar-benar tak memperdulikan apapun. Mereka hanya fokus membuat makanan yang sempurna untuk menyambut pria paruh baya yang telah menyatukan mereka dalam suatu ikatan yang sakral.
Terlukis jelas dari wajah keduanya, bahwa pasangan yang hampir tiap hari ribut itu telah memiliki perasaan satu sama lain. Terutama Astrid yang sedari tadi tak hentinya terpesona menatap pria yang tengah memasak sembari memperlihatkan pergelangan tangan yang tampak berotot. Hingga membuatnya kehilangan fokus, yang seharusnya membantu. Ia malah hanya memperhatikan suaminya yang sedang sibuk memasak.
"Apa kamu hanya akan diam saja. Bukankah daun seledri masih belum di potong," sindirJanus dengan mata yang hanya fokus menatap panci yang berisi sup.
Menyadari akan hal itu, Astrid seketika di buat gugup oleh ucapan Janus padanya. Ia pun terburu-buru mengambil daun seledri dan segera memtongnya. "Maaf, ku pikir sudah selesai di potong."
Janus tersenyum sembari menatap Astrid yang tengah gugup setelah di sindirnya. "Apa aku terlihat tampan, sehingga membuatmu tak henti berpaling menatapku."
Semakin gugup saja ia saat pria yang membuatnya terpesona menatapnya sembari tersenyum manis. Ia juga nampak gelisah dengan ucapan suaminya yang menyadari bahwa, ia sedari tadi hanya memandangi wajah tampan di miliki suaminya tersebut.
"Aku tak berpikir bahwa kamu tampan. Aku hanya memperhatikanmu karena kamu pintar memasak, bukan karena aku terpesona melihat wajahmu," ucap Astrid tanpa menatap Janus.
Janus tersenyum yang seakan-akan ia menertawakan apa yang di ucapkan oleh istrinya tersebut. Yang kemudian ia pun kembali mengaduk sup yang sedari tadi di masaknya.
***
Dua puluh menit telah berlalu, akhirnya beberapa masakan telah siap di sajikan. Astrid dan Janus pun segera memindahkan wadah-wadah yang berisi makanan ke meja makan. Saat telah usai memindahkan, tiba-tiba suara dari bel pintu terdengar.
"Kring...
__ADS_1
"Sepertinya itu kakek, tunggu sebentar aku akan membukakan pintu," ucap Janus terburu-buru pergi menuju pintu depan.
"Aku juga mau ikut." Astrid mengikuti Janus yang tengah pergi membukakan pintu.
Di saat pintu terbuka, benar saja yang menekan tombol bel tersebut ialah Baskara. Pria yang tengah menderita leukimia itu, datang bersama supir pribadinya. Sudah lama Astrid dan Janus tak melihatnya, membuat keduanya tampak khawatir ketika menatap kakeknya yang tengah sakit itu berjalan menggunakan kursi roda. Kini wajahnya semakin pucat begitu pun dengan tubuhnya yang tampak semakin kurus. Hingga membuat Janus yang melihatnya pun merasa sedih.
Janus kemudian mengambil alih mendorong kursi roda dan membawa kakeknya masuk kedalam apartemen mewah miliknya.
"Sepertinya kalian habis memasak, wanginya enak sekali," ucap Baskara mengendus aroma makanan yang berada di dapur.
"Iya kami membuat makanan spesial untuk kakek," ucap Astrid tersenyum menatap pria paruh baya yang tengah duduk di kursi roda.
"Kakek jadi tak sabar ingin segera menyantapnya."
Saat satu suapan telah masuk ke dalam mulutnya, tak hentinya baskara memuji makanan yang di buat oleh cucunya tersebut. Hingga membuatnya dengan lahap menyantap makanan. Lain hal dengan Janus yang tampak tak seperti menikmati makanan. Jelas terlihat dari raut wajahnya yang menunjukan bahwa ia merasa sedih.
"Ini benar-benar enak, tapi mengapa kamu seperti tidak menikmati makanannya," ucap Baskara kepada Janus.
"Aku tidak nafsu makan," ucap Janus mengaduk-ngaduk makanan di piringnya.
"Apa kamu ada masalah?" tanya Baskara.
"Tidak ada," jawab Janus tanpa menatap dan hanya fokus memainkan sendoknya.
__ADS_1
Pria yang tengah sakit itu membuat Janus khawatir setengah mati. Bagaimana tidak merasa khawatir, seseorang yang sangat berharga di hidupnya kini tubuhnya telah gerogoti oleh penyakit yang mematikan. Pikirannya kalut hingga membuatnya tak berhenti memikirkan kondisi yang di derita oleh kakeknya tersebut.
"Kedatangan kakek kesini sebenarnya ingin memberitahukan bahwa minggu depan Bayu dan Luna akan melangsungkan pernikahan." ucap Baskara ketika makanan di piringnya sudah habis.
"Benarkah, ini kabar yang sangat baik. Akhirnya setelah sekian lama mereka bertunangan, mereka bisa melangkah ke jenjang pernikahan," ucap Astrid sembari tersenyum.
"Oh ya, ada yang sangat ingin kakek sampaikan kepada kalian. Karena Astrid sebentar lagi lulus, kakek harap kalian tidak menunda momongan, karena kakek sepertinya sudah tidak sabar ingin menimang seorang cicit dari kalian."
Astrid di buat terkejut setelah mendengar permintaan dari kakek mertuanya itu. Permintaan tersebut terlalu sulit baginya. Karena hubungan dengan suaminya yang sangat rumit, tidak memungkinkan dirinya mendapatkan buah hati dari pria yang tak mau mengakui perasaanya itu.
Sementara Janus masih diam tak berucap. Ia di kendalikan oleh lamunannya, hingga membuatnya kehilangan fokus dan tak menyadari apa yang di bicarakan kakek dan istrinya itu.
Baskara pun kemudian menepuk pundak cucunya. "Kenapa kamu hanya diam saja. Apa ada yang kamu pekirkan, kamu harus ceritakan semuanya."
Janus pun menoleh menatap kakeknya. "Kenapa kakek menolak untuk di rawat di rumah sakit. Bukankah jika di rawat di rumah sakit jauh lebih baik di bandingkan di rumah. Apa perlu Janus carikan rumah sakit terbaik, supaya kakek cepat sembuh."
"Penyakit kakek sudah memasuki stadium akhir, sulit sekali untuk sembuh. Rumah sakit manapun tak akan ada yang mampu menyembuhkan penyakit kakek. Kakek hanya ingin menikmati saat-saat terakhir kakek di tempat yang bebas, bukan di rumah sakit."
Janus seketika menghela nafasnya lalu berdiri dari tempat duduknya. "Tak ada yang akan bertahan lama untuk tetap tinggal di sisiku, karena pada akhirnya semua orang yang berada di sisiku pasti akan meninggalkanku." Yang kemudian ia beranjakan pergi memasuki kamarnya.
Ucapan yang di lontarkan Janus membuat pria paruh baya itu di buat diam tak berucap. Hatinya terlampau sakit setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh cucunya tersebut.
Hingga satu hal terlintas di benaknya, sebuah pengharapan untuk cucu keduanya. Harapan yang mungkin sulit di terima olehnya. Ia hanya berharap bahwa cucunya bisa berlapang dada menerima kondisi dan keputusannya.
__ADS_1