
Janus terduduk di atas sofa, ia memejamkan matanya. Berpikir keras untuk mengingat apa yang sudah di lupakannya kemarin malam. Selama ia mabuk, alkohol benar-benar telah merusak ingatannya. Sudah setengah jam ia duduk di atas sofa dengan mata yang terpejam dan memaksa otaknya untuk mengingat apa yang telah di lupakannya itu.
Sangat melelahkan sedari tadi ia mencoba mengingat namun, hasilnya nihil.
Hingga akhirnya ia membaringkan tubuhnya di sofa.
Teramat hening, hanya terdengar suara samar dari jam yang berdetak yang di iringi suara tetesan air dari keran di wastafel dapurnya. Matanya terpejam, namun ia tak benar-benar tertidur lelap. Ia pun kembali membuka matanya, menatap jarum jam yang sudah menunjukan pukul 11 malam. Janus beranjak dari sofa, pergi ke dapur untuk meneduh teh hangat. Ia berpikir jika ia meminum-minuman hangat, mungkin bisa membuat tidurnya lebih nyenyak. Ya, walaupun hanya tidur di atas sofa tanpa batal maupun selimut.
Saat ia akan mengambil teh, ia menatap botol wine yang kosong di dekat tempat sampahnya. Keningnya seketika mengerenyit, beberapa puzzle dalam ingatannya mulai tersusun.
"Aku ingat semuanya. Kemarin malam, aku dan Astrid tak melakukan apapun," gumam Janus.
Janus terburu-buru pergi ke arah kamarnya. Namun, di saat ia membuka pintu kamarnya, Astrid sudah berdiri di balik pintu dengan kedua lengan yang di lipat di dadanya.
"Aku sudah ingat semuanya," ucap Janus.
"Oh, aku juga mengingat sesuatu. Kalau gitu kamu dulu jelaskan apa yang kamu ingat," ucap Astrid menatap tajam Janus.
"Kemarin setelah kamu tidak sadarkan diri, aku menggendongmu ke kamar. Lalu setelah itu, aku pun ikut tidur di tempat tidurmu. Aku hanya tidur saja tidak melakukan apapun. Kamu tahu kan kalau aku tidur selalu tak mengenakan atasan. Tapi, saat aku berbaring mataku masih setengah terbuka. Aku teringat kamu yang seperti merasa gerah, membuka bajumu. Aku yakin dengan ingatanku, bahwa aku hanya tidur saja dan aku tak melakukan sesuatu yang terlarang." tegas Janus.
"Oh ya. Sebelum aku tak sadarkan diri, apa yang kamu lakukan padaku? tanya Astrid dengan raut wajah yang nampak kesal.
Janus seketika menelan salivanya, tiba-tiba saja ia merasa gugup dan gelisah dengan pertanyaan yang di lontarkan Astrid tersebut. Ia menghebuskan nafas panjangnya, lalu tersenyum sembari menatap Astrid.
"I...tu aku khilaf. Kamu tahu kan kalau orang mabuk itu pikirannya kacau."
"Iya kacau sampai kamu mencium bibir dan leherku. Kamu tahu kan di saat aku mabuk tenagaku tiba-tiba lemas. Dan kamu nyari kesempatan di saat ku tak bertenaga. Dasar pria mesum!!" ucap Astrid sembari memukul Janus sekuat tenaga.
"I...ya maaf."
Astrid kembali menutup pintu kamarnya, membiarkan Janus berdiri di depan pintu. Janus menghela nafasnya. "Aku salah, tapi tidak benar-benar salah. Aku kan sedang mabuk," gerutunya.
Astrid kembali membuka pintu kamarnya sembari membawa bantal dan selimut. Lalu meleparnya ke arah Janus. "Nih bantal dan selimutmu."
__ADS_1
"Bisa sopan sedikit ga sih," ucap Janus kesal.
"Kemarin juga kamu tidak sopan padaku. Berbuat mesum di saat aku mabuk."
"Itu kan hal wajar. Kita kan sudah menikah, apa yang perlu di jadikan masalah. Bahkan jika kamu melaporkan ku ke polisi dengan alasan aku menciummu, mereka tidak akan menanggapinya.
"Apa kita benar-benar menikah dan saling mencintai?" tanya Astrid.
"Hm, tidak."
Tanpa berucap Astrid pun kembali menutup pintu kamarnya dengan sekuat tenaga. Janus terdiam mematung sembari mengigit bibir bawahnya. Ia merasa malu dengan apa yang telah di lakukannya kemarin malam. Bayangan itu muncul, ia teringat ketika mencium Astrid kemarin. Entah mengapa, jantungnya berdebar, ia merasa senang namun juga merasa gugup ketika mengingatnya. Wajahnya ikut memerah saat bayangan itu terus terlintas di kepalanya.
"Ini benar-benar gila. Sepertinya aku perlu istirahat," gumam Janus yang kembali memabaringkan diri di atas sofa.
...****************...
Ketika pagi tiba seperti biasa, sebelum berangkat sekolah, Astrid terlebih dahulu membereskan rumah dan menyiapkan sarapan untuk Janus.
"Pagi," sambutnya.
Seperti tak merasa bersalah, Janus menyambut Astrid dengan penuh senyuman di wajahnya. Astrid tak membalas sambutan dari Janus, ekpresinya tampak cemberut. Bahkan sekedar untuk menatapnya pun tak di lakukannya. Ia hanya fokus merapihkan makanan di atas meja. Suasana ini membuat Janus merasa canggung. Janus kemudian duduk di kursi.
"Bagaimana kalau hari ini, aku antar kamu sampai sekolah. Jika ada yang bertanya, kenapa kamu bisa datang bareng aku. Aku akan menjawab, kalau kita bertemu di jalan," ucap Janus.
Astrid masih diam membisu, ketika ia usai menyajikan makanan. Astrid langsung saja mengambil tasnya.
"Aku berangkat sekarang." ucap Astrid melangkah pergi keluar dari unit apartemennya.
"Kenapa tidak sarapan dulu?" teriak Janus.
Astrid pergi begitu saja tanpa membalas ucapan Janus. Namun, saat ia menutup pintu tiba-tiba ia terdiam sembari memegang dada sebelah kirinya.
"Bersikap dingin adalah cara yang benar. Bagaimana bisa jantungku berdebar kencang setiap melihatnya atau pun mengingat ketika ia menciumku," gumam Astrid lalu menghembuskan nafas panjangnya.
__ADS_1
Astrid kemudian melanjutkan langkahnya, pergi ke jalan raya untuk menunggu kedatangan angkot. Sepuluh menit sudah ia menunggu angkot, tiba-tiba Janus datang menghampiri dengan mobil sportnya. Janus kemudian membuka kaca mobilnya. "Ayo naik, hari ini aku akan mengantarmu sampai ke sekolah."
Seketika rona merah di kedua pipi Astrid muncul dan jantungnya berdebar tak terkendali. Astrid masih terdiam membisu dengan mata yang hanya fokus menatap wajah tampan suaminya.
"Apa kamu masih tak mau berbicara denganku?" tanya Janus.
Seketika Astrid menelan salivanya, kemudian ia mengalihkan pandangannya.
"Kenapa dia bisa setampan itu. Ini pasti ada yang salah dengan penglihatanku," gumam Astrid di batinnya.
Janus turun dari mobilnya, kemudian segera membuka pintu mobil untuk Astrid.
"Ayo naik."
Namun, bukan Astrid yang naik ke mobilnya. Tiba-tiba Titan datang dan langsung naik ke mobil sport milik Janus tersebut.
"Hei kenapa kamu sembarang naik ke mobil orang." ucap Janus yang kesal seketika.
"Ih ko gitu sih sama murid sendiri," ucap Titan tersenyum.
"Aku ngasih tumpangan bukan sama kamu tapi sama Astrid."
Lalu dari jauh tampak terlihat satu angkot yang akan lewat. Astrid pun kemudian melambaikan tangannya untuk menghentikan angkot tersebut.
"Kamu duluan saja bareng Titan." ucap Astrid sembari melambaikan tangannya.
"Eh kenapa gitu. Aku kan ngajak kamu bukan dia," ucap Janus.
"Sepertinya penglihatanku ada yang salah. Mending kamu bareng Titan saja." Astrid terburu-buru memasuki Angkot.
Janus tampak keheranan dengan ucapan Astrid tersebut. "Ada yang salah gimana, aku perhatikan matanya terlihat baik-baik saja," gumamnya.
"Mungkin dia kelilipan. Mending kita berangkat sekarang yuk, udah mulai siang nih," ucap Titan sembari menutup pintu mobil.
__ADS_1