Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
30. Menghindarinya


__ADS_3

Janus seketika memegang tangan Astrid, ekspresinya tampak murung menatap istrinya dengan perasaan yang penuh rasa bersalah. Astrid hanya menatap lurus ke depan dengan raut wajahnya yang masih di tekuk kesal. Astrid kemudian melepas paksa tangannya dari genggaman Janus.


"Yang seharusnya tidak menyentuhku itu kamu, bukan Titan."


Janus nampak gugup, merasa ambigu untuk mengucapkan kata maaf yang terkunci di mulutnya. Ia sangat menyesal sudah membentak dan memarahi Astrid tadi malam. Betapa bodohnya dia yang sudah di butakan oleh cemburu. Pergi minum-minum hanya untuk menenangkan diri. Namun, nyatanya malah semakin tersulut emosi.


Janus mengatur nafasnya, menenangkan diri dari kegugupannya. Setelah itu, ia pun kembali menggenggam pergelangan tangan Astrid, lalu menariknya pergi ke arah mobilnya di parkirkan.


"Kamu pergi ke sekolah naik mobilku."


"Aku tidak mau! lepaskan tanganku sekarang juga," ucap Astrid yang berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Janus.


Sekuat tenaga Janus memegang tangan Astrid, menyeretnya dengan paksa. Titan tak tinggal diam melihat Astrid yang tengah di seret itu. Ia pun mengejarnya, lalu melepasakan tangan Astrid dari genggaman Janus


"Dia bilang tidak mau, tidak usah memaksanya."


Janus tersenyum miring dan menatap tajam Titan. "Kamu tak perlu ikut campur."


"Apa kamu pikir, kamu berhak memaksanya seperti itu. Itu hanya akan menyakitinya, setelah membuatnya menangis tadi malam. Kamu bahkan memaksanya pergi bersamamu. Sebagai seorang pria sekaligus suami, seharusnya kamu bisa bersikap lembut pada seorang wanita," ucap Titan sembari menunjuk.


"Bocah tengil sepertimu menceramahiku. Kamu bukan siapa-siapanya. Tapi kamu seenaknya mendekati perempuan yang sudah bersuami. Bahkan tempo hari kamu membawanya pergi makan denganmu."


Kini giliran Titan yang tersenyum miring sembari menatap Janus. "Memangnya kalian benar-benar sepasang suami istri."


Astrid pun tak tinggal diam, melihat suami dan temannya yang beradu argumen itu. Ia mengambil langkah berdiam diri di tengah-tengah Titan dan Janus. "Sudah cukup!" dan kamu pak Janus, sebagai seorang guru dan orang dewasa, tak seharusnya kamu bersikap seperti itu."


"Kenapa kamu lebih membela dia di banding aku yang jadi suamimu," ucap Janus.

__ADS_1


"Kamu bilang suami, apa ini yang di namakan suami. Pulang terlambat dalam keadaan mabuk dan tidak mengabariku. Dan kali ini kamu memaksaku untuk pergi bersamamu. Kamu tahu, kalau tindakan kamu itu kasar. Ingat pernikahan kita hanyalah di atas kertas," ucap Astrid dengan air yang memenuhi kedua bola matanya. Yang perlahan mulai menetes demi setetes, membasahi kedua pipinya


Janus semakin merasa bersalah melihat Astrid yang tengah menangis itu. Ia kembali memegang tangan Astrid. "Maafkan aku."


Seketika Astrid menghempaskan tangannya. Pergi begitu saja dalam keadaan menangis. Sementara Janus, terdiam mematung dengan kepala yang menunduk. Hatinya terasa sakit, setelah melihat istrinya menangis. Namun, tiba-tiba saja nafasnya terasa sesak, di sertai dengan penglihatan yang tampak buram, ia merasakan pusing yang teramat berat. Janus pun pergi berjalan terpincang-pincang memasuki mobilnya. Mengambil tas dan mengeluarkan seluruh isi di dalam tasnya. Janus mengambil toples obat, dan segera meminum obat yang berada di toples tersebut. Setelah itu, ia bersandar di kursi mobilnya dengan mata yang terpejam. Mengatur nafasnya yang tampak berat itu.


Sementara Titan, ia pergi mengejar Astrid yang tengah menangis.


"Trid tunggu." teriaknya memanggil berulang kali.


Namun, Astrid mengabaikannya pergi terburu-buru lalu melambaikan tangannya, menghentikan taxi yang akan lewat. Mungkin hampir setiap hari Astrid dan Janus bertengkar, entah mengapa pertengkarannya kali ini membuat hatinya terlampau sakit.


...****************...


Saat di sekolah, Astrid tampak murung. Ia lebih banyak diam ketimbang berbincang dengan teman-temannya. Matanya masih terlihat sembab setelah semalaman dan tadi pagi ia menangis. Apa yang membuatnya murung, membuat kedua temannya bertanya-tanya. Beberapa kali Hilda maupun Alula bertanya dengan kondisi dan masalahnya. Astrid tak menjawab dan malah menghindari pertanyaan dari kedua temannya tersebut.


Dan di saat Astrid tengah pergi ke kantin bersama kedua temannya, ia berpapasan dengan Janus. Keduanya nampak canggung dan gugup setelah berpapasan. Astrid kemudian pergi terburu-buru untuk menghindari Janus.


Janus hanya berdiam diri menatap Astrid yang pergi terburu-buru. Ia hampir saja menyapanya, andai saja ia tak bertengkar hebat. Janus mungkin tak akan secanggung ini dengan Astrid.


Ketika di rumah pun, baik janus maupun Astrid mereka lebih banyak diam. Bahkan untuk saling menyapa pun tak mereka lakukan. Apartemen ini nampak sunyi, seperti tak memiliki penghuni.


Saat malam hari, Janus nampak gugup ketika akan memasuki kamarnya. Ia berdiam diri di depan pintu kamarnya, berulang kali ia memegang gagang pintu, namun, ia ragu untuk membuka pintu kamarnya. Ia kemudian menghembuskan nafasnya, memberanikan diri memasuki kamar. Di kamar sudah ada Astrid yang tengah membaca buku.


"Hm, aku akan tidur di luar. Aku ke kamar hanya ingin mengambil bantal dan selimutku saja, kuharap kamu tidak keberatan," ucap Janus.


Astrid diam seribu kata, mengabaikan Janus tanpa berucap sepatah kata pun. Sembari memegang selimut dan bantal, Janus menghampiri Astrid yang tengah membaca buku di tempat tidurnya.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Aku sungguh menyesal, dan aku janji jika pulang telat, aku akan mengabarimu," ucap Janus lalu kembali keluar dari kamarnya.


Namun, tiba-tiba saja terjadi pemadaman listrik, seluruh lampu di gedung apartemen mati. Seketika terdengar suara pecahan kaca dari arah dapur.


"Prang...


Astrid pun segera menyalakan lampu senter dari ponselnya. Beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar kamar dan pergi ke dapur. Sesampainya di dapur, seketika Astrid di buat terkejut mendapati Janus yang tampak sesak nafas. Seluruh tubuh Janus di banjiri oleh keringat dingin, ia memejamkan matanya sembari memegang dadanya. Astrid tampak panik, ia pun terburu-buru menghampiri Janus.


"Kak Janus kamu kenapa?"


Janus langsung saja mencengkram kuat lengan Astrid. "Tolong ambilkan obat yang berada di laci kamar.


Astrid pun berlari memasuki kamar, dan langsung mencari obat di laci. Setelah berhasil mendapati obat, ia kembali keluar dari kamarnya dan segera memberikan obat dan segelas air putih kepada Janus.


Janus meminum obat yang di ambil Astrid tersebut. Setelah meminum obat, Janus kembali memegang lengan Astrid.


"Jangan matikan senternya. Dan temani aku sampai lampunya menyala."


Janus tampak pucat pasi, tubuhnya bergetar seakan ketakutan, dan di bajiri dengan keringat yang terus bercucuran. Astrid pun lalu memapahnya ke ruang tengah, lalu membantunya duduk di sofa.


"Tetap di sampingku, jangan kemana-mana," ucap Janus menggenggam kuat tangan Astrid


Astrid pun ikut duduk di samping Janus.


"Kamu sakit apa. Obat apa yang kamu minum?"


Janus mengalihkan pandangan, dengan tangan masih memegang kuat lengan Astrid.

__ADS_1


"Aku mempunyai gangguan kecemasan akibat trauma di masa lalu dan juga kesulitan tidur."


__ADS_2