Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
117. Istri Palsu


__ADS_3

Berhari-hari tinggal bersama Luna, Astrid pikir akan menyenangkan, nyatanya malah membuat Astrid tertekan. Karena tingkah Luna, setiap hari Astrid harus menahan kesal dan amarahnya. Dia semena-mena hanya karena Janus baik padanya. Peran Astrid sebagai seorang istri seperti tergantikan oleh Luna. Tiap di hari libur, Luna selalu menyiapkan teh atau kopi ke ruang kerja Janus. Bahkan tiap kali makan bersama, Luna selalu membantu menyiapkan makan ke piring Janus. Astrid selalu saja keduluan oleh Luna, yang seharusnya ia yang menyiapkan minum untuk Janus di ruang kerjanya, dan yang seharusnya Astridlah yang menyiapkan makan untuk Janus, semua malah di ambil alih oleh Luna.


Hingga suatu ketika, di saat Janus dan Astrid pulang kerja, sebuah pakaian kerja baru yang masih rapih di bungkus dengan kantong berada di atas tempat tidurnya. Astrid dan Janus pun harus keluar dari kamar untuk memastikan orang yang menaruh pakaian di tempat tidurnya itu. Dan mana mungkin bila Eli dan Mira berani memasuki kamar utama tanpa seijin Astrid dan Janus. Maka dari itu, Janus dan Astrid langsung saja menghampiri orang yang tinggal di rumahnya selain Eli dan Mira, siapa lagi kalau bukan Luna.


"Apa kamu yang menaruh pakaian ini?" Tanya Janus menujukan kantong yang berisi pakaian baru tersebut.


"Iya, itu aku yang menaruhnya. Aku membelikan pakaian kerja untukmu," jawab Luna.


"Hm, lain kali jika ingin memberikan sesuatu tolong tunggu aku atau Astrid. Kamar merupakan tempat privasi, jadi kami tidak sembarangan mengijinkan orang lain memasuki kamar kami."


Luna menunduk sembari memainkan jari tangannya.


"Maaf sudah lancang, aku tidak tahu bahwa kalian tak memperbolehkanku memasuki kamar kalian."


"Tak apa, aku memakluminya. Karena sebelumnya aku lupa tidak sempat memberitahumu," ucap Janus.


Setelah itu, Janus dan Astrid kembali ke kamarnya. Lagi-lagi Astrid memaklumi Luna, dan lagi-lagi Astrid harus meredamkan kekesalannya. Jika saja ia tak teringat tanggung jawab Janus dari Bayu, sudah pasti tadi Astrid memarahi Luna habis-habisan.


Kesalnya bukan karena Luna yang tidak tahu bahwa ia tak diperbolehkan memasuki kamar utama, tapi karena Luna sudah berani menaruh perhatian kepada Janus dengan membelikannya pakaian baru.


Astrid menghela nafasnya, duduk di tempat tidur sembari melipat lengannya.


"Kak Janus...


Janus menoleh. "Iya ada apa, sayang."


"Itu...


Astrid menelan salivanya, tiba-tiba saja ia merasa ragu ketika ingin mengatakan apa yang sangat membuatnya kesal setiap hari.


Janus menghampiri dan duduk di sebelah Astrid. Lalu ia mendekatkan mulutnya di telinga istrinya itu.


"Apa yang ingin kamu katakan?" Janus menyingkirkan rambut yang terurai di leher Astrid. Dengan perlahan ia membelai lalu mengecup leher jenjang milik istrinya itu.


"Hm, itu...


"Itu apa?" Tanyanya dengan suara rendah. Janus kembali menyentuh leher Astrid dengan bibirnya, dengan tangan yang menyosor ke area kancing baju. Janus mencium leher sembari membukakan dua kancing di baju istrinya.


Seketika Astrid mendorong tubuh Janus, hingga kissmark yang tengah di lakukan suaminya itu terhenti.


"Aku hanya ingin bilang, mengapa kamu tak pernah ada waktu untukku."

__ADS_1


Astrid menghela nafas, lagi-lagi ia menenggelamkan kata-katanya. Bukan itu yang ingin di ucapkannya. Astrid ingin mengungkapkan, bahwa ia sangat kesal dan tak suka dengan Luna yang selalu bersikap selayaknya seorang istri.


Janus kembali mendekat, kini bibirnya bukan lagi mengarah ke leher tapi mendekatkan diri ke area bibir.


"Bukankah sekarang aku sedang ada waktu bersamamu. Ini kesempatan kita, karena sudah lama kita tak melakukannya," ucapnya sembari membelai wajah.


Dan lagi, Astrid kembali mendorong tubuh Janus. "Bukan seperti ini, kamu tak ada waktu untuk mengajakku pergi berkencan."


"Hm, jadi itu maksudmu. Baiklah, bagaimana jika kita pergi makan di luar. Bukankah kita belum makan malam."


"Hanya berdua kan?"


"Tentu saja berdua, masa harus mengajak bu Eli sama bu Mira."


Astrid tersenyum girang. "Hm, baiklah."


Mira dan Eli tak masalah bila harus ikut, tapi yang bermasalah itu adalah bila Luna yang harus ikut. Kalaupun Eli dan Mira memang benar-benar ikut, mereka mana mungkin berani mencari muka di depan Janus hingga membuat Astrid kesal.


Sebelum pergi, Janus dan Astrid terlebih dahulu berganti pakaian. Astrid memilihkan pakaian untuk Janus, agar pakaian yang di kenakan Janus serasi dengan pakaian yang akan di kenakan Astrid.


Astrid memilih kemeja over size warna putih dan jugaT-shirt putih sebagai atasannya, lalu untuk celananya Astrid memilih jeans ripped. Sementara untuk dirinya, Astrid memilih gaun berwarna putih yang panjangnya di atas lutut.


Setelah selesai berganti pakaian, Janus dan Astrid bergegas pergi. Namun, di saat mereka keluar dari kamar, mereka harus berpapasan dengan Luna.


Spontan Astrid langsung saja memegang lengan Janus, Astrid tersenyum. "Kita mau pergi makan malam di luar."


Luna menghela nafasnya. "Padahal aku sudah menyiapkan makan malam."


"Maaf Luna, sepertinya kamu harus makan malam sendiri dulu," imbuh Janus.


Luna terlihat tampak kesal, namun Astrid malah tersenyum samar ketika melihatnya. Astrid lalu terburu-buru melangkahkan kakinya sembari menarik lengan Janus.


Seperti biasa, mereka pergi ke restoran favorit yang sering di kunjungi. Restoran bergaya arsitektur eropa adalah restoran mewah yang selalu mereka pilih ketika pergi berkencan. Tak lupa, tiap kali mereka pergi kesana, Astrid tak pernah memilih menu lain selain pasta.


"Bukankah kamu terlalu sering memesan pasta, seharusnya kamu memilih menu lain selain pasta," saran Janus.


"Kalau begitu aku akan memesan tiramisu cake."


Janus menggeleng. "Itu bukan hidangan utama tapi hidangan penutup."


"Hidangan utama yang ku pilih tetap pasta, walau ada banyak hidangan lain selain pasta."

__ADS_1


Janus tersenyum. "Baiklah, jika itu yang kamu suka. Aku juga akan memesan menu yang sama denganmu."


Dan setelah satu jam lebih mereka di restoran, merekapun beranjak pulang. Karena jam sudah menunjukan hampir jam sepuluh malam. Mereka harus segera beristirahat jika besok tak ingin terlambat pergi bekerja.


Sebelum mereka keluar dari restoran, terlebih dahulu Janus membuka kemejanya, lalu mengikatkannya di pinggang Astrid agar pahanya tertutup.


Janus berbisik. "Maaf, sepertinya dari tadi aku sedikit terusik dengan pakaianmu yang terlalu terbuka."


"Memangnya kenapa? Menurutku ini tidak terlalu terbuka."


"Sttt, pahamu hanya boleh di lihat olehku saja," ucap Janus yang kembali berbisik.


Astrid mendengkus. "Dasar mesum."


"Yang lebih mesum itu pria lain yang berani-beraninya melihat paha mulus istriku."


"Memangnya siapa yang berani?"


"Aku belum melihat laki-laki yang melihat pahamu, karena dari tadi mataku terlalu fokus memperhatikan pahamu saja." Janus tertawa samar, lalu menggenggam tangan Astrid keluar dari restoran.


Astrid menelan salivanya, pipinya sampai di buat memerah setelah mendengar ucapan Janus.


Sesampainya di rumah, Janus dan Astrid mendapati Luna yang tertunduk sembari duduk di ruang tamu yang seperti tengah menunggu.


"Sedang apa kamu disini, kenapa belum tidur?" Tanya Janus."


"Aku tak bisa tidur karena menunggu kalian pulang."


Janus mengerutkan alisnya. "Memangnya kenapa kamu harus menunggu kami?"


Luna menelan salivanya. "A..ku hanya mengkhawatirkan kalian, bukankah di luar tengah hujan. Aku takut kalian sakit karena kehujanan."


Janus tersenyum sembari menggeleng. "Aku dan Astrid tidak sampai kehujanan, lihatlah pakaian kami masih kering."


"Hm..


Seketika Astrid memotong pembicaraannya. "Kak, bukankah kamu tadi tergoda dengan pahaku. Bagaimana jika ku perlihatkan kembali."


Sontak Janus pun kegirangan, ia sampai menghiraukan Luna. Dan dengan cepat ia langsung saja menggendong Astrid, lalu membawanya memasuki kamar.


"Baru kali ini kamu menggodaku, biasanya harus aku yang mengawalinya."

__ADS_1


Astrid tersenyum samar, lalu bergumam di batinnya. "Bila bukan karena kak Luna, mana mungkin aku jadi seberani ini."


__ADS_2