
Astrid terbangun dari tidurnya, di saat jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Kepalanya masih pening, walau demamnya sudah turun. Di sampingnya Janus masih tertidur pulas dengan posisi tangan yang memegang tangan Astrid.
Saat tangannya di lepas, Janus pun ikut terbangun. Dengan spontan ia menyentuh kening Astrid. "Demammu sudah turun. Aku sudah buatkan bubur untukmu, makanlah terlebih dahulu. sehabis makan kita pergi ke dokter."
"Tidak perlu pergi ke dokter, aku sudah jauh lebih baik. Lebih baik kamu pergi saja bekerja."
"Aku tidak akan berangkat bekerja, lagi pula aku sudah telat bila harus pergi. Lebih baik aku mengantarmu pergi periksa ke dokter."
"Aku tidak mau pergi, cukup beristirahat di rumah, aku pasti cepat sembuhnya." Astrid beranjak dari tempat tidurnya. "Aku akan mandi terlebih dahulu, setelah itu aku akan langsung makan bubur buatanmu."
Kesal, tentu saja Astrid masih kesal dengan Janus yang pergi menemui Luna. Biarpun perginya hanya karena untuk membantu. Terlebih lagi, Astrid sangat mencurigai Luna yang masih menaruh hati pada Janus.
Selesai mandi dan berpakaian, Astrid pergi ke meja makan untuk makan. Walaupun ia masih marah, bukan berati ia tak akan memakan bubur yang di buat Janus untuknya. Karena biarpun marah dan kesalnya masih terasa, Astrid tetap menghargai Janus yang sudah meluangkan waktu untuk membuatnya.
Astrid hanya diam sembari makan sesuap demi sesuap, walau ia tak berselera makan karena mualnya yang masih terasa, biarpun sakitnya jauh lebih baik dari kemarin. Diamnya Astrid bukan karena ia yang masih merasa mual, akan tetapi ia belum bisa meredakan marah dan kesalnya. Raut wajahnya di tekuk kesal, tanpa sedikitpun mau menatap Janus. Astrid terus saja memalingkan wajahnya, walau Janus mengajaknya berbicara.
Suasana seperti ini sangat membuat Janus canggung. Janus pikir Astrid akan mengerti walau kemarin ia sudah menjelaskan alasannya menemui Luna. Bukan karena ia ingkar, tapi Janus tak bisa melepas tanggung jawab yang sudah di berikan Bayu padanya. Terlebih lagi, keadaan Luna saat ini tidak memiliki siapapun, keluarga dan saudaranya tinggal jauh dari luar kota dan luar negeri. Janus di bimbangkan dengan situasinya saat ini.
Janus meraih tangan Astrid. "Aku minta maaf soal kemarin. Aku tak punya pilihan lain untuk pergi menjemput Luna."
"Aku tahu kamu orang yang pintar, kenapa tidak menyuruh orang untuk menjemput dan mengantarnya pergi ke dokter."
"Saat itu aku panik, teman-temannya tak ada yang mau mengantarnya karena mereka punya kesibukan lain. Terlebih lagi, Luna di sini tak memiliki siapapun."
"Sudah ku bilang kamu bisa menyuruh orang lain. Kamu bisa menyuruh sekertarismu atau kamu bisa menyuruh salah satu pembantu di rumah kita. Kenapa kamu tak bisa berpikiran kesana."
Janus menghela nafasnya. "Aku panik, mana bisa berpikir ke arah sana. Aku sungguh minta maaf, aku sangat berharap kamu bisa mengerti."
"Mana bisa aku mengerti, bila kak Luna saja masih menaruh hati padamu," ucap Astrid dengan kedua mata yang mulai tergenang.
__ADS_1
"Kamu hanya salah paham, Astrid. Percayalah, bahwa aku tak mungkin bisa berpindah ke lain hati."
Astrid meletak sendoknya di atas mangkuk, lalu menatap Janus. "Aku akan percaya, tapi satu hal yang aku mau. Lepaskan tanggung jawab yang di berikan kak Bayu."
Janus merasa ragu untuk menjawab, rasa bersalah terhadap Bayu masih melekat pada dirinya. Mana mungkin ia bisa melepas tanggung jawab yang di berikan Bayu.
"Mana bisa aku melepaskan tanggung jawab darinya. Dia pergi itu, karena ulahku."
Astrid menghela, dengan air mata yang mulai berjatuhan di kedua matanya.
"Berhenti menyalahi diri, karena dia memang pantas di hukum atas tindak kejahatannya. Dia sendiri yang berbuat, maka dia harus menanggung resikonya. Kamu tak bersalah, kamu memang benar karena sudah melaporkannya kepada pihak berwajib."
"Dia keluargaku, walau dia tak memiliki hubungan darah denganku. Apa aku pantas yang sebagai keluarga melakukan itu, walau dia bersalah. Mana ada keluarga berbuat seperti itu, walau saudaranya sendiri bersalah."
"Lalu, apa kamu akan mempertaruhkan hubungan kita hanya karena kamu memiliki tanggung jawab dari kak Bayu."
"Jelas-jelas hubungan kita di pertaruhkan, karena kamu tak mau melepaskan tanggung jawab darinya. Kamu pikir aku bodoh, kak Luna masih menaruh hati padamu," ucap Astrid yang juga meninggikan suaranya. Lalu ia berdiri dari duduknya. "Ku harap kamu bisa segera menyadari semua tingkah laku kak Luna padamu."
Astrid pun beranjak dari meja makan ke kamarnya. Astrid sudah tak bisa lagi membendung air matanya, ia terisak dengan tangisnya yang pecah.
Sementara Janus, ia hanya duduk diam di meja makan, dengan hati dan pikirannya yang berantakan. Ia sangat di bimbangkan dengan sebuah pilihan. Melepas tanggung jawab dari Bayu merupakan hal yang memberatkan baginya.
**
Hingga berhari-hari setelah pertengkaran, Astrid terus mendiamkan Janus. Bahkan Astrid sudah tak lagi makan dalam satu meja. Astrid diam tanpa berucap, walau Janus terus meminta maaf dan membujuknya untuk mengerti. Astrid hanya mengabaikannya dan tak mau peduli, biarpun Janus memohon.
Karena marah dan diamnya Astrid, membuat pikiran Janus berantakan, terlebih lagi dengan pekerjaan yang menumpuk. Janus sering kali tak berkonstrasi bekerja, hanya karena terus menerus memikirkan Astrid dan tanggung jawab yang tak bisa di lepasnya.
Bahkan Rio dan Wandi pun sampai di buat menggeleng dengan raut wajah Janus yang setiap hari terus di tekuk kesal.
__ADS_1
"Apa kamu ada masalah di rumahmu?" Tanya Wandi.
"Iya begitulah, Astrid tak bisa mengerti denganku."
"Apa mungkin karena Luna? Jika memang karena Luna, itu memang hal wajar jika Astrid marah. Terlebih lagi, dia bekas pacarmu. Apa kamu tak menyadari bila Luna masih menyukaimu."
"Mana mungkin dia menyukaiku, dia hanya menganggapku sebagai adik iparnya."
"Mana ada kakak ipar mau memeluk adik iparnya dengan tatapan yang seakan-akan dia sangat menyukaimu."
Janus mengerutkan alisnya. "Benarkah begitu."
Seketika Rio menujukan ponselnya ke Janus. "Teman-teman SMA mengajak pergi clubbing di gruf chat, untuk menghilang stress lebih baik kamu ikut pergi."
Lidah Wandi berdecik. "Ck, kamu gila ya. Dia sudah memiliki istri mana mungkin dia mau pergi."
"Aku akan pergi, siapa tahu stressku akan berkurang," lontar Janus.
Wandi menggeleng. "Aku saja tidak akan pergi, karena Bianca pasti akan marah bila tahu aku pergi clubbing, kamu masih mau pergi padahal kamu bukan lagi pria lajang."
"Aku pergi hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk mencari wanita lain. Lalu bagaimana denganmu, Rio. Apa kamu akan ikut pergi?" Tanya Janus.
"Tentu saja tidak, mana bisa aku pergi setelah minggu kemarin aku di marahi habis-habisan sama Hilda, karena pergi clubbing."
Walau tanpa kedua temannya, Janus tetap pergi ke klub malam seusai pulang kerja. Di sana teman-teman semasa SMAnya berkumpul, termasuk dengan Luna yang juga datang karena memang satu SMA.
Walaupun ada Luna, sebisa mungkin Janus menjauhkan diri dari Luna, walaupun ia masih terikat dalam tanggung jawab. Terlebih lagi, ia memikirkan apa yang di katakan Wandi saat di kantornya.
Pergi ke klub malam, tentu saja berpesta minum keras. Pikiran yang berantak dan masalah dengan Astrid yang tak kunjung usai, membuat Janus meminum banyak minuman beralkohol.
__ADS_1