Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
81. Sebenarnya Apa Yang Tidak Kutahui


__ADS_3

Dua tiket trif menuju korea selatan, Janus nampak tak suka ketika melihat dua lembar tiket pesawat menuju negeri gingseng tersebut.


"Untuk apa dua tiket pesawat ini?" tanya Janus sembari memegang dua lembar tiket di tangannya.


"Itu tiket bulan madu kalian. Bukankah kalian belum pernah pergi berbulan madu ke luar negeri, jadi kakek menyiapkan dua tiket menuju korea selatan untuk kalian," jawab Baskara.


"Aku tidak akan pernah pergi kesana," ucap Janus kembali meletakan dua benda yang berbentuk persegi panjang itu ke dalam kotak.


"Kamu harus pergi kesana," tegas Baskara.


"Kenapa harus korea, apa tidak ada tempat yang lebih bagus untuk ku kunjungi selain korea selatan. Apa jangan-jangan kakek menyuruhku bertemu dengan orang yang telah membuangku," ucap Janus kesal.


"Sudah saatnya kamu tahu tentang alasan Yuna meninggalkanmu di Indonesia. Dan tak seharusnya kamu membencinya," ucap Baskara.


"Kenapa aku tak boleh membencinya. Bukankah dia pantas untukku benci karena sudah meninggalkanku. Apa ada yang tidak ku ketahui selama ini," ucap Janus heran.


"Kakek tak bisa menceritakannya. Kamu harus mencari tahu sendiri," ucap Baskara sembari beranjak pergi menuju pintu bersama supir pribadinya.


Janus pun termenung, ia tak mengerti mengapa bisa Baskara menyuruhnya untuk mencari tahu alasan ibunya meninggalkannya di Indonesia. Apakah sesulit itu untuk menceritakan sebuah alasan yang tak pernah Janus ketahui selama ini.


Ia merasa bimbang, apa perlu baginya untuk pergi ke negara tempatnya di lahirkan. Sementara Janus sangat membenci bila harus bertemu dengan wanita yang telah membuangnya. Karena apapun alasannya, dia sudah tega meninggalkan anaknya seorang diri di rumah yang katanya merupakan bagaikan istana bagi keluarga tapi nyatanya tidak. Setelah perlakuan kasar dari ibu sambung serta kakaknya yang malah membuat Janus menderita. Apa lagi perlakuan ayahnya yang tak sehangat ketika Janus tinggal di korea.


Astrid duduk di samping suaminya, lalu meraih tangan suaminya.

__ADS_1


"Jika kamu tidak ingin pergi, kamu tak perlu memaksakan diri untuk pergi. Tapi, jika kamu tidak bertemu ibumu. Maka selamanya kamu akan membencinya tanpa alasan yang pasti. Bukankah kamu sudah lama tidak dengar kabar ibumu," ucap Astrid sembari mengusap lembut tangan suaminya.


"Bukankah sudah jelas, dia meninggalkanku di Indonesia karena dia tak menyayangiku," ucap Janus dengan raut wajahnya yang sedih.


"Itu hanya anggapanmu saja, bagaimana jika dia sengaja meninggalkanmu karena dia menyayangimu. Alasannya tak bisa ia ceritakan kepadamu, karena mungkin saat itu kamu masih terlalu kecil."


Ucapan Astrid memang benar adanya, tapi Janus masih belum siap jika harus bertemu ibunya. Sementara dua tiket menuju korea selatan, keberangkatannya akan di mulai pada bulan depan. Ia pun merasa gundah, apa perlu ia pergi. Sementara hatinya sangat belum siap untuk menemui wanita yang telah melahirkannya itu.


Di lubuk hati Janus yang paling dalam, sebenarnya ia tak tak terlalu benci pada ibunya. Melainkan ia sangat merindukan sosok wanita yang telah melahirkannya itu. Hanya saja hati dan pikirannya bertolak belakang. Pikirannya hanya terus memikirkan tentang sosok Yuna yang tega meninggalkannya. Lain halnya dengan lubuk hatinya yang sangat merindukan kasih sayang dari wanita yang telah lama meninggalkannya itu.


Janus pun menghela nafasnya. "Aku akan mencoba memikirkannya kembali," ucapnya yang langsung saja beranjak dari tempat duduknya.


Astrid sangat berharap bahwa ucapannya bisa membuat suaminya luluh untuk mau menemui ibunya itu. Karena menurut Astrid, suaminya perlu berdamai dengan sebuah kebencian yang sudah cukup lama tertanam.


**


Namun, saat pintu kamar di bukannya, nyatanya Janus sudah terbangun dan berpakaian rapih seperti sehabis mandi.


"Kak ayo sarapan," seru Astrid.


Janus mengangguk sembari tersenyum, lalu mengikuti langkah istrinya menuju meja makan.


"Apa hari ini kamu ada waktu?" tanya Janus sembari mengolesi roti dengan selai.

__ADS_1


"Hari ini aku tidak ada jadwal selain beres-beres rumah dan menyiapkan makan siang dan malam," jawab Astrid yang juga tengah mengolesi roti dengan selai.


"Kalau begitu, temani aku mengurus paspor dan visa," pinta Janus.


Sontak Astrid pun cukup tercengang ketika suaminya meminta untuk menemaninya mengurus paspor dan visa. Bukankah maksud dari perkataan Janus merupakan pertanda bahwa ia setuju untuk pergi ke negara asalnya di lahirkan itu.


"Jadi, maksud dari permintaanmu apa?" tanya Astrid tersenyum lebar menatap suaminya.


"Kita akan pergi ke korea," jawab Janus.


"Baiklah, hari ini aku pasti akan menemanimu pergi mengurus paspor dan Visa," ucap Astrid.


...****************...


Satu bulan kemudian, Janus dan Astrid bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Jadwal keberangkatan pesawat menuju korea selatan akan di mulai pukul sepuluh pagi. Masih ada waktu tiga jam bagi Astrid untuk mempercantik diri sebelum berangkat ke bandara. Astrid sangat senang karena untuk kali pertama ia akan berpergian ke luar negeri. Bahkan belum pernah terbanyangkan sebelumnya, bahwa Astrid akan pergi ke negara yang dulunya hanya bisa di lihat lewat televisi saja. Astrid senang namun ia juga sangat gugup apabila nanti bertemu dengan ibu mertuanya. Terutama ini merupakan kali pertama bagi Astrid untuk bertemu wanita yang telah melahirkan belahan jiwanya itu.


Hanya butuh tiga puluh menit Astrid telah selesai mempecantik diri. Ia pun keluar dari kamar sembari membawa tas dan kopernya.


Di saat Astrid keluar kamar, Janus nampak terpana menatap kecantikan dari istrinya yang rambutnya terurai indah berpadu dengan gaun putih yang panjangnya selutut. Di tambah dengan sepatu hak tinggi yang membuat kaki jenjangnya menjadi indah.


"Bukankah tampilanmu terlalu cantik bila hanya sekedar untuk naik pesawat," ucap Janus tersenyum.


"Aku harus tampil cantik, karena setelah kita sampai di bandara incheon kita akan langsung pergi ke rumah ibumu. Jadi mana ada waktu untukku berdandan. Aku harus tampil cantik ketika bertemu ibu mertua, karena akan sangat memalukan jika tampilanku kurang enak di lihat," ucap Astrid.

__ADS_1


"Apapun yang kamu kenakan kamu tetap cantik. Walaupun pakaian sederhana sekalipun," ucap Janus tersenyum sembari mengelus lembut kepala Astrid.


"Jadi, apa aku perlu ganti baju lagi," ucap Astrid melangkahkan kaki. Namun langkahnya terhenti ketika Janus menarik lengannya. "Tidak perlu, jika kamu ganti baju itu akan memakan waktu yang lama. Kita harus segera pergi ke bandara sekarang sebelum terlambat," ucap Janus terburu-buru keluar dari apartemennya sembari menarik koper dan juga lengan istrinya.


__ADS_2