Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
95. Aku Tak Pantas Berada Di Tempat Yang Seharusnya Ku Tempati


__ADS_3

Ini malam kedua bagi mereka menyibukan diri di tempat tidur, dan yang jelas setelah mereka melakukannya, perasaan mereka benar-benar sangat bahagia dan puas atas apa yang mereka lakukan tadi malam. Apa lagi Astrid, pada pagi harinya ketika ia pergi mandi, tak hentinya ia mengelus perutnya. Dan dengan polosnya ia bergumam. "Apa sekarang di perutku sudah ada bayi."


Benar-benar sudah tak sabar baginya untuk menantikan sebuah janin yang tumbuh di rahimnya. Betapa polosnya Astrid, hingga membuatnya sangat berhati-hati ketika berjalan. Karena ia pikir mungkin akan ada janin yang tumbuh di rahimnya ketika ia sudah melakukan itu untuk kedua kalinya tadi malam.


Ia berjalan keluar dari kamar mandi menggunakan bathroob. Lalu segera mengambil pakaian di lemarinya. Astrid memilih pakaian yang paling formal untuk di kenakannya hari ini. Karena di hari ini, Janus akan membawa Astrid pergi ke restorannya. Dan kemungkinan Astrid akan mulai bekerja di restoran yang di kelola oleh suaminya tersebut. Menggunakan pakaian rapih dan sedikit memoles wajahnya dengan make up, kali ini Astrid sudah siap pergi bekerja.


Sementara Janus masih saja belum terbangun dari tidur panjangnya. Astrid pun lalu segera menghampiri suaminya ke tempat tidur untuk membangunkannya.


"Kak Janus bangun," seru Astrid sembari menepuk lembut pipi pria yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur.


Janus menggeliat, namun bukannya bangun, Janus malah berpindah posisi tidur. Dan sekali lagi Astrid pun menepuk pipi suaminya.


"Kak Janus bangun ini sudah pagi. Bukankah hari ini kamu akan membawaku pergi ke restoranmu."


Janus membuka matanya, lalu menatap Astrid dengan mata yang setengah terbuka. Namun, tiba-tiba saja Janus menarik tubuh Astrid, hingga membuatnya terbaring di sampingnya.


Sembari mendekap, Janus kembali menutup rapat kedua matanya. "Aku masih ngantuk, lebih baik kita tidur dulu sebentar."


Astrid memberontak melepaskan dekapan suaminya, dan ia pun langsung saja duduk. "Dasar pemalas! kamu menarikku seperti ini akan sangat berbahaya bagi perutku," ucapnya di tekuk kesal."


Janus kembali membuka setengah kelopak matanya. "Memangnya ada apa dengan perutmu? Padahal semalam kamu tampak baik-baik saja."


Astrid menundukan kepalanya sembari mengelus perut bagian bawahnya. "Mungkin saja di perutku sedang proses pembentukan bayi," ucapnya dengan rona merah di kedua pipinya.


Sontak Janus pun melebarkan pandangannya, yang seketika ia pun tertawa lepas setelah mendengar ucapan yang di lontarkan istrinya tersebut.


"Haha... sedang proses tapi masih belum berbentuk ya."


"Mengapa kamu menertawaiku?" tanya Astrid heran.

__ADS_1


Janus menggeleng, lalu menyentil kening wanita polos yang tengah memegang perutnya itu. "Sejak kapan kamu jadi sebodoh ini." Janus kembali menarik lengan Astrid hingga membuatnya kembali terbaring di tempat tidur. "Jika ingin cepat menumbuhkan bayi, bagaimana jika kita mengulang yang tadi malam kita lakukan."


"Kenapa harus di ulang?" tanya kembali Astrid dengan alis yang berkerut.


Janus tersenyum, ia menarik selimut, lalu mengerumuni diri bersama Astrid. Dan dengan cepat ia mendaratkan bibirnya di bibir milik istrinya itu.


Sontak Astrid pun terkejut dengan aksi yang di lakukan suaminya itu. Ia kembali membrontak, dengan sekuat tenaga ia pun mendorong tubuh suaminya hingga membuat suaminya berhenti mencium.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah membuat lipstikku belepotan," ucap Astrid di tekuk kesal.


"Bukankah kamu ingin cepat-cepat menumbuhkan bayi, kita harus melakukannya lagi. Karena katanya, melakukan di pagi hari jauh lebih baik di bandingkan pada saat malam hari," ucap Janus tersenyum dengan pikiran kotornya.


Astrid menarik lengan Janus, hingga membuatnya beranjak dari tempat tidur. "Pagi ini bukan waktunya yang tepat, kamu harus segera mandi dan bersiap-siap. Karena hari ini merupakan hari pertama kita akan bekerja bersama."


"Setelah kemarin pindah rumah, aku sangat lelah. Jadi bisakah seharian ini kita bermalas-malasan saja," keluh Janus.


Astrid menarik lengan Janus dan membawanya pergi ke kamar mandi. "Jika ingin sukses, tidak ada kata malas ya. Kamu harus segera mandi dan bersiap-siap. Dan sembari menunggumu, aku akan menyiapkan sarapan," ucap Astrid sembari menutup pintu kamar mandi.


Setelah sarapan dan bersiap-siap, Astrid dan Janus pun beranjak pergi dari rumahnya. Namun, di saat mobil yang di bawa Janus akan keluar dari pintu gerbang. Tiba-tiba saja sebuah mobil sedan menyalakan klakson ke arahnya.


"Kak, bukankah itu mobil yang waktu itu kita tumpangi. Siapa sih namanya, aku sepertinya lupa," ucap Astrid sembari mengingat pemilik dari mobil sedan tersebut.


"Itu sepertinya sekertaris ayahku, pak Andy," ucap Janus memperhatikan mobil sedan yang tengah berhenti di depan pintu gerbang rumahnya.


Pengendara mobil tersebut membuka kaca mobilnya. Dan memang benar saja itu adalah Andy, sekertaris dari Adit Sayuda sekaligus mantan sekertaris dari Baskara, kakeknya Janus.


"Tunggu sebentar tuan Janus. Ada yang ingin saya sampaikan," ucap Andy.


Janus pun memundurkan mobilnya dan segera mematikan mesin mobil. Ia dan astrid pun beranjak turun dari mobil.

__ADS_1


"Jika ada yang perlu di bicarakan, lebih baik kita masuk ke rumah. Saya akan menyiapkan teh." Astrid kembali memasuki rumahnya dan segera ke dapur untuk menyiapkan teh.


Semantara Janus dan Andy beranjak pergi ke ruang tamu.


"Tadi saya habis dari apartemen tuan Janus. Dan menurut penghuni di gedung apartemen di sana. Tuan Janus sudah pindah, jadi saya langsung ingat dengan rumah baru yang di siapkan pak Baskara. Dan ternyata memang benar tuan Janus dan nona Astrid pindah kesini," ucap Andy sembari memperhatikan seisi ruangan di ruang tamu.


"Saya dan istri saya baru pindah kemarin. Sayang kalau rumah sebesar ini biarkan kosong," ucap Janus.


Namun, saat Andy menatap Janus, anehnya ia tampak seperti tengah merasa gugup. Ia menelan salivanya sembari memainkan jari tanganya.


"Sebenarnya, saya bertemu dengan tuan Janus hari ini karena ada hal yang ingin saya sampaikan dari tuan Baskara sebelum beliau meninggal."


"Memangnya pesan apa yang di sampaikan kakek untukku?" tanya Janus.


"Hm, beliau meminta tuan Janus untuk segera mungkin ikut serta dalam mengurus perusahaan. Dan sebisa mungkin saya akan membantu tuan Janus, jika tuan sudah mulai bekerja di perusahaan," jawab Andy.


"Jika menyangkut perusahaan, saya tidak akan ikut serta terlibat. Dan perlu di tegaskan kembali, bahwa saya tidak ingin ikut campur mengurus perusahaan," tegas Janus.


"Tapi tuan, peran tuan Janus di perusahaan sangat penting. Tuan Janus harus mau bekerja di perusahaan. Karena itu permintaan terakhir dari pak Baskara kepada tuan Janus," ucap Andy dengan raut wajahnya yang nampak cemas.


Janus berdiri dari duduknya, lalu menunjuk ke arah pintu. "Jika pak Andy sudah selesai berbicara, anda boleh pergi sekarang."


Astrid kembali dari dapur sembari membawa dua gelas teh.


"Kenapa kamu menyuruh pak Andy pergi seperti itu. Dia bahkan belum sempat meneguk teh yang ku siapkan," ucap Astrid sembari meletakan dua gelas teh di meja.


"Tidak perlu, karena kita harus segera pergi ke restoran," ucap Janus sembari menarik lengan Astrid dan terburu-buru pergi keluar dari rumah. Begitu pun dengan Andy yang juga ikut keluar dari rumah.


"Sebagai anak kandung dari pak Adit, serta cucu kandung dari pak Baskara. Tuan harus mau bekerja di perusahaan. Karena tuanlah yang berhak berada di posisi yang tak seharusnya di tempati oleh tuan Bayu," lontar Andy yang diam mematung di depan rumah.

__ADS_1


"Bukankah Bayu juga anak kandung dari ayahku, dia juga sekaligus anak sahnya. Dari pada aku yang hanya seorang anak simpanan, dia jauh lebih baik dariku," ucap Janus tanpa menatap dan langsung saja terburu-buru memasuki mobil.


Janus mengabaikan Andy yang tengah berdiri dan memohon di depan rumahnya itu. Dan malah langsung menancap gas mobilnya, meninggalkan Andy sendiri di depan rumahnya.


__ADS_2