
Yang di harapkan Astrid untuk mengantarnya pulang malah sama sekali tak mempedulikannya. Dan pada akhirnya Astrid hanya bisa pulang bersama Titan. Tepat pukul 17.00 Astrid akhirnya tiba di apartemennya. Sebelum memasak, Astrid terlebih dahulu beristirahat untuk mengumpulkan tenaganya. Astrid tampak ke lelahan, ia duduk di sofa sembari memenjamkan matanya. Apartemen tampak sepi, terlebih lagi Janus masih belum pulang.
Hingga beberapa menit kemudian, suara orang menekan tombol pasword terdengar di balik pintu. Itu mungkin Janus, karena siapa lagi yang hafal pasword pintu selain Astrid dan Janus. Astrid pun terburu-buru pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Seusai itu, ia kembali keluar dari kamarnya.
Janus yang telah tiba di apartemen, tengah memilah beberapa bahan makanan yang cukup banyak.
"Belanjanya banyak banget, bukankah stock makanan di lemari es masih banyak." ucap Astrid heran.
"Hari ini teman-temanku akan datang ke kesini. Aku akan memasak beberapa makanan korea, jadi kamu bantu aku ya." ucap Janus.
"Baiklah, aku pasti akan membantumu."
Astrid dan Janus pergi ke dapur untuk mengolah beberapa bahan makanan. Terlebih dahulu Janus akan mengolah ayam. Ia menyiapkan dada ayam yang sudah di potong dadu. Beberapa bahan termasuk saus gochujang telah di jejerkan Janus di atas meja counter.
"Ayamnya akan di oleh jadi apa?" tanya Astrid.
"Aku akan membuat yangnyeom todak."
Menu ayam yang akan olah Janus adalah ayam pedas manis korea atau yang sering di sebut di negaranya yangnyeom todak.
Janus tampak lihai ketika memasak, sudah pasti Astrid berdecak kagum melihat Janus yang tengah mengolah makanan yang berasal dari negara yang dulu tempat ia bersama ibunya tinggal. Astrid seolah menatap aktor di drama korea yang tengah memasak. Jika ia hanya bisa melihat pria korea di televisi saja. Astrid sangat beruntung memiliki suami yang wajahnya seperti pria-pria di drama korea. Sudah pasti Astrid sangat puas yang setiap hari melihat suami tampannya itu.
Suami yang berdarah campuran Korea Indonesia itu, memiliki perawakan tinggi, dengan kulit putih, dan memiliki wajah kecil. Semua yang ada pada Janus adalah tipe idealnya. Terlebih lagi Janus yang selalu menjaga tubuhnya tetap ideal, memiliki otot-otot yang pasti hampir mirip sekali dengan aktor korea. Bodohnya Astrid, ia malah terlambat menyadari bahwa pria yang jadi suaminya itu merupakan sosok pria yang sangat tampan.
Sudah hampir dua jam Janus memasak, akhirnya empat menu sudah selesai ia hidangkan. Hidangan yang sudah ia sajikan berupa, yangnyeom todak, pajeon, bulgogi, dan untuk menu nasinya Janus membuat gimbab. Semua makanan yang telah di masaknya merupakan kali pertama bagi Astrid membuatnya. Yang biasanya Astrid hanya melihatnya di drama korea. Kali ini ia benar-benar membuatnya dan bahkan akan menyantapnya.
"Aku akan membersihkan semua wadah kotornya, kamu bawa semua makanannya ke ruang tengah," ucap Janus sembari memindahkan wadah-wadah kotor ke wastafel.
__ADS_1
"Baiklah, aku bawa sekarang." Satu persatu wadah yang berisi makanan yang ia buat bersama Janus di pindahkan ke meja yang berada di ruang tengah.
Selesai ia memindahkan, tiba-tida bel pintu berbunyi.
"Kring...
"Itu mungkin temannya Janus," gumam Astrid lalu terburu-buru pergi untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, benar saja kedua teman Janus yang bernama Rio dan Wandi datang. Namun, ada satu orang perempuan yang datang bersama kedua teman Janus itu.
"Ayo masuk." Astrid mempesilahkan masuk semua teman Janus. Termasuk satu orang perempuan yang baru di lihatnya itu.
"Siapa kak?" bisik Astrid kepada Wandi.
"Oh ya, kenalin dia Bianca pacar aku," ucap Wandi memperkenalkan perempuan yang tengah berdiri di sampingnya. Yang kemudian Astrid berjabat tangan dengan perempuan yang di perkenalkan wandi sebagai pacarnya itu. Lalu memperkenalkan diri.
"Istrinya Janus ya," ucap Bianca tersenyum.
"Iya saya istrinya kak Janus," ucap Astrid membalas senyumannya.
Setelah berkenalan, Astrid mengarahkan semuanya menuju ruang tengah. Saat semua berada di ruang tengah, semua mata tertuju menatap hidangan yang telah di tata Astrid di meja.
"Wah tampak menggiurkan, sebagai pelengkap aku bawakan satu botol wine." Rio mengeluarkan wine dari dalam kantong yang di bawanya, lalu meletakannya di atas meja.
Janus yang telah selesai membersihkan wadah datang menghampiri sembari membawa beberapa gelas dan sebotol cola.
"Itu cola bukan untukmu kan," ucap Rio menatap sebotol cola yang di bawa Janus.
__ADS_1
"Ini memang untukku dan juga Astrid, kami tidak akan meminum wine yang kamu bawa." Janus meletakan cola dan gelas di meja.
"Tak biasanya kamu tidak tergiur dengan wine yang ku bawa. Kalau ingin meminumnya lebih baik jangan di tahan, biarkan saja Astrid yang minum cola."
"Aku tidak akan membuat kesalahan lagi. Karena mabuk aku jadi kehilangan kendali."
"Apa yang kamu maksud dengan kehilangan kendali?" sela Wandi keherannan.
Seketika kedua pipi Janus dan Astrid memerah, rupanya mereka tampak gelisah dengan pertanyaan yang di lontarkan Wandi. Jika di ingat kembali, ketika Janus dan Astrid mabuk karena wine yang di bawakan Rio dulu. Janus sampai mencium bibir Astrid, bahkan bukan hanya bibir saja. Janus sampai mencumbu leher Astrid hingga meninggalkan bekas. Janus tak ingin kehilangan kendali lagi, apa lagi jika hasratnya sudah terpanggil. Mungkin saja Janus akan menerkam istri mungilnya itu.
"Lebih baik kita makan sekarang, sebelum keburu dingin," Janus mengalihkan ucapannya.
Karena makanan yang sangat menggiurkan, Wandi melupakan apa yang di tanyakannya itu. Pada akhirnya semuanya duduk melingkari meja. Tak lupa juga, sebelum menyantap makanan Janus menuangkan wine ke gelas Wandi, Rio, dan Juga Bianca. Begitu pun dengan cola yang di bawanya, ia menuangkan untuk Astrid dan juga dirinya.
Semuanya sangat lahap ketika menyantap makanan. Terutama bagi Astrid yang sangat menikmati makanan dengan rasa yang baru di lidahnya. Hingga Astrid mengacungkan dua jempolnya untuk suaminya itu.
"Ini sangat enak, kamu benar-benar seperti seorang chef."
Janus pun tersenyum bahagia dengan pujian yang di berikan Astrid padanya.
"Oh ya, besok bukannya pernikahan Luna dan Bayu. Apa kamu akan datang Nus?" tanya Rio kepada Janus.
"Sudah jelas di pasti hadir, Bayu kan kakaknya," sela Wandi.
"Meski keluarga, mana sudi aku datang. Bahkan Bayu tak pernah menganggapnya keluarga. Dan lagi wanita seperti Luna itu wanita yang gila harta. Dia rela meninggalkan Janus demi Bayu yang akan jadi penerus perusahaan ayahmu. Bukankah dia perempuan materialis," ucap Rio menjelekan wanita yang akan jadi ipar Janus dan Astrid.
Seketika senyum Janus pudar saat Rio membahas tentang Luna. Janus hanya menunduk memainkan garfu dan sendoknya.
__ADS_1
"Aku pasti datang. Jadi aku harap kalian juga datang. Terutama kamu Rio, pokoknya kamu harus datang. Dan karena ini makan malam spesial untuk kita, kalian jangan membahas Bayu dan Luna. Karena itu membuatku jadi tidak nafsu makan," ucap Janus dengan ekspresi sedih.