
Ketika upacara pernikahan berlansung, tak hentinya Janus menatap perempuan yang tengah di ikat dalam suatu kalimat sakral yang terucap dari mulut laki-laki yang menjadi putra sulung dari keluarga Sayuda. Senyumnya pudar, ketika satu hentakan telah mengikat perempuan yang jadi cinta pertamanya itu. Entah mengapa hati Astrid terasa sakit ketika menatap Janus yang tengah memancarkan kesedihannya. Sampai kapan Janus akan menutup pintu hatinya untuk perempuan yang tengah duduk di sampingnya. Melupakan Luna merupakan hal tersulit bagi Janus, begitu pun untuk Astrid memasuki pintu hatinya adalah hal yang tersulit.
Beberapa kali Astrid berusaha membuka kunci di hatinya, tak sekalipun ia berhasil membukannya. Janus terlampau kuat mengunci pintu hatinya. Hingga dengan cara apapun Astrid membukannya, tak pernah berhasil ia masuk kedalam lubuk hatinya yang terdalam.
Banyak orang yang terharu dan meneteskan air matanya saat Bayu berhasil mengikat Luna sebagai istrinya. Namun, lain halnya dengan Astrid yang tengah menahan tangisnya menatap pria yang tak henti mengalihkan pandangannya dari perempuan yang kini telah menjadi istri dari Bayu Sayuda. Hatinya terlampau sakit saat terlintas bahwa bagaimana pun ia berusaha keras membuat suaminya berpaling dari cinta pertamanya. Tapi tak sedikit pun ia akan berhasil, jika hati dan pikirannya saja hanya tertuju pada perempuan yang telah di miliki kakaknya itu. Astrid kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Aku pergi ke toilet ya," ucap Astrid kepada Janus.
"Iya," ucap singkat Janus yang masih saja tak mengalihkan pandangannya dari Luna.
Astrid pun beranjak pergi sembari menahan air yang tergenang dari kedua bola matanya. Astrid lalu memasuki toilet, dan menutup rapat pintu toilet. Dengan leluasa Astrid mengeluarkan semua tangis yang sedari tadi ia tahan. Menyembunyikan kesedihannya merupakan hal terbaik untuknya. Walau bagaimana pun ia bersedih dan mengakui perasaanya, Janus tak akan pernah peduli akan perasaannya itu.
Setelah ia puas mengeluarkan semua tangisnya, Astrid pun keluar lalu mencuci tangannya di wastafel. Saat ia bercermin, ia mendapati kedua matanya sembab. Astrid panik seketika, menatap mata dan wajahnya yang sembab sehabis menangis.
"Bagaimana jika Janus mencurigaiku," gumam Astrid sembari mencuci kedua matanya dengan perlahan agar tak menghancurkan make upnya.
Tiba-tiba ia di buat kaget saat Bianca memasuki toilet. Begitu pun Bianca yang terkejut menatap wajah sembab Astrid.
"Sepertinya make upmu agak luntur. Mau ku make over lagi," ucap Bianca mengeluarkan beberapa make up dari dalam tasnya.
"Hm, iya," ucap Astrid benada gugup.
Bianca lalu memoles sedikit demi sedikit wajah Astrid.
"Luna memang perempuan yang sangat berarti bagi Janus. Tapi bukan berarti dia akan terus singgah di hatinya. Aku tahu kamu pasti habis menangis, setelah matamu yang tadi tak henti menatap raut wajah Janus kan," ucap Bianca.
__ADS_1
"Kenapa kak Bianca bisa tahu?" tanya Astrid heran.
"Kalian berdua terlihat mencolok ketika bersedih. Janus yang tak mengalihkan pandangannya dari Luna dan kamu yang tak henti menatap Janus. Membuatku terpaku menatap kalian berdua," jawab Bianca.
"Benarkah aku terlihat mencolok, padahal aku sudah menahannya," ucap Astrid dengan senyumnya yang pudar.
"Sangat jelas sekali. Aku harap kamu bisa menyinkirkan Luna di hati Janus. Karena bagi Janus dan Luna mereka sudah tak mungkin bisa bersama lagi, jadi jangan berkecil hati untuk menjadi sosok yang berarti di hati Janus," ucap Bianca sembari fokus memoles wajah Astrid.
Beberapa menit kemudian Bianca selesai memoles wajah perempuan yang sembab sehabis menangis itu. Tangan ajaibnya berhasil menutupi wajah sembab Astrid.
"Makasih kak, sepertinya kamu berhasil membuat wajahku kembali seperti semula," ucap Astrid tersenyum sembari bercermin.
"Iya sama-sama. Lebih baik kita kembali, mereka pasti akan curiga karena kita terlalu lama di dalam toilet." Bianca beranjak pergi dari toilet, begitu pun dengan Asrid.
Saat Astrid kembali dari toilet, Janus langsung saja menggenggam erat tangan mungil istrinya."Kita pulang sekarang yu."
"Kita pulang saja sekarang," ucap Janus dengan senyum pudarnya.
"Bukankah jika kamu pulang sekarang akan jelas terlihat bahwa kamu tidak bisa melupakan Luna. kita harus menghampiri mereka dan mengucapkan selamat untuk mereka." Astrid menarik tangan Janus menghampiri Luna dan Bayu.
Sembari tersenyum, Astrid menjabat tangan kedua kakak iparnya itu. "Selamat atas pernikahan kalian."
Begitu pun dengan Janus yang juga menjabat sepasang pengantin yang tengah berbahagia atas pernikahannya itu. "Selamat."
Hanya sepatah kata yang terucap dari mulut Janus, karena terlalu berat bagi Janus saat tanganya menyentuh tangan istri dari kakaknya.
__ADS_1
"Terima kasih atas ucapan selamatnya," ucap Luna sembari tersenyum.
"Ku pikir kalian akan langsung pulang, karena aku akan senang jika kalian tidak hadir di pernikahanku," ucap Bayu mengecilkan suaranya.
"Berhenti kamu memaki mereka. Mereka itu adikmu, tak sepantasnya kamu berbicara seperti itu," ucap Luna.
"Kamu lebih membela mereka, padahal aku suamimu," ucap Bayu sembari memiringkan senyumnya.
Astrid menghela nafasnya lalu dengan tegas ia berkata. "Kami memang akan pulang sekarang. Oh ya, tadi kami hanya mengucapkan selamat kepada mempelai perempuannya saja. Kami pamit pergi, untuk kak Luna sekali lagi selamat atas pernikahannya dengan pria paling buruk di muka bumi."
Astrid beranjak pergi sembari menarik tangan Janus. Emosinya naik ketika makian keluar dari mulut busuk kakak iparnya itu. Hingga membuatnya terburu-buru berjalan menuju ke tempat mobil sport milik suaminya di parkirkan.
Saat mobil telah di lajukan Janus, beberapa kali Astrid menghela nafasnya. Mengatur emosinya yang masih belum juga reda akibat perlakuan jahat dari kakak iparnya.
"Seharusnya kamu tidak berkata seperti itu kepada Luna. Ini adalah hari spesialnya dan seharusnya kamu tak membalas makian kak Bayu," ucap Janus sembari fokus menyetir.
"Baik Luna maupun Bayu mereka pantas mendapati perkataan kasar dariku. Ku harap kamu berhenti mengingat atau pun membela perempuan yang telah meninggalkanmu itu," ucap Astrid meninggikan suaranya.
"Apa kamu benar-benar seorang perempuan. Tak hanya kasar kepada Luna saja tapi kamu juga berani membentaku," ucap Janus yang juga meninggikan nada suaranya.
Astrid menghembuskan nafas panjangnya. "Aku seperti ini karena kamu yang tak bisa melupakan Luna. Bisakah kamu sedikit saja mempedulikan perasaanku sebagai istrimu. Apa kamu tahu saat kamu tak bisa mengalihkan pandanganmu dari Luna, itu membuat perasaanku sakit.
Astrid kemudian mengalihkan pandanganya menghadap ke jendela sebelah kirinya.
"Hari ini aku benar-benar tak ingin berdebat denganmu. Jadi kumohon jangan membuatku naik pitam." Janus menancap gas mobilnya sekuat tenaga, hingga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, baik Astrid maupun Janus keduanya terdiam tak berucap. Hingga menimbulkan keheningan. Begitu pun ketika saat mereka sampai di apartemen. Mereka lebih banyak diam di bandingkan harus memperbaiki hubungannya. Janus yang menghindar seorang diri, terdiam di ruang tengah sembari duduk di sofa dengan mata yang terpejam. Sementara Astrid berdiam diri di kamarnya, dengan kedua mata yang tak henti mengeluarkan bulir air. Terlampau sakit baginya saat suami yang sangat ia sayangi, membentaknya hanya karena ia mengeluarkan kata kasar pada perempuan yang pernah singgah di hatinya itu.