Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
85. Kabar Yang Tak Seharusnya Benar


__ADS_3

Setelah pesawat lepas landas, Janus tak bisa berhenti merasa gelisah. Ia tak akan berhenti gelisah, jika ia belum melihat langsung kondisi dari kakeknya. Berulang kali ia menghela nafasnya, berharap bahwa dirinya akan segera sampai di Indonesia. Namun, perjalanan dari korea selatan menuju Indonesia membutuhkan waktu tujuh jam. Selama itu pula ia tak bisa merasa tenang, karena pesawat baru lepas landas selama tiga puluh menit. Itu artinya untuk sampai ke Indonesia, membutuhkan waktu sekitar enam setengah jam lagi.


Di saat itu pula Astrid terus memegangi tangan suaminya. Berharap dengan ia memegangi tangannya, suaminya akan sedikit lebih tenang. Ya, walaupun pikiran dari Janus tak bisa berhenti memikirkan kakeknya yang tengah kritis di rumah sakit.


Hingga enam setengah jam berlalu, pesawat pun akhirnya sampai di Indonesia. Setelah pesawat benar-benar mendarat, Janus dan Astrid pun terburu-buru turun. Janus dan Astrid perlu mengambil koper di conveyer belt. Letaknya memang lumayan jauh dari tempat mereka turun. Sudah jauh, mereka juga harus menunggu lagi, karena koper mereka belum ada di conveyer belt.


"Mengapa koper kita belum ada," gerutu Janus yang masih saja merasa gelisah.


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit lebih, akhirnya Janus dan Astrid mendapatkan kopernya. Sembari menarik koper, tangan Janus juga menarik lengan Astrid sembari berlari keluar dari bandara. Saat mereka telah keluar dari bandara, seorang pria melambaikan tangan ke arah mereka. Dia adalah pak Andy mantan sekertaris Baskara yang sekarang menjabat menjadi sekertaris anaknya yaitu Adit.


"Itu siapa kak?" tanya Astrid menatap pria yang tengah melambaikan tangannya itu.


"Itu pak Andy, dia sekertaris ayahku. Ayo kita kesana," ucap Janus terburu-buru menghampiri pria yang katanya sekertaris ayahnya tersebut.


"Saya di minta pak adit untuk mengantar tuan Janus dan nona Astrid ke rumah," ucap sekertaris yang bernama Andy itu.


"Mengapa ayah meminta anda mengantarku ke rumah. Bukankah aku seharusnya di antar langsung ke rumah sakit tempat kakek di rawat," ucap Janus heran.


"Sekarang pak Baskara sudah berada di kediamannya," ucap Andy dengan suara yang bergetar.


"Kakek sudah berada di rumah. Dia pasti menolak lagi untuk di rawat. Ya sudah, tolong bantu saya memasukan koper ke bagasi," ucap Janus menyerahkan koper yang di pegang olehnya dan juga Astrid.

__ADS_1


Seketika kepala sekertaris dari ayahnya itu menunduk. "Maksud dari ucapan saya sebenarnya, bahwa pak Baskara sudah tiada. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 10 pagi. Dan sekarang jenazahnya sudah berada di kediamannya," ucapnya dengan suara yang masih saja bergetar.


Sontak Janus pun syok setengah mati saat mendengar kabar tersebut. Tiba-tiba mata sebelah kanannya mengeluarkan bulir air.


Janus langsun saja menarik kerah baju Andy. "Pak Andy tidak usah berbohong pada saya. Pak Andy pasti di suruh Bayu untuk membohongi saya, supaya saya tidak pergi ke rumah sakit menemui kakek kan," ucapnya meninggikan suara.


"Saya tidak berbohong tuan. Pak Baskara memang benar sudah tiada," ucap Andy bergetar ketakutan.


"Tolong bilang pada Bayu, bahwa aku tidak akan tertipu lagi olehnya," ucap Janus tanpa melepaskan kerah baju sekertaris ayahnya itu.


Astrid pun panik, ia langsung saja menarik tangan Janus dari kerah baju Andy. "Kak, tenangkan dirimu. Dia tak mungkin berbohong, jika kamu tidak percaya lebih baik kita pastikan. Dan sekarang kita harus segera pergi ke rumah kakek."


"Baiklah, kita pastikan bahwa ucapan dari pak Andy bohong." Janus pun langsung saja terburu-buru menaiki mobil sekertaris ayahnya itu. Dan di ikuti oleh Astrid yang juga naik ke mobil tersebut.


Janus menghampiri peti yang berisi jenazah kakeknya tersebut. Tangisnya pecah saat kedua tanganya mulai menyentuh peti.


"Kek bangun, Janus sudah pulang," ucap Janus dengan kedua sudut mata yang mengeluarkan bulir air.


Hatinya semakin hancur saat ia sudah memastikan bahwa kakek semata wayangnya itu telah pergi. Kemarin saja Janus mendapati kabar bahwa ibunya sudah lama meninggal. Dan sekarang ia harus mendapati sebuah kabar lagi. Kabar yang sangat tak di inginkan olehnya. Satu-satunya keluarga yang selalu ada untuknya, kini telah pergi meninggalkannya.


Begitu pun dengan Astrid yang tak bisa membendung tangisnya saat menatap peti jenazah dari kakek mertuanya itu.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Adit datang menghampiri putra keduanya tersebut. "Ikhlaskan dia, agar dia bisa pergi dengan tenang," ucapnya sembari mengusap pundak Janus.


Janus menghempaskan tangan Adit dari pundaknya "Mudah sekali ayah berbicara seperti itu. Bagaimana denganku jika kakek pergi, selain Astrid dia adalah satu-satunya keluarga bagiku."


"Kamu harus terima kenyataan, dia tak mungkin bisa kembali. Kamu masih punya aku, ayahmu," ucap Adit.


Sembari menitikan air matanya, seketika Janus tersenyum menyeringai. "Ayah? Sejak kapan kamu menjadi ayahku. Sejak aku di Indonesia apa kamu pernah peduli padaku, sikapmu selalu dingin padaku. Apa itu yang namanya seorang ayah, kamu bahkan menyembunyikan kematian ibuku dariku."


"Maaf karena aku tidak bisa menjadi ayah bagimu. Bukan berarti aku tak menyayangimu, aku seperti itu karena tak bisa menerima kenyataan bahwa Yuna pergi dari dunia ini. Aku tak bisa bertahan lama bila menatapmu, karena tiap kali menatapmu. Hatiku akan sakit, karena akan selalu teringat padanya," terang Adit dengan kedua bola mata yang tergenang.


"Jangan pernah meminta maaf padaku, karena selamanya aku tak akan pernah memaafkanmu," ucap Janus yang seketika berdiri lalu terburu-buru beranjak pergi sembari menarik lengan istrinya.


"Kak, mau kemana kita. Bukankah kita harus mengantar kakek ke tempat peristirahatan terakhirnya," ucap Astrid panik.


"Tidak perlu, kita pulang saja sekarang," ucap Janus tanpa melepas lengan istrinya itu.


Astrid pun langsung saja menghempas tangan Janus dari lengannya. "Kenapa? pokoknya kita harus mengantarnya."


"Lebih baik aku tak melihat proses pemakaman kakek. Karena jika melihatnya, itu akan membuatku semakin tak bisa melupakannya. Kumohon pulanglah bersamaku Trid," pinta Janus.


Astrid pun terpaksa harus menuruti permintaan suaminya tersebut. Ia pulang bersama Janus ke apartemen menggunakan taxi. Walaupun sebenarnya Astrid ingin sekali pergi mengantar Baskara ke tempat peristirahatan terakhirnya. Namun, Astrid yang seorang istri harus lebih memprioritaskan suaminya. Menemaninya di saat ini adalah hal terpenting bagi Janus yang tengah syok atas kenyataan bahwa kakek semata wayangnya telah pergi untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, tiba-tiba ponsel Astrid berbunyi, Astrid pun segera mengecek ponselnya. Satu buah pesan dari Hilda yang membuat ponselnya itu berbunyi. Dalam pesan tersebut Hilda meminta Astrid untuk mengecek hasil ujian masuk ke universitas.


__ADS_2