
Ponsel Astrid terus berdering ketika ia tengah melayani pengunjung. Astrid mengabaikan walaupun panggilan di ponsel tak hentinya berbunyi, karena saat ini restoran penuh dengan pengunjung, tak ada waktu untuk Astrid mengangkatnya. Dan Anehnya panggilan di ponselnya berdering dalam sembilan kali. Sepertinya penting, tiap kali Astrid akan mengambil ponsel di saku celananya, selalu saja ada pelanggan yang memanggilnya. Astrid pun terpaksa tak mengangkat panggilan tersebut.
Seperti biasa setiap pukul satu siang, sudah waktunya istirahat bagi semua pekerja. Akhirnya Astrid bisa beristirahat setelah melayani banyak pelanggan.
Astrid dan Tika pergi keluar untuk membeli makan siang, sekalian membeli makanan untuk suami dan dua pekerja di restoran. Astrid memang sudah tidak sibuk bekerja, tapi ada satu hal yang membuatnya lupa. Yaitu, ia melupakan sembilan panggilan di ponselnya tadi.
Astrid berjalan sembari mengingat-ngingat apa yang di lupakannya itu.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu," gumam Astrid.
"Memangnya apa yang mba Astrid lupakan?" tanya Tika heran.
"Entahlah, aku juga lupa. Lebih baik kita buru-buru membeli makanan, jangan membuat orang di retoran menunggu." Astrid terburu-buru berjalan tanpa mempedulikan apa yang ia lupakan.
Astrid dan Tika pergi ke coffe shop yang tak jauh dari restoran tempatnya bekerja. Astrid memesan dua menu, yang tiap menunya ia memesan untuk lima orang.
"Saya pesan lima americano dan lima roti isi, semuanya di bungkus."
Sekitar tiga puluh menitan, pesanan yang di pesan Astrid sudah selesai, Astrid mengambil pesanannya di meja kasir. Namun, di saat ia akan mengambil kartu debit di saku celananya, tiba-tiba ia teringat apa yang di lupakannya sedari tadi. Astrid teringat dengan sembilan panggilan yang di abaikannya, ketika ia menyentuh ponsel di saku celananya.
Sebelum mengencek ponselnya Astrid terlebih dahulu membayar pesanannya. Setelah itu, Astrid dan Tika beranjak pergi dari coffe shop. Ia berjalan sembari mengecek panggilan dari ponselnya itu.
Ternyata sembilan panggilan yang tidak sempat di angkatnya merupakan telepon dari kakak iparnya, yaitu Luna. Astrid terheran-heran, mengapa Luna bisa melakukan sembilan panggilan ke ponselnya. Padahal satu panggilan saja sudah tidak di angkat oleh Astrid.
Astrid pun lalu menelepon balik Luna, karena ia pikir, siapa tahu Luna menelpon memang ada keperluan yang mendesak.
Beberapa detik Astrid menelpon, Luna mengangkat panggilan dari adik iparnya itu. Namun, bukannya menyapa, Luna malah menangis sambil meminta tolong kepada Astrid.
"Tolong aku Trid."
Nada rendah serta isak tangis jelas terdengar dari ponsel milik istri Janus Sayuda itu.
Sontak Astrid pun panik saat mendengarnya, hingga membuat langkahnya terhenti. Astrid pun langsung saja bertanya. "Kak Luna baik-baik saja kan. Sekarang kak Luna di mana?"
"Aku di rumah, tolong bawa aku pergi."
"Aku segera kesana kak, tunggu sebentar." Astrid menutup teleponnya.
__ADS_1
Astrid pun harus terburu-buru pergi ke rumah Bayu, tapi Astrid tak bisa memberitahu Janus terlebih dahulu. Karena jika ia memberitahu Janus, suaminya itu, kemungkin akan ikut pergi. Sementara itu, setelah restoran di buka pengunjung pasti ramai berdatangan. Bila Janus ikut pergi ketiga pekerjanya pasti akan kerepotan.
"Tika, sepertinya aku tidak bisa kembali ke restoran, karena ada keperluan yang mendesak. Tolong sampaikan pada Janus, aku pergi hanya sebentar dan pasti akan kembali," lontar Astrid lalu terburu-buru menghentikan taxi yang tengah lewat.
Astrid meminta supir taxi pergi secepatnya ke alamat rumah kakak iparnya. Sesampainya di sana, Astrid terburu-buru menekan tombol bel di samping gerbang rumah Bayu. Astrid melakukanya beberapa kali, sampai seorang asisten rumah tangga datang membukakan gerbang.
"Di mana kak Luna sekarang?" tanya Astrid panik.
Asisten rumah tangga tersebut tampak gugup dan gelisah, setelah Astrid bertanya tentang keberadaan Luna.
"Hm, nona Luna... tidak ada di rumah," ucapnya terbata-bata.
"Kamu berbohong kepada saya."
Astrid seketika menerobos masuk ke dalam tanpa memperdulikan apapun. Karena saat ini yang harus Astrid lakukan hanyalah segera menyelamatkan kakak iparnya itu. Di dalam rumah, Astrid berteriak memanggil Luna.
"Kak Luna, kamu di mana. Bersuaralah biar aku menemukanmu."
Sambil mencari ke setiap ruangan, tak hentinya Astrid berteriak memanggil Luna, namun Luna sama sekali tak menyahutnya.
Asisten rumah tangga di rumah Bayu sampai panik mengikuti istri dari adik majikannya itu.
"Kamu jangan membohongi saya, jelas-jelas tadi kak Luna menelpon saya. Dia berkata, jika dia berada di rumah." Astrid meraih tangan ART tersebut. "Cepat katakan di mana kak Luna sekarang. Jika kak Luna sampai kenapa-kenapa, kamu juga akan ikut terseret atas kejahatan yang di lakukan kak Bayu."
Ia menelan salivanya, biarpun takut terkena amarah majikannya, ART tersebut terpaksa menunjukan keberadaan Luna.
"Ikuti saya ke kamar tamu."
Astrid mengikuti langkah ART tersebut ke tempat Luna berada. Sesampainya di sana, ART membuka kamar tamu yang pintunya terkunci rapat.
Pintu terbuka, Astrid di buat terkejut setengah mati setelah melihat kondisi Luna yang tengah tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. Astrid terburu-buru menghampirinya, ia sangat panik saat menatap wajah dan tubuh Luna penuh dengan luka lebam.
"Aku sudah datang, kak Luna bangun," ucap Astrid sembari menepuk-nepuk pipi istri dari iparnya itu.
Luna terbangun, matanya terbuka lebar, ia nampak gelisah dan ketakutan. Hingga membuatnya menarik lengan baju adik iparnya itu.
"Tolong aku, bawa pergi aku dari sini," ucapnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
__ADS_1
"Iya ayo kita pergi dari sini sekarang."
Astrid membantu Luna berdiri, lalu memapahnya pergi keluar dari rumah. Setelah ia berhasil membawanya keluar, Astrid kemudian memanggil ART.
"Bu...
"Iya mba ada apa?"
"Tolong siapkan beberapa pakaian kak Luna secepatnya. Saya tunggu sepuluh menti di sini."
"Tolong juga bawakan tas dan ponsel saya," lontar Luna.
ART tersebut menurut, hanya dalam kurun waktu sepuluh menit, ia kembali membawa sejumlah pakaian milik Luna menggunakan koper termasuk ponsel dan juga tasnya. Astrid kemudian terburu-buru pergi sambil memapah Luna dan membawa koper milik iparnya tersebut.
Kebetulan sekali saat Astrid dan Luna keluar dari pintu gerbang, ada taxi yang lewat. Astrid langsung saja terburu-buru menghentikan taxi.
"Kak Luna kita pergi ke rumah sakit terlebih dahulu ya."
Luna menggeleng. "Jangan kesana, bawa aku pergi ke tempat di mana Bayu tak bisa menemukanku."
"Aku akan membawa kak Luna ke rumah sakit yang jauh dari sini, agar kak Bayu tak dapat menemukan kak Luna."
Luna mengangguk, ia pun akhirnya mau di bawa Astrid pergi ke rumah sakit. Astrid lalu meminta supir taxi pergi ke rumah sakit yang paling jauh dari kota.
"Kak, bagaimana jika kak Luna menghubungi orang tua kakak. Bila kak Luna sekarang akan pergi ke rumah sakit," saran Astrid.
"Nanti aku akan menghubungi ibuku, dan menyuruhnya untuk pergi tanpa ayah."
Astrid mengerutkan kedua alisnya. "Kenapa menyuruhnya pergi sendiri, bukankah ayahmu juga perlu tahu."
"Jika tahu aku pergi dari rumah Bayu, dia akan memberitahu Bayu. Bahkan ketika aku pulang ke rumahnya, dia selalu memintaku kembali pulang ke rumah Bayu," ucap Luna dengan isak tangis.
"Bukankah dia pasti melihat, jika kak Luna pulang karena terluka oleh kak Bayu, lalu mengapa ia menyuruhnya kembali," ucap Astrid heran.
"Kamu tahu kan bila pernikahanku dengan Bayu adalah hasil dari perjodohan dan kerja sama antara perusahaan ayahku dan pak Adit. Dia tak ingin menghancurkan kerja sama perusahaan, bila aku sampai berpisah dengan Bayu."
Luna lalu meraih tangan Astrid dengan kedua mata yang tak henti-hentinya mengeluarkan bulir air.
__ADS_1
"Maaf sudah merepotkanmu, aku memanggilmu karena ibuku sulit untuk di hubungi. Dan aku tak tahu harus meminta tolong siapa lagi selain dirimu. Dan tolong rahasiakan ini juga dari Janus, agar dia tak marah, karena kamu menolongku."