Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
125. Tak Sanggup Berpisah


__ADS_3

Sudah berhari-hari Janus larut dalam kesedihannya. Janus semakin hari semakin terpuruk saja. Bahkan saking rindunya terhadap Astrid, Janus sampai membuat masakan kesukaan Astrid.


Meja makan penuh dengan makanan kesukaan Astrid. Ia sendirian duduk di meja sembari menatap makanan tanpa memakan sesuappun. Ia meraih ponsel, namun anehnya Janus malah menghubungi Luna.


Janus meminta Luna untuk datang menemaninya makan. Luna sudah pasti senang setelah di mintai Janus datang ke rumahnya.


Luna datang, dan dengan girangnya ia tersenyum menghampiri Janus di meja makan. Walau Janus menyambutnya dengan ekspresi datar.


"Silahkan di makan," ucap Janus.


Luna tersenyum sembari mengangguk, lalu segera melahap makanan yang sudah di siapkan Janus tersebut. Termasuk juga Janus, yang akhirnya ikut makan bersama Luna.


Anehnya, Janus makan sangat lahap, padahal sudah beberapa hari ini ia tidak nafsu makan setelah terakhir kali ia bertemu dengan Astrid.


Beberapa menit sudah Janus dan Luna menghabiskan makanan. Namun, tiba-tiba saja Janus memegang perutnya. Dan anehnya lagi, sekujur tubuhnya mengeluarkan banyak keringat, Janus seperti tengah menahan sakit. Luna pun sampai mengerut alisnya ketika menatap Janus.


"Janus, apa kamu baik-baik saja?"


"Iya, aku sangat baik baik saja." Janus lalu meraih tangan Luna." Hm, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan padamu?"


"Tentu saja boleh."


"Apa kau benar-benar mencintaiku?"


"Sudah ku katakan sebelumnya, bahwa aku sangat mencintaimu. Bahkan ketika aku menikah dengan Bayu, aku tak pernah sekalipun bisa melupakanmu."


"Kalau begitu ikutlah mati bersamaku."


"Apa maksudmu?" Tanya Luna terheran-heran.


"Aku sudah menaruh racun di makanan yang kita makan."


Janus seketika hilang kesadarannya. Luna panik setelah mendengarnya, terlebih lagi Janus tak sadarkan diri.


Luna pun berteriak memanggil kedua asisten rumah tangga. "Tolong, bu Eli, bu Mira."


Kini giliran Luna yang merasa sakit di perutnya, di tambah dengan kepala yang sangat pusing dan juga sedikit terasa mual. Di saat Eli dan Mira datang menghampiri, Luna langsung saja tak sadarkan diri.


Eli dan Mira sampai di buat panik setelah melihat Janus dan Luna terbaring di atas lantai dengan mulut yang sedikit berbusa. Eli panik, ia pun segera menelpon ambulance. Ketika Eli tengah menelpon ambulance, bel pintu berbunyi. Mira segera beranjak untuk membuka pintu.


Dan ternyata orang yang menekan tombol bel pintu ialah Wandi dan Rio.


"Janus ada di rumah kan? Tanya Wandi.

__ADS_1


"Iya ada di rumah, tapi dia sedang tak sadarkan diri di dalam," jawab Mira dengan raut wajahnya yang nampak cemas.


Sontak Rio dan Wandi pun terburu-buru masuk ke dalam rumah. Mereka di buat terkejut ketika melihat Janus dan Luna yang terbujur kaku di lantai.


"Kenapa bisa begini?" Tanya Rio panik.


"Saya tidak tahu, terakhir kali saya melihat, mereka masih baik-baik saja. Tapi setelah mereka selesai makan, mereka jadi seperti itu. Dan saya sudah menghubungi ambulance untuk datang menjemput mereka ke rumah sakit," jawab Eli.


Untuk memastikan Janus dan Luna masih bernafas, Wandi mendekatkan jari telunjuknya ke arah hidung mereka.


"Nafasnya rendah, tidak ada waktu bila harus menunggu ambulance. Lebih baik bantu aku memasukan mereka ke dalam mobil, kita harus segera bergegas ke rumah sakit sebelum terlambat," imbuh Wandi.


Wandi, Rio, dan beserta kedua asisten rumah tangga langsung mengangkat tubuh Luna dan Janus. Dan terburu-buru membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Wandi segera menancap gas sekencang mungkin.


Untungnya, jarak rumah sakit dengan rumah Janus cukup dekat. Dengan kecepatan tinggi, Wandi berhasil membawa mobilnya hanya dalam kurun waktu tujuh menit.


Luna dan Janus di bawa oleh beberapa perawat menggunakan stretcher ke ruang UGD. Dan sebelum Janus dan Luna di tangani, Wandi dan Rio menjelaskan secara detail kejadian dan kondisi mereka kepada dokter.


Karena memang ahlinya dalam menangani, dokter langsung saja mengambil tindakan untuk menyelamatkan nyawa Janus dan Luna.


Di ruang tunggu, Wandi dan Rio di buat gelisah menunggu Janus dan Luna. Apa lagi, prosedur yang di lakukan dokter membutuh waktu yang cukup lama untuk menguras racun di tubuh Janus dan Luna.


Wandi dan Rio sampai tak bisa nyaman berdiam diri menunggu kedua temannya itu.


"Mereka akan baik-baik saja kan?" Ucap Wandi.


Setelah lamanya mereka menunggu, dokter akhirnya keluar dari ruang UGD dan menyatakan bahwa Janus dan Luna berhasil di tangani. Rio dan Wandi pun akhirnya bisa bernafas lega, mereka teburu-buru menghampiri Janus dan Luna.


Keadaan Luna terbaring lemas di atas ranjang, sementara Janus masih menutup kedua matanya.


"Sudah puas kamu membuat Janus seperti itu," lontar Wandi.


"Aku tak melakukan apapun, itu ulah Janus. Dia memasukan racun ke dalam makanan," ucap Luna sembari menangis.


"Dia seperti itu karena kamu," ucap Wandi meninggikan suaranya. Wandi menghela. "Apa kamu pikir dia akan bahagia bila bersamamu. Dan apa kamu pikir dia akan bertahan hidup, bila nanti dia sudah resmi bercerai. Dia bahkan berniat mengakhiri hidupnya, padahal dia belum sepenuhnya bercerai dengan Astrid."


Tangis Luna semakin pecah setelah di tegur Wandi.


"Maaf," ucap Luna sembari sesegukan.


Wandi memiringkan senyumnya. "Setelah kamu meninggalkan dia, tak tahu malunya kamu ingin kembali bersamanya. Sampai-sampai harus merusak kebahagiaanya."


Seketika Luna meraih tangan Wandi. "Antar aku bertemu dengan Astrid."

__ADS_1


"Untuk apa kamu menemuinya? Kamu datang menemuinya hanya untuk membuat masalah Janus dan Astrid semakin memburuk."


Luna meninggikan suaranya. "Bila ingin Janus selamat, antar aku menemui Astrid sekarang juga."


Wandi pun menarik lengan Luna dengan kasar, lalu membawanya ke mobil. Ia pergi membawa Luna ke rumah Astrid.


Ketika Astrid membuka pintu, raut wajah Astrid nampak kesal. Astrid pun kembali menutup pintu tanpa berucap sepatah katapun. Sontak Luna pun langsung saja menarik knop pintu, hingga pintu terbuka kembali.


"Tunggu Astrid, ada yang ingin ku sampaikan padamu."


"Aku tidak ada waktu untuk mendengarkan ocehanmu. Lebih baik kamu pergi dari sini," lontar Astrid.


Seketika Luna bertekuk lutut di hadapan Astrid.


"Batalkan gugatan ceraimu dan kembalilah kepada Janus," ucapnya sembari menundukan kepala.


Astrid menghela. "Untuk apa? Apa kak Janus yang memintamu untuk membujukku. Atau ini salah satu trikmu, agar kak Janus bisa bersimpati padamu, karena kamu tak bisa mendapatkan hatinya."


Wandi meraih lengan Astrid. "Ayo kita pergi ke rumah sakit untuk menemuinya. Jika kamu melihatnya, kamu mungkin bisa mengurungkan niatmu untuk bercerai dengannya."


Astrid menghempas tangan Wandi dari lengannya.


"Apa maksudmu? Kenapa dia bisa berada di disana?" Tanya Astrid heran.


"Dia melakukan percobaan bunuh diri," ucap Luna, lalu ia meraih tangan Astrid. "Kumohon batalkan gugatan ceraimu, aku berjanji tak akan pernah lagi mengganggu hubungan kalian. Dan bila perlu aku akan pindah ke luar negeri untuk tinggal bersama pamanku di sana."


"Kalau begitu, antarkan aku kesana secepatnya," ucap Astrid panik.


Wandi pun segera bergegas membawa Astrid ke rumah sakit tempat temannya itu di rawat.


Sesampainya di sana, Janus masih belum membuka matanya. Astrid menghampiri sembari menangis. Suara tangisan Astrid sangat keras terdengar, sampai-sampai Janus pun terbangun.


Janus langsung saja memeluk Astrid. Dalam pelukannya, Astrid menangis sembari memukul dada Janus.


"Dasar bodoh! Apa kamu akan membiarkan anak kita terlahir tanpa seorang ayah."


Janus mengerutkan alisnya, ia sangat terkejut mendengar ucapan Astrid.


"Apa maksudmu, kamu hamil?"


"Iya aku hamil."


Janus pun jadi ikut menangis setelah mendengarnya. "Jangan pernah meninggalkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Dan aku juga berjanji akan membahagiakan kamu dan anak kita."

__ADS_1


Tangis Astrid semakin pecah, ia menangis sembari mendekap erat tubuh Janus.


Walau Astrid masih marah, Astrid tak bisa membohongi perasaan, jika Astrid masih menaruh hati padanya. Astrid pun sampai harus mengurungkan niatnya untuk bercerai. Apa lagi setelah melihat Janus yang terbaring di rumah sakit. Astrid sampai di buat menyesal telah mengambil langkah perceraian tanpa berpikir panjang.


__ADS_2