Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
73. Si Misterius Penyebar Foto


__ADS_3

Esoknya harinya, di saat Astrid dan Janus akan hendak berangkat sekolah. Tiba-tiba saja empat orang tinggi besar berpakaian setelan jas hitam berkumpul bersama dua body guardnya. Padahal Janus sendiri tak pernah mengajukan untuk menambah personel body guard. Janus pun turun dari mobil lalu menghampiri orang yang tengah berkumpul di depan gedung apartemennya.


"Siapa mereka?" tanya Janus kepada body guardnya.


"Saya di minta pak Baskara untuk menambah empat personel body guard. Dia khawatir nona Astrid akan di buly oleh banyak orang setelah satu sekolah mengetahui statusnya sebagai murid yang sudah menikah," jawab salah body guard.


Janus menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya. "Bukannya ini terlalu banyak, padahal dua saja sudah cukup. Ya sudah ga apa-apalah, kalian ikutin mobil saya dari belakang, karena Astrid akan berangkat sekolah bersama saya."


"Siap tuan," ucap serentak semua body guard.


Janus kembali masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin mobilnya.


"Siapa mereka?" tanya Astrid.


"Kakek menambah body guard untuk menjaga kamu," jawab Janus sembari menancap gas.


"Enam orang untuk menjagaku tuh terlalu banyak. Bukankah dua saja sudah membuatku aman," ucap Astrid menghela nafasnya.


"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi menurutku itu jauh lebih baik. Mungkin kemarin kamu di buly mereka lewat mulut jahatnya. Tapi bagaimana jika sampai mereka menggunakan fisik untuk membulymu. Bahkan bukan cuma segelintir orang yang membencimu hampir satu sekolah membencimu. Dua orang body guard mana kuat bila harus melawan banyak orang," ucap Janus sembari menyetir.


"Bukankah peran kakek di sekolah sangat di takuti. Dengan aku yang sebagai istri dari cucu pak Baskara, mereka tak mungkin berani menyentuhku," ucap Astrid.


"Segelintir orang mungkin akan takut, tapi bagaimana jika ada yang berani. Kita kan tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran orang. Contohnya Bintang, pada saat ku tegur dia bahkan berani melawanku, padahal aku ini seorang guru."


Astrid kembali menghela nafasnya. "Iya juga sih. Mau bagaimana lagi, aku sudah banyak di benci oleh orang. Tapi aku sangat beruntung, ketika aku di buly, kamu dan kakekmu siap siaga menyewakan body guard untukku."


Janus tersenyum lalu mengusap kepala Astrid dengan tangan sebelah kirinya. "Sabar ya, kamu hanya tinggal menyelesaikan dua kali ujian lagi. Setelah selesai kamu tidak perlu lagi kembali ke sekolah. Kamu hanya tinggal menunggu kelulusanmu."

__ADS_1


***


Sesampainya di sekolah, dua orang body guard turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Astrid dan Janus. Saat turun, semua orang yang berada di tempat parkir pun di buat heboh dengan enam rombongan personel yang siap siaga menjaga cucu menantu dari Baskara. Bahkan ketika Janus dan Astrid mulai menginjakan kakinya di sekolah. Orang-orang yang melihatnya pun merasa senggan terhadap sepasang suami istri yang banyak di bicarakan itu. Terlebih lagi, setelah kemarin Baskara datang ke sekolah. Janus semakin banyak di bicarakan sebagai pemilik wajah tampan dari keturunan konglomerat.


Jika Janus banyak yang menatap kagum, lain halnya dengan Astrid. Saat orang-orang menatap Astrid, hampir semua yang kemarin mencomoohkannya, memalingkan wajahnya. Entah mereka takut Astrid akan melaporkan kepada Baskara mengenai orang-orang yang kemarin secara terang-terangan meledeknya, atau mungkin mereka merasa bersalah. Karena dua hari kemarin, murid-murid lebih berani mecoomohkan Astrid di bandingkan Janus yang merupakan suaminya. Terlebih lagi ancaman Baskara kepada seluruh staff sekolah membuat geger para murid.


"Wah gila nih berasa presiden yang tengah di jaga banyak body guard," ucap Alula ketika Astrid berada di depan pintu kelas.


Seketika salah satu body guard menghalangi Alula menggunakan lengannya. "Stop! jangan terlalu dekat dengannya."


Astrid menurunkan lengan body guard tersebut. "Tidak apa-apa dia teman dekatku, dia tidak akan berbuat macam-macam terhadapku."


"Maaf nona saya kira dia bukan teman anda," ucap body guard sembari menundukan kepalanya.


Astrid pun melangkah masuk ke dalam kelas sembari di giring oleh seluruh body guardnya. Saat berada di kelas, suara gaduh di kelas tiba-tiba saja jadi hening. Mereka yang berada di kelas tampak ketakutan, bahkan orang yang duduk di sebelahnya pun enggan menatap Astrid.


Seketika murid yang duduk di samping Astrid pun berdiri menghadap ke arah Astrid dengan kepala yang tertunduk. "Maaf Trid, aku khilaf. Aku hanya ikut-ikutan mereka saja. Kumohon biarkan aku lulus dari sekolah ini."


"Kenapa aku harus membuatmu tidak lulus sekolah. Aku tidak punya hak untuk itu," ucap Astrid.


"Aku dengar dari orang-orang, jika pak Baskara akan membuat orang yang sudah mencomoohkanmu di buat tidak lulus."


"Kasian, jadi siapa saja Trid yang sudah berani meledekmu. Biar ku catat namanya," ucap Alula.


"Sudahlah La, lagi pula aku tidak akan melaporkannya. Dan kakek itu tidak seburuk yang mereka pikirkan," ucap Astrid sembari mengeluarkan alat tulis di tasnya.


Kemudian, setelah dua jam melaksanakan ujian, Astrid kembali di giring oleh seluruh body guardnya menuju kantor. Astrid sudah tidak sabar ingin mengetahui orang yang sudah membuatnya mederita selama dua hari terakhir ini. Hingga membuatnya melangkahkan kaki dengan cepat.

__ADS_1


Namun, saat Astrid memasuki kantor. Orang-orang di kantor masih sama seperti kemarin. Hanya ada suaminya, kakek mertua, kepala sekolah, beserta staff guru.


"Dimana orang yang sudah menyebarkan fotonya?" tanya Astrid sembari duduk di sebelah Janus.


"Mereka sedang menunggu orang tuanya di luar," jawab kepala sekolah.


"Hah mereka? apa lebih dari satu orang yang terlibat?" tanya Astrid kembali.


"Iya mereka ada dua orang," jawab kepala sekolah.


Hanya butuh sepulu menit Astrid menunggu kedatangan orang yang telah menyebarkan fotonya. Kedua orang tersebut masuk dengan orang tuanya. Astrid di buat tak menyangka bahwa kedua orang yang masuk ke kantor bersama orang tuanya, merupakan orang yang sering kali membuatnya jengkel. Siapa lagi kalau bukan pasangan sejoli Vega dan Bintang.


"Selamat siang bu Diana yang merupakan staff administrasi di kantor saya. Dan juga selamat siang kepada pak Ryan yang merupakan pendiri dari perusahaan kecil CV FOLMAHAUT," ucap Baskara sembari menatap sinis orang tua Bintang dan Vega.


Sontak orang tua dari Bintang dan Vega pun bergetar ketakutan dengan tatapan sinis dari pria yang merupakan orang yang paling berpengaruh dalam dunia bisnis itu.


Baskara tersenyum menatap Vega. "Oh ya, kamu yang bernama Vega kan?


"I...ya saya," ucap Vega terbata-bata.


"Kamu sering mengusik Astrid, lalu kamu juga sudah membuat kesalahan dengan menyebarkan foto pernikahanya. Bagaimana dengan nasib ibumu yang sudah bekerja selama tujuh tahun di perusahaan, apabila saya memecatnya." ucap Baskara lalu menoleh ke arah Bintang. "Dan bagaimana dengan nasib perusahaan pak Ryan jika saya bilang kepada anak saya untuk membatalkan kerja sama dengan perusahaan ayahmu. Jika perusahaan ayahmu yang hampir bangkrut itu gagal bekerja sama dengan STAR.COP, perusahaan kecil itu akan langsung lenyap dalam sekejap."


Sontak Diana dan Ryan pun berlutut kepada Baskara.


"Saya benar-benar minta maaf atas ulah dari anak saya," ucap Ryan dengan kepala yang menuduk, begitu pun dengan Diana yang juga menundukan kepalanya. "Saya juga minta maaf. Jika anda tidak memecat saya, saya berjanji setelah ini saya akan mendidik anak saya sebaik mungkin. Dan membuat anak saya tidak lagi berani mengusik cucu dan menantu bapak.


"Maaf, bukan hanya kita berdua saja yang terlibat dalam menyebarkan foto pernikahan pak Janus. Tapi anak kepala sekolah juga ikut terlibat, bahkan kami punya foto pernikahan itu berawal dari anak pak kepsek," sela Bintang.

__ADS_1


"Iya, kami juga heran mengapa anak dari kepala sekolah tidak ikut hadir," timpal Vega lalu menoleh ke arah kepala sekolah. "Apa bapak sengaja tidak memanggil anak bapak, supaya posisi bapak sebagai kepala sekolah bisa aman. Sangat tidak adil."


__ADS_2