Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
74. Siapa Lagi Dia


__ADS_3

Spontan Baskara langsung saja menatap Kepala sekolah dengan tatapan yang penuh kecurigaan. Sembari melipat lengannya, Baskara berkata. "Ada apa dengan anak bapak? jangan mentang-mentang bapak sebagai kepala sekolah, bisa seenaknya melindungi seorang anak yang bersalah."


Sontak kepala sekolah pun bergetar ketakutan, duduknya mulai tak nyaman, ia memalingkan wajahnya dengan cara menunduk. "Maaf pak, saya tahu anak saya salah. Tapi anak saya tadi tengah sakit, jadi saya menyuruhnya untuk pulang."


Baskara menatap sinis kepala sekolah. "Saya tidak mau tahu tentang kondisi anak bapak. Saya ingin bapak segera panggilkan anak bapak sekarang juga."


"Apa benar Aldo sedang sakit, tadi saya lihat dia sangat baik-baik saja. Bahkan dia sempat tertawa bersama teman-teman," lontar Bintang.


Seketika kedua alis Astrid bertautan, ia tampak terkejut setelah Bintang menyebut nama Aldo. Hingga membuatnya tahu akar dari permasalahannya, bukan hanya terjadi karena Bintang dan Vega saja yang menyebarkan foto. Tetapi Aldo juga terlibat dalam penyebaran foto pernikahannya. Astrid tak terlalu syok saat tahu Aldo juga terlibat, karena Aldo merupakan teman dekat dari Bintang. Astrid hanya merasa heran mengapa Aldo bisa memiliki foto pernikahannya, bahkan Aldo bukanlah orang yang ikut hadir di pernikahannya.


"Lalu jika Aldo adalah orang yang pertama mendapatkan foto. Dia ada hubungan apa dengan orang yang turut hadir di pernikahanku," gumam Astrid.


"Aku pun merasa heran mengapa Aldo bisa memiliki foto pernikahan kita. Padahal dia bukan anggota keluarga maupun kerabat," ucap Janus.


"Panggilkan anak bapak yang bernama Aldo itu," perintah Baskara sembari menatap sinis kepala sekolah.


"Baik pak," ucap kepala sekolah sembari mengangguk.


Kepala sekolah segera mengambil telepon genggamnya dari dalam tas yang ia letakan di sampingnya. Sembari menatap layar ponsel, tubuhnya berkeringat dingin dan ia nampak gelisah. Bahkan saat ia menekan layar di ponselnya tangannya pun bergetar seakan merasakan gelisah yang teramat sangat.


Kepala sekolah semakin gelisah saat anak yang di hubunginya sama sekali tidak mengangkat teleponnya. Berulang kali ia menelpon Aldo, namun aldo tak kunjung mengangkat telepon dari ayahnya itu.


"Pak saya hanya bisa menunggu sampai tiga puluh menit ya. Jika bapak tidak dapat memanggil anak bapak kemari, saya akan langsung memecat bapak dari sekolah, memecat bu Diana dari kantor, lalu menyuruh anak saya untuk membatalkan kerja sama dengan perusahaan pak Ryan," ancam Baskara yang masih melipat lengannya di dada.


Kini bukan kepala sekolah saja yang panik, orang tua Bintang dan Vega pun ikut panik atas ancaman Baskara tersebut.

__ADS_1


"Baik pak saya akan menelpon rumah, siapa tahu Aldo ada di rumah," ucap kepala sekolah yang semakin bergetar ketakutan.


Hingga dua menit kepala sekolah menelpon, akhirnya istrinya yang berada di rumah pun mengangkat telepon.


"Cepat panggil Aldo, dan suruh dia kemari secepat mungkin," tegas kepala sekolah kepada istrinya itu.


Semua yang berada di kantor tampak gelisah menunggu kedatangan Aldo. Tak terkecuali staff guru yang turut hadir juga di buat gelisah menunggu anak dari kepala sekolah tersebut.


***


Dan setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Aldo datang dengan nafas yang ngos-ngosan seperti sehabis berlari.


"Oh ini yang namanya Aldo. Kamu tahu akibat dari kamu yang mengusik cucu dan menantu saya," ucap sinis Baskara.


Spontan Aldo pun berlutut di hadapan Baskara, ia menelan salivanya, "Maaf pak saya salah, tolong ampuni saya. Saya berjanji tidak akan lagi mengusik Astrid dan pak Janus."


Seketika Aldo yang merupakan seorang pria itu menangis. "Hiks... maaf pak saya menyesal. Saya tidak akan mengulanginya lagi, jangan pecat papah saya dan biarkan saya lulus dari sekolah ini."


"Kenapa kamu menangis, bukankah kamu tertawa saat melihat Janus dan Astrid menderita." Baskara menghela nafasnya. "Saya tidak akan langsung menghukum kalian, tapi saya akan serahkan keputusannya dari Janus. Bagaimana menurutmu," ucap Baskara menatap Janus.


"Kali ini aku akan memaafkan mereka karena mereka sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya," ucap Janus.


"Tapi Nus, jika mereka hanya di maafkan, mereka akan terus mengulang kesalahannya," lontar Baskara.


"Sudahlah kek, ancaman kakek sudah terlalu berlebihan. Apa lagi kakek sampai melibatkan pekerjaan orang tua mereka, yang bahkan orang tuanya pun tidak ikut-ikutan terlibat dalam ulah anaknya. Saat ini Janus hanya ingin tahu, mengapa Aldo bisa memiliki foto pernikahan saya. Aldo sendiri bukanlah kerabat maupun anggota keluarga yang turut hadir di pernikahan Janus," terang Janus.

__ADS_1


Sembari sesegukan, Aldo berjalan menghampiri Janus. "Sebenarnya saya dapat dari pria bersetelan jas yang saya temui di depan cafe dekat sekolah. Pria tersebut menawarkan uang kepada saya jika saya mau menyebarkan foto pernikahan pak Janus."


"Lalu nama dari pria tersebut siapa?" tanya Janus penasaran.


"Dia tidak menyebutkan namanya. Tapi dia keluar dari mobil mewah bermerek BMX series 8. Dia tidak hanya sendiri tapi juga ada pria yang menumpang di kursi belakang mobilnya itu. Mungkin bapak tahu karena orang tersebut juga mengenal pak Janus," jawab Aldo.


Spontan Janus pun memiringkan senyumnya, ia menghela nafasnya. Janus nampak kesal sekali bahwa ciri-ciri mobil yang di sebutkan Aldo, merupakan mobil yang di miliki oleh orang yang paling di kenalnya.


"Dasar sialan, ini pasti dia," gerutu Janus.


"Nus jangan langsung menuduh ya, lebih baik kita cari tahu siapa orang dari pemilik mobil itu," lontar Baskara.


"Kenapa kakek berbicara seperti itu. Kakek juga pasti tahu kan siapa orang yang Janus pikirkan. Kakek jangan melindungi dia, hanya karena kita memiliki hubungan dengannya," ucap Janus kesal.


"Kakek tidak melindunginya, kakek hanya ingin kamu tidak sembarangan menuduh. Karena itu bisa saja kerabat kita yang lain, yang juga memiliki mobil sama dengan yang di sebutkan Aldo," pungkas Baskara.


"Baik aku tidak akan langsung menuduhnya. Tapi aku akan bertanya lagi kepada Aldo, kapan dan jam berapa kamu mendapatkan fotonya?" tanya Janus menatap Aldo.


"Sepulang sekolah pada hari sabtu," jawab Aldo.


"Baik, aku akan mengecek cctv di cafe itu. Lalu jika benar dia, hari ini aku akan datang ke rumahnya dan langsung menghajarnya," ucap Janus melangkahkan kakinya dengan emosi yang memuncak.


Sontak Astrid pun merasa cemas atas ucapan suaminya yang mengatakan, akan menghajar orang yang telah memberi Aldo file foto pernikahanya itu.


Astrid pun beranjak pergi mengejar suaminya dengan langkah yang terburu-buru.

__ADS_1


"Tunggu kak! jika kamu sudah tahu siapa orang yang telah menyebarkan foto kita. Kamu jangan langsung menghajarnya," lontar Astrid.


"Dia tidak hanya sekali bermasalah denganku. Jika ku biarkan dia tidak akan pernah puas membuatku menderita," tegas Janus.


__ADS_2