Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
96. Hal Yang Membuat Astrid Terheran-heran


__ADS_3

Sembari mengemudikan mobil, Janus di tekuk kesal setelah tadi Andy datang memohon padanya untuk ikut serta mengurus perusahaan yang di pimpin oleh ayahnya. Janus akan kesal bila ada yang membahas tentang perusahaan padanya. Terlebih lagi ia akan teringat tentang ancaman kakak dan ibu sambungnya, bila Janus sampai bekerja di perusahaan. Dan ia juga tak ingin bila harus bermasalah dengan Maya dan Bayu. Apa lagi beberapa bulan yang lalu, karena ulah Bayu yang menyebarkan foto pernikahannya, Astrid jadi kena imbasnya. Janus tak ingin bila harus membuat istrinya terlibat dengan masalah, karena ulah Bayu dan Maya.


Bahkan karena tekanan dari Bayu dan Maya, anak kedua dari Adit Sayuda itu memilih putus hubungan dengan keluarganya. Janus tak pernah lagi menginjakan kaki di rumah ayahnya, bila kakeknya tak menyuruhnya datang. Terlebih lagi kepergian Janus merupakan kemarahannya terhadap perjodohan Bayu dan Luna. Oleh sebab itu, bagi Janus menginjakan kaki di rumah atau bertemu dengan keluarganya adalah hal yang sangat di benci oleh Janus.


Jika Janus tengah di tekuk kesal, lain halnya dengan Astrid yang tampak kebingungan tentang apa yang di ucapkan Andy tadi.


"Posisi yang tak seharusnya di tempati Bayu. Maksud dari ucapan pak Andy tadi apa? Apa kamu tidak merasa ada yang aneh kak?" tanya Astrid sembari mengerutkan kedua alisnya.


"Mungkin saja Bayu sering membuat masalah. Anak manja seperti dia, mana mungkin bisa kompenten bekerja," jawab Janus menatap fokus ke arah depan.


"Bila dia tidak kompenten bekerja, bukannya itu akan menyusahkan ayahmu ya. Kenapa kamu menolak untuk bekerja di perusahaan. Jika kamu bekerja di sana, mungkin saja ayahmu akan sedikit terbantu."


"Sudah ku bilang kan, aku tidak akan pernah mau terlibat dengan perusahaan, walau itu merupakan permintaan terakhir dari kakek. Dan aku juga tak ingin membuatmu ikut terlibat dengan masalah," tegas Janus.


Astrid diam membisu setelah membuat Janus kesal karena ulahnya yang membahas perusahaan. Tapi, Astrid masih saja kepikiran tentang ucapan yang di lontarkan Andy yang menyebutkan posisi yang di duduki oleh anak pertama dari Adit Sayuda tak layak di duduki. Bukankah itu akan terasa aneh bagi orang yang mendengarnya.


Astrid memang sangat penasaran dengan apa yang ucapan Andy, tapi Astrid tak perlu lagi membahasnya karena itu akan membuat suaminya marah. Astrid pun harus mengurung rasa penasarannya itu, dari pada harus membahasnya dan akan membuat suaminya semakin marah.


Lima belas menit sesampainya di restoran, Astrid dan Janus di sambut oleh ketiga pekerja di restoran tersebut. Janus pun memperkenalkan ketiga pekerjanya kepada Astrid.


"Orang yang bekerja di bagian dapur atau sering di sebut koki di restoran ini, namanya Deva, yang bekerja di kasir namanya Tika, dan yang terakhir pelayan atau waiters namanya Leon. Leon yang paling muda di antara mereka bertiga, tapi dia dua tahun lebih tua dari kamu."


Satu persatu pekerja restoran bersalaman dengan Astrid.


"Salam kenal mba Astrid," ucap seluruh pekerja.

__ADS_1


Astrid tersenyum sembari bersalaman. "Salam kenal juga. Mohon bantuannya ya, karena hari ini merupakan hari pertama saya bekerja."


"Oh ya, saya tidak akan membuat istri saya bekerja terlalu berat, dia akan membantu Tika di meja kasir. Karena baru-baru ini restoran ayam kita sering ramai, saya akan membantu Deva di dapur," lontar Janus.


"Bukankah seorang kasir harusnya di kerjakan oleh satu orang saja, karena meja kasirnya kan hanya ada satu. Karena restoran ramai, bukankah lebih baik jika aku membantu Leon mencatat pesanan," protes Astrid.


Janus memegang kedua pundak Astrid sembari tersenyum menatapnya, lalu berkata. "Sayang, aku tak ingin membuatmu kecapean. Kamu ini istri dari pemilik restoran ini, sudah layaknya bagimu bekerja dengan pekerjaan yang ringan saja."


Sontak semua pekerja pun tersenyum setelah melihat sikap romantis dari bosnya. Bahkan merekapun sampai merasa canggung berada di antara Astrid dan Janus.


"Maaf, sepertinya kami akan menganggu bila harus terus berdiri di sini. Saya akan langsung pergi ke dapur," ucap Deva melangkahkan kakinya. Begitupun dengan Tika dan Leon yang juga melangkah kakinya untuk menunaikan tugasnya masing-masing.


Astrid pun tersipu malu atas sikap suaminya tersebut. Astrid melepaskan tangan Janus dari pundaknya. "Jaga sikap jika di tempat umum. Astrid pun melangkah kakinya menuju meja kasir.


Teriakan Janus mampu membuat Astrid semakin malu saja. Ya, walaupun Janus merupakan pemilik dari restoran, bukan berarti ia tak perlu menjaga sikap di depan pekerjanya. Astrid yang tengah malu itu sampai memalingkan wajahnya dari Tika yang tengah duduk di meja kasir bersamanya.


**


Satu jam setelah restoran di buka, benar saja apa yang di katakan Janus tadi, pengunjung sangat ramai berdatangan. Terlebih lagi di tempat ini hanya ada satu restoran yang menyajikan menu yang andalannya ayam korea. Pengunjung memang ramai, tapi Astrid sedari tadi hanya duduk diam memperhatikan tanpa melakukan apapun. Bila ia turut membantu Tika di kasir, pekerjanya itu tidak membiarkan Astrid membantu terlalu berlebihan. Terlebih lagi, semua pekerja sangat canggung bila harus membuat istri dari bosnya membantu pekerjaannya. Apa lagi dengan Janus, tiap kali Astrid melayani pengunjung di meja kasir, ia selalu saja mengancam Tika untuk tak membuat istrinya kesusahan.


"Bukankah dia terlalu berlebihan. Aku datang kesini untuk bekerja, bukan hanya diam memperhatikan," ucap Astrid kesal.


"Mungkin pak Janus sangat mengkhawatirkan mba Astrid, bila harus bekerja terlalu capek," ucap Tika.


Astrid lalu berdiri dari duduknya. "Jika aku hanya diam saja, itu keenakan buatku. Aku akan membantu Leon melayani pelanggan." Astrid beranjak pergi ke depan untuk melayani beberapa pelanggan yang datang.

__ADS_1


Seketika Tika dan Leon pun tampak panik setelah Astrid pergi membantu melayani pelanggan. Sontak Leon pun segera menghampiri istri dari bosnya itu.


"Maaf mba, biar saya saja. Mba Astrid mending bantu tika di meja kasir, pekerjaan ini terlalu berat untuk mba Astrid," ucap Leon.


"Jika hanya kamu yang melayani, semua pelanggan yang datang akan di buat menunggu, karena hanya mengandalkan satu pelayan. Jadi biarkan aku membantu," ucap Astrid.


"Tapi mba..." ucapnya yang seketika di potong oleh Astrid. "Jangan banyak bicara, ini perintah dari istri pemilik restoran. Lebih baik kamu layani pelanggan yang baru saja datang di meja nomor 8."


Leon pun terpaksa membiarkan istri dari bosnya itu membantu pekerjaannya. Walaupun ia sangat merasa gelisah bila nanti bosnya melihat istrinya harus bekerja melayani pelanggan.


Astrid mencatat pesanan dari beberapa pelanggan yang datang. Namun, tak lama ia melayani, tiba-tiba saja ibu sambung dari suaminya datang bersama seorang pria yang entah siapa itu, Astrid tak pernah melihat sosok pria yang datang bersama mertuanya tersebut. Astrid pun terburu-buru memberikan catatan pesanan ke counter. Lalu segera menghampiri meja yang di duduki Yeni dan pria yang tak di kenalnya itu.


"Maaf, bu Yeni mau pesan apa?" tanya Astrid.


Sontak Yeni pun terkejut setelah melihat keberadaan Astrid.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya balik Yeni dengan mata yang terbuka lebar menatap Astrid.


"Saya bekerja di restoran ini," jawab Astrid tersenyum.


Pria yang datang bersama Yeni itu tiba-tiba saja berdiri. "Kenapa kamu kenal dengan Yeni. Bahkah kedatangan kamu juga sudah membuatnya sangat terkejut."


"Tentu saja saya kenal, karena saya merupakan istri dari anak kedua pak Adit."


Pria tersebut memberikan tangannya sembari tersenyum. "Oh berarti kamu kenal dengan Bayu. Perkenalkan saya Bima," ucapnya sembari menjabat tangan Astrid.

__ADS_1


__ADS_2