Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
104. Bujukan Andy Tak Mampu Membuat Janus Luluh


__ADS_3

Janus menarik Astrid pergi jauh dari ketiga pekerjanya. Ia lalu mendekat ke arah telinga istrinya itu.


"Semalam Bayu di bawa ke rumah sakit karena apa?" Bisik Janus.


"Aku dan Kak Luna mendapati kak Bayu tak sadarkan diri di mobilnya dengan mulut yang berbusa," jawab Astrid dengan suara rendah.


"Pantas saja saat terakhir kali aku melihatnya, kondisinya sangat buruk," ucap Janus sembari membayangkan sosok terakhir kakaknya.


"Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang kak Bayu?" Tanya Astrid sembari mengerutkan kedua alisnya.


Janus kembali berbisik di telinga Astrid. "Tadi aku sekilas membaca artikel di ponsel Tika, bahwa direktur Star.Corp tertangkap kamera sedang mengonsumsi narkoba, tapi artikelnya tiba-tiba hilang saat Tika mencoba kembali membuka artikel. Mungkin saja ayah sudah menyuruh orang untuk menghapus artikel."


Astrid terkejut, mulutnya sampai menganga. Mulut yang terbuka itu, seketika ia tutup dengan tangannya. "Pantas saja semalam kak Luna terburu-buru ingin menemukan kak Bayu, dia juga memintaku untuk tak memberitahu siapapun ketika aku dan kak Luna sudah menemukan kak Bayu."


"Rupanya dia sudah mengetahuinya. Dia mungkin tak ingin kelakuan suaminya terekspos, pantas saja dia meminta bantuanmu di bandingkan harus meminta bantuan teman-temannya."


"Bukankah sudah ada artikel tentang Bayu, kemungkinan kak Bayu di tangkap polisi dong."


"Tidak mungkin, ayahku sangat melindungi citra perusahaan. Selain artikel, ayahku juga kemungkinan mengatasi polisi agar tidak menangkap Bayu." Janus melangkahkan kakinya. "Lebih baik kita langsung bekerja sekarang."


Astrid mengikuti langkah Janus, yang langkahnya itu pergi menuju dapur. Janus membereskan dan memilah bahan-bahan masakan. Sementara partner kerjanya di dapur di sibukan membersihkan dapur. Pekerjaan di dapur sudah teratasi oleh Janus dan Diva, tapi Astrid datang ke dapur bukan untuk memperhatikan suaminya saja. Ia datang ke dapur hanya ingin ikut membantu suaminya.


Astrid pun merebut kain pel yang tengah di pegang Deva. "Biar aku saja yang kerjakan, kamu bantu Tika sama Leon di depan saja."


Janus mendongkak ke arah Astrid. "Lepaskan kain pelnya. Kamu duduk saja di dekat meja kasir sembari memperhatikan Tika sama Leon, supaya mereka fokus bekerja."


Astrid menggeleng. "Tidak...tidak, aku tidak mau, masa aku hanya duduk saja tanpa melakukan apapun. Sedangkan kalian semua sibuk bekerja, bukankah tidak adil bagi pekerjamu."


"Menurutku itu adil, kamu tuh istriku, sudah sewajarnya aku perlakukan spesial."

__ADS_1


"Kamu ini harus profesional, kamu harus mengesampingkan urusan pribadi dan pekerjaan. Lagi pula aku di restoran setara dengan mereka, yaitu sama-sama seorang pekerja. Dan satu hal lagi, jika aku membantumu di sini bukankah kita akan lebih banyak menghabiskan waktu berduaan, yeobo (sayang)" bujuk Astrid sembari mengedipkan mata sebelah kanannya.


Sontak rona merah di pipi Janus pun muncul, kata yeobo mampu membuat jantung Janus berdebar cepat, terutama kedipan maut dari istrinya yang sampai membuatnya tak sanggup untuk menolak permintaannya itu. Apa lagi ini sebuah kesempatan agar bisa menghabiskan waktu berduaan di tempat kerja, karena setelah banyak pelanggan, mana ada waktu untuk berduaan.


"Terserah kamu saja, jika kamu cape, kamu harus bilang ya."


Astrid tersenyum. "Iya siap bos." Astrid girang setelah suaminya mengijinkan, ia pun dengan cepat segera mengepel lantai.


"Jangan panggil bos, kalau bisa panggil lagi yeobo," goda Janus.


"Eh iya lupa, nae sarang Janus opp**a (kak Janus cintaku)"


Deva sampai mendeham setelah melihat kelakuan dari majikan dan istrinya itu. Ia sudah seperti nyamuk saja yang berdiri seorang diri di sebelah pasangan yang tengah di mabuk asmara.


Astrid melirik ke arah Deva. "Kenapa kamu masih berdiri di sini, mau jadi nyamuk."


***


Setelah semua tempat bersih dan rapih, restoran pun di buka. Semua pekerja kembali ke tempat masing-masing, termasuk juga Astrid yang kembali ke depan untuk mengisi perannya sebagai pelayan.


Seperti biasa, setelah lima menit restoran di buka, pelanggan berhamburan datang ke restoran. Semua di sibukan melayani pelanggan yang tak hentinya berdatangan. Bahkan saking banyaknya pelanggan, ada pula yang sampai mengantri karena meja sudah terisi penuh. Kekuatan resep milik Janus mampu membuat orang yang mencicipinya ketagihan untuk terus datang ke restoran.


Pukul dua belas siang Janus menutup restoran, karena pada pukul satu siang semua pekerja harus beristirahat. Walau pelanggan masih banyak yang berdatangan, akan tetapi ini sudah menjadi peraturan di restoran yang di terapkan Janus.


Dan ketika semua pelanggan sudah pergi, mereka pun beristirahat. Namun, saat mereka beristirahat, tiba-tiba saja Janus kedatangan tamu yang sangat tidak ingin di temuinya. Siapa lagi kalau bukan pak Andy, karena kedatangannya pasti akan membujuk Janus untuk bekerja di perusahaan.


Janus berdiri dari duduknya. "Ada apa lagi pak Andy menemui saya?" tanya Janus di tekuk kesal.


"Boleh kita berbicara berdua saja," jawab Andy.

__ADS_1


Janus beranjak dari tempat duduknya ke meja lain, dan di ikuti pula oleh Andy.


"Sekarang posisi direktur eksektif sedang kosong. Ini kesempatan untuk anda masuk ke perusahaan, karena tuan Bayu sekarang sedang di istirahatkan." ucap Andy ketika ia mendaratkan bokongnya di kursi.


"Saya kan sudah bilang tidak akan pernah mau bekerja di perusahaan, walaupun pak Andy memaksa saya," ucap Janus dengan suara rendah agar tak di dengar oleh ketiga pekerjanya.


"Saya tidak akan pernah menyerah untuk membujuk tuan Janus agar mau bekerja di perusahaan. Karena ini merupakan permintaan terakhir dari pak Baskara untuk tuan Janus," kekeh Andy.


"Kenapa saya harus bekerja di perusahaan, saya bahkan tidak menjenjang pendidikan di dunia bisnis," lontar Janus.


"Walau anda tidak menjenjang pendidikan di dunia bisnis, tapi saya melihat bahwa anda memiliki potensi dalam dunia bisnis. Anda bahkan bisa mendirikan restoran seterkenal ini. Saking ramaianya restoran, tadi saya harus menunggu agar bisa masuk ke restoran."


"Itu karena bakat saya dalam bidang memasak." Janus berdiri dari duduknya. "Jika pak Andy kesini tidak memesan makanan, lebih baik pak Andy segera pergi, karena sebentar lagi restoran akan kembali di buka. Saya sangat sibuk, tidak punya waktu untuk berbincang dengan pak Andy." Janus melangkahkan kakinya.


"Tunggu tuan Janus! Anda merupakan anak dari pak Adit, sebagai penerus anda harus mau bekerja di perusahaan," lontar Andy dengan suara keras. Yang seketika semua pekerjanya terkejut dan merasa heran dengan ucapan yang di lontarkan Andy tersebut.


Karena tak pernah ada yang tahu bahwa Janus merupakan seorang penerus dari perusahaan. Yang pekerjanya ketahui, Janus hanyalah seorang mantan guru SMA.


Karena suara keras dari Andy, Janus sampai menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Andy.


"Saya anak dari pak Adit, begitu pun dengan Bayu yang juga merupakan anaknya. Dia lebih pantas jadi penerus di bandingkan dengan saya," ucap Janus bernada marah.


Lalu tiba-tiba saja Janus kedatangan lagi tamu tak di undang, yaitu ibu sambungnya yang datang ke restoran dengan nafasnya yang ngos-ngosan.


"Pak Andy, bapak datang kesini pasti sedang membujuk anak ini untuk masuk perusahaan," ucap Yenis panik sembari menunjuk Janus. "Bisa-bisanya bapak seenaknya membujuk Janus masuk perusahaan di saat anak saya terkena musibah. Bayu di istirahatkan itu sementara, dan kemungkinan dia akan kembali ke perusahaan."


"Kenapa anda panik bila Janus masuk ke perusahaan, bukankah Janus juga anak pak Adit. Anda juga tahu kan permintaan pak Baskara sewaktu di rumah sakit."


"Cukup sudah!" Potong Janus. "Saya tegaskan kepada kalian, saya tidak akan pernah mau masuk ke perusahaan. Lebih baik kalian pergi dari restoran saya, karena restoran akan segera di buka," ucap Janus sembari menunjuk pintu keluar.

__ADS_1


__ADS_2