Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
57. Pria Yang Membuatku Canggung


__ADS_3

Setelah beberapa menit Janus pergi ke kamar, Astrid pun ikut menyusulnya ke kamar. Ia pikir suaminya masih terbangun, namun nyatanya ia sudah tertidur. Apa mungkin Janus tertidur pulas, sementara seluruh tubuhnya termasuk wajah di tutupi selimut.


Astrid pun kemudian ikut berbaring di sampingnya. Ia memejamkan matanya, namun sentuhan lembut dari bibir pria yang tengah tertidur di sampingnya itu masih terlintas jelas di kepalanya. Astrid sama sekali tak bisa tertidur pulas, jantungnya masih saja kuat berdebar. Terlebih lagi tempat tidur yang terpisah itu sudah menyatu dan di rapatkan Janus kemarin malam, membuat Astrid harus berbaring lebih dekat dengan suaminya. Astrid merasa tak nyaman saat harus tidur di samping suaminya. Bukan karena tak suka ia tidur di samping suaminya, melainkan ia merasa malu dan canggung setelah tadi ia berciuman.


Perempuan yang tak memiliki pengalaman dalam hal berciuman bisa-bisanya lihai mengikuti pergerakan bibir dari suaminya. Yang bahkan ciuman tersebut tak pernah terbayangkan oleh Astrid. Ia hanya tahu cara berciuman dari drama korea yang pernah di tontonya saja. Membuat Astrid berpikir bahwa suaminya akan berpikiran bahwa istrinya merupakan wanita mesum. Yang mengaku belum berpengalaman dalam hal berciuman tapi tampak lihai. Itu lah yang membuat Astrid malu setengah mati. Hingga membuatnya tak bisa tertidur lelap.


Lalu tiba-tiba saja Janus membuka kain selimutnya, ia terbangun lalu duduk. Namun entah mengapa ia tampak kaget saat menatap Astrid yang masih belum menutup rapat matanya.


"Apa aku membangunkanmu?" tanya Janus dengan mata yang menyala karena merasa kaget.


"Ti...dak, aku dari tadi belum tidur," jawab Astrid bernada gugup.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya kembali Janus.


"Aku belum mengantuk." Astrid seketika menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. "Berhenti menatapku, aku malu."


"Iya maaf." Janus beranjak turun dari tempat tidur lalu pergi keluar dari kamarnya.


Begitu pun dengan Astrid yang juga terburu-buru beranjak turun dari tempat tidur untuk menyusul suaminya keluar dari kamar.


"Kak Janus," panggil Astrid menghampiri.


"Iya ada apa Trid," ucap Janus.


Mata Astrid berputar kemana-mana, ia mengalihkan pandangannya dari Janus. Rasa canggungnya masih saja menyilimutinya. Hingga membuatnya sulit berucap, walaupun ada satu kalimat yang ingin di ucapkannya kepada suaminya tersebut.


"Trid, ada apa kamu memanggilku? tanya Janus heran.

__ADS_1


Astrid menggaruk tengkuknya. "Aku harap kamu tidak berpikir bahwa aku perempuan mesum. Aku sama sekali belum berpengalaman dalam hal berciuman," ucap lantang dari perempuan polos tengah merasa gelisah tersebut.


Seketika rona merah di kedua pipi Janus pun muncul. Ia tak habis pikir bahwa istrinya berpikiran bahwa Janus akan mencurigainya mesum. Padahal ialah yang merasa takut bahwa Astrid akan berpikir Januslah yang mesum. Karena tadi ia menciumnya dengan agresif.


Janus menelan salivanya. "Kenapa aku harus berpikir seperti itu. Yang harusnya berkata seperti itu adalah aku. Karena akulah yang menciummu dengan agresif. Karena ciuman tadi, aku bahkan tidak bisa tidur."


"Jadi dari tadi kamu menutupi wajahmu dengan selimut kamu tidak tidur." Astrid melambaikan kedua tangannya. "Aku tak berpikir kamu mesum ko." Yang kemudian ia terburu-buru berbalik ke kamarnya sembari berkata. "Aku akan tidur sekarang. Jika kamu tidak bisa tidur, langsung bangunkan aku, ingat jangan sampai minum obat tidur."


Janus pun tersenyum menatap istrinya yang tampak gugup saat berbicara dengannya. Bahkan kepolosan Astrid mampu membuat Janus tertawa.


...****************...


Esoknya Astrid terbangun dari tidurnya pada pukul tujuh pagi. Ia sengaja bangun lebih siang dari sebelumnya, karena hari ini merupakan akhir pekan. Saat terbangun, Astrid mendapati Janus sudah tak ada di sampingnya. Mungkin karena Janus sudah lebih dulu bangun dari Astrid.


Astrid pun kemudian terburu-buru beranjak turun dari tempat tidurnya. Ia segera merapihkan tempat tidur yang berantakan sehabis ia pakai tidur bersama suaminya itu. Setelah selesai merapihkan tempat tidur, Astrid pun tergesa-gesa keluar dari kamarnya. Karena mungkin Janus sudah menunggunya di buatkan sarapan.


Astrid pun tersenyum girang saat membaca isi dari memo tersebut. Pesan yang hanya bertulisan singkat itu mampu membuat Astrid sangat bahagia. Setelah membaca pesan tersebut, Astrid langsung saja melahap habis sandwich yang di buat suaminya. Tak lama ia menghabiskan sandwich, Janus datang menghampiri dengan setelan olahraga yang di kenakannya.


"Bagaimana enak kan sandwichnya," ucap Janus tersenyum.


"Iya enak. Kak Janus habis dari mana?" tanya Astrid.


"Aku habis lari. Tadinya aku ingin mengajakmu, tapi aku tidak tega karena kamu sangat nyenyak tertidur."


"Harusnya kak Janus bangunkan saja aku. Aku kan jadi tidak sempat membuatkan sarapan untuk kak Janus."


Janus mengacak-ngacak rambut Astrid. "Aku tidak tega membangunkan istriku yang kebluk ini. Mending kamu segera mandi, hari ini aku akan mengajakmu pergi."

__ADS_1


"Mau ngajak kemana," ucap Astrid girang.


"Kita bakalan pergi kencan. Karena setelah menikah kita belum sempat kencan kan."


Sontak Astrid pun kegirangan saat Janus mengajaknya pergi kencan di akhir pekan ini. Ia pun terburu-buru pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Astrid lalu membuka isi lemarinya dan mengeluarkan beberapa pakaian. Astrid tampak kebingungan saat memilih pakaian. Karena ini merupakan kencan pertama bersama suaminya ia harus tampil secantik mungkin. Satu persatu pakaian ia coba, namun belum juga mendapati yang cocok untuk di pakainya pergi berkencan. Hingga satu lemari ia keluarkan semua pakaiannya, membuat kamarnya jadi berantakan dengan pakaian.


Tiba-tiba Janus mengetuk pintuk. "Trid, sudah belum. Aku mau ngambil pakaianku nih."


"Belum." Astrid lalu membuka pintu kamarnya.


Saat Janus memasuki kamar, ia di buat terkejut menatap tempat tidur yang berantakan dengan pakaian istrinya.


"Jadi menurutmu, pakaian mana yang cocok ku kenakan hari ini?" tanya Astrid sembari menatap beberapa pakaian yang di jejerkan.


Janus tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Pakai yang mana saja kamu bakalan tetap cantik." Kemudian dengan cepat ia mengecup pipi Astrid.


Sontak raut wajah Astrid pun memerah. Dan lagi-lagi Astrid menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Jika sudah mengambil pakaianmu, cepatlah keluar."


"Ok sayang." Janus terburu-buru mengambil pakaian di lemarinya. Lalu ia kembali menghampiri Astrid yang masih menutupi wajahnya dengan tangan.


"Yang," goda Janus sembari menepuk tangan Astrid.


"Apa? sana pergi," ucap Astrid.


Janus pun membuka paksa tangan yang menutupi wajah istrinya. Yang kemudian dengan cepatnya ia kembali mengecup. Namun, kali ini bukan pipi yang di kecupnya, melainkan bibir mungil milik istrinya tersebut.


"Gemesnya," ucapnya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2