Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
54. Aku Hanya Milik Janus Seorang


__ADS_3

Sekolah telah berakhir, Astrid dengan girangnya pulang sembari membawa satu buket bunga yang tadi pagi di kirim Janus untuknya. Karena terlalu banyak Janus mengirim bunga, Astrid membagikan satu-persatu buket bunga tersebut kepada teman-teman perempuannya di kelas. Walau hanya bisa membawa satu buket, Astrid sangat senang dengan bunga-bunga indah yang di beri suaminya itu. Dalam perjalanan pulangnya, Astrid sudah tak sabar ingin menemui Janus yang kini sudah berada di apartemen. Karena seharian di sekolah ia tak dapat bertatap muka dengannya, karena Janus yang tak ada jadwal di sekolah. Ia lebih memilih tak pergi ke sekolah. Padahal tadi pagi Astrid sudah puas melihat Janus, hanya karena di sekolah ia seharian tak dapat bertemu Janus. Ia terlalu merindukan suami tampannya itu.


Saat tiba di depan gedung apartemen, tiba-tiba saja Titan berteriak memanggil sembari menghampirinya. "Astrid."


"Ada apa?" tanya Astrid dengan ekspresi datarnya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu," jawab Titan.


"Jika ingin berbicara, maka lakukanlah sekarang."


"Tidak di sini, bagaimana jika kita berbicara di cafe yang berada di perempat jalan sana," ucap Titan menunjuk ke arah cafe yang tak jauh dari gedung apartemen.


"Hm, baiklah. Tapi sebentar saja, karena suamiku sedang menunggu di rumah." Astrid dan Titan beranjak pergi ke cafe yang di tunjuknya tersebut.


Astrid dan Titan duduk di salah satu meja yang tersisa.


"Mau pesan apa?" tanya Titan.


"Aku tidak akan lama di sini. Jadi aku pesan minumn yang sama denganmu saja."


"Baiklah." Titan pun segera memanggil pelayan di cafe tersebut. "Kak," teriaknya sembari melambaikan tangan.


"Iya ada yang mau di pesan?" ucap Pelayan menghampiri meja yang di duduki Astrid dan Titan.


"Saya pesan dua milkshake stroberi dan dua tiramisu," ucap Titan sembari membaca buku menu.


"Mengapa kamu memesan dua tiramisu? bukankah aku hanya ingin memesan minuman saja," ucap Astrid heran.


"Ini hanya sepotong tiramisu, kamu tidak akan lama memakannya," ucap Titan tersenyum.

__ADS_1


"Aku sedang tidak berselera, jadi kamu tidak perlu repot-repot memesankanku makanan. Jadi lebih baik kamu berbicara sekarang, apa yang ingin kamu bicarakan."


"Aku akan berbicara setelah pesanan kita di antar, kumohon sabarlah," ucap Titan tersenyum.


Astrid menghela nafasnya. "Baiklah," ucapnya kesal.


Beberapa menit kemudian pesanan datang. Pelayan kembali membawakan pesanan yang di pesan Titan.


"Karena hari ini cafe kami sedang mengadakan diskon, jadi pesanan kalian akan kami beri diskon. Jadi apa kalian pasangan? jika kalian pasangan kami akan memberikan diskon," ucap pelayan sembari meletakan pesanan.


"Buk.." ucap Astrid yang seketika di potong oleh Titan. "Iya kami pasangan," ucapnya dengan lantang.


"Baiklah kami akan memberi diskon untuk kalian. Tapi syaratnya kalian harus di foto, setelah itu saya akan mengupload foto kalian di sosial media cafe. Dan jika kalian punya media sosial, boleh saya minta Idnya, karena saya akan tag medsos kalian."


"Saya tidak memiliki akun medsos," ucap Astrid kesal.


"Baiklah, saya izin foto ya," ucap pelayan memotret Astrid dan Titan.


Astrid semakin kesal saja saat Titan dengan girangnya memberitahu pelayan di cafe bahwa mereka merupakan pasangan. Namun, Astrid tak bisa mengakui karena tiap kali ia ingin mengelak Titan selalu saja memotong pembicaraannya.


"Kenapa kamu memberitahunya bahwa kita pasangan," ucap Astrid kesal.


"Jika kita mengaku sebagai pasangan, bukankah itu akan menguntungkanku. Karena hari ini aku akan mentraktirmu."


"Aku tidak perlu di traktir, karena aku akan bayar sendiri pesananku," ucap Astrid yang masih saja kesal terhadap Titan.


"Karena ini paket pasangan, jadi tidak bisa bayar sendiri-sendiri. Jadi biar aku saja yang bayar," ucap Titan sembari menyantap tiramisu.


"Baiklah, jadi hari ini apa yang ingin kamu bicarakan padaku? tanya Astrid.

__ADS_1


"Habiskan dulu makanannya, setelah habis aku akan berbicara."


Astrid kesal dengan Titan yang terus saja mengulur waktu untuk membuatnya tak pergi. Astrid kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Jika kamu hanya ingin main-main, lebih baik tak usah berbicara. Karena aku tak ada waktu untuk menemanimu makan."


"Baiklah-baiklah aku akan berbicara sekarang. Jadi kamu duduk dulu," ucap Titan panik.


Titan meletakan garfu yang di pegangnya di atas piring. Ia tampak gugup saat menatap serius wajah Astrid, dengan perlahan tangannya merangkak meraih tangan Astrid. Titan menelan salivannya yang kemudian ia berkata. "Aku hanya ingin minta maaf, aku sungguh menyesal karena tak bisa memberitahumu tentang taruhan Bintang dan teman-teman."


"Jadi itu yang ingin kamu katakan," Astrid melepaskan tangannya dari genggaman Titan. "Aku memang sempat marah terhadapmu, tapi karena kamu terus melindungiku dan terus berusaha menggagal rencana Bintang. Aku akan memaafkanmu, jadi berhentilah merasa bersalah."


"Terima kasih Trid," ucap Titan tersenyum.


"Itu saja yang ingin kamu bicarakan. Aku pulang sekarang ya," pamit Astrid.


"Aku belum selesai berbicara," ucap Titan menghentikan Astrid beranjak.


"Jadi hal apa lagi yang ingin kamu katakan?" tanya kembali Astrid.


Titan menghembuskan nafas panjangnya. "Sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Aku tahu, terlalu cepat bagiku mengakui perasaanku. Mungkin kamu masih bersedih setelah berpisah dengan Bintang. Tapi aku mohon beri aku kesempatan. Aku janji akan membahagiakanmu sepenuh hatiku," ucapnya dengan lantang tanpa berani menatap perempuan yang telah bersuami tersebut.


Astrid cukup tercengang dengan pengakuan Titan padanya. Hingga membuatnya kesulitan berkata-kata. Terlebih lagi pengkuan Titan yang benar-benar tulus terhadapnya. Namun sayang, Titan hanya bisa jadi pria malang yang tak dapat meraih hati Astrid. Karena perempuan yang tengah duduk di depannya itu sudah lebih dulu di taklukan suaminya. Dengan berat hati Astrid pun harus menolak pernyataan tulus dari Titan.


"Maaf, tapi aku tidak bisa memberimu kesempatan. Karena sekarang aku akan tulus mencintai dan setia hanya terhadap suamiku saja. Dan harus ku akui bahwa, selama berhubungan dengan Bintang, tak sedikit pun aku menaruh hati padanya. Aku hanya sebatas menyukai Bintang, tapi tak sedikit pun aku menaruh rasa terhadapnya. Karena hatiku hanya terus tertuju kepada kak Janus. Saat aku berpisah dengannya pun, aku tak terlalu patah hati. Karena ternyata pria yang berada di hatiku adalah kak Janus seorang."


Titan kembali meraih tangan Astrid dan kembali menggeman erat tanganya. "Bukankah hubungan kalian tidak serius. Kalian akan berpisah dalam kurun waktu dua tahun. Bukankah kamu terlalu egois, jika hanya kamu yang mencintai."


Dan kembali lagi Astrid melepaskan tangannya dari genggaman Titan. "Aku yakin kak Janus juga menaruh hati padaku. Apa kamu tahu bunga yang di pegangku ini adalah pemberian dari kak Janus." Astrid menunjukan buket bunga yang sedari tadi di pegangnya itu. "Aku yakin kak Janus secepatnya akan mengakui perasaannya, karena setiap hari tindakannya berbeda dari biasanya. Dia jadi lebih hangat terhadapku dan dia juga tampak seperti pria yang tengah jatuh cinta. Dan aku yakin dia sudah mulai jatuh cinta padaku," ucapnya tersenyum memandangi buket bunya yang di pegangnya.

__ADS_1


__ADS_2