Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
61. Peringatan Keras


__ADS_3

Dengan percaya dirinya Bintang melipatkan lengannya di dada sembari memiringkan senyumannya. "Maksudmu pria brengsek yang kau sebut ini adalah pria yang pernah kau sukai. Kau terlalu munafik, padahal kau sebelumnya tergila-gila padaku."


Astrid semakin naik pitam saja atas cibiran Bintang padanya. "Mengapa kau sangat percaya diri bahwa aku tergila-gila kepadamu. Padahal aku sendiri tak yakin dengan perasaanku padamu." Astrid melangkah mendekat ke arah Bintang, lalu menunjuk wajah Bintang dengan jari telunjuknya. "Apa kau merasa di dunia ini hanya kau saja yang memiliki paras rupawan. Kau terlalu percaya diri karena di sekolah banyak wanita yang memujamu. Hingga kau tak sadar bahwa dari sekian banyak wanita yang memujamu, ada satu yang hanya mengagumi tapi tak berniat memiliki perasaan terhadapmu. Intinya aku sama saja bermain seperti mu, bersandar ria memainkan perasaanmu yang terlalu percaya diri bahwa kau akan berhasil meniduri wanita nora ini."


Seketika Vega memegang tangan Astrid. "Tanganmu yang kotor tak pantas menunjuk pacarku."


Astrid menghempas tangan Vega hingga membuat wanita yang mengaku pacar Bintang itu terjatuh. "Tanganmu lebih kotor untuk menyentuh tanganku


Janus tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menatap bayangan istrinya dari balik selimut tipis yang menutupi seluruh wajahnya. Janus memang panik menyaksikan istrinya yang tengah beradu mulut dengan Vega dan Bintang. Sementara, jika ia bersuara maka Bintang dan Vega akan menyadari keberadaannya. Apa lagi jika Janus sampai menunjukan wajahnya, akan lebih berbahaya lagi. Jika sampai ia di ketahui oleh Vega dan Bintang, maka tamatlah riwayat Astrid yang akan terkena imbas. Di cap sebagai murid yang memiliki hubungan khusus dengan gurunya.


Janus pun terburu-buru menarik lengan Astrid tanpa membuka sedikitpun kain yang menutupi wajahnya itu. Dan segera membawanya kembali ke vila.


"Hey tunggu! kita belum selesai bicara," teriak Bintang.


Kening Vega mengerenyit saat menatap kedua punggung dari orang yang berjalan pergi dari hadapannya. "Laki-laki yang di akui Astrid sebagai tunangannya, apa sebelumnya pernah ku lihat," gumamnya terheran-heran.


Begitupun dengan Bintang yang juga merasa heran dengan pria yang wajahnya di tutupi oleh selimut. "Jangan bilang kalau dia Titan."


"Tidak, tubuhnya terlalu tinggi bila itu Titan," ucap Vega.


...****************...


Setelah Janus dan Astrid kembali ke vila. Janus terburu-buru masuk ke kamar, lalu mengambil kunci mobil dan tas Astrid.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Astrid heran.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang. Jika kita terus berada di sini, terlalu bahaya jika mereka mengetahui kamu sedang bersamaku." Janus pun langsung terburu-buru keluar dari vila dengan langkah yang di ikuti oleh Astrid.


Liburan yang seharusnya menyenangkan malah jadi kacau dengan kedatangan Vega dan Bintang. Astrid memasuki mobil dengan raut wajah yang di tekuk kesal. Ia menghela nafasnya lalu melipatkan lengannya di dadanya. Astrid terlampau kesal, hingga kekesalan tak juga reda walau ia sudah mengakhiri adu mulut yang tadi di lakukannya bersama Bintang dan Vega. Karena terlalu kesal dan marah, Astrid tiba-tiba saja menangis.


"Eh kenapa nangis?" tanya Janus panik.


"Hiks... aku kesal. Jika saja mereka tidak datang mengusiku, pasti kita masih menikmati liburan kita di pantai," ucap Astrid menangis sesegukan.


Karena Astrid tak berhenti menangis, Janus pun menghentikan mobilnya. Kemudian ia pun menyeka air mata di kedua pipi Astrid. "Maaf tadi aku tidak bisa membelamu. Bukan aku tak ingin, tapi karena statusku yang menjadi guru, aku tak bisa unjuk gigi untuk membelamu."


"Kenapa kamu harus meminta maaf ini bukan salah kamu, yang salah itu mereka. Mereka bahkan berani menyebutku sebagai perempuan nora di depanmu. Yang seharusnya meminta maaf itu mereka," ucap Astrid dengan tangis yang juga tak mau berhenti.


Janus mengusap pundak Astrid. "Sttt, kamu bukan lagi wanita nora. Kamu sudah menjadi wanita paling cantik. Mereka saja yang buta, tak bisa membandingkan mana wanita nora dan cantik. Lihat saja pakaian yang kau kenakan semuanya mahal. Mungkin saja mereka bilang begitu karena kamu belum mandi," ucap Janus sembari tersenyum.


Seketika Astrid memukul dada bidang suaminya. "Kamu juga belum mandi," ucapnya yang juga tersenyum."


Spontan Astrid pun mengangguki saran dari suaminya. Tangis istrinya reda, Janus kembali menancap gas. Kali ini perjalanan yang akan di lakukan Astrid dan Janus adalah rumah Pratama Ardana. Sejak menikah Astrid tak pernah pulang ke rumah. Hingga selama perjalanan Astrid merasa tak sabar ingin segera sampai. Ia sangat merindukan semua keluarganya, terutama ia sangat merindukan adiknya.


***


Hanya butuh dua jam, Janus dan Astrid sampai di depan rumah Pratama. Belum juga Janus selesai memarkirkan mobilnya, tiba-tiba saja Arya berdiri di samping mobil. Ia tampak berdecak kagum menatap mobil mewah dari kakak iparnya itu. Hingga membuatnya tak sadar bahwa mobil yang tengah di pandanginya adalah mobil yang di tumpangi Astrid dan suaminya. Selesai Janus memarkirkan mobil, Astrid lalu membuka kaca mobil.


"Arya," seru Astrid tersenyum girang.


"Apa aku salah lihat. Mengapa yang keluar dari mobil ini bukan perempuan cantik yang ku bayangkan," ucap Arya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Astrid pun langsung saja turun dari mobil, lalu mengahampiri Arya sembari mencubit kedua pipi adiknya itu. "Memangnya aku tidak cantik. Kenapa jam segini sudah pulang, apa kamu kabur dari sekolah."


Arya melepaskan kedua tangan Astrid dari pipinya. "Berhenti mencubitku dan jangan berprasangka buruk padaku. Aku sudah pulang karena guru sedang rapat dan menyuruh semua murid untuk pulang. Dan kak Astrid kenapa tidak sekolah?" tanya Arya yang seketika langsung menutup mulutnya. "Uppss aku lupa, kakak tidak sekolah karena sekarang sudah jadi ibu rumah tangga."


"Aku masih sekolah walau sudah menikah. Oh ya, beritahu kakek dan juga mamah kalau kak Astrid dan kak Janus datang. Sekalian kalau papah ada beritahu juga," ucap Astrid.


"Papah mana ada, hari ini dia bekerja," ucap Arya lalu terburu-buru memasuki rumah.


Saat tahu anak dan menantunya datang. Maya dan juga Pratama langsung keluar dari rumah. Mereka tersenyum girang menatap putrinya yang sudah lama tidak pulang ke rumah. Maya langsung saja memeluk putri yang sangat di rindukan kepulangannya itu.


"Mamah kangen sama Astrid."


"Astrid juga kangen sama mamah," ucap Astrid yang juga merangkul erat tubuh Maya.


"Jadi cuma mamah saja yang Astrid kangenin," ucap Pratama.


"Astrid juga kangen kakek," ucap Astrid yang langsung saja memeluk kakeknya


Namun, di saat mereka tengah melepas rindu, tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan suara dari perut Janus yang keroncongan akibat tadi ia tidak sempat sarapan.


"Kruk...


"Perut Janus sepertinya sedang memanggil," ucap Maya tersenyum menatap Janus.


Janus seketika menggaruk kepalanya. "Iya, pas kesini saya belum sempat sarapan," ucapnya tersipu malu.

__ADS_1


"Kalau begitu kalian masuk dulu ke rumah. Biar mamah siapkan makan untuk kalian." Maya mempersilahkan masuk ke rumah. Dan dengan terburu-buru Maya pun pergi ke dapur untuk bersiap memasak makanan untuk anak dan menantunya.


__ADS_2