Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
53. Dekapanmu Mampu Membuatku Bahagia


__ADS_3

Bianca turut membantu Astrid merapihkan barang-barang yang di belinya tadi. Tiap kali Bianca melirik Astrid dan Janus, di saat itu pula ia menertawai tingkah konyol dari pasangan suami istri yang tengah duduk berdampingan di depannya. Terutama saat mereka bertengkar, apa yang selalu di ributkannya selalu saja hal sepele yang tak patut di ributkan. Apa lagi jika Janus menggoda Astrid, kepolosan Astrid mampu membuat gelak tawa Bianca pecah.


Setelah semuanya beres, Astrid langsung di ajari Bianca menggunakan Make up. Bianca hanya mengajari Astrid menggunakan make up yang sederhana. Cukup membuat wajah Astrid terlihat cerah dengan make up yang membuat wajahnya tampil natural. Itu sudah membuat istri polos Janus Geo Sayuda tampil sangat cantik.


"Bagaimana Nus?" tanya Bianca menunjukan hasil make upnya kepada suami wanita yang di ajarinya bermake up itu.


Janus mengacungkan jempolnya. "Cantik."


Saat Bianca selesai memoles wajah Astrid, pas sekali Wandi datang menjemputnya. Wandi datang sembari membawakan buket bunga untuknya.


"Untukmu wanitaku yang paling cantik," ucap Wandi menyodorkan bunga kepada Bianca.


Bianca meraih buket Bunga yang di sodorkan pria yang jadi pacarnya itu. "Terima kasih," ucapnya tersenyum.


Tindakan Wandi mampu membuat Astrid menaruh iri kepada Bianca. Bila di ingatnya, Janus tak pernah sekalipun memberikan bunga pada Astrid. Jangankan untuk memberinya bunga, mengucapkan kalimat romantis pun tak mampu di ucapkannya. Dalam angannya Astrid hanya bisa berandai, bahwa Janus akan segera membuka pintu hatinya. Dan bisa bertindak romantis seperti pasangan yang tengah memadu kasih di depannya.


"Kamu mana mampu memberiku bunga seperti kak Wandi," bisik Astrid ke telinga Janus.


"Apa kamu tidak bersyukur ? hari ini aku mampu membelikanmu puluhan pakaian baru. Harusnya kamu lebih bangga memiliki suami sepertiku. Aku bahkan bisa membelikanmu puluhan buket bunga" bisik balik Janus.


"Iya kamu mampu, tapi kamu tidak pernah berniat memberikanku bunga."


Ucapan Astrid mampu membuat Janus diam membisu. Ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sambil mengalihkan pandangannya dari Astrid. Kemudian Janus menarik lengan kedua temannya ke arah pintu. "Kalau mau pulang, mending pulang sekarang. Bikin panas istriku saja."


"Dih iri ya, makannya jadi cowok jangan kaku," ucap Wandi menggelengkan kepalanya.


Setelah kedua temannya pergi, Janus kembali menghampiri Astrid yang tengah duduk di sofa sembari menonton televisi.


"Tidur yu," ucap Janus meraih tangan Astrid.


"Kalau ngantuk, tidur saja duluan." Astrid melepaskan tangannya dari genggaman Janus.


"Kan aku ga bisa tidur kalau ga di temenin sama kamu. Ini sudah hampir jam sepuluh, kalau tidur kemalaman, besok kamu bisa telat bangun." Seketika Janus mengangkat tubuh Astrid, dan dengan langkah cepat ia membawanya ke kamar.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Astrid panik.


"Sudah waktunya tidur." Janus pun melepaskan Astrid dari pangkuannya.


"Jadi sebelum tidur, apa perlu olahraga seperti kemarin?" tanya Astrid.


Janus menggelengkan kepalanya, yang kemudian ia bergerak cepat merapatkan ranjangnya yang terpisah ke ranjang milik Astrid.


"Kamu cukup tidur di dekatku, aku pasti akan cepat tidurnya," ucap Janus sembari merapihkah kedua tempat tidur yang akan di tiduri olehnya bersama istrinya tersebut.


Astrid seketika menelan salivanya, pikirannya melayang kemana-mana saat menatap tempat tidurnya menyatu dengan tempat tidur milik suaminya.


"Mending tempat tidurnya kembalikan seperti semula. Aku takut kamu bakalan berbuat sesuatu kepadaku." Astrid berbalik arah keluar kamar. Namun saat pintu kamar akan di bukanya, tiba-tiba Janus kembali mengangkat tubuh Astrid dan langsung saja membaringkannya di tempat tidur.


"Jika kamu melakukan sesuatu kepadaku, aku akan berteriak sekencang-kencangnya," ucap Astrid yang panik seketika saat Janus tiba-tiba saja ikut berbaring di sebelahnya.


"Teriak saja, lagian apartemen ini kedap suara. Tak akan ada yang mendengar teriakannmu." Janus dengan cepat mendekap tubuh Astrid. "Kamu tidak perlu melakukan apapun, cukup tidur di pelukanku. Aku akan dengan cepat tidur pulas," ucapnya sembari memejamkan kedua matanya.


"Memangnya apa yang kamu pikirkan?" tanya Janus yang kemudian tiba-tiba ia tersenyum mencurigakan. "Jangan bilang kamu berpikir macam-macam. Apa kamu ingin kita melakukan sesuatu?"


"Melakukan apa?" tanya balik Astrid.


"Bikin anak," bisik Janus menggoda Astrid.


Seketika Astrid pun panik. Ia pun langsung saja berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Janus. Namun dekapannya terlalu kuat, hingga ia tak mampu melepaskannya.


"Jika kamu tak ingin di makan olehku, lebih baik diam saja. Dan tidur nyenyaklah dalam dekapanku." ucap Janus tersenyum.


Astrid pun terpaksa harus tidur sembari di peluk Janus. Sedikit senang namun terasa canggung, karena untuk kali pertama selama ia berumah tangga bersama Janus. Baru kali ini ia tidur sembari di peluk oleh suaminya. Hingga membuatnya terlintas, bahwa suaminya mungkin akan segera membuka pintu hatinya untuknya.


...****************...


Setelah sarapan, pagi-pagi sekali Astrid sudah berangkat sekolah. Pakaian rapih, dengan potongan rambut baru yang terurai indah membuatnya tampil berbeda. Ia juga sedikit memoles wajahnya dengan make up. Setipis mungkin ia memakai make up sesuai yang di sarankan Bianca semalam. Hingga membuatnya tampak tak seperti memakai make up. Namun, sangat jelas sekali hasil dari make up tipisnya membuat Astrid tampil cantik natural.

__ADS_1


Saat tiba di sekolah, siapa sangka bahwa tampilan Astrid mampu membuat pria di sekolahnya terpukau. Hingga membuat heboh satu sekolah, hanya kurun waktu satu hari tampilan Astrid jadi jauh berbeda dari sebelumnya.


"Wah gila, cantik banget Trid," ucap Alula sembari merangkul pundak Astrid.


"Tas dan sepatu barumu ini pasti pemberian dari pak Janus kan? bisik Hilda.


Astrid mengangguk sembari tersenyum. "Ini berkah setelah putus dari Bintang," bisiknya ke telinga Hilda.


Di saat Astrid hendak menyimpan tasnya di kursi, tiba-tiba seseorang berteriak memanggilnya. "Apa di sini ada yang namanya Astrid Githa Ardana?"


"Itu nama saya," Astrid mengacungkan telapak tangannya.


"Ini ada pesanan bunga, saya di suruh mengantarnya kesini."


"Dari siapa?" tanya Astrid heran.


"Kata yang pesan, ini dari pria yang selalu mengagumimu," ucap si pengantar bunga.


Satu kelas pun serentak bersorak.


"Cieee."


Astrid pun di buat malu dengan sorakan yang di teriakan teman-temannya itu. Bukan hanya satu buket bunga saja yang di kirimkan oleh pria misterius tersebut, melainkan ada dua puluh buket bunga yang di kirim khusus untuk Astrid.


"Tring....


Tiba-tiba suara dering pesan di ponselnya terdengar. Astrid pun langsung saja membuka pesan di ponselnya. Satu pesan atas nama Janus yang membuat ponselnya itu berdering.


"Bagaimana dengan bunga-bunga yang ku kirim, apa kamu suka?"


Astrid pun tersenyum girang saat tahu bahwa pria misterius yang mengirimnya bunga ialah suaminya. Dengan cepat ia pun segera membalas pesan dari Janus.


"A**ku suka sama semua bunganya."

__ADS_1


__ADS_2