Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
66. Dia Jadi Lebih Menyebalkan


__ADS_3

Bintang yang di tegur Janus itu tak mau melepaskan Astrid. Tangannya yang tengah menempel di tembok, langsung saja mengenggam kuat lengan istri dari pria yang tengah menegurnya tersebut.


"Kenapa pak Janus ikut campur urusan saya dan pacar saya," ucap Bintang memiringkan senyumnya.


Janus marah sekali menatap pria yang tengah di tegurnya itu, menyentuh istrinya. Janus menelan salivanya dengan tangan yang mulai mengepal. Ingin sekali ia mendaratkan pukulan pada Bintang. Namun, marahnya Janus harus di tahannya sekuat mungkin. Terlebih lagi ia merupakan seorang guru, yang mengharuskannya memiliki sikap mendidik.


"Saya ikut campur? jelas sekali saya perlu ikut campur. Kamu sedang mengancam murid sekaligus adik saya. Dan kenapa kamu percaya diri sekali menyebutnya pacar? bukankah kalian sudah tidak ada hubungan."


Bintang tersenyum menyeringai sembari menatap tajam suami dari wanita yang tengah di pegangnya itu. "Hari ini saya sudah kembali jadi pacarnya."


"Aku tidak balikan dengannya." Astrid menggelengkan kepalanya. "Aku bukan pacarnya."


Seketika Janus pun melepas paksa tangan Bintang dari lengan istrinya, hingga terlepas. "Kamu berani membohongi gurumu. Kamu bahkan berani mengancam murid perempuan." Janus kemudian menarik lengan Bintang. "Ikut saya ke kantor."


Bintang pun spontan menghempaskan tangan Janus dari lengannya. "Berani-beraninya anda menyentuh saya. Mengapa anda akan membawa saya ke kantor karena hal sepele seperti ini." Bintang kemudian berbalik arah melangkahkan kakinya.


Janus semakin naik pitam saja saat muridnya itu berani membantahnya. Bahkan marahnya pun kini sudah di tingkat didih. Janus mengejar Bintang dan kembali menarik lengannya.


"Setelah mengancam perempuan, kamu berani membantah gurumu," bentak Janus.


Sekuat tenaga Bintang kembali melepaskan tangannya dari Janus. Hingga kedua tangannya langsung saja menarik kerah baju Janus. "Anda selalu saja ikut campur dengan urusan saya," ucap Bintang meninggikan suaranya yang kemudian salah satu tangannya mulai mengepal dan akan mendaratkan pukulan ke wajah Janus.


Spontan Titan beserta teman-temannya pun memisahkan Bintang dari Janus. Hingga membuat Titan mencengkram kuat tangan Bintang.


"Cukup sudah Bin. Kamu sudah salah berani melawan," tegur Titan.


"Kamu membelanya karena kamu menyukai Astrid kan," ucap Bintang yang kembali meninggikan suarannya. Bintang menyeringai yang kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Titan. "Kamu tahu aku ragu kalau Astrid sepupunya si Janus. Aku curiga kalau dia sebenarnya wanita malam pria itu."

__ADS_1


Perkataan Bintang mampu menguras emosi Titan. Dengan cepat Titan pun mendaratkan pukulan ke wajah Bintang. Hingga membuat Bintang terjatuh terlentang. Titan menduduki tubuh Bintang dan secara terus-menerus ia mendaratkan pukulan ke wajah pria yang merendahkan wanita yang di sukainya itu.


"Iya aku menyukainya. Jadi, jangan pernah lagi kamu merendahkannya," tegas Titan dengan suara tinggi.


Astrid panik seketika, ia menghampiri Titan lalu berusaha menghentikan pukulan Titan.


"Berhenti Tan. Kamu marah tapi tindakanmu salah," bentak Astrid.


Begitu pun dengan Janus yang juga berusaha melerai pertengkaran Titan dan Bintang. "Sudah cukup!" teriak Janus.


Titan menghiraukannya, ia terus saja memukuli Bintang. Hingga tiba-tiba seorang guru BK datang menghampiri.


"Apa yang kalian lakukan. Sudah cukup!" teriak guru BK.


Seketika Titan pun berhenti mendaratkan pukulannya pada Bintang. Ia pun berdiri menghadapkan tubuhnya ke arah guru BK dengan kepala yang tertunduk.


Sementara Astrid masih diam terpaku di tempatnya berdiri. Astrid syok setelah menyaksikan pertengkaran Titan dan mantan kekasihnya itu. Terlebih lagi, ia memang sempat di buat takut oleh perlakuan Bintang padanya tadi. Ia menunduk yang seketika matanya berurai air. Janus pun langsung saja menghampiri istrinya tersebut.


"Kenapa nangis?" tanya Janus sembari menyeka bulir air di kedua pipi Astrid.


"Hiks... Titan terkena masalah gara-gara aku," ucap Astrid sembari menangis sesegukan.


"Stttt, itu bukan salah kamu. Kamu hanya korban dari perlakuan buruk Bintang. Aku akan membantu menjelaskan kejadian ini di ruang BK, agar Titan tidak terlalu berat terkena hukuman," ucap Janus.


Ucapan Janus pun akhirnya bisa menenangkan dan menghentikan tangis Astrid. Setelah kejadian hari ini, seharian Astrid hanya diam membisu. Baik Hilda maupun Alula, keduanya di abaikan Astrid.


Astrid sangat mengkhawatirkan kondisi Titan yang seharian ini belum juga keluar dari ruangan BK. Terlebih lagi orang tua Titan pun ikut hadir ke ruangan Bk untuk mentutaskan masalah anaknya. Astrid terus saja menyalahi dirinya, karena sudah dua kali Titan terkena masalah akibat dari imbasnya ia membela Astrid dari Bintang.

__ADS_1


Sepulang sekolah Astrid berdiam diri di depan ruang BK menunggu Titan yang tengah di tegur dan di beri peringatan oleh guru. Astrid terlampau gelisah, ia berharap bahwa pria yang membelanya itu tidak terkena hukuman yang berat.


Lebih dari lima belas menit ia menunggu, hingga tiga menit kemudian Titan dan orang tuanya keluar dari ruangan BK. Dengan panik Astrid pun langsung saja menghampirinya.


"Apa kamu baik-baik saja. Bagaimana dengan hukumanmu?" tanya Astrid.


Titan pun tersenyum menatap perempuan yang di sukainya itu khawatir terhadapnya. "Aku baik-baik saja. Hukumanku sedikit ringan, selama seminggu penuh aku harus membersihkan sekolah."


"Lalu bagaimana dengannya?" tanya Astrid menanyakan tentang Bintang.


"Hukuman Bintang lebih berat dariku, dia harus membersihkan sekolah selama sebulan penuh," jawab Titan.


Lalu tiba-tiba saja Vega beserta teman-temannya berkumpul menghampiri Astrid. Ekspresinya terlihat marah, ia terburu-buru membawa Astrid pergi ke kelas.


Saat Astrid di bawa Vega pergi, Titan tak bisa mengikutinya setelah orang tuanya yang tengah marah itu mengajaknya untuk segera pulang.


Astrid pun terpaksa harus menghadapi Vega beserta teman-temannya seorang diri. Terlebih lagi, kedua teman Astrid sudah pulang duluan saat kelas sudah berakhir.


Vega mendorong tubuh Astrid hingga terjatuh dan duduk di lantai. "Dasar wanita pembawa sial, gara-gara kamu pacarku jadi terkena hukuman," ucapnya meninggikan suara.


"Apa kamu berpikir bahwa Bintang terkena hukuman karenaku." Astrid lalu berdiri dan dengan cepat ia membalas mendorong Vega. "Kamu salah jika harus menyalahkanku. Bintang pantas di hukum karena dia sudah berbuat salah," ucapnya dengan lantang.


Vega memiringkan senyumannya. "Berani sekali kamu mendorongku." Vega melebarkan telapak tangannya yang kemudian ia melayangkan tangannya ke arah pipi Astrid. Namun, saat tangannya akan menempel, tiba-tiba saja Janus datang memegang tangan Vega.


"Berani sekali kamu akan menamparnya. Kamu marah karena pacarmu terkena hukuman. Itu bukan salah Astrid, seharusnya kamu memarahi pacarmu yang selalu saja mencari masalah," tegas Janus.


Seketika Vega pun terdiam, kedatangan Janus mampu membuat Vega bergetar ketakutan. Tak ada yang bisa di lakukan Vega setelah Janus datang menegurnya. Ia memang kesal karena Bintang harus lagi terkena hukuman. Namun, ia tak bisa melawan Janus yang seorang guru. Ia pun hanya diam membisu sembari menunduk.

__ADS_1


"Jika sampai kamu ketahuan lagi sedang membuly Astrid, saya tidak akan tinggal diam. Saya akan laporkan tindakan kamu ke guru BK. Supaya kamu bisa menemani pacarmu membersihkan sekolah," ucap Janus lalu terburu-buru pergi sembari menarik lengan Astrid.


__ADS_2