
Esoknya Johan dan Astrid mengurus perceraian di pengadilan agama. Lalu dua hari mendatang, Astrid meminta Janus bertemu di restoran yang sering di datanginya ketika berkencan.
Dengan girangnya, Janus datang walau harus meninggalkan pekerjaannya.
"Akhirnya kamu mau menemuiku. Aku sangat merindukanmu Astrid. Ayo pulang bersamaku, aku janji tak akan lagi menemui Luna, dan aku juga berjanji akan membuatmu bahagia."
Biarpun masih marah, Astrid tak bisa membohongi perasaannya, jika dia sama rindunya seperti Janus. Astrid harus kuat menghadapinya, walau hati masih tertuju terhadapnya. Raut wajahnya yang datar, menatap Janus dengan mata yang tergenang.
"Jika kamu ingin membuatku bahagia, maka lepaskanlah aku."
"Apa maksudmu?" Janus terkejut atas ucapan istrinya itu. Ia lalu meraih tangannya. "Melepasmu adalah hal terberat bagiku, aku mana bisa melepasmu. Di bandingkan harus melepasmu, lebih baik aku melepaskan tanggung jawab yang di berikan Bayu."
Seketika kedua mata yang tergenang itu, mulai menjantuhankan bulir air.
"Mana bisa aku mempercayai kata-katamu, kamu bahkan bisa mengingkari janjimu hanya dalam waktu semalam. Biarpun kamu sudah berjanji untuk melepaskan tanggung jawab dari kak Bayu, aku tidak yakin bahwa kamu bisa melepasnya. Karena rasa bersalahmu saja masih melekat dalam dirimu."
"Kumohon Astrid, jangan pernah menjauh dariku. Dan percayalah bahwa aku tak akan pernah lagi mengingkari janji."
Astrid melepas tangan Janus dari tangannya. "Biarkan aku bahagia dan lepaskanlah aku."
Kini bukan Astrid saja yang matanya tergenang, kedua mata Janus pun juga ikut tergenang.
"Lalu, apa kamu akan bahagia bila berpisah denganku?"
"Mungkin saat ini aku sangat bersedih. Tapi mungkin nanti, aku akan terbiasa untuk memulai hidup baru."
"Itu kamu, tapi aku tak mungkin bisa sepertimu."
Astrid meraih tangan Janus dengan isak tangisnya. "Maka berusahalah untuk melupakanku agar kamu bisa bahagia." Astrid melepaskan tangan Janus, lalu berdiri dari duduknya. "Dua hari yang lalu aku sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Oh ya, setelah kita bercerai, aku akan ikut pindah bersama orang tuaku ke turki."
Janus ikut berdiri dari duduknya, lalu meraih tangan Astrid untuk menghentikan langkahnya.
"Apa kamu benar-benar akan melepaskanku?"
"Ini adalah pilihan terbaik untuk kita, karena bertahanpun hanyalah membuatku terluka. Jadi, berlapang dadalah untuk membiarkanku pergi dari sisimu."
__ADS_1
Astrid melepaskan tangannya dari Janus, lalu beranjak pergi dengan kedua mata yang tak mau berhenti mengeluarkan bulir air.
Yang di pikir Janus, pertemuannya dengan Astrid akan membuat Astrid kembali dan memaafkan semua kesalahannya. Namun nyatanya, yang di pikirkan Janus jauh berbeda dengan apa yang terjadi.
**
Berhari-hari Janus larut dalam kesedihannya. Keadaan psikisnya kembali memburuk seperti dulu, insomnia, gelisah, serta ketakutannya karena di tinggal pergi terus terlintas di pikirannya.
Selama berhari-hari pula, Janus tak masuk kerja. Janus sangat terpuruk menerima kenyataan bahwa Astrid memilih pergi dari sisinya. Janus sudah tak ada semangat untuk beraktivitas, yang ia lakukan hanyalah berdiam diri di rumah dengan botol-botol yang berisi minuman keras.
Tanpa Astrid, Janus benar-benar sangatlah terpuruk. Bagi Janus, Astrid adalah belahan dari jiwanya. Bila Astrid pergi, maka Janus bukanlah apa-apa.
Karena Janus sudah berhari-berhari tak pergi bekerja, Andy berserta kedua teman Janus datang ke rumah untuk membujuknya.
"Sudah berhari-hari ini tuan Janus tidak pergi ke kantor. Tanpa tuan Janus pekerjaan jadi berantakan. Tuan Janus harus segera kembali ke kantor, bila tak mau pekerjaan semakin menumpuk," imbuh Andy.
Janus menghiraukannya tanpa mau berucap maupun melirik ke arah Andy. Yang ia lakukan hanyalah terus meminum minuman keras dari botol yang tengah di pegangnya.
"Jika kamu ingin Astrid kembali, maka berusahalah untuk membuatnya kembali. Kamu masih ada harapan untuk membatalkan perceraian sebelum sidang nanti. Jika kamu hanya berdiam diri seperti ini, maka Astrid benar-benar akan pergi meninggalkanmu," tegur Wandi.
Janus pun menoleh ke arah Wandi. "Apa kamu pikir aku masih ada harapan."
"Aku sudah tak ada harapan seperti apa yang kamu pikirkan. Dia sangat ingin pergi dari sisiku, karena berada di sisiku dia sangat terluka."
"Itu karena kamu yang terus-menerus merasa bersalah terhadap Bayu. Hingga membuatmu tak mau melepaskan tanggung jawab darinya. Jika ingin hubunganmu kembali seperti dulu, maka lepaskanlah rasa bersalahmu dan berhentilah membantu Luna walaupun dengan alasan apapun," tangkas Rio.
"Aku sudah mengatakan itu padanya, tapi dia sudah tak bisa lagi mempercayaiku. Karena baginya, berada di sisiku hanyalah akan membuatnya terluka."
"Lalu, apa kamu akan terus seperti ini? Jika itu memang keputusan kalian, maka kamu harus bisa bangkit dari sedihmu, dan jalanilah hidupmu seperti sedia kala."
Kedua mata Janus mulai tergenang, ia menghela nafasnya. "Apa aku bisa bertahan tanpanya? Hatiku sangat sesak bila harus berpisah dengannya. Hanya dialah seorang yang bisa membuatku kembali menjalani hidup. Aku bahkan merasa tak pantas untuk hidup."
"Maka dari itu lupakanlah dia. Jika kamu melupakannya, maka kamu bisa bangkit dari sedihmu."
"Melupakannya adalah hal tersulit bagiku. Dan aku tak akan pernah mau melupakannya," ucap Janus meninggikan suaranya. Ia lalu menunjuk ke arah pintu keluar. "Lebih baik kalian pergi dari sini. Kedatangan kalian hanyalah membuatku semakin kesal."
__ADS_1
Tak ingin Janus semakin marah, pak Andy, Rio, dan Wandi pun beranjak pergi meninggalkan Janus.
Lalu tak lama mereka pergi, tiba-tiba saja Luna datang. Ia datang dengan raut wajahnya yang nampak panik.
"Ku dengar kamu akan bercerai dengan Astrid?"
"Iya," jawab Janus tanpa menatap.
"Kamu sangat berantakan, dan ku dengar sudah beberapa hari ini kamu tidak pernah keluar dari rumah." Luna lalu meraih tangan Janus." Terimalah semua kenyataannya, bahwa Astrid sudah tak mau lagi bersamamu."
Janus menghempaskan tangan Luna. "Baru saja Wandi dan Rio datang hanya untuk menyuruhku melupakan Astrid. Sekarang kamu datang juga untuk membuatku melupakannya. Asal kamu tahu, aku tak akan pernah mau melupakannya."
"Dia menginginkan perpisahan, kamu hanya perlu menerimanya jika kamu ingin bahagia. Kamu harus bangkit dan lupakanlah dia." Luna kembali meraih tangan Janus. "Dia sudah tak mau bersamamu, dan di sini aku akan membantumu melupakannya."
"Apa maksudmu membantuku melupakannya?"
"Jika kamu terus mengingatnya, maka kamu tak akan pernah bisa bahagia. Lupakanlah dia yang sudah tak mau bersamamu. Kamu bisa melupakannya bila kamu mau kembali padaku. Aku akan tulus mencintaimu, dan aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu."
Seketika Janus menatap sinis Luna sembari mengerutkan alisnya. "Jangan bilang, selama ini kamu sengaja membuatku berpisah dengannya."
Luna menelan salivanya. "A..pa maksudmu? Mana mungkin aku seperti itu."
"Saat kamu tinggal di sini, kamu berbuat baik padaku bukan karena kamu sungkan tinggal secara gratis. Dan di saat kamu sakit, lalu menyuruhku datang menjemput, kamu beralasan bahwa teman-temanmu tak ada yang mau mengantar. Lalu saat aku mabuk kamu segaja membawaku ke apartemen. Jangan bilang semua itu hanyalah akal-akalanmu saja untuk membuatku berpisah dengannya. Dan jangan bilang bahwa saat aku mabuk aku tidak benar-benar muntah. Kamu sengaja membuatku tak mengenakan pakaian, bahkan kamu sengaja memakai pakaian terbuka supaya Astrid menaruh curiga terhadap kita."
Luna gelisah, ia memalingkan wajahnya dari Janus tanpa berucap sedikitpun.
"Jawab pertanyaanku! Bahwa itu hanyalah akal-akalanmu saja untuk memisahkanku dengannya," ucap Janus meninggikan suaranya.
Luna mendongkak. "Iya, aku sengaja melakukannya karena aku menginginkan dirimu.
Seketika Luna pun menangis. "Aku masih mencintaimu, dan aku ingin kembali bersamamu."
Janus lalu berdiri dari duduknya. "Keluar dari rumahku, brengsek!"
"Maaf Janus."
__ADS_1
Janus menarik lengan Luna dengan kasar, dan membawanya pergi keluar dari rumah.
"Enyalah dari rumahku."