
Janus, Astrid, dan Luna sudah tiba di rumah. Tangan, wajah, serta leher Luna tampak lebam, dan sedikit luka di beberapa bagian tubuhnya. Luna di bawa Astrid ke ruang tengah, sementara Janus pergi mengambil kotak P3K.
Lima menit kemudian Janus menghampiri Luna dan istrinya di ruang tengah. Saat tiba, Janus langsung saja melepar kotak P3K yang di bawanya ke meja.
"Obati lukamu sendiri," ucap sinis Janus kepada Luna.
Sembari meraih kotak P3K, tangan Luna gemetar. Raut wajahnya nampak sedih, dan matanya masih tampak sembab sehabis tadi ia menangis.
Seketika Astrid merebut kotak P3K yang di pegang oleh iparnya tersebut. "Biar aku saja yang obati." Lalu Astrid menatap kesal suaminya. "Kak, tak seharusnya kamu melempar kotak P3K seperti itu, jaga sikapmu."
"Memangnya kenapa kalau aku melemparnya seperti itu. Masih mending aku bawakan obat untuknya, dari pada tidak sama sekali." Janus menghela nafasnya sembari mendaratkan diri di sofa. "Apa yang akan terjadi besok, setelah aku membawanya kemari."
Astrid menghela nafasnya. "Ingat ya, kita menolongnya dengan tulus. Jadi tidak boleh menyesal setelah hari ini kita menolongnya."
Tanpa berucap, Janus menyenderkan kepalanya di sofa lalu memejamkan kedua matanya. Sementara Astrid, ia langsung saja mengobati beberapa luka yang terdapat di bagian tubuh Luna. Sembari di obati, mata Luna tak hentinya menatap Janus dengan tatapan yang seakan penuh dengan penyesalan. Bahkan kedua matanya pun sedikit tergenang oleh air.
"Janus, apa kamu masih marah terhadapku? Walau terlambat, aku hanya ingin minta maaf atas apa yang aku lakukan terhadapmu," ucap Luna dengan suara rendah.
Janus masih memejam keduanya matanya. Namun, telinganya dapat mendengar apa yang di ucapkan Luna. Ia pun menjawab tanpa membuka kedua matanya itu. "Aku sudah melupakan perbuatanmu terhadapku. Dan aku juga tak ingin mendengarkan permintaan maaf darimu, karena aku tak akan pernah memaafkanmu."
Luna seketika meneteskan bulir air yang tergenang di kedua matanya itu. "Walau kamu tidak menerima permintaan maafku, aku akan tetap berusaha mendapatkan maaf darimu. Aku sungguh menyesal telah meninggalkanmu."
Janus membuka kedua matanya, lalu memiringkan senyumnya sembari menatap Luna. "Menyesal? setelah kamu tahu sifat asli dari Bayu, kamu bilang menyesal telah meninggalkanku. Hanya karena Bayu seorang pewaris sah, orang tuamu bahkan lebih rela menjodohkanmu ketimbang menyetujui hubungan kita. Dan jika kamu memang mencintaiku, kamu akan tetap berada di sisiku dan menolak perjodohan. Tapi kamu sama saja seperti orang tuamu yang tergiur oleh harta dari keluargaku, oleh sebab itu kamu tidak menolak di jodohkan dengan Bayu."
__ADS_1
Air mata Luna semakin deras berjatuhan. "Aku minta maaf Nus, bukan maksudku meninggalkanmu. Aku tak bisa menolak perjodohan dengan Bayu, karena saat itu perusahaan ayahku sedang terpuruk. Jika aku menikah dengan Bayu, keadaan perusahaan akan membaik. Walaupun meninggalkanmu merupakan penyesalan terbesarku, aku harus merelakan perasaanku demi perusahaan yang di bangun oleh ayahku dari nol."
Janus berdiri dari duduknya dengan ekpresinya yang di tekuk kesal. "Berhenti membahasnya di depan istriku. Jika kamu menyesal telah meninggalkanku, aku malah bersyukur kamu meninggalkanku. Karena di balik itu semua, aku dapat bertemu dengan wanita yang benar-benar tulus mencitaiku, dan dia bahkan tak dapat meninggalku seperti kamu." Janus lalu melangkahkan kakinya. "Trid, jika sudah selesai mengobatinya. Kamu tunjukan kamar tamu untuknya, lalu kamu segera tidur."
Astrid pun mengangguki perintah suaminya tersebut. Sikap serta pandangan Luna terhadap Janus mampu membuat Astrid berpikiran bahwa, istri dari kakak iparnya itu masih memiliki perasaan terhadap suaminya. Hingga membuat Astrid merasa takut bila Luna tak dapat terlepas dari suaminya itu. Perasaan Astrid benar-benar sudah di buat gelisah dengan kata penyesalan dari Luna.
Astrid kesal, tak seharusnya Luna berkata seperti itu di depannya. Terlebih lagi Janus telah memiliki status sebagai pria beristri. Begitupun dengan dirinya yang juga memiliki status sebagai seorang wanita yang telah memiliki suami. Apa lagi suaminya merupakan kakak sambung dari Janus. Astrid sangat kesal, ia terburu-buru mengobati Luna.
"Aku sudah selesai mengobati. Ayo kak, aku antar kamu ke kamar," ucap Astrid sembari berdiri dari duduknya.
Astrid beranjak pergi dari ruang tengah ke kamar tamu, dengan langkah yang di ikuti oleh Luna. Setelah menunjukan kamar untuk Luna, Astrid pun kembali melangkahkan kakinya. Namun, saat langkahnya sudah berada di depan pintu, ia menghentikan langkahnya. Lalu berbalik arah menatap Luna.
"Kak Luna, jika ingin meminta maaf, minta maaflah. Tapi tidak perlu mengucapkan kata menyesal karena telah meninggalkan kak Janus. Dia yang sekarang sudah tak memiliki perasaan terhadap kak Luna. Walau kak Luna berkata menyesal, itu tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi. Karena kak Janus tak akan pernah kembali kepada kak Luna."
Astrid menghela nafasnya. "Tanpa di suruh pun aku akan melakukan itu," ucapnya dengan raut wajah yang di tekuk kesal.
Astrid kembali melangkahkan kaki dan pergi menuju kamarnya. Saat tiba di kamar, Janus sudah nampak pulas tertidur. Astrid segera membangunkan suaminya yang tertidur pulas itu, karena memang seharusnya Janus mandi terlebih dahulu sebelum tidur. Karena setelah pulang bekerja Janus belum sempat mandi.
"Kak Janus," ucap Astrid sembari menepuk-nepuk pipi suaminya tersebut
Janus membuka setengah matanya. "Apa Trid?"
"Kamu belum mandi, masa langsung tidur sih," jawab Astrid yang tak hentinya menepuk-nepuk pipi Janus.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Janus menarik lengan Astrid, hingga membuatnya ikut terbaring di sebelahnya. Lalu ia mendekap erat tubuh istrinya itu.
"Lebih baik kita langsung tidur saja, aku terlalu lelah untuk beranjak dari tempat tidur."
"Tapi kamu belum mandi. Aku juga bahkan belum mandi, masa langsung tidur sih," ucap Astrid sembari melepaskan dekapan Janus.
Janus membuka lebar matanya, lalu tersenyum manis menatap istrinya. "Kalau begitu, kita mandi bareng saja."
"Tidak, kita mandinya masing-masing," tolak Astrid.
Janus kembali mendekap tubuh istrinya. "Kalau tidak mau, lebih baik kita langsung tidur saja."
Terlalu erat Janus mendekap tubuh Astrid, hingga membuat Astrid tak bisa lepas dari dekapannya itu. Terutama ia juga sudah lelah untuk beranjak turun dari tempat tidur, dan terlalu nyaman berbaring sembari di peluk oleh suaminya. Astrid pun lalu mendekap balik tubuh suaminya tersebut.
Janus kembali menutup kedua matanya, namun Astrid masih saja tak bisa dengan nyamannya menutup mata. Setelah ia tak bisa mengalihkan pikirannya dari Luna, akibat ucapan Luna tadi.
Astrid pun kembali menepuk pipi Janus. "Kak Janus," serunya.
"Apa lagi Trid?" tanya Janus tanpa membuka kedua matanya.
"Kamu jangan berani-beraninya melirik wanita lain, terutama kak Luna. Apa lagi sekarang hubungan kak Luna sama kak Bayu sedang tidak baik," ucap Astrid.
"Memangnya kenapa dengan Luna? Lagi pula dia tak sebanding denganmu, mana mungkin aku mau balikan sama Luna, apa lagi sampai melirik wanita lain," ucap Janus, lalu membuka kedua matanya, dan dengan cepat ia mengecup bibir mungil istrinya. "Aku sudah di butakan olehmu, dan aku sudah sangat mencintaimu. Jadi, lebih baik kamu tidur, jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi."
__ADS_1