
Karena berbeda pendapat, Janus dan Astrid jadi lebih banyak diam. Berhari-hari mereka tak mengobrol sama sekali. Mereka sepasang suami istri, tapi bagaikan orang asing. Terutama Janus yang lebih dulu mendiamkan Astrid. Bahkan tiap kali Astrid membuat topik obrolan, Janus selalu mengabaikannya. Bukankah Janus terlalu kekanakan yang tak mau mengalah soal keputusannya.
Bukan hanya karena tak menerima keputusan Astrid, tapi Janus juga masih saja menyalahi diri karena telah menikahi Astrid. Terutama bila teringat ketika pertama kali pernikahannya di ketahui banyak orang. Saat itu Astrid jadi bahan bully teman-temannya karena statusnya yang menikah dengan Janus.
Mereka makan dalam satu meja, namun seperti berbeda tempat. Mulutnya sibuk menguyah tapi saling mengabaikan satu sama lain. Suasana seperti ini memang sangat tak nyaman, terutama bagi Astrid yang sudah tak tahan dengan sikap Janus tersebut.
Seketika Astrid pun meletakan sendok dan garpu yang di pegangnya di atas piring. "Apa kita akan terus seperti ini," ucapnya yang kesal setengah mati terhadap suaminya tersebut.
"Jika kamu terus keras kepala terhadap pendirianmu. Aku tak mau lagi berbicara denganmu," ucap Janus tanpa menatap istrinya.
Sontak Astrid pun langsung saja berdiri dari duduknya. "Kamu egois kak. Bukankah kamu terlalu mengatur hidupku."
"Mengatur katamu? aku ini seorang suami, apapun yang aku putuskan perlu kamu turuti, karena kamu istriku," tegas Janus.
"Tidak setiap apa yang kamu putuskan perlu aku turuti. Aku tahu kamu adalah seorang pemimpin dalam rumah tangga. Tapi bukan berarti aku tidak punya hak untuk menentukan hidupku sendiri," ucap Astrid yang semakin kesal.
"Kamu memang punya hak untuk menentukan hidupmu. Tapi bukankah karena sebuah pernikahan kamu tidak mau melanjutkan pendidikanmu," lontar Janus yang juga kesal.
"Lagi-lagi kamu menyalahi pernikahan," ucap Astrid sembari memalingkan wajahnya.
"Iya aku sangat menyalahi pernikahan kita. Andai saja pernikahan kita tak pernah terjadi, aku mungkin tidak akan menghancurkan masa remajamu. Aku juga tidak akan menghancurkan kehidupanmu di sekolah," ucap Janus meninggakan suaranya.
Setelah Janus meninggikan suaranya, Astrid pun langsung saja beranjak dari meja makan. "Aku tak pernah merasa hancur karena menikah denganmu," gerutunya dengan suara rendah.
Astrid pergi ke kamarnya lalu segera mengambil tas dan dompetnya. Setelah itu, ia pun beranjak pergi dari apartemen.
Terlampau kesal Astrid terhadap Janus yang terlalu egois untuk mengatur hidupnya. Terutama saat Janus menyalahi pernikahannya, Astrid sangat kesal sekali dengan sikap suaminya tersebut.
__ADS_1
Astrid terus berjalan tanpa tahu tempat tujuan yang akan di tujunya. Setidaknya dengan sedikit menjauh dari Janus, kekesalan Astrid akan sedikit lebih tenang.
Ia terus berjalan dengan raut wajah yang di tekuk kesal. Hingga tak lama ia berjalan, ia pun melihat cafe yang berada perempat jalan. Astrid pun langsung saja memasuki cafe tersebut. Ia duduk di meja paling pojok sembari menundukan kepalanya. Lalu seorang pelayan pun datang ke meja tempat Astrid berada.
"Apa ada yang akan di pesan?" tanya pelayan tersebut.
Tanpa menatap pelayan tersebut, Astrid pun langsung saja meraih buku menu yang berada di mejanya. Sembari membaca menu, Astrid cukup tersadar dengan suara dari pelayan yang tak asing di dengarnya.
"Saya pesan es krim coklat mintnya satu," ucap Astrid yang kemudian menatap pelayan yang tengah berdiri di samping mejanya tersebut. Seketika Astrid pun terkejut setelah melihat pelayan yang tengah berdiri tersebut ternyata ialah Titan. "Titan, sedang apa kamu di sini?" tanyanya heran.
"Aku sedang bekerja part time di cafe ini, lalu kamu sedang apa malam-malam begini dengan wajah yang cemberut?" tanya balik Titan sembari tersenyum manis menatap Astrid.
Astrid menghela nafasnya. "Entahlah, dari pada kamu bertanya hal lain selain pesanan. Lebih baik kamu segera menyiapkan pesananku."
"Baiklah, aku akan segera menyiapkan pesananmu," ucap Titan tersenyum girang lalu terburu-buru beranjak pergi.
Astrid tak perlu menunggu lama, hanya menunggu lima menit. Titan sudah kembali membawa pesanan milik Astrid.
"Aku tidak mau di traktir, biar aku saja yang bayar," tolak Astrid.
Seketika Titan langsung saja duduk di sebelah Astrid. "Tapi kamu tidak bisa menolak, karena aku sudah membayarnya di kasir."
Sontak Astrid pun langsung saja mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. "Kalau begitu biar ku ganti, jadi berapa yang harus ku bayar?"
"Ku bilang tidak perlu. Kamu cukup menggantinya dengan temani aku mengobrol. Kamu boleh mencurahkan isi hatimu kepadaku, jadi kamu sedang ada masalah apa. Hingga tadi kamu sangat cemberut?" tanya Titan.
"Bukankah kamu sedang bekerja. Dari pada kamu meluangkan waktu untuk mendengarkan curhatanku, lebih baik kamu melanjutkan pekerjaan," jawab Astrid.
__ADS_1
Sembari menatap Astrid Titan pun tersenyum manis. "Hari ini shiftku sudah selesai. Jadi aku mau menemani kamu. Kamu bebas mencurahkan masalahmu padaku."
Saat ini Astrid memang butuh orang untuk mendengarkan isi hatinya. Astrid ragu untuk memberitahu masalahnya terhadap Titan. Tapi jika Astrid tidak meluapkan isi hatinya, ia tak akan merasa lega bila terus memendamnya seorang diri.
Titan pun meraih tangan Astrid. "Jika kamu memendam masalahmu sendiri, kamu tidak akan bisa tenang. Lebih baik kamu utarakan masalahmu padaku. Aku janji tidak akan memberitahu masalahmu kepada orang lain. Kamu bisa percayakan padaku, bila perlu aku akan membantu menyelesaikan masalahmu."
Namun tiba-tiba saja Astrid dan Titan di kejutkan dengan kedatangan Janus di cafe. Ia tampak ngos-ngosan seperti habis berlari.
"Oh jadi kamu pergi dari rumah cuma mau bertemu dengan Titan. Sia-sia aku mengkhawatirkanmu, aku pergi malam-malam begini cuma melihat kamu sedang berpegangan tangan dengan bocah tengil itu," lontar Janus yang tampak kesal.
Sontak Astrid pun panik, ia langsung melepaskan tangannya dari tangan Titan.
"Kamu salah paham, aku hanya kebetulan bertemu dengannya di sini," ucap Astrid yang langsung saja berdiri dari duduknya.
Sembari memalingkan wajahnya dari Astrid, Janus pun memiringkan senyumannya
"Cuma kebetulan tapi sampai pegangan tangan. Kalian memang pasangan yang sangat serasi," ucap Janus yang langsung saja melangkahkan kakinya dan terburu-buru pergi dari cafe.
Seketika Astrid pun langsung saja mengejar suaminya tersebut. Saat langkahnya sudah berada tepat di belakang suaminya, Astrid pun meraih lengan pria yang tengah marah itu.
"Kak, kamu salah paham," lontar Astrid.
Janus menghempaskan tangan Astrid dari lengannya. "Salah paham katamu? tapi mengapa Titan sampai memegang tanganmu."
"Dia memintaku mencurahkan semua masalahku padanya. Dan dia menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalahku, padahal aku sendiri belum menceritakannya. Dia memegang tanganku, mungkin karena aku dari tadi hanya diam. Jadi kamu jangan salah paham padaku, hubunganku dengan Titan tidak lebih dari sekedar teman," terang Astrid.
"Kamu memintaku untuk tak salah paham. Kamu harusnya menyadari bahwa pria yang kamu anggap teman itu menyukaimu. Dan kamu malah bertemu dengannya," ucap Janus bernada marah.
__ADS_1
"Aku bertemu dengannya secara kebetulan. Karena dia pekerja part time di cafe itu," ucap Astrid panik karena kemarahan Janus.
Janus sudah terlampau marah, ia tak memperdulikan penjelasan dari istrinya tersebut. Ia yang tengah marah itu lebih memilih melanjutkan langkahnya dari pada harus mendengarkan penjelasan istrinya yang berujung pertengkaran di tempat umum.