
Kring... Kring... Kring...
Jam waker terus berbunyi, Astrid terbangun tetapi sulit untuk membuka kedua kantup matanya. Rasa nyaman dan hangat membuatnya sangat malas beranjak dari tempat tidurnya. Ia tertidur sembari memeluk sesuatu yang berada di depannya. Namun, ada sesuatu yang aneh dengan apa yang di peluknya itu. Astrid pun meraba-raba sesuatu yang di peluknya tersebut. "Terasa hangat dan bentuknya tampak bidang, bagaimana mungkin itu guling."
Sontak Astrid pun membuka kedua kantup matanya. Ia tersentak kaget melihat apa yang di peluknya itu ialah Janus. Yang lebih membuatnya kaget ialah melihat tubuh Janus yang setengah telanjang di sampingnya. Astrid lalu menatapi tubuhnya yang hanya memakai tank top.
"Ahhhhh... apa yang sudah kamu lakukan padaku," ucap Astrid yang berteriak sembari melempar jam waker ke arah tubuh Janus.
Seketika Janus terbangun dari tidur lelapnya. Wajahnya memerah menatap tubuh Astrid yang hanya memakai tank top. Astrid menarik selimut, yang kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut. "Semalam apa yang kamu lakukan padaku?" tanyanya bergetar ketakutan.
"Aku tak tahu, aku tidak ingat apapun. Ingatan terakhirku hanya sampai minum wine saja," ucap Janus sembari berpikir untuk mengingat kejadian yang ia lupakan selama mabuk.
"Kenapa kita bisa tidur satu ranjang. Dan kenapa aku hanya memakai pakaian dalam saja. Pasti kamu nyari kesempatan kan selama aku mabuk."
"Mana mungkin aku melakukan itu padamu. Kita tidak benar-benar telanjang, aku masih menggunakan celana dan kamu masih berpakaian walaupun hanya memakai pakaian dalam sih," ucap Janus dengan raut wajah yang memerah.
Janus seketika mengerenyitkan keningnya menatap leher Astrid yang terdapat tanda merah melingkar di leher jenjangnya itu. "Itu merah di lehermu." Janus nampak shock menatapi tanda merah tersebut
Sontak Astrid pun menarik selimut yang menutupi tubuhnya, lalu beranjak dari tempat tidur. Dan segera bercermin menatap lehernya yang terdapat tanda merah tersebut.
"Ini bekas ciuman." Astrid sangat shock menatap tanda merah di lehernya. Ia pun segera menghampiri Janus sembari mengambil bantal lalu memberi pukulan menggunakan bantal tersebut.
"Dasar gila, kamu berbuat mesum di saat aku tidak sadar."
"Ini pasti kesalahan. Lehermu merah itu di gigit nyamuk, bukan bekas ciumanku," ucap Janus sembari menghindari pukulan Astrid.
"Mana ada di gigit nyamuk bisa sebesar ini. Dasar mesum, jika aku hamil kamu harus tanggung jawab," ucap Astrid yang tak henti memukuli Janus.
"Iya... iya berhenti memukulku. Dari awal aku sudah tanggung jawab, aku sudah menikahimu. Jadi masalah ini selesai."
Astrid menghentikan pukulannya, ia terduduk lemas sembari menangis. "Hiks...hiks... aku masih sekolah, dan belum sempat berpacaran dengan pria manapun. Kesucianku sudah di rengut oleh pria yang paling tidak kusukai. Empat bulan lagi ujian, gimana kalau sebelum ujian mendatang aku hamil."
"Maaf, tapi aku masih yakin tidak melakukan apapun sama kamu. Karena kejadian semalam masih belum ku ingat."
__ADS_1
"Keluar dari kamar sekarang juga," bentak Astrid.
"Iya, tapi aku pakai bajuku dulu."
"Tidak perlu, kamu keluar sekarang juga!"
Janus keluar dari kamar dengan bertelanjang dada. Ia tampak gelisah dengan ingatan yang hilang dalam kurun waktu semalam. Alkohol dari wine benar-benar telah merusak ingatannya. Ia duduk di kursi sembari berpikir dan mencoba mengingat kembali ketika ia mabuk tadi malam. Sementara Astrid tak hentinya menangis di kamar. Ia juga mencoba mengingat apa yang telah di lupakannya semalam.
Hingga suatu ketika dering pesan dari ponsel Astrid berbunyi. Tertera nama Hilda yang mengirimnya pesan pada ponselnya.
"Trid aku dan Alula ada di depan pintu."
Astrid pun terburu-buru mengenakan pakaiannya dan segera keluar dari kamarnya. Namun, saat pintu kamarnya terbuka, Astrid mendapati Janus sedang tertidur pulas di sofa.
"Setelah melakukan kesalahan dia malah keenakan tidur," gumam Astrid.
Astrid kembali masuk ke kamar lalu mengambil bantal, dan melemparnya ke wajah Janus. Janus tersentak kaget, saat sedang nyaman tertidur ia harus merasakan lemparan bantal yang cukup keras ke wajahnya.
"Apa yang barusan kau lakukan," ucap Janus shock.
"Lama banget buka pintunya," ucap Alula memasuki apartemen, begitu pun dengan Hilda yang juga ikut masuk.
Namun, pada saat Astrid akan menuntup pintu, tiba-tiba saja seseorang memegang gagang pintu mencegahnya menutup pintu tersebut.
"Tunggu!"
Astrid pun kembali membuka pintu apartemennya. Namun, seketika kedua matanya melebar menatap seseorang yang berada di balik pintu tersebut. Ia tersentak kaget saat tahu bahwa orang yang di balik pintu apartemennya ialah Titan.
"Gawat," ucap Hilda yang juga merasa kaget dengan kedatangan Titan.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Astrid yang panik seketika.
Titan menunjukan sebuah foto yang berukuran besar."Tadi ada tukang paket yang salah kirim ke apartemenku, ku kira ini paket milik ibuku jadi ku buka. Dan pada saat ku buka ternyata sebuah foto pengatin. Kenapa di foto ini kamu dan pak Janus?"
__ADS_1
"Sejak kapan kamu tinggal disini?" tanya Astrid sangat gelisah.
"Sejak kemarin aku tinggal di samping apartemen ini. Di tanya malah nanya balik, kenapa di foto ini kamu dan pak Janus?" tanya kembali Titan.
"Siapa? itu tukang paket bukan," teriak Janus sembari menghampiri.
Janus seketika terkejut, ia menelan salivanya menatap Titan yang tengah berdiri di depan apartemennya sembari memegang foto pernikahannya.
"Pas sekali pengantin prianya keluar. Di tambah dia kepergok telanjang," ucap Titan menatap tajam Janus.
"Dasar rabun, aku tidak telanjang. Walau tidak memakai baju aku masih masih menggunakan celana panjang," ucap Janus kesal.
Hilda menarik Titan masuk kedalam Apartemen dan segera menutup pintu. "Mending masuk dulu."
"Trid jelaskan semuanya biar ga salah paham dan ancam dia supaya tidak menyebarkan gosip di sekolah," ucap Hilda.
"Ayo ke ruang tengah. Biar ku jelasankan tentang hubunganku dengan pak Janus," ucap Astrid melangkahkan kakinya.
Astrid, Janus, Titan, beserta kedua teman Astrid pergi ke ruang tengah. Semua duduk di ruang tengah sembari menatap tajam Titan.
Seketika Titan menelan salivanya, ia merasa gugup ketika semua orang menatapnya dengan tajam.
"Seperti akan di introgasi saja. Padahal aku sama sekali tak berbuat salah."
"Kamu memang salah, kenapa bisa tinggal di apartemen ini. Dan kenapa pula buka paket sembarangan," ucap Alula.
"Memangnya salah kalau aku tinggal di salah satu apartemen ini. Dan yang salah itu tukang paketnya kenapa bisa salah kirim."
Astrid berdiri dari tempat duduknya, lalu merebut foto yang di pegang Titan. "Aku mohon jangan salah paham. Aku memang menikah dengan pak Janus, tapi kami tidak benar-benar menikah."
Titan mengerenyitkan kedua alisnya, ia tampak bingung dengan ucapan Astrid. "Menikah tapi tidak benar-benar menikah. Jangan-jangan kamu di paksa nikah kontrak sama pak Janus.
Titan seketika berdiri menghampiri Janus, lalu menarik lengannya. dan mengepalkan tangannya ke arah wajah Janus. "Dasar brengsek, kamu menikahi murid SMA sebagai pemuas hasratmu."
__ADS_1
Janus lalu memegang tangan Titan yang sedang mengepal itu. Lalu mendorong tubuhnya sampai terjatuh.
"Jangan salah paham dulu. Kita terpaksa menikah karena di jodohkan oleh orang tua," ucap Janus.