
Pukul 05.30 suara alarm dari ponsel Astrid berbunyi. Astrid pun terbangun karena suara keras dari ponsel yang ia letakan di samping bantalnya. Astrid meraih ponselnya untuk memantikan alarm yang bunyinya sangat nyaring itu. Matanya masih setengah terbuka akibat kantuknya yang belum hilang. Saat hendak mematikan alarmnya, tiba-tiba saja fajar yang akan terbit di upuk timur menyoroti wajahnya. Kebetulan jendela di kamarnya itu mengarah langsung ke tepi pantai. Akan lebih menyenangkan jika pemandangan matahari terbit itu dapat di lihatnya berdua dengan suaminya. Sayangnya Janus masih tertidur pulas, padahal suara alarm dari ponsel Astrid berbunyi sangat keras.
Astrid pun lalu menepuk lembut pipi Janus. "Kak, bangun," seru Astrid yang terus berulang ia ucapkan.
Mata Janus memang masih tertutup rapat, namun ia terbangun karena Astrid yang terus-menerus menepuk pipinya. Janus langsung saja merangkul Astrid dengan matanya yang tak mau terbuka itu. "Aku masih ngantuk, lebih baik kita tidur lagi ya."
Spontan Astrid pun melepas lengan Janus dari tubuhnya. "Kak, cepat bangun! Kita harus lihat sunrise di pantai sekarang juga. Sebelum mataharinya keburu naik," rengek Astrid.
"Ini terlalu pagi untukku terbangun dari mimpi indah. Lebih baik kamu lihat saja matahari terbitnya lewat jendela kamar saja ya," ucap Janus dengan mata yang masih saja menutup.
Seketika Astrid pun mengoyangkan tubuh Janus sekuat tenaga. "Cepat bangun, aku tidak akan puas jika hanya di lihat dari balik jendela. Kapan lagi aku melihat matahari terbit di tepi pantai."
"Janus pun terbagun yang spontan ia langsung saja duduk. "Trid, aku masih ngantuk. Ini masih sangat pagi loh, seharusnya kita bisa bermalas-malasan sebentar. Lagian minggu depan kita bisa ke sini lagi untuk melihat matahari terbit di pantai," ucapnya dengan kedua mata yang berkerut.
Astrid memalingkan wajahnya. "Minggu depan aku pasti di sibukan belajar untuk menyiapkan ujianku. Mana ada waktu untukku pergi liburan," ucapnya dengan raut wajah yang di tekuk kesal.
"Kamu marah?" tanya Janus memegang pundak Astrid.
"Iya," ucap Astrid dengan lantang dan langsung saja ia pun kembali berbaring lalu mengerumuni diri dalam selimut.
Karena marahnya Astrid, kantuk Janus pun seketika hilang. Matanya pun mulai terbuka sepenuhnya. "Iya.. iya maaf. Ayo kita pergi ke pantai lihat sunrise," ucapnya sembari menggaruk tengkuk yang tak terasa gatal.
"Aku sudah tidak mood," ucap Astrid.
"Jangan marah dong. Ayo kita pergi ke pantai sekarang, sebelum keburu mataharinya naik. Katanya kapan lagi kita kesini. Atau mau aku gendong kesananya," bujuk Janus sembari menepuk.
"Tidak perlu di gendong, aku bisa jalan sendiri." Astrid langsung saja membuka kain yang menyelimuti tubuhnya itu.
"Nah gitu dong bangun," ucap Janus tersenyum.
__ADS_1
Astrid beranjak turun dari tempat tidur. Namun entah mengapa Janus masih saja duduk manis di tempat tidur. Astrid heran mengapa suaminya masih saja bersantai di tempat tidur, sementara baru saja ia mengajaknya untuk pergi ke tepi pantai. Kembali lagi raut wajah Astrid di tekuk kesal akibat tingkah suaminya tersebut.
"Katanya mau ke pantai sekarang. Kenapa tidak turun dari ranjang," ucap Astrid kesal.
"Kita belum melakukan kecupan selamat pagi. Kecup dulu biar semangat," ucap Janus menepuk-nepuk bibirnya dengan jari telunjuk.
Astrid menghela nafasnya, ia yang masih di tekuk kesal pun harus mengecup bibir suaminya yang tengah bermanja itu.
"Cup...
"Sudah, ayo kita pergi sekarang." Astrid meraih tangan Janus dan segera menariknya turun dari tempat tidur.
Sementara Janus tersenyum girang setelah di beri kecupan selamat pagi oleh istrinya. Astrid berhasil membuat Janus di mabuk kepayang. Hingga membuat suami manjanya itu tak bisa berhenti tersenyum.
Astrid yang tak ingin melewatkan sedikitpun momen untuk melihat indahnya matahari terbit di tepi pantai. Membuatnya harus berjalan terburu-buru sembari menggandeng tangan Janus.
"Katanya kalau sudah di kecup bakal semangat," ucap Astrid.
"Perutku berkata lain, tapi kalau di kecup lagi kayaknya bisa lain lagi," goda Janus.
Astrid menghela nafasnya, ia mengabaikan suaminya yang terlampau manja itu. Yang saat ini ia pikirkan hanyalah, dapat tepat waktu pergi ke pantai untuk melihat matahari terbit.
***
Karena berjalan terburu-buru, hanya butuh tiga menit mereka sampai di tepi pantai. Akhirnya Astrid tepat waktu untuk melihat matahari terbit. Warna jingga yang bercampur biru itu telah membuat mata Astrid terhipnotis, ketika menatap indahnya langit di tepi laut. Ia tersenyum penuh menatap matahari yang masih setengah terbit itu.
Hanya melihat istrinya tersenyum bahagia, Janus pun bisa ikut senang. Janus tak terlalu terpaku melihat matahari terbit di tepi laut. Ia hanya terpaku menatap istrinya yang tengah tersenyum. Yang entah mengapa, ia merasa lega saat melihat orang terkasihnya bahagia dalam hal sederhana seperti ini.
Astrid memang tengah bahagia menatap matahari yang sedang terbit itu. Namun, tubuhnya tampak menggigil akibat angin laut yang lumayan kencang. Beberapa kali Astrid mengelus lengannya, hingga membuat Janus tak tega melihat istrinya yang tampak kedinginan.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke vila, kamu tunggu sebentar." Janus terburu-buru melangkahkan kakinya ke arah vila.
"Kamu kesini lagi kan," teriak Astrid.
"Iya aku pasti balik lagi," ucap Janus yang juga berteriak.
Tak perlu menunggu lama, Janus sudah kembali. Ia langsung saja menyelimuti Astrid menggunakan selimut tipis yang di bawanya dari vila.
"Gimana sekarang sudah hangat kan," ucap Janus
"Terima kasih," ucap Astrid tersenyum.
Astrid dan Janus duduk di tepi pantai sembari menikmati pemandangan matahari terbit. Namun belum lama mereka duduk, tiba-tiba saja terdengar suara orang yang tampak tak asing di kenalnya. Suara tersebut tampak seperti dua orang yang tengah berbincang. Astrid pun langsung saja menengok ke arah suara itu berasal.
Astrid menelan salivanya, ia terkejut setengah mati saat tahu bahwa orang yang tengah berbincang di belakangnya ialah Bintang dan Vega. Spontan Astrid pun membuka kain selimutnya dan langsung saja menutupi wajah Janus menggunakan selimut.
"Ada apa? kenapa kamu menutupiku dengan selimut," ucap Janus kaget.
"Sttttt, jangan bersuara di belakang ada Bintang dan Vega," bisik Astrid yang panik setengah mati.
Karena tingkah konyol Astrid yang menutupi wajah Janus dengan selimut. Membuatnya terlihat mencolok, sehingga keberadaannya pun di ketahui oleh Bintang dan Vega.
"Astrid," seru Vega menghampiri yang langkahnya di ikuti oleh Bintang.
"Hah, ku pikir perempuan setekun dirimu tidak akan bolos," cibir Bintang.
"Tampaknya kamu sedang bersama laki-laki. Jangan-jangan dia pacar barumu ya, aku sangat kasian sama pacar yang hanya di jadikan pelampiasan saja. Karena perempuan nora ini pasti belum bisa move on dari Bintang," sindir Vega lalu menutup mulutnya dengan jari jemarinya. "Upss, bukannya Bintang pacaran sama Astrid cuma pura-pura ya," ucapnya mengejek sembari menyeringai.
"Jaga mulut kamu. Selama berpacaran dengan pria brengsek ini, aku pun tak pernah menganggap serius dirinya. Karena aku sudah memiliki tunangan yang lebih baik dan lebih tampan dari pria brengsek yang kamu genggam itu," ucap Astrid dengan lantang.
__ADS_1