Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
90. Hanya Kamu Yang Aku Cintai


__ADS_3

Karena Astrid semalam tak bisa tertidur, sudah pukul sepuluh pagi ia masih lelap dalam tidurnya. Walau pikirannya masih tak tenang memikirkan keberadaan Janus, ia yang tengah sakit itu perlu tidur. Hingga pukul sebelas pagi suara bel pintu berbunyi. Astrid pun terbangun dan terburu-buru beranjak dari tempat tidur menuju pintu. Saat pintu terbuka, ia pikir Janus yang menekan bel namun nyatanya itu Titan. Titan datang sembari membawa kantong yang berisi kotak makanan.


Titan menunjukan kontak makan yang di pegangnya. "Aku buatkan kamu bubur. Apa kamu sudah makan?"


"Hm, aku belum makan," jawab Astrid dengan ekspresi kecewa.


Tanpa di persilahkan masuk, Titan langsung saja menerobos masuk ke apartemen. "Kenapa kamu belum makan, bukankah kamu harus minum obat."


"Sebenarnya aku baru bangun, lebih baik kamu pulang saja Tan. Aku takut kak Janus pulang dan akan menimbulkan kesalah pahaman," ucap Astrid panik sembari mengikuti langkah Titan menuju dapur.


Langkah Titan terhenti, lalu berbalik menghadap Astrid. "Apa dia semalam pulang? dia tak akan pulang, kenapa kamu harus peduli padanya. Dia saja tak memperdulikan kamu." Titan melanjutkan langkahnya kemudian segera mengambil mangkuk di rak. "Lebih baik kamu makan dulu. Dan jangan memintaku untuk pergi dari sini, karena aku akan membereskan apartemenmu yang berantakan ini," ucapnya sembari menyajikan bubur yang di bawanya ke dalam mangkuk.


"Tidak perlu Tan, biar aku saja yang beres-beres apartemen," tolak Astrid.


Titan memberikan mangkuk yang sudah di isi bubur kepada Astrid. "Tubuhmu masih lemah untuk bergerak berlebihan. Biar aku saja yang beres-beres."


Astrid menghela nafasnya. "Tapi Tan," ucapnya yang seketika di potong oleh Titan. "Sudah jangan menolak, jika kamu terus menolak aku akan menginap di sini."


Karena Titan bersi keras ingin membereskan apartemen. Astrid pun terpaksa tak menolak keinginan Titan, dari pada Titan harus menginap di apartemennya. Astrid hanya duduk diam sembari melahap bubur yang di berikan Titan padanya. Sementara Titan sibuk membereskan apartemen. Bahkan setelah beres-beres, Titan bukannya langsung pulang, tapi malah menyiapkan makan siang untuk Astrid.


Astrid sangat khawatir dengan keberadaan Titan di apartemennya. Jika Janus pulang, mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih besar. Tapi mau bagaimana lagi, sudah di suruh pulang, Titan masih saja tak mau pergi. Seharian Titan diam apartemen menemani dan mengawasi Astrid agar ia makan dan minum obat secara teratur. Bahkan sudah pukul lima sore Titan masih belum beranjak pergi.


"Tan, bukannya ini sudah sore. Kenapa kamu belum pulang juga?" tanya Astrid.


"Aku akan menemani kamu sampai pak Janus pulang. Kamu lagi sakit dan di sini tidak ada siapapun," jawab Titan.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba suara dering pesan dari ponsel Titan berbunyi. Ia pun segera mengecek pesan dari ponselnya tersebut.


"Trid, apa kemarin kamu sudah pergi ke vila milik keluarga Baskara yang berada di pantai?" tanya Titan sembari menatap layar ponsel.


"Belum, memangnya kenapa?" tanya balik Astrid.


"Kak Bianca mengirim pesan padaku. Dan dia bilang, kemungkinan pak Janus ada di sana," jawab Titan yang masih menatap layar ponselnya.


Sontak Astrid terburu-buru memasuki kamar untuk mengambil tas dan ponselnya. Dan kembali keluar, lalu segera beranjak pergi dari apartemen.


"Mau kemana? biar aku antar kamu ya," ucap Titan sembari meraih lengan Astrid.


Astrid pun melepaskan tangan Titan dari lengannya. "Tidak perlu Tan, jika aku pergi bersamamu. Kak Janus pasti akan salah paham."


"Kumohon Tan, biarkan aku pergi sendiri. Aku tak ingin masalahku dengan kak Janus semakin besar gara-gara aku bersamamu. Aku benar-benar tak ingin kehilangan dia," ucap Astrid.


Seketika Titan pun melepas tangannya dari lengan wanita yang jadi pujaan hatinya itu. Ucapan Astrid mampu membuat hati Titan sakit. Titan pun sampai berpikir bahwa ucapan Astrid memang benar adanya. Karena peran dia hanyalah sebuah penghalang bagi hubungan Astrid dan Janus. Titan harus membiarkan wanita yang sangat ia sukainya itu menyelasaikan masalahnya. Jika masalah beres, maka Astrid pun akan bahagia, begitu pun dengan Titan yang akan turut bahagia bila wanita yang sangat ia cintainya bahagia.


Astrid pergi ke vila yang berada di pantai menggunakan taxi yang ia pesan lewat online. Selama perjalanan, Astrid nampak gelisah dan berharap kali ini ia akan menemukan suaminya di sana.


Hanya butuh dua jam, taxi oline yang di tumpangi Astrid sampai di tempat tujuan. Astrid pun terburu-buru beranjak turun dari taxi menuju vila. Astrid memasuki gerbang, dan akhirnya ia mendapati Janus yang tengah berdiri di depan vila sembari menatap langit malam.


Senang dan juga terharu bisa dapat bertemu dengan suami yang sudah tak di temuinya selama dua hari. Astrid menitikan air matanya sembari menghampiri suaminya. Janus masih tak sadar bahwa Astrid berada tepat di belakangnya. Yang ia lakukan hanyalah terus fokus menatap langit.


"Apa selama ini kamu tidak merindukanku?" tanya Astrid dengan mata yang tak henti-hentinya mengeluarkan bulir air.

__ADS_1


Sontak Janus pun kaget saat mendengar suara wanita yang sangat di kenalinya itu. Ia pun menoleh ke arah Astrid berdiri. Lalu saat menatap, matanya pun mulai sedikit tergenang.


"Sedang apa kau di sini?" tanya balik Janus.


"Kamu bilang sedang apa? sudah dua hari ini aku mencarimu. Kenapa kamu pergi meninggalkan apartemen, aku sudah bilang kan tidak ingin berpisah denganmu," ucap Astrid dengan tangis yang semakin pecah.


"Tapi kita harus berpisah Trid. Jika aku terus bersamamu, kamu akan terus-menerus berperan jadi seorang istri tanpa bisa menikmati masa mudamu," ucap Janus meninggikan suaranya.


"Apa kamu akan bahagia bila tak bersamaku?" tanya kembali Astrid yang juga meninggikan suaranya.


Seketika Janus memalingkan pandangannya dari Astrid. "Aku akan berusaha untuk bahagia bila nanti kita sudah benar-benar berpisah."


"Aku tak yakin kamu akan bahagia. Yang aku yakinkan bahwa kamu akan selalu mencintaiku dan tak akan pernah bisa berpaling dariku," ucap Astrid.


Dengan mata yang tergenang, Janus memiringkan senyumnya. "Kamu pikir aku tidak akan bisa melupakanmu. Jangan percaya diri Trid, aku saja bisa melupakan cinta pertamaku. Kamu mungkin akan lebih mudah untuk kulupakan."


"Dasar pembohong, kamu berbicara padaku tapi tak bisa menatapku. Aku akan bertanya sekali lagi, apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Astrid yang terus-menerus menitikan air matanya.


"Sudah ku tegaskan, bahwa aku tidak mencintaimu lagi," jawab Janus yang masih saja tak berani menatap Astrid.


"Lalu mengapa kamu tak berani menatapku?" tanya kembali Astrid yang seketika ia meninggikan suaranya. "Tatap aku dan jawab pertanyaanku. Apa kamu sudah tidak mencintaiku?"


Sontak Janus pun langsung saja menatap istrinya. "A..aku," jawabnya terbata-bata.


Sudah jelas Janus tak bisa menjawabnya, karena ia memang masih mencintai wanita yang jadi belahan jiwanya itu. Ia terdiam membisu sembari menatap istrinya dengan mata yang tergenang. Yang seakan ia tengah menahan tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2