Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
36. Bukan Dia Yang Ku Inginkan


__ADS_3

Tak sedetikpun pikirannya berhenti memutari sosok Janus. Bukankah ia sedang berpergian bersama Bintang, tak bisakah hati dan pikirannya berhenti sejenak merenungi pria yang tak pernah peduli akan perasaannya itu. Bukankah Bintang pria yang lebih lama di sukainya. Mengapa hatinya terasa hampa, di saat seharian ini ia bersama dengan pria yang telah lebih dulu membuat jantungnya berdebar.


Sudah berbagai tempat telah di kunjungi Astrid bersama Bintang. Namun, tak sedikitpun hatinya merasa senang. Ia lebih banyak diam di bandingkan harus mengambil topik untuk obrolannya. Ini benar-benar sangat canggung bagi bintang, yang sedari tadi mengajaknya berbincang. Namun, Astrid hanya membalasnya dengan anggukan dan kalimat singkat.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bintang.


Astrid menggelengkan kepalanya lalu menjawab. "Tidak."


Bintang kemudian tersenyum menatap wanita yang tengah di landa kesedihan itu. Lalu memberikan sentuhan hangat untuk tangannya. Menggenggam erat tangan mungil dari perempuan yang tengah bersedih itu.


Astrid pun di buat diam membisu, menatap Bintang yang tengah tersenyum sembari mengenggeman erat tanganya. Tindakannya telah membuat Astrid gugup setengah mati. Bagaimana bisa ia bertindak layaknya seorang kekasih. Bahkan Janus sekalipun tak pernah melakukan hal seperti ini.


Mereka berjalan sembari bergandengan tangan. Namun entah mengapa, Astrid merasa tak nyaman. Ia pun kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Bintang. Saat terlepas, Bintang malah kembali menggengam erat tangan Astrid, lalu memasukannya ke dalam saku hoodienya.


"Bukankah begini jadi lebih hangat."


"Hm, sepertinya aku tak terbiasa berjalan sembari bergandengan tangan," ucap Astrid bernada gugup.


"Nanti juga akan terbiasa, lagian aku megang tanganmu hanya sampai restoran," ucap Bintang tersenyum manis menatap Astrid.


Ini benar-benar sangat canggung bagi Astrid. Tapi mau bagaimana lagi, Bintang bersi keras tak mau melepaskan tangannya. Astrid pun terpaksa harus berjalan sembari berpegangan tangan.


Dalam tiap langkahnya ia berandai bahwa pria yang menggandeng tangannya bukanlah Bintang, melainkan pria yang kini telah menempati posisi pertama di lubuk hatinya yang terdalam.


Lalu saat Bintang dan Astrid sampai di restoran. Restoran nampak sepi, bahkan tak ada satupun pengunjung di restoran tersebut. Bukankah tampak aneh hanya ada dua pengunjung di restoran tersebut. Lalu saat mereka mulai duduk, seorang waiters datang sembari membawa makanan yang bahkan belum di pesan Astrid maupun Bintang.


"Aku bahkan belum memesan makanan, apa restoran di sini memang seperti ini. Lalu kenapa hanya ada kita di restoran semewah ini?" tanya Astrid heran.


"Sebenarnya aku sudah membooking tempat ini."


"Bukankah sangat mahal jika kamu membooking tempat ini."


"Menurutku tidak apa-apa mahal. Karena ini merupakan hari spesial."

__ADS_1


"Hari spesial apa. Apa ini hari ulang tahunmu?"


"Ini bukan hari ulang tahunku. Nanti kamu pasti tahu alasanku mengosongkan restoran ini, lebih baik kamu makan dulu," jawab Bintang tersenyum.


Bintang benar-benar telah membuat Astrid penasaran setengah mati. Astrid tak sabar dengan apa yang di maksud Bintang tersebut. Ia pun terburu-buru menghabisakan pasta yang sudah di sajikan waiters di mejanya.


"Aku sudah menghabiskan semua pastanya. Jadi aku boleh tahu hal spesial apa yang kamu maksud."


Bintang tertawa kecil, melihat tingkah Astrid yang sudah menghabiskan pasta tanpa tersisa di mangkuknya. Bahkan ia sendiri belum menghabiskan semua pastanya.


"Kenapa terburu-buru menghabiskannya. Masih ada satu lagi hidangan pernutup."


Bintang lalu memberikan tepukan tangan kepada waiters, memberinya kode untuk segera membawa hidangan penutupnya. Yang kemudian waiters tersebut membawa dua desert untuk Astrid dan Bintang. Saat waiters menyimpan hidangan, Astrid merasa heran. Karena bukan hanya dua desert saja yang di letakan waiters di mejanya. Ada satu kotak perhiasan yang juga di simpan waiters di meja. Dan yang lebih membuat Astrid heran, mengapa tiba-tiba saja seseorang datang memainkan biola.


Seketika Bintang pun mengambil kotak perhiasan tersebut, lalu berlutut sembari membuka kotak perhiasan yang ternyata berisi kalung.


"Sebenarnya aku sangat menyukaimu dan aku ingin memiliki hubungan lebih denganmu. Jadi maukah kamu jadi pacarku."


"Maaf aku tidak bisa," ucap Astrid melangkah pergi meninggalkan Bintang yang tengah berlutut itu.


Astrid pergi terburu-buru keluar dari restoran tersebut. Hati dan pikirannya benar-benar sudah di penuhi oleh sosok Janus. Bahkan tanpa alasan apapun ia dengan tegas menolak pria yang telah lama di inginkannya.


Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Tersadarlah ia dengan pesan singkat yang di balas Janus tadi siang melalui ponselnya.


"Bukankah dia menyuruhku untuk bersenang-senang dan menikmati masa remajaku. Dia bahkan tak memperdulikan perasaanku mengapa aku harus peduli dengannya. Bukankah lebih baik jika aku menerima Bintang," gumamnya dengan kesal.


Astrid pun lalu berbalik arah, dan berlari menuju resetoran. Sesampainya ia di depan pintu restoran, Astrid berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan sehabis berlari. Setelah nafasnya kembali normal, Astrid kemudian membuka pintu sembari berteriak memanggil nama pria yang hari ini menyatakan perasaannya.


"Bintang."


Sontak Bintangpun di buat kaget dengan teriakan Astrid. Bintang tampak bingung dengan kembalinya Astrid ke restoran.


"Apa dia akan meminta maaf karena sudah menolaku," gumam Bintang di batinnya.

__ADS_1


Astrid menghampiri Bintang, lalu memegang kedua tangannya. "Apa pernyataanmu yang tadi masih berlaku."


"Iya."


"Aku mau jadi pacar kamu."


Sontak Bintang pun langsung saja medekap erat tubuh Astrid. "Terima kasih, aku benar-benar bahagia."


Menjadi kekasih Bintang merupakan harapannya dari dulu. Namun entah mengapa di saat Bintang mendekap, Astrid tak merasa bahagia sedikitpun. Hati dan pikirannya masih saja tertuju kepada Janus.


Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam Astrid berharap bahwa dengan di mulainya ia menjalin hubungan dengan Bintang, perasaanya terhadap Janus akan segera hilang.


...****************...


Pukul 20.00 Bintang mengantar Astrid pulang. Sesampainya di apartemen, Astrid mendapati Janus tengah memasang foto pernikahannya di ruang tengah.


"Kenapa kamu memasang foto itu?" tanya Astrid


"Sangat di sayangkan jika hanya di simpan saja, lebih baik di pasang."


"Kenapa harus di sayangkan, bukankah pernikahan kita hanya sekedar sandiwara. Foto itu tidak berarti bagi kita."


"Besok kakekku akan berkunjung kesini. Jadi tampak aneh jika foto pernikahan kita tidak di pasang... oh ya, bagaimana kencanmu dengan Bintang?"


"Hari ini kami mulai berpacaran."


Seketika raut wajah Janus tampak muram, hatinya terasa sakit mendengar kabar yang mungkin itu adalah kabar buruk baginya. Namun, mau bagaimana lagi ia sudah berjanji dan bersi teguh untuk tak akan menaruh hati pada wanita manapun termasuk istrinya. Janus pun menoleh, menatap Astrid dengan senyuman palsu yang menutupi kesedihannya.


"Selamat, semoga hubungan kalian bisa bertahan lama."


"Apa ucapanmu benar-benar tulus. Apa kamu senang mendengar kabar, bahwa aku menjalin hubungan dengan pria lain?" tanya Astrid dengan kesal.


Terasa berat untuk mengakui bahwa ia benar-benar tak senang dengan kabar tersebut. Sebenarnya hatinya teramat sakit mendengar istrinya menjalin hubungan dengan pria lain. Mau bagaimana lagi, ia tak berhak melarang Astrid untuk menjalin hubungan dengan pria manapun. Janus hanya tersenyum sembari mengangguk, lalu melangkahkan kaki memasuki kamar.

__ADS_1


__ADS_2