
Astrid pun menyeka air mata dari kedua pipi dan sudut mata Janus. "Berhenti menyalahi diri. Bukan salah kamu, jika ibumu meninggal sendiri tanpa dirimu. Saat itu kamu hanyalah seorang anak kecil yang tak mengerti apapun. Ibumu sengaja merahasiakannya darimu, mungkin karena dia sangat menyayangimu. Dia tak ingin kamu menangis seperti ini."
"Aku memang bodoh Trid. Padahal aku menyadari bahwa saat itu wajahnya pucat pasi dan berat badannya setiap hari berkurang. Aku ini sangat bodoh, aku malah merengek setiap hari ingin bertemu dengan ayahku. Seharusnya saat itu aku tak meminta untuk menemui ayahku. Mungkin saja saat itu, aku masih berada di sisinya. Dia tak mungkin meninggal dalam keadaan kesepian," ucap Janus dengan mata yang tak hentinya mengeluarkan bulir air.
Menatap suaminya yang tak henti meneteskan air mata. Membuat Astrid pun tak bisa membendung juga air matanya. Hatinya pun ikut sakit saat menatap pria yang sangat di cintainya itu terus menyalahi diri. Walau sebenarnya ia sama sekali tak bersalah. Karena saat itu, Janus masih terlalu kecil untuk menyadari tentang kondisi ibunya. Tapi bagi Janus, dia adalah orang yang paling bersalah karena tak bisa menemani ibunya di saat-saat terkahir. Bahkan ia pun sempat membenci ibunya karena telah pergi meninggalkannya di Indonesia.
Bulan madu yang di harapkan akan bahagia, malah penuh dengan tangis. Walau sebenarnya, baik Astrid maupun Janus, keduanya menginginkan bulan madu di korea ini penuh dengan kebahagian. Tapi malah berakhir menyedihkan, setelah Janus mengetahui bahwa ibunya sudah tiada. Astrid juga sangat bersedih, ia yang sudah mempersiapkan diri akan bertatap muka dengan ibu mertua. Malah mendapati sebuah makam atas nama wanita yang telah melahirkan belahan jiwanya itu.
Setelah Janus merasa tenang, Astrid dan Janus pun kembali ke rumah Kim Yu Ri untuk mengembalikan mobil yang di pinjamnya. Tak lama setelah mengembalikan mobil, Janus dan Astrid pun segera bergegas pulang ke seoul. Pergi menggunakan kereta, begitu pun juga pulang ke seoul menggunakan kereta.
Selama perjalanan pulang ke seoul, Janus hanya diam membisu dengan raut wajah yang tak henti-hentinya memancarkan kesedihan. Bahkan ia pun tenggelam dalam lamunannya. Ia terlalu syok untuk menerima kenyataan bahwa wanita yang telah melahirkannya itu telah pergi jauh meninggalkannya. Astrid ingin sekali menghibur pria yang tengah bersedih itu. Namun, Astrid tak mampu untuk menghiburnya. Karena saat ini, suaminya butuh waktu sendiri.
Sesampainya di apartemen, Janus pun mulai berbicara. Ya walaupun ia sebenaranya hanya bertanya tentang menu makan malam yang ingin Astrid makan malam ini. Astrid hanya menjawab, makan malam yang saat ini ia inginkan hanyalah hidangan sederhana yaitu ayam goreng korea. Yang sering di lihatnya di drama korea yang ia tonton.
Janus lalu segera beranjak keluar untuk membeli makanan yang di inginkan istrinya tersebut. Sementara Astrid, sembari menunggu suaminya kembali. Ia pergi mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah berkeringat setelah seharian ia pergi ke Busan. Seusai mandi, Astrid mengenakan bathroob yang ia gantung di kamar mandi.
Astrid kemudian beranjak ke ruang tengah. Saat sampai di sana, Janus ternyata sudah kembali dari luar. Ia kembali membawa sebungkus ayam goreng korea yang di pesan Astrid dan juga dua botol soju, minuman keras khas korea.
Di ruang tengah Astrid mendapati Janus tengah mabuk sembari duduk di lantai. Ia tak hentinya meminum soju yang ia beli bersama ayam goreng. Astrid pun ikut duduk di sebelah suaminya, lalu meraih gelas kecil yang tengah di pegang suaminya tersebut.
__ADS_1
"Berhenti meminum ini," ucap Astrid.
Janus merebut kembali gelas kecil yang di raih istrinya. "Untuk malam ini saja jangan melarangku meminum-minuman ini."
Janus tak hentinya meminum soju, sementara ayam yang ia bawa masih saja utuh tanpa di sentuh sedikit pun.
"Kak, jika kamu hanya minum saja itu tidak baik bagi tubuhmu. Kamu harus makan bukan hanya minum," lontar Astrid.
"Kamu saja yang habiskan ayamnya. Aku tidak nafsu makan," ucap Janus sembari memandangi gelas kecil yang ia tuangi soju.
Sembari minum, Janus kembali menitikan air matanya. "Mianhae eomma (Maafkan aku ibu)," gumam Janus.
"Sudah ku bilang, jangan pernah menyalahi diri. Kamu sama sekali tidak salah apapun," ucap Astrid.
Dalam dekapannya, tangis Janus pun kembali pecah. Ia yang tengah mabuk itu, terlalu merindukan wanita yang di panggilnya eomma. Pikirannya tak henti-hentinya membayangkan sosok wanita yang telah melahirkannya itu. Di mulai momen-momen saat bersamannya, hingga senyuman dari raut wajah ibunya terus terlintas dalam pikirannya. Hatinya terlampau sakit saat bayang-bayang ibunya terus hadir di pikirannya saat ini. Sembari menitikan air matanya, Janus terus mengusap dada sebelah kirinya yang terasa sakit itu.
Astrid yang melihatnya pun membuat hatinya ikut merasa sakit. Ia semakin erat mendekap tubuh pria yang tengah menitikan air matanya. Astrid tak bisa lagi membendung air matanya, hingga ia pun ikut larut menangis bersama suaminya.
Hingga beberapa saat mereka menangis, Janus pun tertidur di sandaran pundak istrinya. Astrid tak berani untuk membangunkan pria yang tengah tertidur pulas di pundaknya. Ya, walaupun tak nyaman, pada akhirnya mereka pun tertidur saling bersandar.
__ADS_1
...****************...
Esok harinya Astrid terbangun dari tidurnya, dan mendapati Janus tengah panik sembari berteleponan. Yang entah siapa orang yang tengah menelpon suaminya tersebut.
"Kita harus buru-buru pulang sekarang Trid," ucap Janus ketika ia sudah menutup teleponnya.
"Memangnya ada apa, kenapa harus buru-buru pulang?" tanya Astrid heran.
"Barusan sekertaris ayahku menelpon, dan memberitahu bahwa kakek sedang kritis di rumah sakit," ucap Janus gelisah.
Sontak Astrid pun terburu-buru bersiap-siap untuk pulang. Saking terburu-burunya, Astrid bahkan tak sempat mandi. Karena Janus menyuruhnya untuk cepat, agar Janus bisa segera memesan tiket yang jadwal penerbangannya di lakukan pagi hari.
Setelah Astrid berganti pakaian, mereka pun segera bergegas pergi. Janus dan Astrid pergi ke bandara menggunakan taxi yang di pesannya lewat online. Sesampainya di bandara, Janus segera memesan dua tiket menuju Indonesia. Dan untung saja Janus mendapatkan tiket yang jadwal penerbangannya akan di laksanakan pada pukul 09.00. Karena saat ini baru pukul 08.00, Janus dan Astrid hanya perlu menunggu keberangkatan pesawat yang akan di lakukan satu jam lagi.
**
Sembari menunggu pesawat lepas landas, Janus teramat gelisah. Ia tak hentinya merasa cemas terhadap pria paruh baya yang tengah kritis di rumah sakit. Dan lagi-lagi perasaan Janus kembali merasa tidak enak. Astrid pun lalu meraih tangan pria yang tengah di landa kecemasan itu.
"Tenangkan dirimu kak, yakinlah bahwa kakek pasti akan baik-baik saja," ucap Astrid menenangkan hati Janus.
__ADS_1