Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
101. Rasa Penasaranku Membuatku Takut


__ADS_3

Dua minggu setelahnya Astrid dan Janus kembali bertemu Bima dan Yeni di restoran. Dan dua minggu beringkutnyapun mereka selalu bertemu di restoran, bahkan secara rutin setiap dua minggu berturut-turut mereka selalu saja membuat janji temu di restoran milik putra kedua dari Adit Sayuda itu.


Tiap kali mereka bertemu, mereka selalu melakukan hal yang sama, yaitu Yeni yang selalu saja memberikan amplop coklat tebal kepada Bima. Dan tiap kali Bima selesai mengambil amplop pemberian Yeni, ia selalu saja berteriak meminta Janus untuk lebih menjaga kakak sambungnya. Bukankah itu terasa aneh bagi Janus maupun Astrid. Akan tetapi tiap kali Astrid meminta Janus untuk mencari tahu tentang siapa sosok Bima, ia selalu saja mengabaikan saran dari istrinya tersebut. Dia tak mau peduli tentang rahasia yang di sembunyikan ibu sambungnya itu. Terlebih lagi Janus tak ingin membuat masalah yang bisa saja membuat istrinya terlibat.


Bukan Janus tak merasa penasaran dengan pria setengah paruh baya bernama Bima itu. Tapi ia takut, bila suatu saat ia tahu kebenaran tentang fakta yang di sembunyikan ibunya, itu malah akan membuat Astrid terbawa-bawa oleh ancaman yang mungkin saja ibu dan kakak sambungnya lakukan.


Karena saat ini Janus sudah memiliki orang yang harus di lindungi ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Apa lagi Janus sudah lama mengenal sikap dari Yeni dan Bayu.


Walau Janus sudah menolak saran istrinya, setiap hari istrinya terus saja memintanya untuk mencari tahu tentang apa yang membuatnya penasaran itu. Janus sudah sangat jengkel dengan permintaan dari istrinya tersebut.


"Ini pasti ada yang di sembunyikan bu Yeni, dan ini pasti berkaitan dengan kamu. Kamu seharusnya mencari tahu, mungkin saja dia berencana ingin melukaimu. Seperti halnya orang kaya lakukan seperti biasanya," desak Astrid.


"Aku tidak tertarik dan tidak peduli dengan apa yang di sembunyikan ibu maupun apa yang di ketahui Bima mengenai sesuatu yang di rahasiakan ibu. Memangnya hal seperti apa yang akan mereka lakukan?" tanya Janus menggeleng sembari fokus menatap layar laptop.


"Mungkin saja ayah kamu sudah menyiapkan sebuah warisan untukmu. Dan kemungkinan bu Yeni tahu, lalu dia berencana melenyapkan nyawamu, agar semua warisannya jatuh ke tangan Bayu," terang Astrid.


Janus kembali menggelengkan kepalanya, ia tersenyum sembari mengusap kepala Astrid. "Memangnya kamu nonton drakor apa, sampai imajinasimu sudah seperti penulis sinetron."


Seketika Astrid menyingkirkan tangan Janus dari kepalanya. "Bukan waktunya kamu bercanda di situasi seperti ini. Akan jauh lebih baik, jika kamu segera mencari tahu tentang apa yang di rahasiakan bu Yeni kepada kita. Kamu tahu kan jika bu Yeni sama Bayu itu tipe orang yang akan melakukan apapun demi apa yang mereka inginkan. Aku tahu kamu tidak akan tertarik dengan harta, tapi kamu akan selamat dari mereka bila kamu segera mengetahui yang sebenarnya," ucapnya dengan raut wajah yang di tekuk kesal.


Janus menghela nafasnya. "Kita akan selamat dari mereka, bila kita tidak ikut campur dengan urusan mereka."

__ADS_1


Janus mematikan dan menutup laptopnya, kemudian meletakannya di meja sebelah tempat tidurnya. Setelah itu ia pun segera menarik selimut dan membaringkan tubuhnya. "Lebih baik kamu langsung tidur saja, dari pada kamu terus berimajinasi yang sangat tak masuk akal," ucapnya sembari menutup kedua mata.


"Tidak masuk akal katamu? Aku hanya ingin mengingatkan, agar kamu bisa mengatasinya bila sudah mengetahuinya lebih awal," ucap Astrid semakin kesal.


Janus kembali terbangun. " Apa kamu tahu hal yang paling menakutkan bagiku?" tanyanya dengan tatapan sinis.


Sembari menatap, Astrid seketika terdiam seribu bahasa, setelah tatap sinis yang di lakukan suaminya itu.


Janus kembali menghela nafasnya. "Yang aku takutkan adalah mereka akan menyakitimu. Aku tak apa bila harus di sakiti mereka, karena memang aku sudah terbiasa. Aku tak sanggup bila mereka sampai bertindak kepadamu." Janus beranjak dari tempat tidur menuju pintu keluar.


"Kak, mau kemana?" seru Astrid heran.


Astrid kesal, tapi marahnya Janus memang salahnya sendiri yang terus-menerus merengek memintanya mencari tahu tentang sesuatu yang sangat membuatnya penasaran setengah mati. Astrid memang ingin mencari tahu sendiri, tapi bila ia mencari tahu sendiri tanpa di ketahui oleh Janus, itu akan membuat Janus akan semakin marah padanya.


Astrid pun harus mengurungkan niatnya itu, walaupun rasa penasaran dan ketakutan selalu saja membayanginya. Akan jauh lebih baik, bila hubungannya dengan Janus baik-baik saja, dari pada harus mencari tahu, lalu setelahnya akan menimbulkan masalah bagi hubungannya.


Astrid menarik selimut, lalu membaringkan tubuhnya. Kedua matanya ia tutup secara rapat, namun belum juga ia terlelap tidur. Tiba-tiba ia terbangun karena suara dering telepon di ponselnya.


Sontak Astrid pun segera meraih ponsel yang ia letakan di meja sebelah tempat tidurnya. Saat menatap layar ponsel, Astrid di buat heran dengan si penelepon yang nomornya tidak ia save.


Astrid mengangkat panggilan dari teleponnya. "Hallo."

__ADS_1


Terdengar suara perempuan memanggil dirinya di telepon. "Hallo Astrid." Nada suaranya bergetar, suara sengau seperti tengah menangis terdengar di telinga Astrid. Suara tersebut terdengar seperti suara Luna.


"Ini kak Luna kan?" tanya Astrid.


"Iya, aku Luna. Trid bisa menolongku tidak? Tapi kamu tidak boleh memberitahu Janus."


"Meminta tolong apa?" tanya kembali Astrid dengan heran.


"Kita bertemu terlebih dahulu, biar aku ceritakan setelah kita bertemu," jawab Luna dengan suara yang masih saja terdengar sengau dan bergetar.


Astrid mengiyakan permintaan Luna tersebut. Astrid menutup teleponnya lalu segera berganti baju. Setelah itu ia pun terburu-buru beranjak pergi menggunakan taxi online ke alamat yang di kirimkan Luna lewat ponselnya.


Sesampainya di sana, Luna tampak berantakan. Rambut acak-acakan serta mata sembab seperti habis menangis tampak jelas terlihat. Luna terlihat seperti bukan Luna yang seperti biasanya, yang selalu tampil cantik bak seorang model. Kini ia benar-benar sangat jauh berbeda dari biasanya.


"Kak Luna, memangnya ingin meminta tolong apa?" tanya Astrid panik.


"Maaf sudah mengganggu waktumu." Luna meraih tangan Astrid. "Tolong temani aku temui Bayu, aku tak tahu harus meminta tolong siapa lagi. Karena kamu istri dari adik suamiku, mungkin kamu akan mengerti dan bisa menjaga rahasiaku bila nanti aku menemukan Bayu."


"Aku pasti akan membantu mencarinya, dan sebisa mungkin aku juga akan merahasiakannya. Jadi, tempat mana yang perlu kita datangi terlebih dahulu?" tanya kembali Astrid.


Luna menunjukan ponselnya kepada Astrid. "Temanku melihatnya di klub malam ini. Kita harus segera kesana sebelum ada yang memotretnya dan menyebar luaskan fotonya yang tengah berada di klub."

__ADS_1


__ADS_2