Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
103. Khawatir


__ADS_3

Janus pulang ke rumah dengan raut wajah yang di tekuk kesal. Kesal dan marah, memang di rasa Janus saat ini. Astrid pergi larut malam tanpa sepengetahuan Janus, hingga membuatnya khawatir setengah mati. Terlebih lagi, Janus mendapati kabar bahwa istrinya itu pergi ke klub malam. Bagaimana ia tidak khawatir, klub malam merupakan tempat yang sangat berbahaya bagi perempuan polos seperti Astrid. Pria mabuk dan nakal di sana sangat banyak. Apa lagi Astrid pergi pada jam yang hampir menjelang tengah malam.


"Kak, maaf," ucap Astrid mengikuti Janus memasuki kamar.


Janus mengabaikan Astrid, ia langsung saja menarik selimut dan membaringkan diri di tempat tidur. Janus menutup kedua matanya tanpa membalas terlebih dahulu permintaan maaf dari istrinya.


Astrid jadi merasa bersalah atas sikapnya yang pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada Janus. Jika saja Luna tidak melarang memberitahu Janus, mungkin saja Astrid akan meminta ijin terlebih dahulu terhadap suaminya itu. Ya, walaupun Janus pasti ikut menemani Astrid bila ia memberi ijin. Setidaknya, mungkin Janus tidak akan semarah ini kepada Astrid.


Astrid tak ingin membuat Janus marah terlalu lama terhadapnya, sekali lagi ia pun memohon maaf kepada suaminya itu. Astrid menepuk Janus yang tengah tertidur sembari memunggunginya.


"Kak, maaf ya, jangan marah gitu dong. Bukannya aku tidak ingin meminta ijin terlebih dahulu. Tapi kak Luna memintaku untuk tak memberitahumu."


Janus membuka kedua matanya, ia berbalik menghadap ke arah Astrid berbaring. "Kenapa kamu harus menurutinya. Kamu itu istriku, kemanapun kamu pergi, kamu harus meminta ijin terlebih dahulu kepadaku. Saat kamu tidak ada di rumah, aku sangat khawatir setengah mati. Terlebih lagi, kamu pergi pada tengah malam. Dan aku mendapati telepon bahwa kamu pergi ke klub."


"Bukannya aku tidak mau meminta ijin, tapi kamu tahu kan saat terakhir kita menolong kak Luna. Kamu seperti menyesal telah menolongnya, bukannya akan lebih baik jika aku langsung pergi memabantunya. Karena jika aku meminta ijin terlebih dahulu, kamu mungkin akan ikut bersamaku. Dan pada akhirnya kak Bayu akan mencurigaimu lagi, bahwa kamu masih menyukai istrinya," ucap Astrid dengan kedua mata yang tergenang.


Janus menghela nafasnya. "Tidak ada yang lebih baik jika kamu pergi keluar tengah malam tanpaku. Aku lebih baik di curigainya, dari pada harus membuatmu pergi seorang diri menemani Luna, apa lagi sampai harus pergi ke klub malam," ucapnya bernada marah.


"Bukannya aku baik-baik saja, bahkan aku tak terluka sedikit pun, kenapa kamu harus semarah itu. Seharusnya kamu bersyukur karena aku kembali dengan selamat."


"Aku sangat lega dan bersyukur karena kamu baik-baik saja. Tapi kamu harus tahu, aku marah supaya kamu tidak mengulang hal seperti tadi lagi." Janus kembali menghela nafasnya. "Aku sangat mengkhatirkanmu, apa lagi tadi Wandi memberitahuku bahwa kamu di ganggu oleh pria mabuk. Lalu saat mendapati kabar bahwa kamu sedang di rumah sakit, ku pikir kamu terluka karena ulah pria itu. Aku sangat takut jika kamu sampai terluka, dan di saat itu aku tidak ada di sampingmu untuk melindungi."


Seketika mata yang sedari tadi tergenang tak bisa terbendung lagi. Astrid pun menangis setelah mendengar ucapan suaminya itu. Ia sangat merasa bersalah telah membuat suaminya khawatir.


"Aku minta maaf, maaf sudah membuatmu khawatir."

__ADS_1


Sontak Janus pun panik saat istrinya menangis sembari meminta maaf, ia pun langsung saja mendekap erat tubuh istrinya.


"Maaf-maaf, jangan menangis, jika menangis aku juga ikut merasa sedih."


"Aku minta maaf karena sudah membuatmu marah dan khawatir. Aku hanya ingin membantu kak Luna tanpa harus membuat Bayu marah terhadapmu," ucap Astrid sembari menangis sesegukan.


Karena merasa bersalah, tangis Astrid semakin keras terdengar. Janus yang tadinya marah malah jadi merasa bersalah. Walau panik, Janus juga sedikit tersenyum karena Astrid yang menangis sudah seperti anak kecil. Astrid menangis tampak menggemaskan, hingga membuat Janus sampai menahan tawa melihatnya. Marahnya Janus sedikit mereda berkat Astrid yang menangis itu.


Dan hanya butuh lima belas menit Janus menenangkan Astrid, istrinya langsung terlelap tidur dalam pelukannya. Begitupun dengan Janus yang juga ikut tertidur pulas.


...****************...


Pagi harinya saat sarapan, Astrid tak berkutip sama sekali. Ia sangat malu bila mengingat tadi malam ketika ia menangis sesegukan seperti anak kecil. Saking malunya, Astrid sampai tak berani menatap Janus. Ia hanya fokus menyantap makanan tanpa berbicara sedikitpun.


Bahkan ketika berangkat bekerjapun, Astrid sama sekali tak mau berbicara sedikitpun. Bukan karena marah atau kesal, ia hanya merasa malu dan merasa bersalah atas apa yang ia lakukan tadi malam. Diamnya Astrid sampai-sampai membuat Janus curiga, bahwa ia pikir Astrid masih kesal terhadapnya.


Janus menelan salivanya, lalu sedikit melirik ke arah Astrid. "Kamu masih marah?" Tanyannya.


"Apa maksudmu? Hm, mana mungkin aku marah," jawab Astrid bernada gugup.


"Lalu mengapa dari tadi hanya diam saja?" tanya kembali Janus.


Sembari menggigit bibir bawahnya, Astrid menjawab. "Aku malu."


Seketika Janus pun tersenyum. "Memangnya apa yang membuatmu malu?"

__ADS_1


"Apa tadi malam aku menangis terlalu berlebihan?" Tanya balik Astrid sembari memegang kedua pipinya yang nampak memerah.


"Tidak, justru kamu tampak menggemaskan," jawab Janus tersenyum sembari membayangkan istrinya yang menangis tadi malam.


"Cih," lidah Astrid berdecik. "Tak perlu di ingat-ingat lagi, lupakan soal aku yang menangis itu."


"Memangnya kenapa? Aku suka ko melihatnya."


Astrid menggeleng. "Aku ragu kamu orang yang normal, melihat aku menangis seperti itu, kamu malah suka. Bila di lihat, wajahku tampak jelek saat menangis, jadi jangan mengingat-ngingat yang tadi malam."


Sembari menyetir, tangan sebelah kiri Janus mengelus kepala Astrid. "Menurutku, kamu selalu terlihat cantik. Walau sedang menangis ataupun tengah tersenyum."


***


Lima belas menit di perjalanan, Astrid dan Janus sampai di restoran. Janus dan Astrid masuk ke dalam restoran, tapi ketiga pekerjanya malah asyik menatap layar ponsel yang di pegang oleh Tika.


Janus menghampiri ketiga pekerjanya. "Sedang melihat apa? Apa kalian sudah selesai membereskan semua ruangan?" Tanya Janus sembari menatap layar ponsel milik kasirnya itu.


Sontak ketiga pekerjanya pun di buat kaget setelah mendengar suara Janus. Karena kaget, Tika langsung saja memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


Sementara Janus, setelah melihat layar ponsel milik Tika, ia malah di buat heran dengan artikel yang sekilas di bacanya. Artikel tersebut menyebutkan tentang direktur eksekutif STAR.CORP yang tertangkap kamera tengah mengonsumsi narkoba.


"Boleh saya melihat artikel yang tadi," pinta Janus kepada Tika.


Tika kembali mengeluarkan ponselnya, lalu membuka mesin pencari. Namun saat ia kembali membuka artikel, tiba-tiba saja artikel yang tadi di bacanya hilang di mesin pencarian.

__ADS_1


"Maaf pak, tapi artikelnya hilang. Saya juga sudah bulak-balik mencari artikel yang tadi, anehnya artikelnya malah tiba-tiba hilang."


__ADS_2