
Setelah ujian berakhir, satu bulan kemudian pembagian kelulusan. Sebuah amplop berwarna putih di bagikan kepada seluruh murid. Masing-masing mendapatkan satu amplop. Hari yang menegangkan bagi Astrid, karena di hari itu adalah hari penentuan kelulusannya.
Sembari memegang amplop putih, Astrid tampak gelisah. Ingin sekali Astrid segera membuka kertas putih berbentuk persegi panjang itu. Namun, suaminya yang sebagai wali kelasnya itu masih memberikan sebuah pengarahan kepada murid-murid di kelas.
Astrid sama sekali tak bisa fokus mendengarkan pengarahan yang di berikan suaminya itu. Ia sangat tidak sabar ingin segera membuka amplop yang berisi kertas kelulusannya.
Setelah lima belas menit berlalu, Janus pun selesai memberikan pengarahan. Akhirnya murid-murid di kelas pun di persilahkan untuk membuka amplop.
"Silahkan buka amplonya," lontar Janus.
Astrid menarik nafas panjangnya, dan menghembuskannya dengan cepat. Ia membuka amplopnya perlahan lalu mengambil kertas yang di lipat rapih di dalam amplop tersebut. Saat ia membaca tulisan di kertas, Astrid di buat terkejut dengan tulisan hitam besar yang menyatakan bahwa murid yang bernama Astrid Githa Ardana di nyatakan lulus.
"Aku lulus," ucap Astrid dengan suara keras.
Spontan semua murid di kelas pun terpaku menatap Astrid yang berteriak kegirangan.
Janus tersenyum sembari menatap istrinya. "Selamat Astrid."
Sontak semua murid perempuan pun di buat iri saat gurunya itu mengucapkan kata selamat untuk istrinya.
"Pak aku juga lulus masa tidak di beri selamat," ucap salah satu murid perempuan.
"Dih, pelakor harap mundur. Di larang caper," lontar Hilda.
Janus pun tersipu malu, ia di buat tertawa dengan tingkah laku dari murid-murid perempuannya.
"Selamat untuk semuanya karena di kelas ini seratus persen di nyatakan lulus semua," ucap Janus.
**
Setelah kelulusan Astrid masih di sibukan belajar untuk tes masuk ke universitas. Terlampau lelah bagi Astrid, yang seharusnya setelah kelulusan ia beristirahat ia di haruskan kembali belajar demi masuk ke universitas impiannya. Walaupun lelah, Astrid tak sedikitpun mengeluh demi bisa masuk ke universitas yang sangat ia ingikan itu. Setelah dua minggu ia belajar, akhirnya Astrid pun melakukan tes. Menebarkan namun juga menyenangkan karena Astrid bisa berada di tahap ini setelah dua belas tahun ia menjenjang pendidikan.
Esoknya setelah tes, pagi-pagi sekali Janus membangunkan Astrid. Astrid yang masih menutup rapat matanya, harus terbangun akibat Janus yang menepuk-nepuk pipinya.
__ADS_1
"Ada apa kak?" tanya Astrid dengan mata yang masih setengah terbuka.
"Ini sudah pagi, ayo bangun," jawab Janus yang masih menepuk-nepuk pipi Astrid.
Spontan Astrid pun menatap jam waker yang berada di meja sebelah tempat tidurnya. Namun saat matanya menatap jam, Astrid di buat keheranan. Mengapa suaminya itu membangunkannya, padahal jam masih menunjukan pukul 03.00. Masih terlalu gelap untuk Astrid terbangun sepagi itu.
"Ini jam tiga loh, langit pun masih gelap. Kenapa kamu membangunkanku. Dan pakaianmu sangat rapih, memangnya mau kemana sih?" tanya Astrid.
"Aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat," jawab Janus.
"Aku masih ngantuk." Astrid langsung mengerumuni diri dengan selimut. "Biarkan aku tidur sebentar, habis itu kita pergi," ucapnya kembali menutup rapat kedua matanya.
"Padahal tempat yang akan kita kunjungi adalah tempat bulan madu kita. Jika kamu tidur lagi, kita akan melewati momen indah," ucap Janus di tekuk kesal.
Sontak Astrid pun langsung saja membuka selimutnya. "Kita akan pergi bulan madu kemana? Bali, jogja, atau labuan bajo," ucapnya yang kegirangan.
"Pokonya kita akan pergi ke tempat indah yang kamu sukai."
Astrid sangat senang sekali saat suaminya itu mengajaknya pergi untuk bulan madu. Ini merupakan penantian yang sudah lama di nanti Astrid dan juga suaminya. Astrid sangat tidak sabar ingin segera pergi ke tempat indah yang belum di sebutkan suaminya itu. Hingga membuatnya terbayang-bayang tentang tempat-tempat terbaik untuk pergi berbulan madu.
Seusai bersiap-siap Astrid pun keluar dari kamarnya sembari membawa koper yang sudah di isi dengan baju-bajunya.
"Kenapa kamu membawa koper?" kita di sana hanya akan menginap sehari," ucap Janus heran.
"Mana ada bulan madu yang hanya menginap satu hari," ucap Astrid.
"Kita tidak akan pergi terlalu jauh," ucap Janus lalu dengan cepat ia menarik lengan Astrid. "Sudahlah tak apa, kita harus segera pergi sebelum terlambat."
"Memangnya kita mau kemana, jangan bilang kamu mengajaku pergi menginap di hotel yang ada di kota ini."
"Tentu saja tidak, pokoknya ini kejutan. Setelah sampai di sana kamu pasti akan suka."
Astrid pun di buat penasaran dengan tempat yang tidak sebutkan namanya itu. Walau penasaran Astrid tak akan bertanya lagi, karena ia berpikir bahwa Janus akan memberinya sebuah kejutan yang akan membuatnya senang. Dan di manapun tempat yang akan di kunjunginya, asal bersama suaminya Astrid sudah pasti senang. Astrid jadi tidak sabar ingin segera sampai kesana.
__ADS_1
Setelah dua jam perjalanan, Janus langsung mengeluarkan sebuah kain dari laci mobilnya.
"Sebelum pergi kesana aku ingin matamu di tutup terlebih dahulu," ucap Janus sembari menutup mata istrinya dengan kain yang ia pegang.
"Memangnya kejutan apa yang akan kamu berikan padaku?" tanya Astrid yang semakin di buat penasaran.
"Karena ini kejutan, aku ingin kamu tidak banyak bertanya," ucap Janus.
Astrid mengangguk sembari tersenyum. "Hm, baiklah suamiku."
"Di larang bertingkah menggemaskan sebelum malam tiba," ucap Janus yang juga tersenyum. Lalu kembali menancap gas mobilnya
Sontak Astrid pun tersipu malu atas ucapan suaminya itu. Astrid di buat berdebar, hingga membuatnya gugup setengah mati.
Sesampainya di tempat tujuan, Janus memapah Astrid ke tempat di mana ia akan memberikan kejutan. Astrid sangat gugup, tak hentinya ia bertanya dalam benaknya tentang tempat apa yang akan di tunjukan suaminya itu. Hingga membuatnya harus menutup kedua mata istrinya.
Setelah beberapa langkah Astrid berjalan, suara ombak terdengar keras di telinganya di barengi dengan angin yang berhembus menyentuh setiap inci kulitnya.
"Ini di pantai kan? jangan bilang kita pergi berbulan madu ke vila yang pernah kita kunjungi waktu itu." ucap Astrid.
"Bisa di bilang begitu. Tapi tempat ini akan menjadi spesial, karena aku akan memberimu sebuah momen indah yang tak akan pernah kamu lupakan," ucap Janus sembari menghentikan langkah Astrid.
Janus kemudian membuka kain yang menutup kedua mata istrinya. Saat kain mulai terbuka, sebuah kejutan tak terduga pun terjadi.
"Happy birthday Astrid," ucap serentak dari kedua teman Astrid dan juga teman-teman Janus yang turut hadir memberikan kejutan.
Kejutan yang sangat membuat Astrid terkejut dan juga menangis haru. Astrid sampai menutup mulutnya. Ia tak menyangka, bahwa suami dan teman-temannya menyiapkan kejutan ulang tahun di pantai dengan sebuah pemandangan dari matahari terbit.
Sembari berurai air mata Astrid memeluk Janus. "Dari mana kamu mempunya ide untuk memberiku kejutan ulang tahun ini."
"Saat terakhir kita datang ke tempat ini, kamu sangat menyukai pemandangan matahari terbit di laut. Jadi aku memiliki ide untuk memberimu kejutan ulang tahun di pantai dengan pemandang matahari terbit," ucap Janus tersenyum.
"Woy kapan lilinnya bakal di tiup keburu leleh, kalian malah enak-enakan pelukan di hadapan orang jomblo," lontar Rio.
__ADS_1