
Setelah di dorong Janus, Titan masih duduk di lantai. Ia di buat shock dengan ucapan Janus, dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya itu.
"Astrid masih sekolah, kenapa kamu setuju untuk menikahinya. Dan maksud dari tidak benar-benar menikah itu apa?" tanya Titan yang masih tak mengerti dengan apa yang di jelasankan Astrid padanya.
Astrid kemudian masuk ke kamarnya, memgambil selembar kertas perjanjian yang telah di buatnya bersama Janus beberapa hari yang lalu. Lalu menunjukannya kepada Titan
"Kita harus menikah lebih awal karena kakeknya pak Janus sedang sakit kanker stadium akhir dan kemungkinan umurnya sudah tidak akan lama lagi. Aku pernah dengar dari kakek ku dulu, jika kami memang sudah di jodohkan sejak lama. Karena pak Baskara sedang sakit, kita terpaksa buru-buru menikah. Agar ia bisa menyaksikan pak Janus menikah sebelum ia tiada," ucap Astrid.
Titan membaca semua isi perjanjian di kertas yang di tunjukan Astrid padanya. "Jadi dua tahun mendatang kamu dan pak Janus akan bercerai."
"Iya kami akan bercerai dan hidup normal seperti sebelumnya."
"Tunggu-tunggu, aku masih curiga dengan kalian berdua." Titan menatap tajam Astrid menghampirinya yang kemudian menyentuh lehernya yang terdapat kiss mark.
Astrid panik, secepat mungkin ia menyingkirkan tangan Titan dari lehernya. "Apa yang kamu lakukan."
Titan seketika tersenyum menyeringai sembari menatap Astrid dan Janus dengan tatapan mencurigai. "Saat aku datang aku mendapati pak Janus tidak mengenakan pakaian. Dan juga melihat leher kamu yang tampak merah seperti bekas ciuman."
Baik Astrid maupun Janus keduanya di buat shock dengan kecurigaan Titan. Keduanya kompak menelan salivanya dengan gerak-gerik yang nampak gelisah.
"I...ni tadi pas tidur aku terjatuh dan leherku menimpa meja yang berada di sebelah tempat tidurku," ucap Astrid dengan nada suara yang bergetar.
"Iya benar, dia tadi jatuh. Dan setiap tidur, aku memang selalu tak mengenakan atasan. Lagian aku tidak benar-benar telanjang" sambung Janus.
Alula dan Hilda seketika menarik Titan ke kamar yang di tempati oleh Janus dan Astrid.
"Ga usah curiga yang berlebihan, mereka mana mungkin melakukan sesuatu yang sering di lakukan sepasang suami istri. Hampir setiap hari mereka bertengkar," ucap Hilda.
"Iya benar. Lihatlah, tempat tidurnya pun terpisah. Jadi, tidak usah mencurigai teman kami dengan pikiran kotormu," ucap Alula yang kesal terhadap Titan karena masih tak mempercayai apa yang di jelaskan Astrid dan Janus padanya.
"Iya... iya aku percaya sama penjelasan kalian. Jadi lepaskan aku," ucap Titan melepas tangan Hilda dan Alula dari lengannya.
__ADS_1
Kemudian kembali menghampiri Astrid, menatapnya dengan bibir yang membentuk senyuman. "Bagus kalian tidak sepenuhnya jatuh cinta atau benar-benar menikah. Aku sempat kaget saat melihat foto pengantin kalian berdua."
"Maksud dari tidak sepenuhnya jatuh cinta apa?" tanya Astrid tampak kebingungan dengan ucapan Titan.
Titan memegang kedua pundak Astrid, menatapnya dengan senyuman penuh di bibirnya. "Ya bagus, lagian pak Janus bukan pria yang cocok untukmu."
Janus sangat kesal dengan ucapan yang di lontarkan Titan. Ia kemudian menyingkirkan tangannya dari pundak Astrid. "Jadi siapa yang pantas dengannya. Memangnya itu kamu hah."
Tintan tersenyum sembari menatap Janus. Senyuman palsunya tampak jelas terlihat dari setiap garis di wajahnya. Ia kemudian pergi begitu saja tanpa membalas perkataan Janus.
"Hei sebelum pergi, kamu harus ingat jangan pernah kasih tahu siapapun tentang hubunganku dengan pak Janus," teriak Astrid.
"Ok," ucap Titan sembari mengacungkan dua jarinya tanpa berbalik arah.
Permasalahannya dengan Titan sudah terselesaikan. Namun, Astrid masih merasa gelisah. Banyak ketakutan yang di pikirkannya, ia tak mempercayai Titan. Bagaimana bisa ia percaya, Titan bukanlah orang terdekat baginya. Astrid memang kenal dengan Titan cukup lama. Ia sempat satu sekolah saat di bangku SMP, bahkan satu kelas. Akan tetapi ia tak pernah dekat dengannya layaknya seorang sahabat seperti hubungannya dengan Hilda dan Alula. Astrid hanya mengenalnya sebagai seorang teman biasa. Yang ia takukan jika Titan akan menyebar luaskan tentang pernikahannya.
Tatapan Astrid kosong, ia berdiri sembari menatap pintu. Menghela nafasnya beberapa kali dengan penuh kegelisahan.
"Apa aku harus menutup mulutnya dengan uang," ucap Janus.
"Apa semuanya bisa di selesaikan dengan uang. Jika dia terus di sogoki uang, dia akan terus mengancam dan memanfaatkan kita."
Hilda menghampiri Astrid dan Janus. "Dari pada kalian berdiri disini, mending kita sarapan yu. Aku sudah membawakan sarapan untuk kita berempat," ucapnya menunjukan kantong yang berisi makanan.
Astrid menatap Janus dengan ekspresi cemberutnya. "Cepat pakai dulu bajumu. Gara-gara kamu tidak memakai baju, Titan sampai salah paham." Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju meja makan.
"Idih, ini kan gara-gara kamu yang melarangku mengenakan pakaian," ucap Janus mengerutkan bibirnya.
Astrid berbalik arah menatap Janus. "Itu kan tadi. Seharusnya kamu tahu, kalau ada orang yang berkunjung ke rumah, kamu harus buru-buru pakai baju."
"Iya istriku yang super bawel." Janus melangkah masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Astrid beserta kedua temannya menyiapkan makanan yang di bawa Hilda. Menyajikannya ke dalam wadah dan menatanya di atas meja makan.
"Trid tadi maksud pak Janus apa? kenapa tadi kamu melarang pak Janus mengenakan pakaiannya?" tanya Hilda sembari menyenggol pundak Astrid dengan bahunya.
Alula tersenyum melirik Astrid yang tengah di sampingnya itu. "Jangan-jangan kamu tergoda dengan tubuh sixpack suamimu. Makannya kamu menyuruhnya tidak mengenakan atasan supaya lebih puas menatapnya."
Rona merah di wajah Astrid muncul, ia pun menghela nafasnya. "Pikiran kalian benar-benar kotor. Sudahlah berhenti membuatku kesal. Aku mau panggilkan suamiku dulu."
Seketika Hilda dan Alula terkejut mendengar Astrid menyebut Janus dengan sebutan suamiku.
"Cieee, bilang suamiku nih. Kayaknya udah mulai klepek-klepek nih," teriak Hilda sembari menertawakan. Begitupun dengan Alula yang juga menertawakan Astrid.
Astrid berbalik arah menatap kedua temannya, menatap tajam keduanya yang seakan-akan mengamcamnya. "Maksudku pak Janus ngerti. Berhenti menertawakanku, kalau kalian tidak bisa berhenti. Mau ku lempar bantal ke wajah kalian."
"Baiklah, kami berhenti tertawa. Cepatlah panggilkan suami seksimu," ucap Alula meninggikan nada suaranya.
Ucapan Alula membuat raut wajah Astrid semakin memerah. Ia benar-benar tersipu malu dengan perkataan yang di lontarkan temannya itu.
"Alula bisa pelankan suaramu tidak. Ini di rumah bukan di kebun binatang," ucap Astrid.
"Baik bu bos," ucap Alula sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Astrid kemudian berbalik arah. Namun, di saat tubuhnya berbalik ia malah menabrak Janus yang sempat berdiri di belakangnya. Dada bidangnya pas sekali menabrak wajah Astrid. Ia semakin malu saja, di tambah ia semakin di ledek dan di tertawai habis-habisan oleh kedua temannya.
"Gimana Trid empuk kan. Puas banget kayaknya, dapat sentuhan lembut dari suami tampanmu," ucap Hilda.
"Berhenti meledeku," ucap Astrid yang kemudian menunjuk Janus dengan jari telunjuknya. "Ini semua gara-gara kamu. Bilang dong kalau kamu ada di belakang."
"Kenapa menyalahkanku, padahal kamu sendiri yang menabrakku."
"Husss jangan bertengkar. Kalau kalian bertengkar, nanti ga bakal berhenti. Mending kalian cepat kesini," ucap Hilda.
__ADS_1