
Adit tak merasa kecewa dengan persilingkuhan yang di lakukan Yeni, karena memang dari dulu Adit tak memiliki perasaan terhadap wanita yang tengah memohon untuk tak di ceraikannya itu. Yang ia kecewakan adalah dengan status Bayu yang bukan darah dagingnya.
Adit yang sudah menyayangi selayaknya anak kandung, harus di kecewakan dengan kenyataan dari sebuah hasil tes DNA. Kecewa memang pasti, tapi bukan berarti rasa sayang dari seorang ayah pudar begitu saja, hanya karena putra pertama bukanlah darah dagingnya.
Sangat marah Adit kepada Yeni yang sudah bertahun-tahun membodohinya. Adit sampai tak habis pikir, hanya karena Yeni ingin kemewahan yang di miliki suaminya, bertahun-tahun Yeni rela membodohi Adit dan juga Bayu. Adit tak asal menuduh, ia tahu karena semenjak Janus di bawa ke Indonesia, Yeni selalu merasa resah dan takut bila posisi anaknya di isi oleh Janus.
Bila memang Yeni mencintai Adit bukan karena harta, ia tak akan peduli bila Janus mendapatkan posisi di perusahaan. Ia terlalu serakah, hingga membuatnya rela melakukan apapun untuk mendapatkan hal yang di inginkannya.
Yeni berlutut memohon ampun kepada Adit, dan berharap suaminya tak menceraikannya. Kata maaf dan isak tangis terus di lakukan Yeni. Namun, Adit sudah terlampau kecewa dengannya, karena kebohongan yang sudah di lakukan istrinya selama bertahun-tahun. Adit beranjak pergi dari hadapan Yeni tanpa berucap sedikitpun. Lalu kembali membawa koper yang berisi baju.
"Kamu mau pergi kemana?" Tanya Yeni panik sembari memegangi lengan suaminya.
Adit melepaskan lengannya dari tangan Yeni. "Aku akan pergi dari rumah. Dan kemungkinan, secepatnya besok aku akan mengurus perceraian kita."
Adit kembali melangkahkan kakiknya, namun dua lankah ia melangkah, langkahnya kembali terhenti ketika Janus memegangi tangannya.
"Maaf sebelumnya, ada yang ingin ku sampaikan sekali lagi."
Adit menatap Janus tanpa berucap, seakan-akan ia mempersilahkan untuk menyampaikan apa yang ingin di sampaikan putra yang sekarang memiliki posisi sebagai anak tunggalnya.
Janus mengambil ponsel di saku jaketnya, ia lalu menunjukan artikel tentang penangkapan Bayu oleh pihak kepolisian.
"Hari ini Bayu di tangkap atas dugaan penyalah gunaan narkoba serta dugaan KDRT terhadap istrinya." Janus menelan salivanya. "Ku harap ayah tidak lagi melindunginya."
Adit nampak syok setelah melihat artikel yang di tunjukan putranya itu. Termasuk Yeni yang sebagai ibu kandung tak menyangka bahwa putranya bisa di tangkap oleh pihak kepolisian.
Yeni meraih lengan Adit kembali. "Tolong ambil tindakan, dia anakku, di tak boleh mendekam di jeruji besi."
__ADS_1
Adit menghempaskan tangan Yeni dari lengannya. Ia menghela nafasnya sembari menatap Janus. "Meski dia bukan darah dagingku bukan berarti dia tak dapat perlindungan dariku. Dia sudah ku anggap sebagai anakku sendiri."
"Lalu bagaimana denganku, apa ayah pernah sekalipun memperhatikanku? Dulu sewaktu kecil ayah sering melihat tubuhku penuh dengan luka lebam, tapi ayah mengabaikannya. Ayah pasti berpikir bahwa luka lebamku karena aku yang sering bertengkar dengan teman di sekolah sesuai yang apa di katakan bu Yeni padamu. Jika ayah berpikir seperti itu, maka ayah salah. Luka lebamku bukan karena aku yang bertengkar dengan teman, tapi itu ulah bu Yeni dan Bayu. Jika kakek dan ayah tak ada di rumah, mereka selalu menyakitiku, bahkan sering mengurungku di gudang dengan keadaan gelap gulita," terang Janus dengan amarahnya.
Janus menghembuskan nafas panjangnya. "Karena trauma yang di sebabkan mereka, aku sering bulak-balik ke psikiater dan rutin meminum obat."
Janus menjeda perkataannya untuk meredakan emosi yang saat ini tengah memuncak, ia terdiam sembari mengatur nafasnya. Begitu pun dengan Adit yang juga ikut terdiam setelah mendengar perkataan dari putranya. Mata dari ayah dan juga seorang anak yang emosinya tengah memuncak itu sedikit tergenang oleh air.
Janus kemudian menelan salivanya, lalu kembali menatap ayahnya. "Aku sangat berharap, kali ini ayah tak melindungi Bayu. Aku sangat tahu bahwa ayah menyayangi Bayu seperti anak kandungmu sendiri. Tapi ayah harus mengerti, bila Bayu terus di lindungi, sampai kapanpun ia tak akan pernah berubah. Dia akan terus-menerus mengulang kesalahannya."
Janus beranjak pergi dari rumah orang tuanya dengan raut wajah yang nampak bersedih. Begitupun dengan pak Andy yang juga ikut beranjak pergi, setelah ia tak ada lagi yang perlu di bicarakan dengan atasannya tersebut.
**
Janus pulang ke rumah dengan emosi yang bercampur aduk yang masih saja belum reda di rasanya. Sampai-sampai Astrid sangat khawatir ketika melihat raut wajah Janus yang nampak bersedih itu. Astrid lalu segera meraih kedua tangannya.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku sangat baik-baik saja."
"Aku tak melihat dan merasakan, bahwa kamu sedang baik-baik saja," ucap Astrid sembari mengusap punggung Janus.
"Aku tak tahu dengan perasaanku ini Trid. Seharusnya aku merasa lega setelah mengungkapkan kebohongan bu Yeni dan kejahatan Bayu selama ini. Tapi aku malah tidak mengerti, apa aku baik-baik saja atau tidak, terlebih lagi aku sangat mengkhawatirkan kondisi ayah setelah ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya," terang Janus.
Astrid melepaskan dekapan Janus, ia menatap sembari menyeka setetes bulir air yang menempel di pipi suaminya itu.
"Maafkan aku, karena ulahku kamu harus mengatakan apa yang tak ingin kamu katakan kepada ayahmu. Karena aku juga, kamu harus melakukan apa yang tak ingin kamu lakukan," ucap Astrid dengan bulir air yang berjatuhan dari kedua sudut matanya.
__ADS_1
Janus menyeka air mata di kedua pipi istrinya. "Ini bukan kesalahanmu, tapi inilah langkah terakhirku untuk melindungimu dari Bayu. Ini adalah tindakanku yang paling benar untuk membuat ibu dan Bayu jera." Janus kembali mendekap erat tubuh istrinya. "Kamu justru telah menyadarkanku untuk melakukan tindakan baik seperti ini. Terima kasih Trid, sudah menjadi wanita yang terbaik untukku."
Dalam dekapannya, Astrid menangis sedih dan juga haru atas perkataan yang menenangkan dari suaminya itu. Begitupun dengan Janus yang sedikit lebih tenang setelah mendekap tubuh istrinya. Hanya dengan dekapanlah, perasaan Janus terasa bahagia.
Terlalu lama mereka berpelukan, hingga lupa bahwa mereka sudah terlalu lama berdiri, sampai-sampai kaki keduanya sudah sangat terasa pegal. Sontak Janus pun segera melepaskan dekapannya itu.
Janus menyeka sisa air mata di pipi Astrid. "Apa kamu sangat nyaman berada di pelukanku, hingga membuatmu tak mau lepas."
"Bukankah kamu yang tak mau melepaskanku," ucap Astrid dengan rona merah di pipinya.
Seketika Janus menggendong tubuh istrinya, lalu dengan cepat ia melangkahkan kakinya
"Mau di bawa kemana aku? Kenapa harus di gendong segala?" Tanya Astrid terheran-heran.
"Mau ku bawa ke kamar," jawab Janus tersenyum.
Astrid mengerutkan kedua alisnya. "Ini kan masih terlalu siang bila kita harus melakukannya."
Langkah Janus terhenti setelah mendengar ucapan yang di lontarkan istrinya itu. "Memangnya apa yang kamu pikirkan? Padahal aku membawamu ke kamar agar kamu bisa menemaniku tidur siang," ucapnya dengan tawa yang samar."
Astrid menelan salivanya, rona merah di merah di pipinya kembali keluar. Ia benar-benar sangat malu setelah berprasangka salah terhadap suaminya, sampai-sampai ia harus menutup wajahnya dengan satu telapak tangannya.
Janus tersenyum sembari menatap istrinya. "Kenapa harus menutupi wajahmu, tak perlu malu bila kamu menginginkannya." Janus kembali melangkahkan kakinya, dengan cepat membawa Astrid memasuki kamar, lalu membaringkannya di ranjang. "Jangan di tahan bila kamu mau."
"Siapa juga yang mau melakukan itu. Ini kan masih siang, tak baik bila harus di lakukan di siang hari," ucap Astrid beranjak turun dari ranjang.
Janus menarik Astrid, hingga membuat istrinya itu kembali menjatuhkan diri di atas ranjang. "Kata siapa tidak baik. Justru, jika kita lebih cepat melakukannya, seorang bayi akan segera hadir di kehidupan kita. Bahkan akan lebih baik lagi jika kita melanjutkannya ke ronde kedua nanti malam."
__ADS_1
Astrid menggeleng. "Itu maunya kamu, satu ronde saja sudah membuatku lelah, apa lagi dua."
Janus tersenyum menggoda sembari menatap istrinya. "Jangan banyak bicara, aku sudah tidak dapat menahannya lagi." Lalu dengan cepat ia mencium bibir mungil milik istrinya tersebut.