Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
75. Sudah Pasti Dia


__ADS_3

Dengan emosi yang memuncak, Janus berjalan dengan langkah yang cepat. Ia berjalan menuju cafe yang di sebutkan oleh Aldo di kantor. Janus yang terlampau marah itu, menghiraukan Astrid yang berusaha meredakan emosinya.


Astrid meraih lengan pria yang saat ini tengah di balut emosi. "Kak ingat ya, jika kamu sudah tahu siapa orangnya. Kamu tidak perlu memukulnya, cukup dengan memberinya peringatan saja."


"Baik, aku tak akan memukulnya jika dia bukan Bayu," ucap Janus yang langsung saja melepaskan tangan Astrid dari lengannya.


"Lalu jika itu kak Bayu, kamu akan langsung memukulnya. Kamu tidak perlu memukulnya, aku tahu kamu bukan seorang pria yang kasar. Dan aku juga tahu kalau kamu merupakan seorang pria yang cukup pintar, masalah tidak akan langsung selesai hanya karena kamu memukulnya," ucap Astrid sembari mengikuti langkah Janus dari belakang.


"Walau dia kupukuli atau pun tidak. Dia akan tetap mengusikku. Dari dulu sampai sekarang dia tidak pernah puas membuatku menderita," ucap Janus yang hanya fokus menatap ke depan.


Janus tak peduli apapun yang di katakan istrinya, saat ini yang di pikirkannya adalah bisa mendaratkan pukulan kepada anak pertama dari Adit Sayuda itu.


Sesampainya di cafe, Janus meminta pegawai dari cafe tersebut untuk memperlihatkan rekaman cctv pada sabtu siang. Pegawai tersebut membawa Janus dan Astrid ke ruangan cctv, lalu menunjukan rekamannya.


"Benar ini adalah ulah Bayu, dia menyuruh sekertarisnya memberikan file foto kepada Aldo sementara dirinya tidak turun dari mobil," ucap Janus kesal sembari menatap layar cctv.


Setelah melihat rekaman cctv, Janus pun terburu-buru beranjak pergi dari cafe. Marahnya sudah di tingkat didih, sabarnya sudah melampaui batas, kini Janus sudah tak peduli dengan akibatnya dari memukul kakaknya itu. Ia pergi walau harus mengabaikan Astrid yang sedari tadi mencegahnya untuk pergi.


"Kak, aku tidak suka ya kalau kamu harus memukul kak Bayu," ucap Astrid sembari mengejar Janus dengan langkahnya yang cepat.


"Jika kamu tidak suka, maka jangan ikuti aku." Janus membuka pintu mobilnya lalu dengan cepat menutup dan menguncinya hingga membuat istrinya itu tak dapat masuk ke dalam.


"Kak tunggu...kak tunggu," ucap Astrid sembari mengetuk kaca mobil. Namun Janus dengan cepat menancap gas.


Kemudian Astrid pun terburu-buru menyuruh body guardnya untuk mengejar Janus. Astrid beserta body guardnya pergi mengejar menggunakan mobil yang di bawakan salah satu body guard. Astrid sangat panik, saat mobil yang di bawa Janus terlalu cepat melaju. Hingga mobil Janus tak dapat tersusul oleh Astrid beserta body guardnya.


"Mobil tuan Janus sudah tidak terlihat, dan saya tidak tahu tempat tujuan yang akan di kunjungi tuan Janus. Apa kita tetap pakai jalur ini saja?" tanya body guard yang menyetir kepada istri dari tuannya itu.


"Jalur ini memang menuju perusahaan STAR.COP, jadi kita pergi kesana dulu," ucap Astrid sembari menatap jalan.

__ADS_1


Sesampainya Astrid di perusahaan, ia pun terburu-buru pergi ke bagian resepsionis.


"Maaf, ruangannya Bayu Sayuda di sebelah mana ya?" tanya Astrid kepada pegawai resepsionis.


"Nama Anda siapa dan ada perlu apa anda dengan pak Bayu?" tanya balik pegawai resepsionis.


"Saya Astrid, kerabatnya pak Bayu Sayuda. Saya ingin bertemu dengannya karena kemungkinan kak Janus juga menemuinya disini," jawab Astrid.


"Maaf, tapi saya tidak bisa menunjukan ruangannya, karena pak Bayu tidak masuk kerja hari ini. Kalau soal adiknya yang bernama Janus barusan memang kesini. Karena pak Bayu tidak masuk kerja, beliau mungkin pergi ke rumah pak Bayu," ucap pegawai resepsionis.


"Oh, kalau boleh tolong tuliskan alamat rumah pak Bayu," ucap Astrid.


"Saya minta kartu indentitas anda, karena sebelum memberikan alamat pak Bayu saya harus mencatat identitas anda terlebih dahulu."


Astrid pun segera mengambil kartu identitasnya yang ia letakan di dompetnya, lalu memberikan benda berbentuk persegi itu kepada pegawai resepsionis.


Dengan cepat pegawai tersebut mencatat identitas Astrid dan alamat Bayu. Setelah selesai, ia segera mengembalikan kartu identitas Astrid dan segera memberikan secarik kertas berisi alamat dari putra pertama pemimpin perusahaaan tempatnya bekerjanya itu.


Setelah mendapatkan alamat, Astrid pun terburu-buru memasuki mobil. "Pergi ke alamat ini segera," ucap Astrid memberikan kertas yang berisi alamat tersebut kepada body guard yang duduk di kursi sopir.


"Baik nona," ucap body guard mengambil kertas yang di pegang Astrid. Lalu segera menyalakan mesin mobil dan menancap gas dengan cepat.


Dalam perjalanannya pergi ke rumah Bayu, Astrid tak hentinya mencemaskan suaminya. Hingga membuatnya tak bisa berpikiran jernih. Ia gelisah, berulang kali ia menghela nafasnya, berharap bahwa Janus bisa menahan emosinya ketika bertemu dengan kakaknya itu.


Hingga enam belas menit mobil melaju, Akhirnya Astrid beserta body guardnya sampai di kediaman putra pertama dari Adit Sayuda. Sesampainya disana, Janus nampak berdiri di depan mobilnya seakan sedang menunggu. Astrid pun terburu-buru pergi menghampiri suaminya.


"Kak, pulang sekarang yu," ajak Astrid sembari meraih tangan Janus.


"Aku tidak akan pulang jika belum bertemu Bayu," ucap Janus menghempaskan tangan mungil milik istrinya.

__ADS_1


"Tapi kak..." ucap Astrid yang seketika di potong Janus. "Jika kamu ingin pulang, sana pulang saja." Janus lalu menunjuk ke semua body guardnya. "Kalian jangan pernah berani mencegahku."


Lalu tak lama Janus menunggu, mobil yang di bawa oleh kakaknya pun datang. Setelah memarkirkannya Bayu beserta Luna turun dari mobil.


"Wah rame sekali," ucap Bayu menggelengkan kepala sembari tersenyum miring.


Janus langsung saja menghampiri Bayu, dan dengan spontan ia pun menarik kerah baju dari kakaknya itu.


"Itu kamu kan yang memberikan foto kepada seorang murid," ucap Janus dengan mata yang melotot.


Seakan merasa tak bersalah, Bayu tersenyum menyeringai. "Iya itu aku. Jika saja kamu tidak membuat masalah, aku tidak akan memulai."


"Hah membuat masalah? asal kamu tahu, sekalipun aku tidak pernah mengusikmu," ucap Janus meninggikan suaranya.


"Woy sadar dong, jangan jadi pelupa. Waktu itu kamu pernah menemui Luna, aku tahu karena mengecek ponselnya dan panggilan terakhirnya atas nama kamu. Kamu sudah punya istri rendahan seperti Astrid, tapi kamu masih menginginkan istriku " ucap Bayu yang juga meninggikan suaranya.


Janus langsung saja mendaratkan pukulannya ke wajah Bayu. "Jangan pernah menyebut istriku seorang rendahan. Karena dia jauh lebih baik dari kamu dan istrimu."


Janus duduk di atas tubuh Bayu dan tak hentinya memukuli wajah pria yang sangat membuatnya marah itu. "Asal kamu tahu, dia yang memanggilku terlebih dahulu karena dia terluka setelah jatuh dari motor. Aku hanya membantunya. Dan aku juga tak pernah sedikit pun berpaling dari istriku."


"Sudah cukup kak," teriak Astrid yang berusaha menghentikan Janus.


Sekuat mungkin Astrid meraih tangan suaminya, hingga Janus pun berhenti memukul.


"Sudah cukup ya. Dan kak Bayu, asal kamu tahu, kalau kak Janus sudah tak memiliki perasaan dengan kak Luna. Jadi berhenti mencurigainya," ucap Astrid.


"Mana mungkin aku percaya. Dia itu pernah menjalin hubungan dengan Luna, dia pasti masih menyimpan perasaan terhadap istriku," ucap Bayu sembari menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya.


"Aku tahu dan percaya bahwa kak Janus tak lagi menaruh rasa terhadapnya. Jika harus yang mencurigai itu adalah aku. Apa benar kak Luna saat itu jatuh dari motor, dia tak terlihat seperti jatuh dari motor. Pipi lebam seperti bekas tamparan, lalu lengannya lebam dan juga berdarah seperti bekas genggaman dan juga cakaran dari kuku. Jangan bilang bahwa kak Bayu melakukan KDRT," ucap Astrid menatap sinis Bayu.

__ADS_1


__ADS_2