Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
55. Janus Hanya Miliku Seorang


__ADS_3

Setelah berbicara panjang lebar, Astrid pergi meninggalkan Titan seorang diri. Sementara Titan hanya bisa diam membisu di tempat duduknya. Terlampau sakit hatinya, saat wanita yang di harapkan jadi tambatan hatinya lebih memilih pria yang hubungannya telah terjalin akibat perjodohan. Pupus sudah harapannya, saat tahu bahwa wanita tersebut telah menaruh hati pada pria yang telah di ikatnya dalam sebuah janji suci. Ia pikir dengan menyatakan perasaannya, mungkin harapan itu akan muncul. Terlebih lagi Titan mengetahui bahwa hubungan Astrid dan Janus hanyalah sebatas perjanjian di atas kertas. Namun, seiring berjalannya waktu, harapannya pupus. Saat Astrid telah menutup rapat pintu hatinya untuk pria lain. Sudah tak ada lagi harapan bagi Titan, karena wanita yang sangat di dambakannya telah di ikat oleh seorang pria.


Namun, bukan berarti ia tidak bisa menjalin pertemanan dengan Astrid. Hanya sekedar menjalin pertemanan, Astrid mungkin akan menerimanya. Setelah membayar pesanannya, Titan pun segera beranjak pergi menyusul Astrid. Ia terburu-buru berjalan keluar dari cafe hanya untuk menyusul wanita yang hari ini telah menolak perasaanya.


"Astrid," teriak Titan saat tahu bahwa Astrid masih berada di penyebrangan. Ia pun berlari menghampiri Astrid yang masih berdiri menunggu jalan kosong untuk di sebranginya.


"Ada apa Tan?" tanya Astrid.


"Mungkin aku sudah tak memiliki harapan kepadamu, tapi bukan berarti hubungan pertemanan kita berakhir hanya karena pernyataanku hari ini. Aku harap setelah ini kita bisa berhubungan seperti biasa," ucap Titan dengan nafas yang ngos-ngosan.


Astrid memegang pundak sebelah kanan Titan. "Aku pun berpikir begitu. Mungkin kita tidak bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi kita akan terus berteman. Bukankah dari dulu kamu memang temanku Tan," ucapnya tersenyum.


Ucapan Astrid seketika membuat Titan terharu, kedua matanya pun mulai tergenang. Titan langsung saja mengalihkan pandanganya dari Astrid.


"Ada apa dengan mataku sih." Titan mengipas-ngipas kedua mata dengan tanganya, agar mata yang tergenang itu tak mengeluarkan setetes air.


Astrid pun tersenyum menatap Titan yang tengah mengipas-ngipas matanya. "Tahan Tan, kamu ini bukan pria cengeng. Apa ucapanku membuatmu sakit, sampai membuatmu akan menangis."


"Tidak, aku hanya terharu. Karena kamu masih bisa menerimaku sebagai teman," ucap Titan tersenyum menatap Astrid.


Astrid menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Hanya beberapa detik ia tersenyum, tiba-tiba saja senyumannya pudar saat pandanganya mulai teralihkan. Ia memicingkan kedua matanya, menatap fokus ke arah persimpangan jalan.


"Lihat siapa Trid?" tanya Titan yang juga melihat ke arah Astrid menatap.

__ADS_1


"Kenapa kak Janus bersama Luna," gumam Astrid terburu-buru pergi menghampiri Janus. Yang juga langkahnya di ikuti oleh Titan.


Astrid langsung saja meraih lengan suaminya, dan dengan erat ia pun merangkul lengannya. Saat Astrid menatap Luna, ia di buat keheranan dengan wajah Luna yang tampak lebam seperti bekas tamparan. Tak hanya lebam di wajahnya saja, tangannya pun tampak sedikit terluka.


"Ada apa kak Luna menemui suami saya?" tanya Astrid dengan wajah masam.


"Hm, maaf jangan salah paham dulu. Ta..di aku habis terjatuh dari motor, dan orang yang ku kenal di sekitaran sini hanya Janus. Jadi aku meminta bantuan padanya," jawab Luna bernada gugup.


"Benarkah begitu kak?" tanya Astrid menatap Janus.


"Iya, ini aku habis membelikannya obat luka di apotek." Janus menunjukan kantong kresek yang berisi obat luka.


Astrid langsung meraih kantong kresek yang pegang suaminya. "Sini biar ku obati kak Lunanya." Dan langsung membawa Luna duduk di kursi yang berada di dekatnya.


Astrid mulai mengobati luka Luna, namun ia di buat curiga saat kedua matanya menatap fokus luka di sekitaran wajah dan tangan wanita yang jadi iparnya itu. Astrid sampai berpikir, bahwa luka yang di derita Luna terlalu ringan bila ia terjatuh dari motor, sementara kakinya tampak baik-baik saja.


Luna seketika menelan salivanya. "Iya di sekitaran sana aku terjatuh," tunjuknya dengan nada suara yang kembali gugup.


Astrid semakin menaruh curiga saat menatap mata Luna yang berputar kemana-mana yang seakan mengalihkan pandangannya dari Astrid. Terlintas jelas bahwa gelagatnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Astrid maupun Janus.


"Kak, aku harap jangan pernah menghubungi kak Janus lagi. Bukankah orang-orang akan menaruh curiga jika kak Janus harus menemui kak Luna, walau hanya sekedar untuk mengobati luka kak Luna. Kakak tahu kan kalau di masa lalu kalian pernah menjalin hubungan," ucap Astrid kesal.


"Iya maaf, soalnya tadi aku panik. Dan aku tidak dapat menghubungi orang lain selain Janus," ucap Luna.

__ADS_1


"Setidaknya kakak menghubungi suami kakak, bukan kak janus. Dan jika kakak memang terjatuh dari motor, mungkin orang-orang yang melihat pasti akan membantu. Dan bila perlu kakak juga bisa menghubungi rumah sakit, agar kak Luna bisa langsung di jemput menggunakan ambulan ke rumah sakit," ucap Astrid sembari menempelkan plaster di lengan Luna


"Trid, sudah cukup. Saat ini dia sedang terluka, kamu seharusnya fokus membalut lukanya bukan menceramahinya," sela Janus di tengah pembicaraan Astrid dan Luna.


Spontan Astrid pun langsung saja menatap kesal Janus. "Jika kak Luna memanggilmu, seharusnya kamu menghubungiku. Jika kak Bayu dan ibunya mengetahui kamu menemui kak Luna, mereka akan memarahimu. Bahkan bukan hanya memarahimu saja, mereka juga pasti akan langsung mencacimu."


"Hm, maaf aku sudah membuat kalian bertengkar. Aku akan mengobati lukaku di rumah," ucap Luna berdiri dari duduknya. "Makasih Janus sudah menyempatkan waktu untuk membelikanku obat."


Luna pun segera bergegas pergi menggunakan motor matic yang di pakirkannya, yang tak jauh dari Astrid, Janus, dan juga Titan berkumpul.


"Bukankah terlalu aneh jika dia memang terjatuh dari motor, mengapa motornya tampak baik-baik saja," ucap Astrid heran.


"Memang dia siapa Trid?" tanya Titan.


"Dia ipar sekaligus mantan kak Janus," ucap Astrid kesal lalu terburu-buru melangkahkan kakinya ke arah gedung apartemen.


Setelah membuat istrinya kesal, Janus hanya bisa diam membisu sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.


"Dasar tidak punya harga diri, sudah punya istri bisa-bisanya menemui mantan," sindir Titan menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak sopan berkata seperti itu kepada saya. Lalu kamu, mengapa bisa datang bersama istriku? bukankah kamu sedang di skors bila kamu beralasan pulang bareng setelah sekolah," ucap Janus kesal.


"Saya tadi berpapasan di jalan dengan Astrid."

__ADS_1


"Jika kamu berpapasan dengannya, kenapa kamu sampai mengikutinya kesini? dan kamu selalu saja ada di dekatnya. Aku curiga kalau kamu sebenarnya menyukai istriku," ucap Janus menaruh curiga.


"Memang benar aku menyukainya," ucap Titan langsung terburu-buru melangkah kakinya.


__ADS_2