
Lagi dan lagi Luna bertingkah seperti istrinya Janus. Demi mencari muka di depan Janus, semua pekerjaan rumah tangga di ambil olehnya. Dia membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika baju Janus, serta menyiapkan makan, hanya ketika Janus berada di rumah.
Bukankah itu sudah jelas, terang-terangan Luna memiliki niat lain dari sikapnya itu. Kesabaran Astrid sudah di ambang batas, Astrid tak lagi bisa tinggal diam membiarkan Luna bertindak semaunya.
Astrid menghampiri Luna yang saat itu ia tengah menyiapkan minum untuk Janus seperti biasanya.
"Kak, biar aku saja yang melakukannya."
"Tidak perlu, biar aku saja. Aku tak enak bila harus kamu yang melakukannya. Aku merasa sungkan bila hanya menumpang secara gratis di sini."
"Kami sudah bilang bahwa kami tak mengharapkan imbalan apapun. Kak Luna cukup tinggal saja di sini tanpa harus mengerjakan apapun, terlebih lagi bila harus mencuci baju atau menyiapkan minum untuk suamiku," ucap sinis Astrid.
"Aku melakukannya dengan senang hati, biarpun kamu dan Janus melarangku."
Astrid menghela nafasnya. "Kenapa tak sekalian saja menggantikan bu Eli dan bu Mira menjadi pembantu."
"Apa maksudmu, Astrid?"
Janus tiba-tiba datang.
"Maaf, menyela pembicaraan kalian." Janus menatap ke arah Astrid. "Apa yang telah Luna lakukan hingga membuatmu marah?"
"Aku hanya menegurnya karena dia terus-menerus mengerjakan pekerjaan yang tak seharusnya ia lakukan. Bukankah dia sudah kita anggap keluarga, tapi dia malah terus-menerus merasa sungkan bila hanya menumpang secara gratis di sini," ucap Astrid dengan mulut yang bergetar.
Mulutnya bergetar karena ia yang kesal tak bisa mengutarakannya, ketika sedang berhadapan dengan Janus. Berulang kali Astrid berucap dalam hatinya, bahwa bukan itu yang ingin di ucapnya.
Astrid marah dan kesal karena Luna terus-menerus menaruh perhatian lebih terhadap Janus. Astrid juga kesal karena Janus tak bisa menyadari, bahwa perhatian lebih dari Luna adalah hal yang salah bagi seorang wanita yang tak terikat oleh darah. Hanya karena memiliki tanggung jawab, bukan berarti Janus diam saja dengan tingkah Luna yang di rasa Astrid salah.
"Benar kata Astrid, kamu tak seharusnya mengerjakan pekerjaan rumah. Kamu adalah keluarga di rumah ini," imbuh Janus.
"Maaf, tapi aku melakukannya dengan senang hati, jadi kamu tak perlu melarangku."
__ADS_1
Tanpa berucap, Astrid melangkah pergi, dengan kedua mata yang sedikit tergenang. Biarpun ia percaya bahwa Janus tak mungkin beralih, namun, ia sedikit goyah bila Luna terus-menerus menaruh perhatian kepada Janus. Terlebih lagi, Luna merupakan wanita yang pernah singgah di hati Janus.
Bila saja Astrid tak merasa bersalah terhadap Bayu, mungkin sudah lama ia mengutarakan kekesalan dan amarahnya. Astrid tak mau bila Janus merasa terbebani dengan cemburunya Astrid. Karena tanggung jawab Janus jauh lebih berat dari pada harus mengurusi rasa cemburu dari istrinya. Untuk menebus rasa bersalahnya, Janus harus menerima tanggung jawab dari Bayu. sementara Astrid, ia hanya perlu bersabar dengan adanya Luna di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya.
Astrid duduk di tempat tidur di kamarnya, dengan tangan yang terus-menerus menepuk dada seraya menahan air yang menggenangi matanya.
Janus lalu datang menghampiri. "Apa kamu marah karena Luna tidak mau menurut?"
Astrid menggeleng. "Apa menurutmu saat ini aku terlihat marah?"
"Hm, sepertinya begitu." Janus meraih tangan Astrid. "Ku harap kamu memakluminya. Biarpun Luna sudah tahu bahwa kita menganggapnya keluarga, tapi dia masih belum terbiasa."
Astrid memaksakan senyumannya "Lalu, menurutmu bagaimana dengan posisi Luna di rumah ini?"
"Posisi Luna di rumah ini adalah seorang keluarga, dan bagiku dia hanyalah seorang saudara perempuan, kakak perempuan, dan juga iparku."
Astrid masih belum puas dengan jawaban Janus, ia pun kembali bertanya. "Lalu menurutmu bagaimana dengan posisiku?"
Janus melebarkan senyumannya. "Tentu saja kamu adalah pendamping hidupku, yang akan tetap berada di hatiku. Percayalah, Astrid. Bahwa kamu adalah wanita terakhir yang ku cintai."
Akhirnya jawaban dari Janus membuat Astrid merasa lega. Kini Astrid tak lagi takut bahwa Janus akan tergoda dengan mantan pacar yang di anggap iparnya itu. Karena sejatinya dia adalah seorang suami yang dapat di percaya. Terlebih lagi, ketika Janus menjawab pertanyaan, matanya terlihat berbinar-binar yang seakan ia serius, bahwa dirinya tulus mencintai Astrid.
***
Esoknya adalah hari ulang tahun Janus, Astrid pulang kerja lebih siang dari biasanya. Karena ia ingin memberikan sebuah kejutan untuk suaminya itu. Tak lupa, Astrid juga membeli bahan-bahan untuk membuat kue ulang tahun.
Karena ini ulang tahun spesial untuk suaminya, Astrid sengaja membuat sendiri kue ulang tahunnya.
Karena Astrid membuat kue ulang tahun untuk pertama kalinya, Astrid membuat berdasarkan tutorial di ponselnya. Karena pertama kali Astrid membuat kue, Astrid sampai di buat fokus dan hati-hati ketika mengerjakannya.
Hanya butuh satu jam lebih ia membuat, dan satu jam ia menghiasnya dengan cantik. Astrid pun selesai membuat kue ulang tahun untuk suaminya.
__ADS_1
Setelah itu, Astrid bersiap-siap memasak. Dan karena Astrid akan memasak banyak makanan, jadi Astrid di bantu oleh Mira dan Eli. Kebetulan Astrid mengundang temannya dan juga teman-teman Janus.
Astrid juga meminta semua temannya termasuk juga teman-teman dari Janus untuk datang lebih awal ke rumah, agar bisa memberikan kejutan untuk suaminya itu.
Pada pukul empat sore semua teman-temannya datang ke rumah, Astrid bergegas menata semua makanan yang sudah di masaknya di meja makan. Dan tinggal satu jam lagi kemungkinan Janus pulang. Untuk mengisi waktu yang tinggal satu jam lagi, Astrid dan teman-teman mengisi waktu dengan medekor ruangan.
Namun, belum sampai satu jam, suara mobil Janus sudah terdengar di depan rumah, terpaksa Astrid berserta semua temannya harus selesai mendekor.
Astrid membawa kue sembari berdiri di belakang pintu, termasuk juga teman-temannya yang juga ikut berdiri di belakang pintu.
Langkah Janus sudah terdengar, mereka bersiap untuk meberi kejutan. Pintu terbuka, semua serentak mengucapkan. "Selamat ulang tahun."
Namun, Janus datang tak seorang diri. Janus pulang bersama dengan Luna.
"Kamu pulang bersama kak Luna, atau kebetulan berpapasan di depan rumah?" Tanya Astrid.
"Aku pulang bersama Luna, kebetulan tadi Luna mengantarkan makan siang ke kantor."
Astrid pikir di hari ulang tahun suaminya, ia akan merasa senang, namun, malah di buat kesal. Dan kesalnya masih sama karena ulah Luna.
"Trid, sebelum lilinnya habis, lebih baik kamu suruh suami kamu segera meniupnya," lontar Rio.
"Jangan lupa sebelum meniupnya, make a wish terlebih dahulu. Dan berdo'a supaya wanita yang ingin mengganggu kehidupan rumah tanggamu segera sadar diri," sindir Bianca.
Astrid tersenyum tegar. "Kak Bianca, tidak ada wanita yang mau merusak hubungan kami. Jadi lebih baik kak Janus berdo'a sesuai isi hati kamu ya."
Janus tersenyum sembari mengangguk. Sebelum meniup lilinnya, Janus berdoa terlebih dahulu. Dalam doanya, ia berharap bahwa hubungannya dengan Astrid bisa awet sampai kelak rambutnya memutih. Dan tak lupa, Janus juga sangat berharap bahwa ia akan segera di berikan seorang anak yang lahir dari rahim istrinya.
"Dengan bertambahnya umur, ku harap kami segera di berikan anggota keluarga baru yang terlahir dari rahim istriku." Batin Janus.
Selesai berdoa, Janus pun segera meniup lilinnya. Janus lalu mengecup kening Astrid.
__ADS_1
"Terima kasih sudah memberikan kejutan yang sangat membahagiakan ini."
Biarpun sangat kesal Astrid menahannya, agar pesta ulang tahun suaminya bisa berjalan dengan baik.