
Janus yang tak ingin berurusan dengan Bayu, terus saja bertanya tentang keberadaan Luna. Namun Astrid tetap bersi kukuh tak memberitahu suaminya, bila ia ingin tahu hanya untuk memberitahu pria jahat yang sudah menyakiti istrinya sendiri.
Astrid kesal, begitu pun dengan Janus yang juga sama kesalnya. Hanya karena masalah rumah tangga iparnya, mereka harus bertengkar. Memang ini salah Astrid, tapi bukankah menolong adalah suatu hal yang baik. Tapi tidak bagi Janus, ia tak mau bila harus berurusan dengan Bayu, ia hanya ingin melindungi istrinya dari kakaknya. Karena Janus tahu sifat dari kakaknya bila ia sudah berurusan dengannya, maka ia akan berbuat sesuatu untuk menyakiti orang tersebut.
Cukup untuk masa kecil Janus yang sudah menderita akibat dari ulah Bayu dan ibu sambungnya, tapi tidak untuk Astrid. Janus jadi harus lebih extra melindungi istrinya setelah istrinya itu, menyembunyikan keberadaan Luna dari Bayu.
"Baik, aku menyerah untuk bertanya lagi. Tapi untuk terakhir ini saja kamu ikut campur urusan rumah tangga mereka." Janus menjulurkan tangannya. "Berikan ponselmu padaku."
Astrid mengambil ponsel yang sudah ia letakan di meja sebelah ranjangnya. "Untuk apa kamu meminta ponselku."
Dengan cepat Janus merebut ponsel di tangan Astrid. "Aku akan menghapus sekaligus memblokir nomor Luna."
Marahnya Janus memang tak bisa di anggap main-main. Bila Astrid tak mau memberitahu, maka Janus akan mengambil tindakan.
Tindakan Janus memang sedikit membuat Astrid kesal. Tapi mau bagaimana lagi, Astrid tak bisa melawan seorang imam di rumah tangganya. Yang saat ini perlu Astrid lakukan hanyalah menuruti perkataan suaminya bila pertengkarannya tak ingin menjadi lebih besar.
Setelah Janus menghapus dan memblokir nomor Luna, ia pergi mengambil obat di apotek yang sudah di beri resepnya oleh dokter. Setelah itu pun mereka pulang.
Sesampainya di rumah, raut wajah Janus masih saja di tekuk kesal. Astrid jadi merasa canggung, terutama ia juga merasa bersalah.
Walau Janus di tekuk kesal, ia masih sempat-sempatnya menggendong istrinya untuk membantunya masuk ke kamar. Janus membaringkannya secara hati-hati lalu menyelimutinya.
Walau canggung dan malu, Astrid perlu meminta maaf kepada suaminya, agar kesal dan marah suaminya mereda.
"Maaf sudah membuatmu marah," ucap Astrid dengan suara rendah.
Seketika Janus mengecup kening Astrid. "Cepat tidur, jangan banyak bicara."
Astrid tersenyum sembari mengangguk, ia pun langsung saja memejamkan matanya. Sedikit lebih lega setelah Janus mengecup kening, walau ia tak membalas permintaan maaf Astrid. Tapi Astrid tahu bahwa kecupan suaminya merupakan balasan dari permintaan maafnya. Itu artinya, bahwa Janus telah memaafkannya.
***
__ADS_1
Esok harinya, Janus menyuruh Astrid untuk istrihat di rumah. Walau sebenarnya Astrid ingin sekali pergi bekerja, tapi mau bagaimana lagi, berjalan saja ia sudah sangat kesulitan. Bagaimana mau melayani pengunjung di restoran, yang ada ia akan menyusahkan semua pekerja di restoran.
Astrid mengisi harinya seharian di rumah hanya menonton tv dan bermain game di ponsel pintarnya. Sedikit jenuh, karena seharian ini ia tak melakukan aktivitas apapun selain duduk di sofa dan berbaring di kamarnya.
Biarpun Janus tak ada, Astrid masih di perhatikan dua pembantu rumah tangganya, yang menyiapkan makan secara teratur, serta mengingatkannya untuk minum obat. Mungkin itu karena memang perintah dari Janus sendiri. Tak hanya itu saja, bahkan sempat-sempatnya Janus bertanya lewat pesan di ponselnya, apa istrinya itu sudah makan atau sudah minum obat. Padahal di restoran ia pasti sangat sibuk menyiapkan pesanan dari pengunjung.
Biarpun jenuh, Astrid sangat bahagia karena Janus yang tengah sibuk itu masih sempat-sempatnya memperhatikannya.
kejenuhannya sirna seketika, ketika dua temannya datang ke rumah sembari membawa buah-buahan. Hilda dan Alula datang menjenguk sehabis mereka pulang kuliah. Astrid sangat senang karena sudah lama mereka tak bertemu.
Alula dan Hilda pasti bertanya dengan kornologi kecelakaan Astrid, biarpun Astrid tak mau lagi mengingatnya, Astrid harus menjawabnya.
Setelah menceritakan kepada kedua temannya, mereka marah seperti yang di lakukan Janus semalam. Astrid sampai menggeleng sambil tersenyum, bisanya-bisanya mereka marah kepada orang yang tengah sakit.
**
Sore harinya, Alula dan Hilda pulang, rumahpun kembali sepi. Terlebih lagi Janus masih belum pulang bekerja. Astrid hanya bisa duduk diam sembari menatap jam, dan berharap Janus akan segera pulang.
"Biar saya saja yang buka pintunya," lontar Eli pembantunya.
Astrid menunggu orang yang menekan tombol bel rumahnya di ruang tamu. Namun, tak lama Astrid menunggu, orang tersebut datang. Dan ternyata itu adalah Bayu. Iparnya itu datang bersama dengan beberapa pria tinggi besar.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Astrid terheran-heran.
Bayu tak mejawab, ia langsung saja menerobos masuk ke rumah bersama orang-orang yang di bawanya. Ia berteriak memanggil Luna dan mencari ke setiap ruangan.
"Luna di mana kamu."
Astrid bisa memaklumi ulah Bayu yang menerobos masuk bersama orang yang di bawanya itu. Tapi ia tak bisa memaklumi ulah Bayu yang menerobos sembari mengacak-ngacak rumah dan memecahkan beberapa barang-barang.
Astrid di buat panik oleh ulah Bayu itu, ia langsung saja mengikuti Bayu. Dan dengan cepat ia menarik lengannya. "Apa yang kamu lakukan? Apa Kamu sudah gila."
__ADS_1
"Iya aku sudah gila, cepat katakan di mana Luna sekarang," bentak Bayu.
"Aku tak akan mengatakan keberadaan dia kepada monster jahat sepertimu. Lebih baik kamu segera pergi dari rumahku," ucap Astrid meninggikan suaranya.
Seketika Bayu menampar wajah Astrid. "Brengsek! lalu ia mencengkram kuat lengan Astrid hingga membuat luka yang berada di lengannya kembali berdarah.
"Katakan di mana Luna sekarang?" Ucap Bayu kembali membentak.
Astrid meringis kesakitan, walau sakit, ia tetap menahannya sekuat tenaga. Mulutnya tertutup rapat dengan mata yang saling bertatapan dengan mata Bayu.
Dua pembantunya tak bisa lagi tinggal diam setelah melihat majikannya itu. Keduanya terburu-buru menghampiri lalu melepaskan tangan Bayu dari lengan Astrid.
Walau cengkraman Bayu terlepas, bukan berarti ia tak kembali membuat ulah. Ia malah semakin bruntal menghancurkan seisi rumah. Astrid sudah terlalu lemah untuk melawannya, ia hanya bisa diam memperhatikan kebruntalan dari Bayu dan orang-orang yang di bawanya itu.
Setelah puas menghancurkan seisi rumah, Bayu pun pulang. Kedua pembantunya memapah Astrid ke ruang tengah.
"Saya akan ambilkan minum dan obat untuk nona Astrid," ucap Mira setelah membantu Astrid duduk di sofa.
Astrid terdiam dengan raut wajah yang nampak syok, dengan lengan yang terus saja bercucuran darah setelah di cengkram kuat oleh Bayu tadi.
Lalu tak lama kemudian Janus pulang, ia sangat syok melihat isi rumah yang hancur berantakan, di tambah lagi melihat darah di lengan istrinya.
"Siapa yang membuatnya terluka seperti ini?" tanya Janus panik kepada kedua pembantunya.
"Kakak tuan Janus tadi datang ke rumah," jawab Eli.
Janus menghela nafasnya. "Trid, sudah ku bilang katakan di mana Luna sekarang?"
Astrid masih sangat syok, bukannya menjawab ia malah menangis.
Janus berdiri. "Jika kamu tak mau menjawabnya, tak ada cara lain lagi." Janus mengeluarkan ponselnya di saku bajunya. Lalu ia menghubungi nomor pak Andy.
__ADS_1
"Saya akan menerima tawaran pak Andy untuk mengisi posisi yang sebelumnya di isi oleh Bayu. Dengan syarat, pak Andy harus mengumpulkan bukti kejahatan Bayu, saya ingin Bayu mendekam di penjara." Ucap Janus ketika teleponnya sudah di angkat oleh pak Andy.