
Matanya sudah terlalu lelah untuk menangis, setelah kemarin seharian penuh ia menguras seluruh air di kedua matanya. Wajah sendu masih tampak jelas dari raut wajahnya. Rambut dan pakaian tampak berantakan, hingga mata bengkak sehabis menangis pun masih saja berbekas. Astrid sudah tak peduli dengan tampilannya saat ini. Karena, bagaimana pun ia berpenampilan cantik, Astrid akan tetap saja di bicarakan orang-orang. Berawal dari statusnya sebagai murid yang di nikahi gurunya, hinaan terus berlanjut hingga pada penampilan. Mereka yang tak percaya mengenai perjodohan Astrid dan Janus, selalu berkata bahwa Astrid merupakan wanita hina yang rela di nikahi gurunya hanya demi uang. Mereka berpikir bahwa penampilan cantik Astrid merupakan hasil dari ia yang menggoda guru tampan kaya raya.
Tiap kali ada orang yang lewat di dekatnya, selalu saja mereka menyindir dengan kata-kata yang sering kali membuat hatinya sakit.
Tatapan jijik dari orang-orang terus saja mengarah padanya. Muak sudah ia atas penghinaan dari orang-orang di sekitarnya. Astrid ingin sekali melawan mereka yang selalu mencacinya, namun ia yang terlalu lemah tak memiliki keberanian untuk menghadang orang-orang bermulut jahat itu. Ia lebih baik diam tanpa mempedulikan apa yang di lontarkan orang padanya. Dari pada ia harus semakin tersakiti.
Hingga Astrid pun lebih memilih menelungkupan kepalanya di atas meja sembari memasangkan earphone di kedua telinganya.
Dua belas menit ia mendengarkan musik dengan volume tinggi. Sampai-sampai seorang pengawas ujian datang pun tak ia sadari. Hingga Alula pun beranjak dari tempat duduknya untuk menepuk pundak sahabatnya tersebut.
"Trid," panggil Alula.
Astrid mendongkak. "Iya ada apa La?"
"Pengawasnya sudah datang. Mau ku bantu menyimpan tasmu ke depan tidak?" tanya Alula.
"Tidak perlu, biar aku saja," jawab Astrid yang langsung saja membuka resleting tasnya lalu mengambil alat tulis yang akan di gunakannya. Setelah itu ia pun beranjak ke depan untuk menyimpan tas.
Sebelum ia mengerjakan ujian, Astrid terlebih dulu berdoa untuk kelancaran dalam melaksanakan ujiannya. Sangat bersungguh-sungguh Astrid berdoa. Ia berharap bahwa di hari kedua ia melaksanakan ujian, ia dapat dengan mudah menjawab seluruh pertanyaan.
Hanya butuh waktu dua menit ia berdoa, Astrid pun memulai mengerjakan soal di kertas yang sudah di bagikan pengawas padanya. Astrid tampak senang dengan pertanyaan-pertanyaan di kertas soal yang menurut dirinya terasa mudah. Astrid tak perlu berpikir terlalu keras mengenai soal tersebut, karena ujian kedua yang di laksanakannya merupakan mata pelajaran yang sangat di senanginya yaitu Bahasa Indonesia. Astrid memastikan bahwa ia akan mendapatkan nilai bagus dari mata pelajar tersebut.
__ADS_1
Setelah ujian Selesai, Astrid perlu kembali ke kantor untuk menyelesaikan introgasi yang di lakukan kepala sekolah dan staff guru. Astrid beranjak pergi ke kantor dengan kedua temannya, Hilda dan Alula.
Tiap langkah ia berjalan, orang-orang selalu saja melontarkan kata-kata jahat padanya. Walau hatinya sakit, Astrid menghiraukan orang-orang di sekitarnya itu. Ia selalu meyakinkan dirinya untuk tetap tegar dalam menghadapi masalah yang tengah muncul dalam kehidupannya ini.
Mungkin banyak orang yang membencinya, namun Astrid akan bersikap tenang karena memiliki dua sahabat yang setia menemani di saat ia terpuruk. Baik Hilda maupun Alula, keduanya tak berhenti melepas lengan Astrid. Hingga Astrid sampai di depan kantor, langkahnya tiba-tiba terhenti. Gugup sudah pasti, karena hari ini merupakan penentuan baginya untuk tetap bersekolah atau pun di keluarkan oleh pihak di sekolah.
"Kamu harus tenang saat menjawab semua pertanyaan dari guru," ucap Hilda tersenyum.
Astrid mengangguk sembari tersenyum pada kedua sahabatnya. Sebelum memasuki kantor ia terlebih dahulu menarik panjang nafasnya, lalu dengan berani ia pun memasuki kantor.
Saat ia berhasil memasuki kantor, hanya ada suami beserta kepala sekolah dan jajaran guru yang tengah duduk berkumpul. Namun, orang tua yang sudah ia hubungi lewat pesan di ponselnya tak nampak hadir di kantor. Astrid pun tampak keheranan, padahal tadi pagi ia sudah menyuruh ibunya untuk datang tepat waktu di sekolah.
"Bagaimana dengan orang tuamu, kenapa belum juga hadir?" Bahkan kakek dari suamimu juga tak nampak hadir," ucap sinis kepala sekolah.
Namun, belum juga Astrid menyalakan layar ponselnya. Baskara datang ke kantor dengan ekpsresi yang tampak marah.
"Ada hal penting apa pak Baskara sampai datang kesini?" tanya kepala sekolah dengan eksperesi terkejut.
Astrid dan Janus pun merasa heran, mengapa kepala sekolah tampak mengenali Baskara. Padahal setahu Astrid dan Janus, Baskara baru pertama kali ke sekolah.
"Saya di minta cucu saya untuk datang kesini?" jawab Baskara sembari duduk di sebelah Janus.
__ADS_1
"Maksud anda, cucu yang mana?" tanya kepala sekolah yang tampak syok setelah tahu bahwa Baskara datang karena cucunya.
"Janus adalah cucu saya sekaligus orang yang akan mewarisi sekolah ini," jawab Baskara.
"Maaf pak saya kira pak Janus bukan cucu anda," ucap syok kepala sekolah.
Janus cukup terkejut dengan apa di ucapkan kakeknya itu. Selama ia tinggal di indonesia, selain kakeknya yang merupakan pengusaha kaya. Janus tak mengetahui bahwa pemilik dari sekolah tempatnya mengajar merupakan sekolah elit yang di miliki kakeknya. Begitu pun dengan Astrid yang juga terkejut setelah mengetahui bahwa ia merupakan cucu menantu dari seorang pemilik sekolah.
"Saya dengar kalau pernikahan cucu saya banyak di ketahui oleh orang-orang akibat foto yang tersebar," ucap Baskara.
"Iya pak, ada pihak yang menyebarkan foto pernikahan pak Janus dan Astrid," ucap kepala sekolah.
"Pernikahan Janus memang saya yang mengatur. Saya meminta Janus untuk menikahi cucu dari sahabat saya segera. Ini murni bukan kesalahan Janus dan Astrid. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar. Saya ingin meminta kepada anda dan jajaran guru di sekolah ini, untuk segera mencari orang yang menyebarkan foto pernikahan cucu saya," tegas Baskara.
Kepala sekolah mangangguk. "Baik pak saya akan mencari tahu tentang orang yang menyebarkannya."
"Saya beri waktu satu hari. Jika besok kalian semua tidak dapat menemukannya, saya akan pecat kalian dan akan membuat kalian semua sulit untuk mendapatkan perkejaan lagi," tegas Baskara.
Kepala sekolah termasuk jajaran guru yang hadir di kantor pun bergetar ketakutan atas ancaman yang di lontarkan Baskara pada mereka. Semuanya tampak panik atas ancaman tersebut. Terlebih lagi Baskara terkenal dengan orang yang akan tega membuat bawahannya kehilangan pekerjaan.
Baskara beranjak dari tempat duduknya. "Janus, Astrid ayo kita pulang sekarang."
__ADS_1
Astrid dan Janus pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi mengikuti Baskara keluar dari kantor. Saat mereka berada di luar, semua murid yang masih ada di sekolah tampak terkejut dengan kedatangan dari pemilik wajah yang sering muncul di televisi dan majalah bisnis. Semua mata tertuju menatap pria yang tengah sakit kanker stadium akhir itu. Mata mereka tak teralihkan, menatap kagum orang yang berpengaruh besar dalam dunia bisnis.