
Astrid memakai satu set pakaian yang sudah di sisakan Janus. Setelah usai memakai baju, Astrid melihat satu lemari bajunya sudah di masukan Janus ke dalam kotak-kotak yang nantinya akan di buang. Astrid sampai menggelengkan kepalanya, saat menatap baju-bajunya yang ia beli dari uang hasil keringat orang tuanya akan di buang semudah itu oleh suaminya sendiri.
"Dari pada di buang, apa lebih baik jika bajunya di berikan saja," ucap Astrid menatap kotak-kotak yang berisi pakaiannya.
"Aku tak ada waktu untuk membagikan baju-baju ini. Dan jika di simpan di sini, akan membuat sempit apartemen kita. Jadi lebih baik kita buang saja," ucap Janus sembari merapihkan kotak-kotak tersebut.
"Sepulang kita berbelanja, kita masih ada waktu ko. Bukankah sayang dengan baju yang masih layak di pakai itu."
"Lebih mudah jika di buang saja. Lagian pasti capek jika harus membagikan pakaian ini. Dan jika ingin di berikan, mau di berikan ke siapa."
Tiba-tiba saja suara bel pintu berbunyi.
"Kring...
"Nah dia sudah datang," ucap Janus beranjak pergi untuk membuka pintu.
"Siapa yang datang?" teriak Astrid heran.
Janus kembali ke ruang tengah, Astrid di buat heran saat tahu seseorang yang datang ke apartemennya adalah Bianca.
"Loh kak Bianca ada apa pagi-pagi kesini?" tanya Astrid.
"Dia yang akan mengantar berbelanja semua keperluanmu," ucap Janus.
"Bukannya kamu yang akan mengantarku," ucap Astrid heran.
"Aku mana ngerti keperluan dari perempuan. Hari ini aku akan bekerja, kamu pergi saja bersama Bianca," ucap Janus beranjak pergi ke kamar lalu kembali membawakan Black Card. "Aku titip istriku, buat dia tampil cantik," ucapnya menyerahkan kartu tanpa limit terbatas itu kepada Bianca.
Bianca meraih Black Card yang di serahkan padanya. "Siap bos. Apa aku akan dapat keuntungan setelah mengantar istrimu pergi shopping?"
"Kamu juga boleh membeli sesuatu dari kartu itu. Oh ya, aku akan memberikan paswordnya lewat pesan dari ponsel Astrid," jawab Janus.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang," ucap Bianca girang lalu terburu-buru pergi sembari menarik lengan Astrid.
__ADS_1
Bianca dan Astrid menaiki taxi online yang telah di pesannya lewat aplikasi di ponsel pintarnya. Taxi tersebut membawa Bianca dan Astrid pergi ke sebuah mall. Saat tiba di mall Bianca begitu antusias memilihkan pakaian untuk istri dari Janus Geo Sayuda tersebut.
Setelah Bianca berhasil membeli puluhan pakaian dan beberapa sepatu dan juga tas, ia kemudian mengajak Astrid pergi ke salon untuk mengubah tampilan dari rambutnya. Karena terlalu banyak mereka membeli barang, Bianca pun harus menitipkan barang-barang tersebut di tiap toko.
"Apa tidak apa-apa jika pakaiannya di titipkan di toko. Dan jika kita kembali membawa belanjaan, bukankah terlalu banyak untuk kita bawa," ucap Astrid.
"Tidak apa-apa, aku sudah menyuruh orang untuk mengantarnya ke apartemenmu," ucap Bianca tersenyum.
Astrid pun dengan santai memotong rambutnya di salon. Pekerja di salon hanya memotong sedikit rambut Astrid sesuai pesanan dari Bianca. Ia hanya mengubah tampilan rambut panjang Astrid dengan model layer panjang sepunggung dan poni ala korea yang sering di sebut model See Through Bang. Setelah usai di potong, tampilan Astrid kini benar-benar jauh berbeda dari sebelumnya. Wajahnya yang cantik jadi lebih jelas terlihat saat model dari rambutnya telah mengubah penampilannya.
"Istri Janus benar-benar sangat cantik," ucap Bianca mengacungkan dua jempolnya. "Hanya satu lagi yang perlu kita beli untuk mengubah tampilanmu jadi lebih sempurna."
"Kita akan beli apa lagi? Ini sudah sore, sebentar lagi kak Janus pulang dan aku belum menyiapkan makan malam," ucap Astrid menatap jam yang melinkar di pergelangan tangannya.
"Tidak perlu khawatir, dia kan pintar memasak. Untuk makan malam di rumah serahkan saja pada suamimu," ucap Bianca terburu-buru beranjak pergi sembari menarik lengan Astrid.
Bianca membawa Astrid ke toko yang seisinya alat untuk mempercantik diri.
"Jadi kita akan membeli alat make up? aku saja tidak bisa menggunakan alat make up, mengapa kita harus membelinya," ucap Astrid.
Bianca memilihkan beberapa make up yang cocok di gunakan untuk jenis kulit Astrid. Hingga setengah jam sudah, Bianca telah memilih satu set alat make up yang akan di gunakan oleh istri pemilik dari Black Card tersebut. Saat akan membayar, Astrid cukup tercengang saat melihat harga dari make up yang di belinya bersama Bianca, mencapai total hampir satu juta lebih.
"Bukankah ini terlalu mahal, hanya untuk beberapa alat make up yang bentuknya kecil-kecil begini," bisik Astrid.
"Tidak perlu khawatir, suamimu yang tampan itu kan kaya. Dia tidak akan peduli dengan harga-harga dari barang yang kita beli, apa lagi ini untuk istrinya tercinta."
"Tercinta apanya sih," ucap Astrid dengan raut wajahnya yang memerah.
Setelah selesai membayar, akhirnya Astrid dan Bianca bisa pulang setelah seharian ini mereka habiskan waktunya untuk berbelanja.
Setibanya di apartemen, Astrid di kejutkan dengan kotak dan wadah yang berisikan pakaian, sepatu, dan juga tas yang di belinya tadi. Seisi apartemen hampir penuh dengan barang-barang yang di belinya itu.
"Wah jiwa shoppingmu benar-benar luar biasa Bianca," ucap Janus menggelengkan kepala saat istri dan temannya itu tiba di apartemen.
__ADS_1
"Ini belum seberapa, aku juga beli beberapa set pakaian tidur untuk Astrid lewat online. Karena aku keburu capek, jadi tidak semua toko bisa ku kunjugi. Dan harusnya pesananku hari ini datang," ucap Bianca.
"Kring...
Seketika suara bel di pintu berbunyi.
"Itu pasti pesanannya datang." Bianca beranjak pergi membukakan pintu.
Saat pintu terbuka, benar saja seorang kurir datang membawakan tumpukan kotak yang berisikan pakaian tidur yang telah di pesan Bianca.
"Nah yang ini sangat spesial untuk Janus dan juga Astrid. Kalian bisa buka kotaknya sekarang," ucap Bianca menaruh kotak-kotak tersebut di atas meja.
"Hah spesial untukku. Aku tak menyuruhmu membelikan pakaian untukku," ucap Janus heran.
"Ini untuk di pakai Astrid tapi kamu juga bisa dengan puas melihatnya. Buka saja pasti kamu suka," ucap Bianca kepada Janus.
Janus pun segera membuka kotak yang berisikan pakaian tidur untuk istrinya itu. "Ini hanya pakaian tidur biasa, apanya yang spesial."
"Kamu baru membuka tiga kotak, tersisa empat kotak lagi untuk kamu buka," ucap Bianca memberikan tumpukan kotak kepada Janus.
Janus pun kembali membuka kotak-kotak yang belum selesai di bukannya. Namun, tiba-tiba saja Janus di buat terkejut saat empat kotak yang di bukannya berisikan empat set pakaian tidur seksi dengan jenis lingerie.
"Pakaian menerawang seperti ini, kamu sebut pakaian tidur. Jika astrid ingin memakai pakaian ini, sekalian saja tidak perlu memakai baju," ucap Janus.
Seketika Astrid pun memukul lengan Janus sekuat tenaga. "Dasar mesum, lagi pula aku tidak akan memakai pakaian itu. Dan aku juga tidak akan menunjukan tubuhku kepadamu," ucapnya dengan raut wajah yang memerah.
"Kenapa Astrid bilang begitu. Jangan bilang kalian belum melakukan itu," ucap Bianca heran.
"Sudah jelas kita tidak melakukannya, dia kan masih sekolah," ucap Janus lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Astrid. "Tapi katanya kalau sudah lulus, dia pasti mau melakukan itu."
Saat Janus menggodanya, raut wajah Astrid semakin memerah saja. "Kata siapa aku mau melakukan itu."
"Bukankah setelah lulus kakek menyuruh kita untuk tidak menunda momongan. Aku juga sudah tidak sabar menunggu malam pertama yang sempat kita tunda," ucap Janus tersenyum menggoda.
__ADS_1
Seketika Astrid pun menelan salivanya. "Kak Bianca, lebih baik baju-baju itu buang saja atau bawa pulang sama kak Bianca. Jika baju-baju itu semakin di lihat kak Janus, jiwa mesumnya akan meronta dan aku akan terkena bahaya," ucapnya sembari menyingkirkan kotak-kotak yang berisikan lingerie.