Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
70. Semuanya Salahku


__ADS_3

Saat pulang Janus lebih memilih membawa Astrid menumpangi mobilnya di bandingkan harus naik mobil bersama dengan kedua body guardnya. Karena untuk saat ini bukanlah seorang body guard yang harus menjaga Astrid, melainkan Janus sendiri yang sebagai suami harus menjaga istrinya.


Selama perjalanan pulangnya, baik Janus maupun Astrid keduanya diam membisu. Mereka tampak gundah dengan situasinya saat ini. Janus yang sebagai suami mengkhawatirkan nasib istrinya di sekolah, ia sangat takut bila Astrid akan di keluarkan akibat dari statusnya yang sebagai istri dari seorang Janus Geo Sayuda.


Janus tak peduli jika dirinya di pecat di sekolah, tapi lain halnya dengan Astrid yang selangkah lagi akan menyelesaikan masa SMAnya harus di keluarkan karena statusnya yang sudah bersuami itu. Hingga membuat Janus tak bisa berpikiran jernih.


Astrid yang tengah bersedih itu terus memainkan kuku jarinya, yang seakan ia merasa gelisah. Nafasnya berat dan pandangannya pun tak henti teralihkan dari kaca jendela di sampingnya.


Janus pun langsung saja menggenggam tangan kanan milik istrinya tersebut. Namun, Astrid langsung saja menghempaskannya. Janus tampak kebingungan dengan sikap istrinya yang tiba-tiba tak ingin di sentuh olehnya. Padahal istrinya tak pernah menolak jika tangannya di sentuh oleh Janus.


"Astrid," panggil Janus dengan suara rendah. Namun, Astrid sama sekali tak menyahutnya. Bahkan meliriknya pun tak ia lakukan. Pandangannya terus tertuju menatap ke arah kaca di sampingnya.


Sikap dingin dari Astrid mampu membuat Janus merasa bersalah atas masalah yang terjadi. Ia pun berpikir bahwa pernikahannya ini terjadi karena Janus sendiri yang memaksa Astrid untuk menyetujui perjodohan yang di lakukan oleh kedua belah pihak keluarga.


Karena diamnya Astrid, kesunyian pun terjadi selama perjalanan pulangnya. Janus yang merasa bersalah harus menenggelamkan kata-katanya. Walaupun ia sendiri sangat ingin menghibur istrinya tersebut.


Lalu saat mereka sampai di depan pintu apartemen, tiba-tiba Titan datang menghampiri dengan raut wajah yang nampak cemas.

__ADS_1


"Trid, apa kamu baik-baik saja?" tanya Titan.


Astrid mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Namun, Titan tak bisa memastikan bahwa saat ini batin Astrid baik-baik saja. Ia pun langsung saja meraih tangan wanita yang berstatus istri dari gurunya itu.


"Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Tapi aku pasti akan menemukan dan membalas orang yang telah menyebarkan foto pernikahanmu.


Janus pun langsung saja menyingkirkan tangan istrinya dari Titan. Yang seketika Janus menarik leher baju Titan.


"Jangan pernah menyentuh tangan istriku. Kamu so-soan mau nyari penyebar foto pernikahanku. Aku sendiri sangat mencurigaimu sebagai penyebar foto tersebut, karena selain teman Astrid kamu juga tahu tentang status kita. Aku tak mencurgai Hilda dan Alula, karena aku tahu mereka tak mungkin menyebarkankannya. Tapi aku tak bisa mempercayaimu," ucap Janus dengan mata yang di bakar oleh emosi.


Dengan mata yang melotot, Titan menyingkirkan tangan Janus dari leher bajunya. "Jadi kamu mencurigaiku."


Titan meninggikan suaranya. "Bagaimana bisa aku menyebarkan foto pernikahannya. Aku sangat tahu bahwa Astrid sangat menyukaimu. Dan aku yang tulus mencintainya tak bisa menyakiti perasaanya. Jika Astrid berpisah denganmu, maka hatinya terluka. Dan aku tak tega jika dia harus meneteskan air matanya."


"Itu hanya alasan kamu saja," ucap Janus memiringkan senyumnya.


"Aku akan terima jika kamu mencurigaiku, walau bukan aku yang melakukannya. Tapi, ini semua terjadi karena kamu yang menikahinya. Jika saja Astrid tidak menikah, ini semua tidak akan terjadi."

__ADS_1


"Cukup sudah!!" ucap Astrid meninggikan suaranya lalu berdiri di tengah-tengah mereka. "Jika kalian tidak bisa berhenti bertengkar, bukan hanya orang-orang di sekolah yang tahu jika aku sudah menikah. Tapi semua penghuni di apartemen ini juga akan tahu karena suara keras dari kalian. Aku sudah muak dengan masalah yang terjadi hari ini, kalian jangan lagi menambah masalah kepadaku.


Astrid kemudian terburu-buru memasuki apartemen dengan kedua mata yang berurai air. Tangisnya tak bisa lagi ia bendung, ia menangis sembari duduk di ruang tengah. Apa yang terjadi hari ini membuat Astrid sangat bersedih. Hatinya sakit atas hinaan dan ejekan yang di lakukan oleh orang-orang. Sembari menangis Astrid memegang dadanya yang terasa sesak.


Janus datang menghampiri, lalu berjongkok di depan istrinya. Kemudian menyeka bulir air yang menempel di kedua pipi istrinya itu. "Jangan menangis, jika kamu menangis hatiku sakit." Janus memegang erat kedua tangan istrinya. "Aku janji akan membalas semua perbuat jahat dari mereka yang menyebarkan foto pernikahan kita."


Namun, tiba-tiba saja Astrid melepaskan kedua tangannya dari tangan Janus. "Saat ini aku ingin sendiri. Jadi, biarkanlah aku sendiri," ucap Astrid dengan kedua sudut mata yang tak hentinya meneteskan bulir air. Yang kemudian ia menutup wajah dengan kedua telapak tanganya sembari menangis sesegukan.


Janus pun lantas berdiri, ia kemudian melangkah masuk ke kamar. Pintu kamar di tutup rapat olehnya, ia duduk menyender di balik pintu sembari menelungkupkan kepalanya di atas lutut. Hatinya terlampau sakit saat mendengar suara tangis dari istrinya. Hingga berulang kali ia menyalahkan diri atas masalah yang terjadi.


Janus kemudian meraih ponsel dari saku celananya. Ia menyalakan layar ponsel, lalu mengirimkan sebuah pesan kepada kedua body guardnya untuk memberitahu Baskara yang harus hadir besok sebagai saksi atas pernikahan cucunya tersebut.


Janus tak bisa datang langsung menemui kakeknya. Karena Janus tak bisa membiarkan istrinya yang tengah menangis itu seorang diri di apartemen. Walau istrinya meminta untuk membiarkannya sendiri, tapi Janus tak tega bila harus meninggalkannya. Lebih baik Janus tetap berada di apartemen untuk menemani Astrid, walau hanya terhalang oleh pintu kamar.


Hingga pukul tujuh malam, Janus belum juga keluar dari kamarnya. Termasuk Astrid yang belum juga memasuki kamar untuk berganti pakaian. Janus pun langsung saja membuka pintu kamarnya. Namun saat pintu kamar di bukanya, Astrid sudah tertidur pulas di atas sofa. Janus lalu menghampiri Astrid sembari membawakan selimut untuknya.


Janus menyelimuti tubuh istrinya, yang kemudian ia perlahan mengencup kening wanita yang matanya sembab itu. Janus berjongkok di samping sofa sembari mengelus kepala istrinya.

__ADS_1


"Aku harap malam ini kamu tidur nyenyak sampai pagi tiba. Dan kuharap, dengan kamu yang tenggelam dalam tidurmu bisa melupakan masalah dan kesedihanmu. Jika tuhan memberikan mimpi buruk, kuharap itu hanya terjadi padaku. Semoga mimpimu indah, seindah cerita yang berakhir bahagia." Janus lalu berdiri dan kembali mengecup kening Astrid.


Janus melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kedua matanya mulai di tutup rapat olehnya. Namun saat matanya tertutup, entah mengapa kedua sudut di matanya mengeluarkan bulir air. Padahal ia sendiri tak berniat meneteskan air matanya. Pikirannya kalut hingga membuatnya tak bisa terhindar dari bayang-bayangan rasa bersalah.


__ADS_2