
Esok harinya, Janus yang tengah marah itu pergi membawa pulang istrinya. Ia terlampau kesal terhadap teman-temannya, hingga membuatnya pergi tanpa berpamitan. Terutama kepada pria yang sering di sebutnya bocah tengil. Hancur sudah rencana liburan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari karena ulah jahil dari pria yang sangat mendambakan istrinya itu.
Teman-temannya lebih membela Titan yang salah, di bandingkan dirinya yang terkena dampak dari kejahilan Titan. Bukankah tak adil bagi Janus yang menginginkan Titan untuk di tegur tapi malah di bela. Terutama Bianca yang terlalu membela adik kesayangannya itu.
Dalam perjalanan pulangnya raut wajah Janus terus saja di tekuk kesal. Hingga membuat Astrid pun tampak kebingungan menghadapi suaminya yang tengah marah itu.
"Kak, bukankah marahmu terlalu berlebihan. Kita pulang lebih dulu tanpa memberitahu teman-teman. Bukankah kak Janus yang mengadakan acara liburan di vila, tapi kak Janus sendiri yang pulang lebih dulu tanpa memberitahu mereka," ucap Astrid dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
"Buat apa aku berpamitan kepada mereka yang sudah membela orang yang salah. Kamu juga sama seperti mereka, tak seharusnya kamu mengizinkan Titan ikut di acara kita," ucap Janus tanpa menatap, dan hanya fokus menyetir.
"Aku tahu kamu marah pada Titan. Tapi kamu tidak perlu bersikap kekanakan seperti ini. Kamu ini pria dewasa, aku tahu kamu adalah pria yang cukup pintar dalam menyelesaikan masalah," tegur Astrid.
"Ok aku bisa menyelesaikan masalah dengan mereka dan berbicara baik-baik kepada mereka. Tapi, apakah mereka bisa menegur Titan. Dia bukan anak kecil lagi, dia tak sepantasnya bersikap semena-mena terhadapku. Bukannya menegur, mereka malah membela bocah tengil itu, terutama Bianca," ucap Janus bernada marah.
"Aku tahu...," ucap Astrid yang seketika di potong oleh Janus. "Berhenti berbicara lagi Trid, apa yang kamu katakan sama sekali tak membantuku. Kamu hanya semakin membuatku marah."
Ucapan Astrid tak mempan terhadap pria keras kepala yang tengah marah itu. Ia pun mengalah terhadap suaminya, berhenti berbicara dan berdiam selama perjalanan pulangnya.
Astrid pun sama kesalnya terhadap Titan yang mengganggu kebersamaannya dengan Janus. Tapi bukankah Janus juga terlalu bodoh, yang kemarin berbicara berbulan madu tapi malah mengajak teman-teman. Yang Astrid mau adalah berbulan madu yang hanya di lakukan berdua tanpa mengajak siapapun. Biarpun sederhana, jika berbulan madu hanya berdua saja akan menciptakan momen indah tanpa adanya gangguan. Harapan Astrid sirna sudah, bulan madu yang di harapkan tak sesuai apa yang di inginkannya.
Dua jam lebih mobil yang di kendarai Janus melaju. Akhirnya mereka pun sampai di parkiran bawah tanah di apartemennya. Janus yang masih saja di tekuk kesal itu, memilih berjalan lebih dulu di bandingkan harus membantu Astrid yang tengah kesusahan membawa kopernya.
Barang yang di bawa Astrid terlalu banyak, hingga membuat kopernya terasa berat. Astrid sangat kesal, karena Janus tak peka untuk membantunya. Astrid tahu Janus marah terhadapnya, tapi bukan berarti dia harus meninggalkannya seorang diri dengan koper yang terasa berat itu.
Astrid yang tengah kesal itu seketika menangis sembari menarik kopernya. "Hiks... kak Janus," panggil Astrid.
__ADS_1
Sontak langkah Janus pun terhenti setelah mendengar istrinya menangis sembari memanggilnya.
"Apa kamu tidak mau membantuku," ucap Astrid yang masih meneteskan air matanya.
Janus pun langsung saja berbalik arah menghampiri istrinya, lalu meraih koper yang tengah di pegang oleh istrinya tersebut.
"Seharusnya kemarin kamu tidak perlu membawa banyak barang," ucap Janus dengan raut wajah yang masih di tekuk kesal.
Astrid berdiam diri di tempat dengan kedua sudut mata yang tak henti mengeluarkan bulir air.
"Aku tahu, aku salah sudah mengizinkan Titan ikut liburan bersama kita," ucap Astrid yang seketika membuat langkah Janus kembali terhenti. "Tapi bukankah kamu juga salah. Kemarin kamu bilang padaku bahwa kita akan berbulan madu, tapi kamu malah mengajak teman-teman. Kamu tahu tidak, bahwa namanya bulan madu hanya di lakukan berdua tanpa mengajak siapapun," teriak Astrid yang kemudian terburu-buru menghampiri Janus dan kembali menarik kopernya.
Ucapan Astrid pun mampu membuat Janus merasa bersalah. Terutama saat menatap mata Astrid yang tak hentinya mengeluarkan bulir air.
Sontak Astrid pun langsung saja menghempas tangan Janus. "Berhenti menyentuhku."
Seketika Janus pun memeluk erat tubuh istrinya. Hingga membuat tangis istrinya pecah dalam pelukannya.
"Hiks... dasar pria jahat," ucap Astrid yang berulang sembari memukul dada bidang milik suaminya.
"Maafkan aku," ucap Janus dengan nada rendah.
Mereka berpelukan, sampai lift berhenti pun tak mereka sadari.
"Janus, Astrid," seru seseorang yang tengah berdiam di depan pintu lift.
__ADS_1
Sontak Janus dan Astrid pun terburu-buru melepaskan pelukannya, lalu menatap ke arah orang yang menyebut namanya itu. Tak di sangka orang menyebut namanya ternyata Baskara yang sedang bersama supir pribadinya. Astrid dan Janus pun terburu-buru keluar dari lift.
"Sedang apa kakek di sini?" tanya Janus.
"Kakek habis dari apartemenmu. Kakek dari tadi menunggu di depan apartemenmu, dan kakek juga sempat menghubungimu. Tapi ponselmu sepertinya tidak aktif," jawab Baskara yang tengah duduk di kursi roda.
Janus langsung saja mengambil ponsel di dalam saku hoodienya, lalu segera mengeceknya. "Sepertinya Janus lupa mengisi baterai, ponsel Janus mati kek."
"Pantas saja kamu sulit di hubungi," ucap Baskara lalu menatap ke arah cucu menantunya. "Astrid habis menangis?" tanyanya heran.
Astrid pun terburu-buru membersihkan sisa air mata di kedua pipi dan matanya. "Engga kek, mending kita segera masuk ke apartemen dari pada ngobrol di sini," ucap Astrid tersenyum lalu segera mendorong kursi roda kakek mertuanya.
Setelah memasuki apartemen, Astrid pun langsung saja menyiapkan minum dan cemilan untuk Baskara dan supir pribadinya.
"Silahkan di cicipi." Astrid meletakan minuman dan cemilan di meja.
"Tidak perlu repot-repot Trid, kakek cuma sebentar di sini," ucap Baskara.
"Mengapa hanya sebentar, kakek harusnya bisa lebih lama di sini," ucap Astrid.
"Kakek kesini hanya ingin memberikan ini kepada kalian," ucap Baskara meletakan benda berbentuk kubus yang di bungkus kertas kado di meja. "Kalian bisa membukanya sekarang."
Janus pun langsung saja meraih benda yang di letakan kakeknya di meja. Lalu segera membuka benda berbentuk kubus tersebut.
Saat di bukanya, baik Janus maupun Astrid keduanya nampak terkejut. Satu kunci rumah berserta alamat berada di dalam kotak berbentuk kubus tersebut. Bukan hanya itu saja yang ada di dalam kotak, tapi juga ada dua tiket pesawat menuju korea selatan.
__ADS_1