
Tepat pukul 19.00 waktu korea, pesawat yang di tumpangi Astrid dan Janus mendarat di Incheon International Airport. Perbedaan waktu dua jam antara Korea dan Indonesia membuat matahari di sana lebih cepat tenggelam. Keadaan di korea saat itu sudah memasuki petang.
Astrid menatap jam yang melingkar di lengannya masih menunjukan pukul 17.00.
"Baru pukul lima sore tapi kenapa sudah gelap," bisik Astrid ke telinga Janus.
Sontak Janus pun tertawa kecil atas bisikan yang di lontarkan istrinya itu. "Jam tanganmu masih mengikuti waktu Indonesia. Kita sudah di korea, perbedaan waktu Korea dan Indonesia sekitar dua jam. Jika jam tanganmu menunjukan pukul lima sore, berarti di sini sudah menunjukan pukul tujuh malam."
"Aku pikir jam tanganku rusak nyatanya aku lupa jika sudah menginjakan kaki di negeri para oppa," gumam Astrid sembari merangkul lengan Janus.
"Ingat ya, meski di sini tempatnya para aktor yang kamu idolakan di drakor. Tapi oppamu cuma aku seorang," gerutu Janus.
Astrid mengacungkan dua jari jempolnya. "Neomu motssita, Janus oppa." (Kamu tampan sekali kak Janus)
Seketika rona merah di wajah Janus muncul. Ia sampai menggelengkan kepalanya atas pujian dari bahasa korea yang di lontarkan istrinya tersebut.
"Sepertinya kamu sudah jago bahasa korea. Bila ku tinggal, kamu tidak kesulitan karena sudah pandai berbicara bahasa korea," ucap Janus bercanda.
Astrid menggelengkan kepalanya. "Tidak, jangan tinggalkan aku. Aku hanya bisa beberapa kosakata yang ku pelajari lewat drama. Jika kamu tinggalkan aku sendiri, bisa-bisa petugas bandara mengumumkan anak hilang," ucapnya dengan raut wajah yang di tekuk kesal.
Janus pun lantas tertawa, ia tak menyangka bahwa istrinya akan menganggap serius candaanya. Hingga membuat Astrid mengenggam erat lengan suaminya tersebut.
Sesaat setelah keluar dari bandara, Janus dan Astrid segera menumpangi taxi menuju tempat tinggal ibunya berada. Selama perjalanan, Astrid menatap gemerlap lampu dari gedung-gedung di kota seoul lewat jendela taxi. Tidak lupa Astrid juga sempat melihat sungai yang paling terkenal di korea, sungai apa lagi jika bukan sungai Han. Berasa mimpi baginya, untuk kali pertama ia melihat kota sekaligus sungai yang dulunya hanya bisa ia lihat lewat drama korea, sekarang ia melihatnya secara nyata. Bahkan ia pergi ke negeri gingseng bersama pria keturunan korea pula. Bukankah Astrid sudah nampak seperti pemeran utama di drama korea. Memiliki suami tampan bak aktor korea dan ia pun menginjakan kakinya di tanah yang di sebutnya negara para oppa. Betapa senangnya Astrid. Namun, di balik kesenangannya, ia juga merasa gugup karena akan bertemu dengan wanita yang telah melahirkan belahan jiwanya itu.
**
__ADS_1
Sesampainya di tempat tujuan, setelah membayar taxi. Janus dan Astrid segera beranjak turun. Betapa gugupnya Astrid saat ia menginjakan kakinya di depan gedung apartemen, yang katanya merupakan gedung yang terdapat apartemen milik ibu mertuanya itu.
Astrid menarik nafas panjangnya lalu menghebuskannya dengan cepat. "Kak, apa penampilanku masih cantik?" tanya Astrid bernada gugup.
"Kan sudah ku bilang, mau bagaimanapun tampilanmu, kamu tetap cantik. Jadi tidak perlu gugup, bila nanti bertemu ibuku," ucap Janus tersenyum.
Janus dan Astrid segera menaiki lift menuju lantai sembilan, ke tempat apartemen milik Yuna. Sesampainya di depan apartemen, Janus pun segera menekan tombol bel. Namun, berulang kali Janus menekan tombol, Yuna tak nampak membuka pintu apartemennya.
"Kak, sepertinya ibu kamu tidak ada di dalam. Apa lebih baik kita tunggu saja atau kembali lagi besok?" tanya Astrid.
"Tidak perlu menunggu atau kembali besok, karena ini sudah malam bila harus mencari hotel. Aku tahu pasword apartemen ini," ucap Janus sembari menekan tombol pasword di samping pintu.
Setelah Janus menekan pasword, akhirnya pintu pun terbuka. Namun, ada yang aneh setelah Janus dan Astrid memasuki apartemen. Semua funiture di dalam apartemen di tutupi oleh kain putih dan lantai pun sedikit berdebu.
"Apa benar ini tempat ibumu tinggal, kak?" tanya Astrid heran dengan mata yang berputar menatap sekeliling ruangan.
"Tapi, tempat ini sepertinya sudah lama kosong," ucap Astrid heran.
"Lebih baik kita bereskan dulu tempat ini, dan malam ini kita menginap di sini saja. Besok pagi kita pergi ke busan, ke tempat tinggal bibiku. Aku harus menemui bibiku, jika ingin tahu keberadaan ibuku di mana," pungkas Janus.
Astrid dan Janus pun segera membereskan apartemen milik ibunya tersebut. Semua barang-barang di apartemen nampak sama seperti saat Janus tinggal dulu. Bukankah terasa aneh jika ibunya pindah tempat tinggal tanpa membawa satu pun barang dari apartemennya. Perasaan Janus nampak tak nyaman. Ada apa sebenarnya dengan ibunya itu. Hingga membuat Janus merasa cemas setengah mati, memikirkan tentang kondisi wanita yang telah melahirkannya itu.
Janus yang nampak cemas itu, tak bisa fokus beres-beres. Hingga membuat salah satu guci pun tersenggol olehnya.
"Prank...
__ADS_1
Guci pun pecah seketika akibat tersenggol oleh Janus.
"Kak, tidak apa-apa," ucap Astrid panik sembari menghampiri.
"Iya aku baik-baik saja. Kamu jangan mendekat supaya tidak terluka," ucap Janus sembari membereskan pecahan dari guci tersebut.
Astrid pun menurut untuk tak mendekati area yang terdapat pecahan dari guci. Namun, saat Janus tengah membereskan pecahan tersebut. Tiba-tiba salah satu jari tangannya terluka. Seketika Astrid panik, ia pun terburu-buru menghampiri suaminya tersebut.
"Tanganmu berdarah," ucap Astrid meraih tangan Janus.
"Sudah ku bilang jangan mendekat, bagaimana jika kamu terluka," ucap Janus yang juga panik karena Astrid mendekat.
"Lagi pula aku mengenakan sandal, mana mungkin bisa terluka," ucap Astrid sembari mengusap luka di tangan milik suaminya itu. "Bagaimana nih, aku tidak sempat membawa obat luka," ucapnya cemas.
Janus pun tersenyum menatap istrinya yang nampak cemas itu. "Tidak perlu khawatir, habis membereskan ini aku akan pergi ke apotek membeli obat."
"Bagaimana bisa pergi, tanganmu kan terluka," ucap Astrid.
"Jadi mau kamu yang pergi membeli obatnya," ucap Janus tertawa kecil.
"Mana mungkin, aku kan tidak pandai berbicara korea," ucap Astrid sembari meniup luka di jari tangan milik suaminya tersebut.
"Oleh sebab itu, setelah membereskan ini aku akan pergi keluar. Sambil beli obat, aku juga akan membeli makan malam untuk kita, jadi kamu tunggu saja di sini," ucap Janus yang kembali membereskan pecahan dari guci yang ia senggol.
Setelah usai membereskan semuanya, Janus pergi seorang diri keluar. Sementara Astrid menunggu suaminya sendiri di apartemen.
__ADS_1
Astrid hanya menunggu satu jam, Janus sudah kembali lagi ke apartemen sembari membawa dua porsi galbitang untuk menu makan malam pertamanya di korea. Astrid pun nampak senang saat suaminya menunjukan makanan yang sering di lihatnya di drama korea. Bahkan wanginya lantas tercium di hidungnya, hingga membuat cacing-cacing di perutnya pun berteriak kegirangan.