
Luna pergi dari rumah ke apartemen setelah Janus menyuruhnya untuk pindah. Semua pakaian dan barang pribadinya sudah tak tersisa di rumah.
Kini Astrid bisa tenang dengan perginya Luna dari rumah, walau hati dan pikirannya belum sepenuhnya tenang. Biarpun Luna berpindah tempat tinggal, bukan berarti ia tak akan kembali mendekati Janus. Terlebih lagi Janus tak bisa melepas tanggung jawabnya dari Bayu. Mungkin saja Luna masih bisa memanfaatkan rasa bersalah dari Janus.
Pikiran Astrid sangat berantakan memikirkan Janus. Astrid sudah tak bisa berpikiran jernih, ia masih merasa takut, biarpun Janus sudah berjanji tak akan menemuinya.
Astrid sampai tak bisa fokus bekerja, terlebih lagi setelah beberapa hari yang lalu ia hujan-hujanan. Astrid sedikit tak enak badan, wajahnya pucat, kepala pusing, serta ia terus-menerus merasa mual.
"Mba Astrid, lebih baik istirahat saja. Biar saya yang kerjakan semuanya," imbuh Deva.
"Tidak perlu, lagi pula restoran sebentar lagi tutup. Jika kamu mengerjakannya sendiri, kamu pasti kewalahan karena pengunjung masih banyak yang berdatangan."
Sekuat tenaga Astrid tetap bekerja, walau pusing dan mualnya sudah tak tertahankan. Apa lagi bau masakan yang di masaknya tercium tidak enak yang menimbulkan mualnya semakin parah. Padahal Astrid dan Deva memasak sesuai dengan resep seperti biasanya.
"Deva, apa menurutmu dari bahan-bahan yang kita masak kualitas jelek, baunya sangat tidak enak?"
Deva mengerutkan alisnya, ia menggeleng. "Tidak, bahan-bahan yang di pakai masih segar dan baru, jika bahan-bahan sudah tidak layak di masak, bukankah kita selalu membuangnya. Dan menurutku bau dari masakan ini tercium enak seperti biasa."
Ada apa dengan pencium Astrid, pendapat Deva dengannya sangatlah berbeda. Astrid sampai di buat kebingungan dengan penciumannya itu. Astrid pun sampai harus memastikannya, dengan menghirup lebih dekat makanan yang sudah di tatanya di piring.
Saat menghirupnya lebih dekat, rasa mualnya malah semakin tak tertahankan. Astrid sudah tak bisa menahannya lagi, ia terburu-buru beranjak pergi ke toilet.
Astrid memuntahkan semua isi dalam perutnya. Kini bukan hanya mualnya saja, tapi di ikuti dengan pusing yang juga sama tak tertahankannya. Terlebih lagi, tubuhnya sedikit demam. Astrid keluar dari toilet dengan jalan yang sempoyongan.
Karena pusingnya itu, Astrid sampai tak kuat melangkah, ia berjongkok dengan pandangannya yang sedikit terasa kabur.
Alula sampai harus menghampiri Astrid. "Kamu baik-baik saja kan, Astrid?
"Iya aku baik-baik saja, kamu tak perlu mempedulikan aku. Lebih baik kamu lanjutkan pekerjaanmu."
Seketika Titan datang, lalu memegang kening Astrid. "Apanya yang baik-baik saja, tubuhmu sangat panas. Apa mau ku antar pergi ke dokter."
"Tidak perlu, sebentar lagi juga pulang."
"Jika kamu tidak mau ku antar pergi ke dokter. Aku akan menghubungi suamimu, supaya dia datang menjemput." Titan meraih ponsel di saku celananya.
__ADS_1
"Jangan menghubunginya, dia pasti sedang sibuk bekerja."
Titan menghiraukan Astrid, ia tetap menghubungi Janus.
"Tunda pekerjaanmu, jemput Astri sekarang juga." Dengan cepatnya Titan berbicara, ia malah langsung menutup teleponnya tanpa memberi kesempatan Janus berbicara.
"Aku sudah menghubunginya, kamu istirahat dulu, aku akan membuat teh hangat untukmu."
Astrid mengangguk, ia duduk di meja kosong sembari menunggu Titan membuatkan teh hangat untuknya.
Setelah beberapa menit, Titan kembali membawa segelas teh hangat. "Habiskan minumnya. Oh ya, apa lebih baik aku mengantarmu pulang."
"Tidak perlu, kamu lanjutkan saja bekerjanya."
"Wajahmu sudah sangat pucat, lebih baik ku antar pulang sekarang. Agar kamu bisa istirahat dengan nyaman di rumah."
"Ku bilang tidak perlu, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan menunggu kak Janus menjemputku."
Satu jam Astrid menunggu, namun Janus tak kunjung memjemputnya. Bahkan restoranpun sudah tutup. Astrid sampai menghubungi lewat telepon, namun suaminya itu, tak mengangkat teleponnya walaupun beberapa kali di hubungi. Astrid sampai harus menghubungi pak Andy.
"Bagaimana sudah hampir jam setengah delapan suamimu tak kunjung datang menjemput. Apa lebih baik aku mengantarmu pulang," ucap Titan.
"Jika kamu yang mengantarnya pulang, pak Janus pasti akan marah," imbuh Alula.
"Jika Astrid di biarkan menunggu lama, sakitnya akan bertambah parah. Memangnya kamu bisa mengantarnya, kamu saja pulang dan pergi menggunakan kendaraan umum."
Astrid menghela. "Jika pukul delapan tepat kak Janus belum juga datang. Kamu antar aku pulang, Titan."
Akhirnya Astrid menunggu sampai pukul delapan tepat, namun, Janus masih belum datang menjemput. Terpaksa Astrid pun pulang di antar Titan dengan motornya. Biarpun nanti Janus marah dengannya, karena sakitnya sudah tak tertahankan bila harus menunggu lebih lama lagi.
Sesampainya di depan rumah, dari arah belakang mobil Janus juga datang. Janus keluar dari mobil, lalu menghampiri Astrid.
"Maaf aku telat menjemputmu, aku tadi sempat ke restoran tapi kamu sudah tidak ada."
"Kamu habis dari mana? Tadi ku telepon kamu tak mengangkatnya, dan pak Andy bilang kamu sudah satu jam pulang dari kantor."
__ADS_1
"Maaf Astrid tadi ponselku tertinggal di kantor, dan tadi temannya Luna menelponku. Dia bilang, jika Luna pingsan di kampus. Aku terpaksa menjemput dan mengantarnya pergi berobat terlebih dahulu."
"Kenapa kamu tidak menyuruh teman atau saudaranya mengantar kak Luna," ucap Astrid kesal.
"Teman-temannya sibuk dan tidak ada yang mau mengantar. Sementara semua saudara dan sepupunya tinggal di luar negeri dan luar kota. Di sini Luna tidak memiliki siapapun."
Titan sampai di buat emosi mendengar Janus yang lebih mengutamakan menjemput Luna di bandingkan Astrid.
"Brengsek, istrimu juga sakit. Kamu tahu dia menunggumu di restoran selama dua jam, kamu lebih mementingkan si perempuan gatal di bandingkan istrimu. Kamu memang tak pantas di sebut suami," lontar Titan meninggikan suaranya.
Janus menarik kerah baju Titan. "Apa maksudmu? Kenapa tadi di telepon kamu tidak memberitahuku. Kamu bahkan langsung menutup telepon tanpa membiarkanku berbicara."
"Seharusnya saat selesai ku telepon kamu datang menjemputnya. Bukan mementingkan perempuan gatal itu. Memangnya kamu tidak sadar apa? teman-temannya itu, pasti sudah di suruh Luna biar kamu datang menjemput. Perempuan gatal seperti dia penuh dengan drama untuk mendekatimu."
"Sudah cukup!" Astrid menatap ke arah Janus. "Lepaskan Titan, biarkan dia pulang."
Astrid beranjak masuk ke rumah dengan raut wajah yang di tekuk kesal. Dan dengan terburu-buru, Janus mengikuti Astrid.
"Astrid, aku antar kamu pergi ke dokter ya."
"Tidak perlu, aku akan langsung tidur."
Janus memegang tangan Astrid, lalu menyentuh keningnya. "Kamu harus pergi berobat, suhu badanmu masih panas."
Astrid menghempas tangan Janus. "Sudah ku bilang tidak perlu."
Astrid kembali melangkah menuju kamarnya, ia langsung berbaring di tempat tidur tanpa terlebih dahulu berganti pakaian. Astrid kesal, karena Janus ingkar, ia masih tetap menemui Luna walau sudah di peringati Astrid.
Astrid berbaring sembari mengurumuni diri dengan selimut. Air matanya sudah tak bisa lagi di bendung, Astrid menangis dalam selimut.
"Astrid maaf, aku terpaksa menjemput Luna. Jika saja tadi Titan mengatakan kamu sakit, aku pasti akan menjemputmu terlebih dahulu," ucap Janus sembari duduk di sebelah Astrid berbaring.
Astrid hanya diam tak menjawab, walaupun Janus terus-menerus meminta maaf. Menghiraukannya dengan isak tanggis. Astrid menangis sampai ia tertidur.
Astrid tertidur, namun suhu badannya masih belum juga turun, Janus sampai harus mengompresnya. Tiga puluh menit sekali Janus menggantikan kompresannya. Biarpun ia mengantuk, Janus tetap menjaga Astrid, memastikan bahwa suhu badan kembali normal.
__ADS_1